Tampilkan postingan dengan label Experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Experience. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Maret 2016

[Edisi KKN] Satu Atap 45 Hari

16:00 2 Comments
Warning: Tulisan ini (mungkin) berisi aib sejumlah orang. Bagi pembaca yang merasa namanya tercantum, berbahagialah. Hanya orang-orang keren yang namanya bisa masuk di blog ini.

Cepat sekali rasanya, tiba-tiba saja sudah berada di pertengahan Maret. Pun, sebagai penanda dua bulan sudah blog ini tidak terisi postingan barang satu pun. Baru kemarin juga rasanya sibuk ke sana kemari mengurus persiapan KKN hingga terdampar di sebuah desa paling timur di Kabupaten Klaten. Padahal, sudah lebih dari berminggu-minggu lalu juga kami ditarik dari desa tersebut, kembali ke habitat masing-masing, menjalani rutinitas semula, serta menghadapi realita yang melambai-lambai di pelupuk mata (baca: SKRIPSI).
Well, meskipun pada awalnya saya memandang bahwa KKN sama sekali tidak penting, membuang-buang waktu mengerjakan skripsi, dan segala keluh kesah saya tempo lalu. Akan tetapi, paradigma saya pun langsung berubah 180 derajat ketika sudah terjun dan mengalami KKN secara langsung. Sebagai seorang INFJ yang filosofis dan meaning-seeker terhadap segala sesuatu, tentu saja selama masa-masa tersebut pikiran saya terus mencari-cari makna yang terkandung dalam kegiatan tersebut (Halah, opo, Rif?). Banyak sekali makna yang saya dapatkan, hingga akhirnya pun saya menikmati segala prosesnya dengan senang hati. Sebenarnya, bukan perkara pencarian makna saja, sih, ada faktor lain yang turut membuat saya betah sekali menenggelamkan diri dalam kesibukan KKN hingga lupa dengan kehidupan-kehidupan lain yang saya jalani (Well, memang terdengar berlebihan, tapi ini kenyataan. Hahaha). Salah satu faktor itu adalah teman-teman satu kelompok saya yang seru, kompak, dan asyik.
Yup, sejujurnya saya adalah tipe orang yang tidak gampang mingle dengan sekelompok orang banyak. Lain halnya apabila orang-orang tersebut satu frekuensi dengan saya. Meskipun berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, namun rasanya masing-masing dari kita punya konektivitas radar yang seirama. Halah. (Okay, bahasanya terlalu ‘ehem’, mungkin ini efek kebanyakan baca bukunya Malcolm Gladwell)
Ngg… intinya, sih, di postingan kali ini saya berusaha kembali menyusun kepingan-kepingan memori saya selama KKN. Salah satu yang tidak akan saya biarkan menguap begitu saja adalah tentang teman-teman sekelompok KKN. Lalu, siapa sajakah mereka? Check this out!
Hmm... adanya foto yang ini. Sayangnya saya keliatan kucel
Part 1: The Lonely Guys (dari kiri ke kanan)
1.    Galang Perwira
Leader-nya kelompok kami ini biasa dipanggil Galang, bisa juga dipanggil Pak Kordes, akronim dari Koordinator Desa. Mahasiswa Ilmu Komunikasi ini memang memiliki kemampuan komunikasi yang paling memadai dibanding kami semua. Cowok yang ngaku mirip Stefan William KW Super ini lumayan banyak fansnya, terutama dari kalangan anak-anak cewek SD Sidowarno. Kebiasannya selama KKN yang kadang membuat cewek bergidik adalah ketika dia mengucapkan ini:
“Cantik, makan, yuk!”
“Cantik, cepetan keluar, dong! Jangan di kamar terus!
Hahaha. Alhamdulillah-nya tidak sampai bilang gini: “Cantik, nikah, yuk!” (#krik). Okay, penulisnya minta digampar kayaknya, sudah durhaka mengata-ngatai senior.
Meskipun begitu, Pak Kordes tetaplah Pak Kordes. Kemampuan komunikasinya yang lebih mumpuni dibanding kami semua telah berhasil menyatukan kami menjadi makin kompak dan solid satu sama lain. Saya akui, kemampuan persuasifnya bagus sekali.
2.      Andi Cahyono
Biasa dipanggil Andi atau Cahyono, tapi lebih sering dipanggil Cahyono. Cowok yang ngaku-ngaku mirip Aliando ini memang ternyata agak mirip Aliando (#krik). Termasuk salah satu personil The Lonely Guys yang juga banyak fansnya, lagi-lagi dari kalangan anak-anak cewek SD yang centil itu. Haha. Salah satu kelebihannya yang disukai para cewek (terutama Tya) adalah bertanggungjawab dalam menyelesaikan tugas. Selain itu, kelebihan mahasiswa Peternakan ini adalah selalu bangun lebih pagi dibandingkan teman cowoknya yang lain, terutama ketika ada jadwal ngurusin kandang. Awal kenal Andi ini memang orangnya tampak kalem dan good boy banget, tapi semua berbeda ketika KKN dimulai….
3.      Anang Adi Susila
Teman satu fakultasnya Andi namun beda jurusan ini, entah mengapa dijuluki Pak Bowo oleh Tya dan Rima. Anang ini orangnya kadang-kadang tampak pendiam tapi kadang-kadang juga bisa cerewet. Partner piket hariannya Nita ini memang agak nggak doyan sayuran, jadi kadang-kadang cewek-cewek kebingungan harus masak makanan macam apa. Hehe.
4.      Ijokio Harto
Lelaki ini paling cerewet di antara temannya yang lain. Biasa dipanggil Ijo, tapi pernah memperkenalkan dirinya sebagai Kio. Hahaha. Suka banget ngajak ngobrol, terutama ngajak ngobrol cewek. Dia juga salah satu oknum yang tiba-tiba saja manggil saya Hayati pasca nonton Tenggelamnya Kapan van Der Wijck. Huft. Sering juga salah sebut nama orang dan ganti-ganti nama orang sesuka hati. Meskipun begitu, ternyata Ijo ini agak pemalu ketika dihadapkan dengan cewek cantiks bingits. Hahaha. Ya, begitulah…
Part 2: The Alpha Girls! (dari kiri ke kanan)
1.      Ifni Farida
Gadis yang lemah lembut ini memang yang paling gampang dekat dengan para personil boyband The Lonely Guys, karena memang asyik buat diajak ngobrol. Awal KKN, teman satu jurusan Uul ini memang sering banget digodain oleh Ijo sampai saya kasihan lihatnya. Hehehe. Selain itu, cewek asli Magelang ini juga seorang movie buff, terbukti dengan laptopnya yang penuh sekali dengan koleksi film dan selalu update! Semacam rentalan DVD gitu.
2.      Nurul Widowati
Cewek yang biasa disapa Uul ini meskipun kelihatan paling kecil, tapi paling berpengalaman dibanding personil girlband The Alpha Girls lainnya. Terutama dalam urusan percintaan (#eaaaaa). Selain urusan percintaan, mahasiswi Planologi ini juga mahir sekali dalam urusan masak-memasak. Pokoknya semua tetek bengek dunia kerumahtanggaan Uul sudah jago 100%. Kalau ada Uul, penghuni posko tidak akan khawatir dengan urusan perut. Hehehe.
Uul juga punya wawasan yang cemerlang dan ide-idenya sungguh brilian, menurut saya. Terbukti, dia pandai mengkritisi dan memberi masukan setiap program-program yang kami jalankan. Kalau dalam Psikologi Sosial, orang semacam Uul ini sering disebut sebagai The Devil’s Advocate. Meskipun istilahnya gitu banget, namun kehadiran mereka sangat berarti bagi keberlangsungan kelompok. Terkadang kita memang perlu membuka mata, bahwa dalam setiap hal tentu tidak melulu sempurna. Perlu seseorang yang bisa menyadarkan setiap anggota kelompok bahwa ada hal-hal yang perlu diperbaiki. Begitulah…
3.      Rima Astika Dewi
Biasa dipanggil Rima, bisa juga dipanggil Princess (baca: FRINSES, dengan ‘P’ yang diganti dengan ‘F’). Nona satu ini lumayan hits di Sidowarno, terbukti dengan banyaknya jejaka Sidowarno yang minta pin BBM-nya. Salah satunya adalah Mas Arjuna Mandala Putra yang ganteng itu. (Halah!) Namun, ternyata hati Rima tidak terpaut sepenuhnya oleh Mas Juna. Ada lelaki lain yang berulangkali dikode, namun tak kunjung peka! Pasti kamu, kan? Iya, kamu! Malah nengok (-___-). (#krik)
Meskipun kadang tampak sangar dan frontal kalau ngomong, calon desainer interior ini sangat humoris. Saya kadang-kadang susah membedakan antara dia sedang bercanda atau sedang frontal (tratatakdungcess…) Hehehe.
4.      Nita Tri Wahyuni
Biasa dipanggil Nita atau Bu Bos. Kenapa Bu Bos? Karena Nita adalah sumber kehidupan, dialah yang mengendalikan arus keuangan urusan perut. Hehehe. Mahasiswi Pendidikan Kimia ini memang cerminan wanita muslimah banget. Bahkan, kadang saya ngerasa kalah jauh sama dia. Proses hijrahnya untuk bisa jadi dia yang sekarang ini, saya akui sungguh keren. Nita juga orangnya asyik diajak ngobrol, karena kalau ngobrol sama dia selalu berkualitas kontennya. Selain itu, penggemar Daehan-Minguk-Manse ini adalah orang yang selalu saya repotin ketika di KKN, terutama urusan transportasi. Hehehe. Makasih banyak ya, Nit… :3
5.      Tya Astriyani
Cewek penyuka drama Korea beserta soundtrack-nya ini memang soulmate-nya Rima banget. Biasanya, mereka berdua sering mojok berdua di teras posko sambil haha-hihi curhat-curhatan. Lalu, ketika mereka berdua asyik bercurhat ria, datanglah Mas Juna (jengjeng!). Jadilah, mereka… buka forum curhat berjamaah.
Gadis yang jadi partner jadwal masak dengan saya ini memang helpful banget. Dengan ringan tangannya, Tya siap membantu segala kesulitan dan kesusahan teman-temannya. Sampai ada teman cowoknya yang patah hati karena habis diputusin pacarnya, lalu butuh pacar segera, langsung Tya turun tangan mencomblangkan si teman cowok-fakir-asmara itu ke temen ceweknya. Like an angel, kan?
6.      Saya
Biasa dipanggil Rifa, Mbak Ipeh, Mbak Mus, Hayati, dan panggilan lainnya yang saya nggak habis pikir. Pekerjaan rutin selama KKN adalah tukang gedor-gedor pintu kamar setiap Subuh. Sekian dan terima kasih. :D
Yup, itulah berbagai deskripsi ngocol teman-teman satu atap saya selama 45 hari KKN di Sidowarno. Mungkin, jika ada salah satu pembaca yang namanya tercantum dan tidak berkenan dengan deskripsi di atas, saya mohon maaf dengan sebesar-besarnya. Sejujurnya, tulisan ini bukan bermaksud mengata-ngatai, ini murni kekangenan saya kepada kalian semua.
Ceilah… mulai baper
Jadi, kapan kita mau kumpul lagi? Kapan mau makan bareng di warung sambil haha-hihi lagi? Kapan juga sekadar saling menyapa lantas mengejek satu sama lain?
Jangan lupa, kalau wisuda, kabar-kabar ya…
Jangan lupa, kalau nikah, undang-undang juga ya…
Selamat melanjutkan hidup dan studi masing-masing. Semoga kita tetap selalu saling ingat satu sama lain, meskipun jarak dan waktu semakin merentang jeda di antara kita.
Kalau diteruskan, tulisan ini bakal berubah menjadi semakin melankolis.
Okay, cukup sekian tulisan ini dibuat. Sampai jumpa di postingan selanjutnya… :)
Although KKN is over, our friendship will lasts forever
Wuu... wajahnya pada awet muda semua XD

Dua cowok di depan adalah tukang ngerecokin cewek yang lagi foto -_-

Rabu, 09 Desember 2015

Budaya Main Serobot

17:17 2 Comments

Sebagai orang yang lahir dan besar di negeri gemah ripah loh jinawi ini, pasti kita sudah sangat akrab dengan perilaku sebagian besar masyarakat Indonesia satu ini, budaya main serobot. Sering sekali kita mendapati antrian yang tidak tertib, entah itu tidak berjajar rapi atau ada yang dengan muka badaknya memotong antrian orang. Saya pernah beberapa kali menjadi korban serobot antrian, ketika mengantri di kasir swalayan dan ketika mengantri membeli bensin. Kesal, tentu saja. Sayangnya, saya adalah tipe orang yang terlalu nerimo dan tidak suka bikin ribut, jadilah saya diam saja. Rasanya ingin marah sambil menyumpah-serapahi juga, tapi saya masih terlalu waras untuk meledak-ledak impulsif di ruang publik.
source: www.summareconserpong.com
Kejadian-kejadian tersebut memang sering kita temui di mana pun selama kita masih tinggal di Indonesia. Tidak hanya serobot dalam hal mengantri, serobot dalam hal berkendara di jalan raya pun bukan hal aneh di negeri kita tercinta ini. Keselamatan diri sendiri dan orang lain seolah menjadi barang murahan, sehingga bisa seenak jidat digadaikan demi mengejar hal-hal kurang esensial lainnya. Seperti peristiwa kecelakaan yang sedang viral akhir-akhir ini. Mulai dari kecelakaan mobil sport Lamborghini yang menelan dua korban jiwa di Surabaya sampai kecelakaan antara metromini dengan kereta Commuter Line di Jakarta Barat. Dua hal tersebut menjadi contoh bahwa sudah mendarah dagingnya budaya main serobot sana serobot sini hingga mengakibatkan kerugian besar bagi orang lain.
Lantas, saya pun jadi teringat dengan perkataan salah seorang teman saya, sebut saja Nisa (memang nama asli, hehehe). Ketika itu, kami sedang terlibat percakapan tentang budaya naik kendaraan antara orang Solo dan Jakarta. Tibalah pada sebuah celetukan Nisa yang nempel di kepala saya dan selalu terngiang ketika saya mengendarai motor:
“Sempet heran juga, sih, kenapa masih banyak orang Indonesia yang masih bisa hidup dengan kondisi jalan raya kayak gini.”
Benar juga, pengendara kendaraan pribadi maupun kendaraan umum di Indonesia sangat sangat sangaaaaattt tidak bersahabat dengan sesama pengguna jalan lainnya. Boro-boro bersahabat dengan sesama pengguna alat transportasi lain, pejalan kaki dan pengguna sepeda saja sering didiskrimanasi. Saya pun ingat momen ketika mengendarai sepeda di jalan raya, meskipun sudah di paling pinggir dan hampir nyemplung comberan, tetap saja pengendara mobil dan motor iseng mempermainkan klaksonnya. Huft, masya Allah!
Ya, saya juga mengakui bahwa saya juga pernah mendiskriminasi pejalan kaki dan pengguna sepeda. Namun, ketika saya sudah mencoba berada di posisi pejalan kaki dan pengguna sepeda itu, saya pun mulai menurunkan egoisme saya, mencoba memaklumi dan memberi kesempatan sesama pengguna jalan umum lainnya. Lagipula, jalanan umum ‘kan milik negara, bukan milik sendiri yang lain sewa.
Ada juga cerita yang pernah saya baca di sebuah buku catatan perjalanan. Suatu ketika si penulis pernah berkendara bersama dengan bos besarnya yang orang Belanda. Ketika di Indonesia, bos Belanda itu tidak berani mengendarai mobil sendiri, selalu ditemani oleh supir. Tentu saja, mengendarai kendaraan di Indonesia harus punya stok sembilan nyawa. Memang, masyarakat Indonesia adalah masyarakat tertangguh abad ini, yang masih bisa hidup di tengah kondisi carut marut transportasi seperti ini.
source: www.radarcirebon.com
Lalu, sebenarnya apa sih yang menyebabkan budaya main serobot sana serobot sini yang sangat menjengkelkan ini? Kalau boleh akal pikiran saya yang sempit ini menganalisa, mungkin ini akibat dari banyaknya peristiwa-peristiwa besar yang sering terjadi di Indonesia. Mulai dari merasakan betapa keras dan pahitnya hidup ratusan tahun menjadi rakyat jajahan hingga krisis moneter tujuh belas tahun silam. Begitu besarnya jumlah populasi masyarakat Indonesia kerap kali berbanding terbalik dengan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan. Ibaratnya, permintaan lebih besar dari penawaran, kebutuhan lebih besar dari ketersediaan. Sehingga, terkadang satu sama lain perlu berlomba-lomba untuk bisa survive supaya perut sendiri bisa terisi. Jatah yang limited edition tersebut memang terkadang membentuk karakter kita menjadi agak terlalu kompetitif. Bagaimana tidak, kalau kita hanya menunggu saja pasti akan kehabisan jatah, tidak kebagian. Padahal, sebenarnya butuh. Jadi serba salah, bukan? Berbeda dengan negara lain yang angka pertumbuhan penduduknya nyaris 0%, tentu saja jumlah penduduknya juga tidak sebesar Indonesia. Biasanya pun mereka juga berlimpah sumber daya sehingga selalu cukup tersedia stoknya. Bisa dipastikan bahwa jatah untuk masing-masing individu akan bisa terpenuhi, bukan?
Hm, sebenaranya ini hanya analisis saya yang cetek dan kurang banyak data pembanding juga, sih. Boleh dibantah, boleh dikritik juga. Hehehe. Lagipula, saya memandang ini dari kerangka berpikir saya yang lebih sering mengaitkan suatu persoalan dari kejadian masa lalu (kemudian berasa ngubek-ngubek Psikoanalisis).
Jika dihubungkan dengan ketidakpastian atau uncertainty, dunia ini memang penuh peristiwa yang tidak pasti, uncertainty events. Mungkin, kebiasaan orang Indonesia untuk main serobot itu adalah salah satu cara dalam mengatasi ketidakpastian. Sebagai orang Indonesia, kita sangat terlatih untuk menjadi orang yang hidup mentah dalam ketidakpastian. Kalau ada yang sering membuka situs www.geert-hofstede.com pasti sudah pernah mencoba membandingkan budaya antara satu negara dengan negara lain. Salah satu indikator dalam perbandingan tersebut adalah uncertainty avoidance. Jika dibandingkan dengan Jepang, jelas bahwa Indonesia memiliki kemampuan menghindar dalam ketidakpastian yang kalah jauh. Ya, sebagai orang Indonesia yang sejak lahir hingga dewasa tinggal di Indonesia, tentu akan akrab dengan ketidakpastian-yang-tidak-dicoba-untuk-dihindari tersebut. Mulai dari jam datang-berangkat kereta api, bus, atau pesawat yang lebih sering tidak pastinya karena lebih sering delay, sampai menghindari ketidakpastian semacam bencana alam. Jelas beda lah jika dibandingkan dengan negara dunia pertama. (Oke, pembandingnya memang terlalu njomplang, sih. Hehehe).
Hei, namun dengan seringnya kita hidup dalam ketidakpastian tersebut, selain memiliki dampak negatif suka main serobot, ada pula dampak positifnya. Kita menjadi tidak tergantung dengan keadaan serba enak, kita akan mencoba untuk mencari celah, semakin lama akan semakin mengasah daya kreativitas kita. Tentu saja, karena kita sudah terlatih hidup dalam keadaan serba susah, kita menjadi bisa memutar otak untuk mencari cara bagaimana keluar dari keadaan tersebut. Jadi, hidup dalam negara berbudaya kurang antisipatif dalam mengatasi peristiwa yang penuh ketidakpastian itu tidak selamanya buruk, kok. Hahaha. (Sekali lagi, ini berdasarkan analisis abal-abal saya yang cetek parah).
Apapun keadaannya, saya tetap cinta Indonesia. Meskipun rupiah melemah, harga bensin merangkak naik, hingga tarif dasar listrik mulai ikut menanjak, saya tetap cinta Indonesia. Ya, walaupun kemarin sempat marah-marah juga dengan keadaan itu. Hehehe.
 Ya, daripada capek-capek mengkritik, menghujat, dan menyumpah-serapahi keadaan negeri yang permasalahannya saling sengkarut ini, lebih baik mulai bergerak menjadi agen-agen pembaharuan ke arah yang lebih baik. Masih ada harapan, tentu saja. :)

Selasa, 08 Desember 2015

TEDx UNS: Symphony of Ideas

15:15 0 Comments

Lama sekali rasanya saya tidak pernah posting tentang event atau seminar yang saya ikuti. Sebenarnya saya ingin cerita tentang bedah buku Lautan Langit-nya Mas Kurniawan Gunadi Oktober lalu. Tapi, akibat terlampau capek setelah seharian bolak-balik kemana-mana, alhasil pun jadi lupa. Hehehe. Yup, lantas akhirnya ada sebuah event yang mau tak mau harus saya tuliskan untuk mengabadikan. Maklum lah, saya memang agak pelupa. Hehehe. Yup, seperti judulnya, event yang saya ikuti ini adalah TEDx. Bagi yang belum tahu, TEDx adalah event TED yang dibikin secara independen. TEDx di sini bukan terinspirasi dari film TED yang dibintangi Mark Wahlberg itu, malah lebih dulu ada sebelum film TED rilis. Atau jangan-jangan, film TED itu terinspirasi dari TED ini. Halah. Saya juga sebenarnya tidak tahu, sih. Hehehe. Nah, mungkin bagi yang ingin tahu lebih jelas dan lengkap bisa kunjungi ini.
Ahad, 6 Desember 2015 lalu acara TEDx diselenggarakan di aula FH UNS. Acara TEDx ini sebenarnya memiliki konten yang hampir serupa dengan seminar pada umumnya. Akan tetapi, kemasan yang ditampilkan memang agak sedikit berbeda. Tidak hanya itu pula, pembicaranya pun tidak dibatasi tema tertentu seperti seminar-seminar pada umumnya. Pun, TEDx ini 100% free, tanpa dipungut biaya asal bisa lolos seleksi call for audience. Hehe. Entahlah, setelah sebelumnya saya iseng mendaftar TEDx, beberapa hari kemudian nama saya pun tiba-tiba ada dalam list audience TEDx. Wah, lumayan. Saya bisa memuaskan rasa penasaran saya yang sebelumnya tidak tahu apapun mengenai TEDx.
Dalam TEDx ini mengusung tema Symphony of Ideas, di mana sejumlah pembicara dihadirkan sebagai penyebar ide-ide pembaharuan. Jadi, pembicara yang dihadirkan bukan orang sembarangan. Mereka adalah para agent of change di bidang dan lingkungannya masing-masing. Ada sekitar delapan pembicara yang mengisi TEDx, masing-masing memiliki waktu cukup singkat saat memperkenalkan gagasan-gagasan mereka. Acara ini dibagi dua sesi. Sesi pertama terasa lebih panjang karena ada lima pembicara, meskipun waktunya singkat sekali. Sesi kedua yang dibuka setelah ishoma, diisi oleh tiga pembicara.
Empat dari delapan pembicara TEDx tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi diri saya pribadi. Kesan yang mereka timbulkan tersebut mungkin lebih dikarenakan konten yang mereka usung lumayan related pada diri saya. Salah satu yang paling nempel adalah gagasan Komunitas Baca Dua Lima yang digagas oleh Mas Syukri. Iya, saya sudah lama tahu beliau dan saya juga sudah tahu Komunitas Baca Dua Lima itu apa. Tentu saja, karena teman-teman saya yang anak Kedokteran, secara bersamaan memasang twibbon di display picture sosial medianya yang berisi opini setelah mengikuti gerakan baca buku dua puluh lima halaman per hari. Sesuai namanya, Komunitas Baca Dua Lima adalah gerakan yang digagas beliau untuk mengajak masyarakat supaya mau meluangkan waktunya dalam sehari untuk membaca buku minimal dua puluh lima halaman. Ini adalah sebuah gerakan yang sangat keren, menurut saya. Gerakan ini berangkat dari suatu fenomena budaya membaca masyarakat Indonesia yang sangat rendah sekali. Nggak usah gede-gede selingkup Indonesia, deh, selingkup Solo saja budaya membacanya masih cetek. Gagasan tersebut merupakan sebuah angin segar tersendiri dalam menghadapi fenomena semacam itu. Sangat berguna menghidupkan kembali budaya membaca buku yang sudah hampir tergerus oleh semakin merajalelanya teknologi dan internet penyedia segala bentuk kemudahan.
Tersihir, saya merasa sangat related dan serta merta menyetujui data dan fakta yang dipaparkan. Saya juga punya impian sama, membudayakan membaca. Sebagai pembaca buku minded, saya memang getol sekali untuk menyerukan wajib baca buku dalam seminggu. Bahkan, semenjak kuliah, saya mulai lebih getol lagi menjejali diri dengan berbagai macam genre buku. Tidak terbatas pada fiksi, namun juga nonfiksi. Lalu akhir-akhir ini pun saya malah sering kecantol dengan buku nonfiksi yang international best-seller. Hehehe.
Yup, pada intinya membaca adalah sebuah kebiasaan (habits). Supaya gemar membaca kian membudaya, maka kebiasaan membaca perlu dimulai dari diri sendiri serta mulai dari sekarang. Bagi para orang tua muda, perlu sekali menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anaknya sejak kecil. Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya adalah Muslim tentu perlu sekali untuk membudayakan membaca sedari belia. Lagipula, wahyu pertama yang diberikan Allah kepada Rasulullah melalui perantara malaikat Jibril adalah Surat Al-‘Alaq, di mana kata pertama pada ayat pertamanya berbunyi Iqra’–Bacalah! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Jadi, membaca itu sudah seperti kewajiban, bukan?
Pembicara kedua yang membuat saya terjerat lagi adalah Pak Eri Koeswoyo. Beliau adalah founder dari Dompet Dhuafa, seorang social entrepreneur yang keren, menurut saya. Pemaparan tentang kondisi Indonesia saat ini beserta quotes keren yang terselip dalam setiap kalimat yang terlontar dari beliau tersebut sukses mencuri sebagian besar fokus saya. Tema yang beliau bicarakan berkisar tentang pendidikan karakter. Masalah terbesar bagi Indonesia adalah kurangnya karakter jujur dan disiplin. Banyak sih, orang jujur di Indonesia, namun orang yang amanah masih sedikit. Pemimpin yang tidak amanah saja masih banyak. Lalu, ada satu quotes agak nge-jleb yang beliau paparkan:
“Sebuah negara yang belum disiplin, jangan bercita-cita menjadi negara maju.”
Ya, sebelum mendisiplinkan orang lain, mulailah budaya disiplin itu dari sendiri. Mulai dari yang terkecil saja, deh, misal berangkat kuliah jangan sampai lebih lambat dari dosen. Perkara si dosen datang terlambat tidak perlu diurusin, malah bagusnya jangan dicontoh. Kita kan mahasiswa, sudah pandai membedakan mana yang baik dan mana yang baruk. Masa hanya datang kuliah saja telat? Juga, jangan lupa, kalau janjian ketemuan dengan teman, entah hanya hangout atau ada agenda rapat, usahakan datang tepat waktu. Sesungguhnya, ketika kalian datang tepat waktu, kalian sudah menghargai diri sendiri. Namun, apabila kalian datang terlambat, tidak disiplin waktu, kalian sedang merugikan orang lain karena telah dengan semena-mena membuang-buang waktu mereka. Padahal, jika tidak menunggu kalian yang hobi terlambat, waktu tersebut bisa mereka manfaatkan untuk melakukan hal yang lebih produktif, bukan?
Pembicara selanjutnya yang menurut saya keren adalah Ibu Endah Laras. Mungkin, kalangan seniman sudah banyak yang mengenal beliau ini, tapi masih banyak orang yang belum mengenal beliau. Ya, Ibu Endah ini adalah seorang seniman yang sangat multitalenta. Pengalaman berkesenian sejak SMP telah membawanya pergi menjelajah negara-negara Eropa dan Asia dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Saya sempat terkesima dengan kepiawaian beliau dalam menyanyikan berbagai genre lagu khas Indonesia. Mulai dari tembang Macapat Jawa, lagu Sunda dengan cengkok khas sinden Sunda, lagu Banyuwangi yang khas dengan falsetto ala lagu Jawa Timur-an, sampai campursari pun bisa dibawakannya dengan apik. Suaranya yang bening serta mampu menjangkau nada-nada tinggi membuat telinga saya serasa dimanjakan. Sampai ketika Ibu Endah selesai bercerita sambil menyanyi semua hadirin bertepuk tangan riuh, seolah menyatakan sangat puas dengan penampilan Ibu Endah yang menghibur sekaligus inspiratif.
Pembicara berikutnya yang membuat saya terbawa juga adalah Bapak Suyudi. Beliau adalah founder Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS). Ya, SABS ini semacam antimainstream di antara pendidikan formal mainstream lainnya. Sebagaimana namanya, sekolah alam ini berfokus dengan metode pembelajaran dan pendidikan back to nature. Tidak melulu hanya berkutat pada teori-teori, namun sekolah ini mengajak siswa untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya sambil belajar. Jadi, sekolah menjadi tidak membosankan, malah terasa lebih menyenangkan. Meskipun sebenarnya mereka sedang belajar, namun mereka melakukannya seperti bermain.
Pada dasarnya, pendidikan itu bukan melulu harus hapalan teori lalu kemudian diujikan di Ujian Tengah Semester atau Ujian Akhir Sekolah saja, lantas ketika ujian usai, ilmu yang susah payah dihafalkan pun hilang terlupakan, tak berbekas. Inilah salah satu problem bagi sebagian besar pelajar di Indonesia. Pendidikan saat ini memang hanya menitikberatkan pada menghafal data dan fakta informasi saja, tanpa dibarengi dengan pendidikan karakter serta pembelajaran yang menuntut analisis dan sintesis. Padahal, pandai itu bukan hanya bisa hafalan saja, pandai itu juga harus bisa menganalisis masalah serta mencari solusi terbaiknya. Kalau kata Bapak Suyudi, sih:
“Manusia diharapkan tumbuh untuk berpikir dan memikirkan sekitarnya.”
Sayangnya, kurikulum Indonesia masih sedikit mewajibkan anak didiknya untuk bisa berpikir analitis. Hasil tes PISA yang memasukkan Indonesia dalam kategori nilai paling rendah membuktikan bahwa kemampuan menganalisis soal siswa Indonesia jauh di bawah rata-rata siswa di negara lainnya. Ya, salah satu indikator dalam tes PISA yaitu kemampuan berpikir analisis memberikan nilai rendah bagi siswa Indonesia. Sedih, kan?
Tentang kemampuan analisis ini, saya pun jadi teringat celoteh dosen saya yang gemar sekali memberi tugas membuat esai dan paper tentang suatu masalah. Beliau mengatakan bahwa, sebagian besar analisis pada tulisan kami tersebut sangat kurang. Ya, saya pun mengakui bahwa kami terlalu terjebak pada sistem pendidikan hafalan sejak SD hingga SMA. Kami sudah terbiasa menghafal serta menjawab pertanyaan berdasarkan memori hafalan
Coba contoh Finlandia, yang mewajibkan siswanya untuk membaca minimal 300 halaman buku per-tahun. Indonesia, masih nol halaman per-tahun. Padahal, membaca buku itu juga salah satu cara untuk bisa mengasah daya berpikir kritis, analitis, dan sintesis. Jadi, sebenarnya banyak sekali, lho, permasalahan yang terjadi serta menuntut untuk segera diperbaiki. Semua faktornya hampir saling berkesinambungan satu sama lain. Mungkin, memang saatnya kita, para pemuda-pemudi Indonesia, menjadi agen perubahan dalam mengurai problema negara yang masih saling sengkarut ini.
Selain menghadirkan berbagai kalanganpembicara, acara ini juga memutar beberapa video TED talks dari negara lain. Salah satu yang paling berkesan adalah video TED talks seorang violinist asal Korea Selatan, Park Ji-hae, yang memainkan biolanya dengan sangat energik dan penuh penghayatan. Permainan biolanya itu menceritakan tentang kehidupan dirinya yang pernah dirundung depresi berat. Sampai saya sempat berkaca-kaca–bahkan, sudah hampir menangis–mendengarkan nada ballad yang berkesan depresif pada setiap notasinya. Saya hanya mampu merasakan saja, karena saya tidak begitu paham musik. Pokoknya, keren sekali!
Acara TEDx tersebut ditutup pada pukul 15.00 WIB. Banyak kesan dan ide-ide yang terejawantah dalam acara ini. Pembicara yang beragam latar belakang pendidikan, beragam keahlian, dan beragam impian, berusaha mentransfer gagasan-gagasan pembaharuannya pada para calon penerus bangsa. Yup, ini merupakan acara pertama TEDx di Solo, semoga di acara selanjutnya semakin lebih keren lagi. Hm, mungkin di acara TEDx tahun depan bisa mengundang dr. Gamal Albinsaid, seorang dokter muda yang berhasil mengatasi permasalahan lingkungan serta menciptakan lapangan pekerjaan akibat sampah.
Okay, sekian postingan saya kali ini. Sampai jumpa di postingan selanjutnya….:)
source: www.ted.com
P.S.: Saya tidak pernah bosan untuk meneror banyak orang dengan quotes andalan saya:
“Ayo membaca! Sudah baca bukukah kalian hari ini?”