Selasa, 30 Juli 2013

Temu Kangen dan Buber Kasmaji 2012

09:01 0 Comments


Buka Bersama adalah acara yang serasa menjadi trending topic seantero Indonesia jika telah memasuki bulan Ramadhan. Yap, ada yang buka bersama bareng temen sekantor, ada yang buka bersama bareng temen satu kelas di sekolah, ada yang buka bersama antar bermacam-macam klub, ada yang buka bersama satu angkatan di kampus, ada yang buka bersama satu keluarga, dan ada juga yang buka bersama satu kampung. Nah mungkin yang saya sebutkan di atas terlalu mainstream, biasanya kalau yang anti-mainstream itu buka ‘bersama’ di masjid dengan tujuan supaya dapet takjil gratis -_-. 

Pun tidak ketinggalan pula kami. Iya, kami adalah para manusia-manusia yang mengikuti trend buka bersama di penghujung bulan Ramadhan ini. Biasanya semakin mendekati akhir Ramadhan agenda buka bersama serasa mengejar-ngejar laksana debt collector yang sedang nagih utang. Yang buber angkatan kampus lah, yang buber klub apaan lah, yang buber ini lah, itu lah, mana sekarang sedang tanggal tua. Kalau lagunya Vidi Aldiano itu Cemburu Menguras Hati, nah kalau buber di penghujung bulan Ramadhan yang bertepatan dengan tanggal tua menuju tanggal muda, kalau dibikin lagu pasti judulnya Buber Menguras Dompet. Pasti pada setuju, kan? Harus setuju! Huehehe. 

Nah, hal itu pula yang (mungkin) sedang terjadi pada kami. Kami dengan tertatih-tatih harus menghitung satu persatu uang kami supaya tidak defisit akibat agenda buber yang kian hari kian menumpuk (ini kenapa malah jadi curhat sih, elaaahhh). Dan, daripada terlalu lama saya mengumbar elegi menjelang buber dan yang pasti gak akan selesai-selesai kalau tidak segera dihentikan, lebih baik kita menuju ke topik utama, hehehe.

Kemarin, tanggal 29 Juli 2013 adalah hari spesial dan mengesankan menurut saya. Yap, hari Senin kemarin adalah acara Buka Bersama satu angkatan untuk Kasmaji 2012 yang dibalut dengan Temu Kangen (kata admin @kasmaji12 sih gitu, hehe). Yup, pada postingan kali ini saya ingin membuat postingan tentang acara buber yang emang tidak biasa ini. Tapi sebelumnya, mari kita flashback dulu. 

Nah, sewaktu undangan buber satu angkatan ini menyebar laksana radiasi nuklir di seluruh jejaring sosial, mulai dari twitter, facebook, whatsapp, line, dan SMS, saya pun mendadak galau. Bukan galau karena mau ketemu mantan gebetan. Bukan, bukan itu (lagian juga gak ada gebetan ataupun mantan gebetan). Tapi galau karena harus menganggarkan uang lagi. Iyalah, soalnya saya sudah terlanjur menganggarkan mau ikut Seminar Internasional sama Bedah Buku #UdahPutusinAja-nya Felix Siauw hehe. Maka dari itu saya harus benar-benar berhati-hati dalam pengeluaran akhir bulan saya ini, hmmm. Saya bingung dan galau mau ikut buber Kasmaji atau enggak. Maka dari itu saya pun meng-SMS dan me-Whatsapp teman saya (bukan sekelas waktu SMA), sebut saja A dan I, keduanya cewek, satu universitas juga.

Pertama-tama saya meng-SMS dan me-Whatsapp si I, saya tanya dia, apakah dia mau ikut buber atau tidak. Kenapa saya SMS I? Karena biasanya anak ini yang paling semangat kalau ada acara makan-makan, buber, ketemu temen, dan sejenisnya, hehe. Makanya saya memberanikan diri meng-SMS I dengan tujuan mendapatkan jawaban se-obyektif mungkin (dan juga cari barengan berangkat hehehe). Nah, pucuk dicinta ulam pun tiba, dia pun mereply Whatsapp saya, dia jawab: “Enggak ah, Mus. Aku lagi males, lagi ngurusin Osmaru juga”. Kemudian saya reply lagi, saya bujuk dia supaya ikut: “Ayolah, nanti kita kan bisa ketemu temen-temen,” dengan nada mengiba. Tapi dia tetep kekeuh tidak mau ikut buber. Yasudahlah, akhirnya saya pun berganti me-Whatsapp si A. Dan, sialnya, dia juga tidak mau ikut. Hiks, dia hanya berencana ikut buber dengan teman-teman sekelasnya waktu kelas sepuluh saja. Karena mendapat jawaban seperti itu, laksana teori konformitas dalam buku David G. Myers, saya memutuskan mending gausah ikut buber aja (dengan perasaan masih ngganjel).

Di tengah kegalauan itu, saya pun membuka-buka facebook dan twitter, sama mau ngecek notifikasi atau siapa tahu ada yang mention akun twitter saya gitu hehe. Karena tidak ada yang mention saya, saya pun buka-buka home twitter, baca-baca tweet-tweet following saya. Nah, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada tweet-tweetnya @kasmaji12. Tweetnya berisi ajakan supaya teman-teman pada ikut buber. Bukan ajakan biasa, tapi dengan selipan tweet-tweet melankolis ala @kasmaji12 hehe. Sepanjang malam itu mereka mengetweet kata-kata mutiara menyentuh hati, yang semakin menambah kegalauan saya. Saya pun ingat, saya juga pengen banget ketemu temen-temen saya yang merantau, karena udah lama gak ketemu, lagipula ketemu satu angkatan kapan lagi kalau bukan pas acara itu? Kemudian saya pun SMS temen-temen sekelas saya waktu kelas 12, dan ternyata mereka banyak yang ikut! Maka akhirnya saya pun memutuskan untuk ikut buber, hehehe (konformitas lagi -_-).

The day comes closer. Tibalah hari itu, hari Senin tanggal 29 Juli 2013. Karena di undangannya tertulis dimulai pukul 16.00, saya berangkat dari rumah pukul 15.30, setelah sebelumnya menunaikan sholat Ashar di rumah. Saya berangkat dengan mengendarai motor sambil membawa whatthefun tikar ini, karena memang per kelas disuruh bawa tikar buat duduk sekelas. Oh iya hampir lupa, karena acaranya ada di pelataran SMA saya yang biasanya dipakai untuk upacara, maka memang perlu tikar sebagai alas duduk secara lesehan.

Tibalah di SMA saya, saya lihat sekilas, masih lengang. Terlihat masih belum ada persiapan sama sekali di pelataran SMA, hanya ada beberapa anak laki-laki berusia 17-an sedang bermain basket di pelataran dan beberapa adik-adik SMA yang masih duduk-duduk nongkrong di gerbang depan, (mungkin) sambil menunggu jemputan. Saya merasa absurd karena repot banget bawa tikar ini, maka saya pun memutuskan menunggu di depan SMAN 2 Solo yang terletak bersebelahan dengan SMA saya. Saya SMS-an sama temen saya, eh malah ada yang masih di rumah, ada yang masih mandi, dan bahkan ada yang belum mandi. Hmm, padahal jam sudah menunjukkan pukul 15.55, tapi tanda-tanda kalau bakal diadakan acara buber masih belum nampak terlihat. Hmm… memang ternyata bukan waktu SMA saja saya datang terlalu pagi dan yang paling awal, waktu buber pun saya juga datang paling awal (untuk kategori peserta a.k.a tamu, maksudnya), saya kira jam segitu sudah open mic atau apalah itu namanya, ternyata belum ada sama sekali. Saya sempat su’udzon, kalau jangan-jangan saya dikerjain, atau jangan-jangan ada jarkom dadakan yang menginfokan kalau tempat buber dipindahkan tapi saya gak dapet jarkom, bzzzz.

Kemudian saya pun memindahkan motor bersama whatthefun tikar saya ini ke depan gerbang Smansa. Waktu berjalan sangat cepat, sudah pukul 16.15. Tapi teman-teman saya yang memang tergolong kategori ngareters deadliners masih belum terlihat batang hidungnya. Panitia sudah satu persatu melakukan persiapan awal, baru menggelar tikar -_-. Saya menunggu di motor, ketemu Anggra, tapi kemudian si Anggra main ke SSCI (tempat les) karena masih sepi. Dan alhamdulillah, tak lama berselang datanglah AJ, kemudian datanglah Luthfi, kami bertiga duduk-duduk di depan gerbang sembari menunggu panitia menyelesaikan pendekorasiannya. Tak lama datanglah Upik a.k.a Ulfah. Kemudian Endah, Novian dan Isti, lalu kami pun memarkir motor bersama-sama di parkiran dalam Smansa. Rasanya berasa balik SMA lagi karena parkir di parkiran itu :’). Hiks.

Di halaman Smansa pun sudah penuh teman-teman yang saling melepas kangen dan rindu. Saling berbagi cerita, bercanda, mengulang kekonyolan semasa SMA, saling berpelukan (cewek sama cewek lho ya, kalo cewek sama cowok bukan mahram -_-). Udah berasa reuni beneran ini, padahal baru aja setahun gak ketemu, tapi berasa lamaaaaaa banget. Itulah, We may have so many new friends, but old friends are unreplaceable. Karena acara menggelar tikar, dan panggung sederhana di bawah beringin keramat Smansa yang terkenal seantero Solo itu (lebay banget! :p) sudah selesai ditata, kami pun duduk di tikar sembari menunggu kedatangan teman-teman yang lainnya. Yap, suasana nostalgia mengulang masa SMA pun terasa, duduk lesehan beralaskan tikar sederhana beratapkan langit senja yang hampir beranjak petang. Walaupun kami tidak duduk di atas kursi empuk hotel, restoran mewah ataupun kapal pesiar, tapi kami sudah cukup bahagia mengadakan acara di halaman sekolah kami yang selalu kami rindukan suasananya. Kami (para cewek) saling berdesas-desus (kebiasaan jaman SMA) mengomentari penampilan masing-masing teman kami. Ada yang dulunya biasa aja sekarang tambah gemuk makmur bahagia sejahtera, ada yang dulunya gemuk kemudian jadi lebih kurusan walaupun dikit, ada yang udah gemuk dari dulu sekarang tambah bengkak, dan ada pula yang dulunya udah kurus gara-gara kuliahnya berat kali ya jadi semakin kurus (no offense pokoknya dah :p). Tapi ada juga yang badannya masih tetap sama semenjak lulus sampai sekarang. Kami saling berhaha-hihi menertawakan penampilan masing-masing, benar-benar mengulang kekonyolan masa SMA :).

Pertama-tama acara dibuka oleh MC dilanjutkan dengan sambutan ketua panitia, Burhan. Kemudian setelah itu datanglah dua MC kocak itu, Faisal dan Ivan, bersamaan dengan itu datang bergelas-gelas teh hangat dan makanan pembuka a.k.a dessert (sok American style nih saya -_-). Karena sudah waktunya berbuka kami pun minum teh dan makan ditemani dengan dagelan srimulat ala stand up comedy dua MC yang lawakannya bikin keselek orang makan hahaha.

Setelah makan dessert sebagai ritual pembatalan puasa, kami pun menuju ke dalam Smansa untuk melakukan sholat Maghrib di masjid yang selalu saya rindukan :’). Memasuki bagian dalam Smansa memang tidak banyak berubah, hanya warna cat-nya saja yang terlihat semakin mengkilap, karena baru saja dicat ulang. Seperti biasa, suasana sekolah berwarna hijau muda itu selalu bersih dan tamannya tampak asri terawat :’). Bener-bener kangen Smansa!!! :”””)). Masjid pun juga tak banyak berubah, masih dengan karpet hijau tua dengan tempelan lakban hitam supaya shofnya lurus. Masih dengan tempat wudhu berubin hijau, masih dengan lemari mukena yang tempatnya belum dipindah lagi semenjak saya lulus. Masih dengan perpustakaan masjid yang tempatnya masih di situ hehehe. Rindu saat-saat sholat Dhuha, Dhuhur, dan Ashar di sana :’). Rindu saat-saat menjelang ujian selalu nongkrong di mushola, belajar sama temen-temen :’). Yap, masjid akhwat di lantai dua sedangkan masjid ikhwan di lantai bawah. Suasana Smansa senja itu yang biasanya tampak seram karena bangunannya yang memang bekas rumah sakit Belanda, tapi pada saat itu serasa memutar selaksa memori saat berjalan dan memandang koridor kelas, malah terasa syahdu hehehe.

Setelah kami selesai menunaikan sholat Maghrib kami pun kembali ke pelataran Smansa untuk menikmati hidangan berbuka puasa lagi. Dan, makanan kedua adalah…. *drums roll* SOP! Haha, saat beberapa petugas catering berseragam merah membagikan sop, saya pun berkata dalam hati, ini berasa di tempat mantenan ya, hehehe. Sembari makan kami pun dihibur dengan alunan musik akustik. Pertama, mereka menyanyikan lagu bahasa Jawa, saya gak tahu judulnya dan kemudian lagu kedua mereka menyanyikan Lucky, lagunya Jason Mraz ft. Colbie Caillat. Setelah akustik selesai, sambil menunggu adzan Isya’, dua MC kocak kembali lagi ke atas panggung dengan menampilkan stand up comedy yang membuat kami tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perut. Satu komentar untuk lelucon mereka, KERAS! Leluconnya keras sekali, dari yang nyindir-nyindir panitia lain, nyindir-nyindir peserta, saling membuat lelucon untuk para peserta lainnya, dan jenis-jenis banyolan yang membuat teman yang duduk di samping saya tertawa terpingkal-pingkal sampai adzan Isya’ berkumandang, hahaha. Kemudian acara dipending sejenak untuk menunaikan sholat Isya’.

Oh iya satu dagelan yang saya ingat adalah saat MC mengangkat tinggi-tinggi sebungkus tahu tuna yang katanya asli Pacitan itu sembari berseru (bahasa yang semula bahasa Jawa sudah dialihbahasakan)

“Siapa yang mau tahu tuna Pacitan, ayo ngacung!” tak lama kemudian ada seorang cewek dari kejauhan mengangkat tangan, kemudian disuruh maju oleh peserta, cewek itu bernama Vita.

“Ini tahu tuna dari Izat, lho” sang MC berkata.

Tiba-tiba si Vita nyeletuk kepada MC-nya: “Lha Izat nya mana?”

Kemudian MC pun mulai melancarkan dagelannya: “Lha kamu sebenernya mau tahu tunanya apa mau Izat-nya?” Eaaaaaa seluruh penonton langsung menyoraki sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Kemudian MC pun memangil Izat: “Zat, kamu ke sini dong!” Izat pun maju. Pada saat itu juga dua MC kocak itu berlari meninggalkan dua orang itu di depan dan membiarkan mereka berdua kebingungan sambil tersenyum malu di depan ratusan kepala yang tertawa terpingkal-pingkal melihat ulah duo-MC dan dua korbannya itu. Suasana Smansa malam itu riuh memecah jalanan Monginsidi yang sudah mulai lengang.

Setelah selesai melakukan sholat Isya’, saatnya kami makan besar sembari dihibur dengan musik-musik akustik, mereka menyanyikan lagunya Gigi yang religi (saya lupa judulnya), kemudian lagunya Mr. Big – To be With You, Chrisye – Kangen, dan kemudian Payphone-nya Maroon 5. Mereka yang nyanyi tentu saja suaranya bagus-bagus membuat suasana acara buber beratapkan langit malam berhiaskan bintang gemintang semakin syahdu hehehe.

Kemudian dilanjut dengan acara stand up comedy lagi dan pembacaan quote-quote anak Kasmaji 2012 yang sudah mengirimkan quotenya ke akun twitter @kasmaji12. Sang MC pun memilih empat quote terbaik yang kemudian disuruh maju ke depan untuk bermain game. Gamenya ala-ala Eat Bulaga dan itu absurd banget. Hahaha. Permainan ini terdiri dari dua orang saling berhadapan, salah satu bertugas menebak kata-kata dan menanyakan cluenya dan yang lain hanya boleh menjawab: “iya”, “tidak”, “bisa jadi”. Karena gak punya topi kayak Eat Bulaga maka mereka hanya pakai selembar kertas dengan ditulisi kata-kata kemudian MC memegangi kertas itu di atas kepala anak yang disuruh menebak kata itu. Permainan itu sukses membuat tertawa terpingkal-pingkal karena tingkah para pemainnya yang sama absurd-nya dengan MC nya hahaha. (Aduh maaf ya mas MC, hehehe). Permainan Eat Bulaga itu bersamaan dengan es buah yang dikeluarkan pada penghujung acara (benar, positif! Mirip acara mantenan :D).

Acara selanjutnya dilanjut dengan kesan pesan salah satu perwakilan Kasmaji yang dipanggil oleh MC, kemudian acara ditutup dengan penampilan ‘band’ paling bikin ngakak, karena sumpah gemblung, gendeng, dan wuedyaaan banget! Hahaha. Kenapa gemblung? Karena mereka menampilkan ‘band’ dengan ‘alat musik’ ala kadarnya. Iya, ala kadarnya. Karena alat musik mereka terbuat dari kardus! Gitar dan drum yang terbuat dari kardus dan masih mending kalo bentuknya masih kaku, lha ini, udah letoy gitu kardusnya. Sampai temen-temen semuanya pada ngakak-ngakak saking lucu banget. Nah, kalau alat musiknya dari kardus, pasti gak bisa bunyi, kan? Iya maka dari itu, mereka pakai musik dari laptop yang dicolokkan ke speker. Hahaha. Iya, benar sekali, LIPSYNC ala dagelan hahaha. Nah, musik pun dinyalakan dari laptop pastinya, sang gitaris gadungan pun beraksi sok-sokan main gitar ala gitaris professional, tentu saja dengan gitar kardusnya hahaha XD. Kemudian drummer gadungan juga sok-sokan beraksi layaknya drummer sungguhan, dan lucunya bisa pas gitu sama musiknya hahaha. Pada saat musik yang genrenya rock cadas itu mengalun dan para musisi lipsync beraksi menggila di depan ratusan kepala yang terperangah antara takjub dan geli, tiba-tiba musiknya tersendat-sendat dan berhenti, karena colokannya tidak tercolok dengan pas. Sontak semua penonton tertawa terpingkal-pingkal, saya pun sampai sakit perut gara-gara terlalu lama ketawa. Eh, tapi walaupun musiknya lipsync tapi mereka nyanyinya enggak lipsync lho, hahaha. Kemudian lagu pun diulang lagi, sampai selesai dan seluruh penonton riuh menyoraki dan bertepuk tangan untuk ‘band’ dagelan ini. Hahaha.

Kemudian setelah lagu pertama selesai, mereka melanjutkan dengan bernyanyi lagu absurd sedunia. Bagaimana gak absurd? Masalahnya, mereka berganti genre dari cadas ke dangdut koplo ala OM SERA. Mana pembukaannya ala-ala pertunjukkan dangdut koplo di alun-alun kabupaten gitu. Hahaha XD.

“Semuanya yang di sini yang di sana mari bergoyang yoookk…” kurang lebih seperti itu, saya juga gak begitu denger sih hehehe ._.v

Mereka menyanyikan lagu dangdut koplo, kalau gak salah denger judulnya Terminal Rejosari. Saat musik dangdut koplo mengalun, semula mereka (pemain ‘band’) yang berperilaku cadas langsung berubah joget-joget dangdutan koplo. Benar-benar menggila kayak nonton konser dangdut koplo. Mana beberapa cowok ada yang ikut maju ke depan bertingkah ala-ala tukang sawer masukin duit ke bajunya pemain ‘band’ atau ngelempar-lempar uangnya ke para pemain ‘band’ wahahahaha. Semua penonton tertawa terpingkal-pingkal saking lucunya tingkah mereka yang wuedyan banget hahaha. Haduh buber kali ini gak kenyang sama makanannya tapi malah kenyang sama dagelannya. Acara pun ditutup pada pukul 21.00 karena sudah diultimatum disuruh pulang sama Pak Yamto penjaga sekolah hahaha XD.

Oke, mungkin cukup segini dulu postingan saya kali ini karena udah panjang banget kayak cerpen. Oh iya, hari ini jam 14.00 saya mau ikut workshop nulis bareng @shitlicious di Amarelo Hotel, deket Matahari Singosaren, Jl. Gatot Subroto. Insya Allah besok akan saya posting pengalaman saya ikut workshop nulis yang notabene saya baru pertama kali ikutan workshop nulis hehehe. Okay, see ya to the next post… :)



P.S: Foto menyusul ya guys, soalnya gak punya dokumen fotonya hiks :’(

P.S.S: Bagi yang belum tahu, dagelan itu artinya guyonan, lelucon.

Sabtu, 06 Juli 2013

Blog and Diary

18:00 0 Comments


Ardi’s Zone (ardiloarmadillo.blogspot.com)

Posted on January 28th, 2007

Aku ingat saat pertama kali aku kenal kamu. Kamu hanyalah gadis biasa yang tidak cantik dan tidak mempesona. Kita memang satu sekolah, tetapi kita tidak begitu saling kenal dekat. Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasakan ada hal yang aneh pada diriku. Tapi aku takut mengakuinya. Setiap aku berpapasan denganmu, ada semacam rasa aneh yang kurasakan. Walaupun kutahu kamu tak akan peduli itu.

Aku ingat hari itu, kamu dengan santainya melenggang di hadapanku, dan aku tahu kamu juga tak begitu pedulikan aku. Aku katakan sekali lagi, kita tak cukup dekat, bahkan sangat sangat jauh. Kamu juga tak akan peduli dan tak akan pernah mau tahu kalau rasa hati ini saat kamu berjalan di dekatku bagaikan sesuatu yang tak bisa terejawantahkan dengan sekumpulan kata-kata biasa. Sulit untuk jujur pada hati ini. Bahkan setiap malam dirimu selalu membayangiku. Walaupun kucoba tuk berbohong pada diriku sendiri kalau aku tak memiliki rasa itu. Sakit memang, kalau dipendam seperti itu. Dan semakin aku mengelak, rasa itu semakin membandel tumbuh subur bak jamur di musim hujan. 

Aku ingat hari itu, aku merasa ada yang tak beres dengan hati ini. Maka kucoba untuk menata hatiku kembali. Fokus pada tujuan akhirku di sini. Aku tak mau sesuatu seperti rasa ini melunturkan ambisiku. Dan aku sedikit demi sedikit belajar tuk membencimu. Karena dirimu telah mengganggu hidupku dengan cara yang lain. 

Walau sekuat tenaga aku selalu mendoktrin hatiku untuk selalu berkata ‘aku benci dirimu’ tapi sebagian hati yang lain seperti menjerit tak rela. Dan akhirnya aku bertekuk lutut dengan semua ini. Oh Tuhan, kenapa ini terjadi pada diriku?

Aku selalu berpikir, apakah kau tercipta untukku? Tapi pertanyaan gila itu selalu kutepis, dan mencoba untuk tak akan pernah memikirkan hal itu lagi. Tapi kenapa kamu selalu ada di setiap mimpiku? Muncul di saat aku sendirian dan sepi? Bahkan aku ingat juga saat aku menjadi salah tingkah saat bertemu denganmu. Tapi lagi lagi, kau juga tak akan peduli denganku.

Dan sering otakku melontarkan pertanyaan pertanyaan gila yang lain, aku selalu berpikir apakah kau juga pernah memikirkan diriku? Dan aku tau angan-anganku terlalu tinggi. 


***

28 January 2007 at 8.50 pm

Dear Kamu

Entah kenapa akhir-akhir ini aku selalu terbayang-bayang wajahmu. Untuk yang kesekian kalinya, aku melihat kau berjalan di koridor itu. Kau tahu, rasanya seperti sebuah hembusan angin. Membelai. Membuai. Melenakan siapa saja yang merasakannya. Dan itulah yang terjadi padaku.

Kamu itu misterius! Jujur saja aku menyukai style mu yang misterius itu. Kemisteriusanmu sungguh membuatku semakin penasaran akan dirimu. Sosokmu itu…. Bagaikan bayangan yang selalu hadir di setiap mimpiku. Kau tak pernah tahu kalau aku menyimpan rasa ini. Rasa yang begitu bodoh dan hina. Setiap aku melihatnya jantungku terasa ingin kubuang. Aku berharap tak memiliki jantung yang setiap bertemu denganmu selalu mengehentak rongga dada. 

Kuharap kau tak akan pernah tahu. Dibalik keacuhanku dan ketidakpedulianku akan kehadiran dirimu, dibalik itu pula aku menyimpan getar-getar yang memaksa setiap ujung lidahku untuk merangkai kata-kata indah, memaksa sudut bibirku untuk membuka, memaksa otak ini menyusun sebaris kata, yang mungkin bisa menggambarkan perasaanku kepadamu.

Kau tahu? Aku senang melihat senyummu. Senyummu itu benar-benar menyejukkan siapa saja yang melihatnya. Kau tahu? Setiap aku berjalan melewati dirimu rasanya aku ingin kabur saja. Aku malu. Aku grogi. Rasanya aku ingin berteriak memanggilmu dan mengatakan sesuatu yang menyesakkan rongga dada ini.
Memang kita tak saling kenal dekat. Memang kau dan aku jauh. Tapi apa aku salah kalau aku punya perasaan itu. Kuakui memang aku tak pernah mengenal sangat dekat sosok dirimu. Tapi apa aku salah kalau aku memiliki rasa itu pada seorang ‘asing’ yang belum aku kenal secara detail setiap inchi nya. Apa aku salah mengenalmu secara ‘buta’ saja. Secara universal saja. Kadang aku juga tak pernah habis pikir kenapa aku begitu menyukaimu. Kau memang bukanlah pangeran tampan seperti yang ada di cerita negeri dongeng. Tapi, pesonamu bukanlah ketampananmu. Itulah yang menggetarkan pintu hati ini, sosokmu menyeruak masuk menempati bagian hati ini yang memang masih kosong.

Kau dan aku jauh. Jauh fisik, dan perlu aku ingat kita tak pernah saling dekat satu sama lain. Tapi aku harap, hatiku dan hatimu menyatu... Aku tak pernah ingin berharap kalau kamu adalah bagian diriku tapi sebagian dari diriku ingin berkata: “semoga kamulah separuh dari diriku”. 

Kuakui memang aku bukanlah gadis idaman. Kuakui aku bukanlah siapa-siapa. Tapi bolehkah aku bermimpi untuk menjadi bagian dirimu? Dan pertanyaan bodoh ini memang selalu menggangguku di setiap waktu. 

Dan aku akan tetap menyimpan rasa ini di dalam hati. Biar saja, kita berjalan di sini sendiri-sendiri. Biar saja, jika Tuhan memang mengijinkan kelak aku dan kau bersama, suatu saat pasti akan terjadi. Tapi jika Tuhan berkehendak lain, maka tolong Tuhan hapus semua bayang-bayang dia dari dalam otakku, hilangkan perasaan ini, jauhkanlah aku dari dia, biarkanlah diriku hidup tenang, dan pertemukanlah aku dengan seseorang yang tepat. Hapuskanlah dia dari ingatanku kalau memang dia bukanlah untukku…


P.S: Jangan su’udzon ini hanyalah cerpen karangan fiktif belaka. Ini cerpen ditulis waktu saya masih kelas 11 SMA (dua tahun lalu) dan baru dilanjutin tanggal 16 November 2012. Lantas, baru dipostkan di blog hari ini karena saya kurang pede hehe. Tenang, bukan kisah nyata penulis. Sekian. :) Inspired by: Crush – David Archuletta.

Jumat, 05 Juli 2013

Sebuah Cerpen

18:00 2 Comments


Mengapa rasa ini terasa begitu kuat? Tak kuasa aku untuk menahannya. Bukankah aku telah bersumpah untuk tak akan terpaut dengan hati yang baru? Bukankah aku telah membentengi diriku sendiri untuk tidak berangan-angan terlalu tinggi? Aku berjanji untuk tidak pernah jatuh cinta (lagi). Sudah cukup diriku meletakkan hatiku di tempat yang salah. Sudah cukup membalut diri dengan seribu dosa karena mengangankan dirinya yang bukan takdirku. Sudah cukup aku melayang kemudian terhempas seketika, saat kutahu kenyataannya tak seindah anganku. Aku tahu rasa kagum (atau mungkin cinta) ini adalah anugerah dari-Nya. Aku tahu rasa ini adalah rasa terindah yang diberikan-Nya untuk seluruh umat manusia. Tapi kenapa harus dia kemudian dia (yang lain)? Tapi kenapa ku harus mengagumi sosoknya yang bahkan mengenalku saja tidak. Rasa ini bagaikan candu. Rasa ini semakin lama semakin adiktif. 

Tahukah kau mengapa aku takut untuk jatuh cinta (lagi)? Karena aku rapuh. Kaulihat aku kuat. Tapi itu hanyalah topeng belaka. Tahukah kau mengapa aku takut untuk jatuh cinta (lagi)? Karena aku takut. Takut dia yang kuimpikan tak akan pernah menjadi milikku. Takut terlalu mengangankan dirinya terlalu jauh. Takut menghadapi kenyataan. Takut hatiku yang serapuh kaca ini hancur (lagi) berkeping-keping, seperti pertama kalinya aku mengenal cinta (yang semu). 

Dan aku memilih untuk menyimpan rasa ini sendiri. Mengagumi (atau mungkin Mencintai) dalam diam. Menyimpannya untuk diriku sendiri. Sakit memang. Sakit rasanya. Dia yang kukagumi mungkin tak bisa merasakannya. Dia yang selalu mengisi relung-relung hati ku yang kosong. Bayangannya yang selalu berputar-putar dalam pikiranku. Sakit rasanya, saat kutahu bahwa dia tidak mengetahui apa yang kurasa. Saat kutahu dia tidak merasakan apa yang kurasa. Sering kubertanya, adakah diriku di hatinya? Adakah diriku di pikirannya? Apakah dia memiliki rasa yang sama? Atau itu hanyalah sebuah impian semu belaka? 

Sindrom Obsessive-Compulsive yang saban hari menyerangku, hanya ingin tahu dia dimana? Dia sedang apa? Hanya ingin tahu, apa yang disukainya? Apa yang dibencinya? Kalau boleh jujur, semua itu kulakukan diluar area kesadaranku. Terjadi begitu saja. Oh, atau mungkin aku memang sudah gila. Dan inilah lelucon yang paling aku takutkan seumur hidupku. Gila karena dia. Gila karena cinta. 

Satu yang aku takutkan adalah kehilangan dirimu. Sering ku berkata bahwa memang mungkin aku benar-benar sedang gila jika benar aku takut kehilanganmu. Aku takut kalau kau bersama yang lain. Tapi, terkadang logika selalu menang, bisakah aku kehilangan apa yang tak pernah aku miliki?

Anonymous, on the edge of broken heart

Winter, New Year’s eve 2013


Postscript: Semoga mewakili perasaan para manusia-manusia galau di dunia. Iseng bikin cerpen bentuk narasi (tanpa dialog) yang lebih mirip curhatan colongan yang berasal dari hati hahahaha. Inspired by: Can’t Lose What You Never Had – Westlife :D


P.S.S: Cerpen ini dibuat delapan bulan yang lalu. Got it! Jangan su’udzon ini cuma cerpen. Cerpen ditulis pake tangan bukan pake hati :p. Maaf ya kalo menyayat hati *eh pede amat XD

Selasa, 11 Juni 2013

Edisi Gak Penting

20:52 0 Comments


Alohaaa! Kembali lagi bersama saya. Kali ini saya mau pake bahasa yang immature karena hari ini adalah hari kemerdekaan saya. Soalnya habis kelar ngerjain ujian Kepribadian sama ujian Kode Etik. Tugas akhir pun juga udah finish. Udah bisa sedikit bernapas lega. Fuuuuhhh…

Kenapa postingan kali ini saya beri judul Edisi Gak Penting? Iya emang sebenarnya bahan postingan kali ini enggak begitu penting-penting amat buat dishare-kan. Tahu gak kenapa? Karena ini postingan dibikin akibat request dari temen saya. Yaaa… bukan itu juga sih…. Postingan ini dibuat bertepatan dengan hari lahir saya yang ke TUJUH BELAS!!!! YAAAAYYY!!! *sadar Mus, sadar umur*

Well, iya, saya ngaku deh. Iya, umur saya masih ENAM BELAS kok… tiga tahun lalu wueehehehehe. Kalo tiga tahun lalu umur enam belas, sekarang umur berapa hayoo?? Pasti bisa ngitung kan? That’s right! NINETEEN! It means that ROAD TO ‘KEPALA DUA’! Almost TWENTY! For God’s sake! Ternyata SAYA UDAH TUAAAAAAAAAAAAAA!!!!

Alhamdulillahirabbil ‘alamin… saya masih diberi kesempatan untuk hidup oleh Allah pada tahun yang kesembilan belas ini. Bersyukur, sangat bersyukur. Apalagi bentar lagi RAMADHAAAANNN!!! YAAAAYYY!!! RAMADHAN SEBENTAR LAGIIII!!!! *Alay kumat, mulai ga sadar sama umur*

Umur Sembilan Belas itu artinya udah memasuki akhir remaja. Udah masuk masa awal dewasa. Maka di umur Sembilan belas ini saya berusaha untuk bisa lebih tidak immature, lebih dewasa, lebih bijaksana, dari sebelum-sebelumnya. Aamiin. Mohon doa dan bantuannya ya teman-teman… :*

Kemudian di hari yang membuat saya ‘bertambah tua’ ini saya pun jadi mikir. Sebenarnya apa aja sih yang harus saya lakukan untuk menyongsong umur kepala dua? Apa aja sih yang sudah saya lakukan sebelum umur kesembilan belas ini? Apa aja sih yang belum sempat dilakukan? Maka saya mencoba merenung. Ternyata, apa yang saya lakukan itu lebih sedikit daripada apa yang belum saya lakukan. Masih banyak beberapa keinginan dan planning-planning yang direncanakan akan dilakukan dalam waktu dekat ini, tapi sampai sekarang masih belum kesampaian. Masiiiihhh… banyak sekali. 

Oh iya, karena biasanya ritual bertambah umur saya itu muhasabah diri, daripada saya tuliskan di sini dan bikin para pembaca yang budiman jadi tambah galau ikut mikir, mending di-skip aja ya. Pertanyaan yang di atas itu cukup biar saya saja yang jawab huehehehe. 

Well, hanya mau membagi cerita yang sebenarnya sama gak pentingnya dengan judul postingan kali ini (Ingat! Judul kali ini postingan Edisi Gak Penting. So, suka-suka saya mau posting-posting gak penting, atau cerita-cerita gak penting edisi saya mueheheh). Hari ini walaupun katanya hari spesial, tapi sama sekali biasa aja, sama kayak hari-hari biasa. Ada sih yang bikin beda, dikit. Yang bikin beda tuh, ucapan-ucapan ‘Happy Birthday, Wish You All The Best’ yang selalu memenuhi wall facebook dan mention twitter saya. Bahkan Whatsapp pun gak kalah ramenya -_-. Bahkan di kampus pun juga (berasa artis sehari). Kayaknya saya harus non-aktifin reminder ultah di facebook deh, biar keliatan siapa yang inget dan siapa yang engga inget ultah saya mehehehe. Tapi sayangnya, cara non-aktifinnya itu saya gak bisa -_-. Biasa sih, karena orang rumah pada gak inget ini tanggal 11 Juni. Hiks. Kalau itu emang udah biasa. 11 Juni itu kayak hari-hari biasa gitu deh… Lagian saya udah tua, mana mungkin orang rumah pada ngasih kue kayak anak-anak TK lagi ultah aja. Hmmm… 

11 Juni 2013 itu sebenernya nothing special. Just like 11 Juni tahun-tahun sebelumnya. Why? Karena momen yang sebenernya saya tunggu, berharap ada sesuatu special terjadi pada saya, sampai jam ini, menit ini, detik ini pun tak ada yang special. Yah… berharap ada Pangeran bermobil Porsche berkuda putih datang ke rumah saya sambil bawa satu kerdus coklat Cadburry satu buket bunga kemudian berkata: 


“It’s a beautiful night, we’re looking for something dumb to do. Hey baby, I think I wanna marry you…”  


Ngek banget! Itu mah yang dateng Bruno Mars bukan White-Horsed Prince -_-. (*eh salah fokus. Maaf saya lagi error).

Yaa… seperti itulah… nothing special karena ada yang masih cuek-cuek aja tuh… 

Teruss…. Sebenarnya postingan ini bakal ngegantung dan gak ada klimaks ataupun ending yang jelas. Udah gini doang, dan ini mungkin akan jadi postingan terabsurd sepanjang karir saya dalam dunia blogging-memblogging. 

Okay, mungkin cukup segini aja. Saya biarkan postingan ini menggantung. Namanya aja postingan Edisi Gak Penting. Udah isinya gak penting, endingnya gak penting pulak. Ckckck parah bener yak… 

Okay, See ya di post selanjutnyaaa… :*

P.S: Oh iya, hari ini juga bertepatan dengan ulang tahunnya Sherina Munaf dan Shia LaBeouf lhoo..  Selamat Ulang Tahun untuk Shia LaBeouf dan Sherina Munaf!!! :)
Pada kenal Shia LaBeouf ga? Itu lhooohh… aktor Disturbia sama Transformer. Yang gak tahu, katrok! Muehehehe. 

P.S.S: Maaf ya penulisnya lagi gangguan. P.S yang di atas tadi gak penting abaikan aja. Oh, udah terlanjur kebaca ya? Yaudah gakpapa hehehe.

P.S.S.S: Maaf lagi jayus banget. Kalo mau nimpukin boleh kok :*

Senin, 10 Juni 2013

The World Needs You

12:07 0 Comments
Ingin rasanya saya membuat postingan ini berbahasa lebih merakyat dan ABG banget seperti halnya postingan-postingan saya yang sebelumnya. Tapi entah kenapa, saya merasa absurd dan ridiculous kalau kembali mengulangi bentuk tulisan saya yang cenderung immature seperti sebelum-sebelumnya. Maka mungkin pada postingan kali ini saya akan menggunakan bahasa yang mudah dicerna dan masih menyenangkan untuk dibaca.

Kenapa postingan kali ini saya menggunakan judul yang kedengaran cetar membahana ini? Karena saya terinspirasi dengan judul seminar yang baru saja saya ikuti. Seminar ini bertema Kepemudaan. Sebenarnya judul dengan isinya mungkin tidak akan berkolerasi banyak karena apa yang akan saya jabarkan di sini tidak mutlak sepenuhnya berisi materi seminar. Hanya saja saya ingin membagi pengalaman saya mengikuti seminar ini, karena seminar ini mungkin akan jadi salah satu momen yang paling berkesan bagi saya. Hehehe.

Nah, pada postingan kali ini saya hanya ingin menceritakan tentang pengalaman saya mengikuti sebuah Seminar Nasional yang diadakan oleh sebuah universitas swasta di kota Solo. Seminar? Iya, seminar. Pasti kalian bertanya-tanya, apa asiknya seminar ini sih sampai-sampai harus dituliskan dan diberikan sebuah space khusus di dalam sebuah blog. Mungkin ada juga sebagian dari kalian yang menganggap bahwa seminar adalah acara duduk manis yang membosankan. Tak ada bedanya seperti kuliah umum. Well, hal itu memang benar adanya. Tapi bukan sifat-sifat umum seminar ini yang akan saya bicarakan. Seminar yang akan saya bahas ini berkaitan dengan tema (dan pembicaranya juga sih). Hehe.

Well, sebuah seminar pada dasarnya diukur dari menarik atau tidaknya suatu tema dan selain itu seberapa terkenal atau tidak terkenalnya pembicara yang mengisi seminar itu. Apalagi cakupan dari seminar tersebut, apakah itu Seminar Regional, Seminar Nasional, ataupun Seminar Internasional.

Sedangkan pada seminar yang baru saja saya ikuti hari Ahad, 9 Juni 2013 memang memiliki tema yang lumayan menarik. Bertema tentang pemuda, generasi penerus bangsa.  Calon pemimpin dunia. Pemegang kunci peradaban. Lantas, sejauh mana kiprah kita sebagai pemuda pemudi bangsa saat ini?  Apakah kita hanya bertopang dagu, ongkang-ongkang kaki. Lantas berpuas diri hanya menjadi penonton saja? Itulah gambaran singkat dalam seminar tersebut. Itulah menariknya seminar pada kemarin pagi.

Well, sedikit mengaku, sebenarnya bukan karena tema saja. Biasanya kalau saya akan menghadiri sebuah seminar, saya selalu melihat pembicaranya. Yap, pembicara memang sesuatu yang sering dijadikan parameter apakah seminar tersebut akan menarik atau tidak. Banyak peminatnya atau sedikit peminatnya. Tentu seminar yang sukses, selain mengusung tema yang up to date tentu saja disokong dengan mengundang seorang pembicara yang tak kalah up to date, terkenal, dan sedang booming. Perlu kalian ketahui, seminar bukanlah sebuah panggung konser, dan di sini mungkin kalian tidak akan menemukan semacam penyanyi Korea, girlband maupun boyband asal Negeri Ginseng dan segala hal-hal booming yang selalu kalian anggap sebagai sesuatu yang update dan lagi ngetren (ini kenapa jadi out of topic (?)). Yap, tulisan ini dirasa semakin bertele-tele saja, langsung saja kalau begitu (kebiasaan kalau bikin postingan, preambule-nya selalu kepanjangan).

Sebenarnya di sini saya hanya ingin mengatakan, kenapa seminar ini terlihat menarik (menurut saya)? Karena salah satu dari tiga pembicaranya adalah seorang penulis novel favorit saya, yang statusnya selalu saya share di facebook, yang fanpage-nya selalu enak untuk di-stalking hehe. Yap, salah satu pembicaranya adalah Tere Liye. Muehehe. Saya di sini tidak akan membahas panjang lebar tentang materi dari seminarnya, karena kalau dituliskan terlalu panjang. Mungkin hanya beberapa materi yang dirasa penting untuk dibagikan, akan saya tuliskan. 

Yap, langsung saja, pasti sudah paham semua kalau Tere Liye itu laki-laki. Tapi mungkin ada beberapa orang yang mengira Tere Liye itu perempuan. Hahaha, lucu sekali. Lalu apa hubungannya dengan seminar ini? Sebenarnya tidak ada hubungannya jenis kelamin dengan seminar ini. Saya juga bingung kenapa saya menulis itu -_-. 

Hmm… jujur saja, ini kali pertama saya mengikuti seminar yang pembicaranya Tere Liye. Karena sebenarnya saya sungguh penasaran dengan penulis satu ini. Pengen banget ikut seminarnya tapi selalu saja kehabisan tiket. Saking banyak peminatnya kali yak… Dan Alhamdulillah rasa penasaran saya terjawab sudah setelah saya mengikuti seminar ini.

Kalau dilihat dari tulisan-tulisannya di fanpage dan novel-novelnya yang selalu dalam, menyayat hati, dan selalu-gue-banget itu pasti akan memberikan kesan bahwa Tere Liye itu orangnya… yah… semacam melankolis, agak feminim, perfeksionis, dan segala bentuk atribusi-atribusi awal yang mengira-ngira bagaimana kepribadian penulis satu ini. Dan, rasa penasaran akan Tere Liye terjawab sudah dengan nyata dan jelas, karena sangat terpampang nyata. Rasanya antara pengen ketawa, takjub, surprise, dan segala campur aduk saat pertama kali lihat style-nya Tere Liye. Bagaimana tidak? Karena penulis satu ini bener-bener lucu sekali, dua pembicara yang lainnya menggunakan pakaian formal (kemeja batik, celana bahan warna hitam, dan sepatu kerja), sedangkan Tere Liye? Tentu saja siapapun yang melihat akan kaget dan tidak percaya (apalagi seperti saya ini yang selalu tak pernah absen menge-stalk fanpage beliau). Beliau hanya memakai kaos lengan panjang seperti sweater, celana jeans dan SANDAL JEPIT! Iya, kalian gak salah baca, dan saya juga tidak salah nulis kok. SANDAL JEPIT! Oh Gosh! Bener-bener kayak baru aja bangun tidur terus berangkat ke acara seminar. Tentu saja saya gak salah lihat karena saya berada di barisan paling depan, barisan pertama dari panggung. Apa yang dipake Tere Liye jelas banget lah, lagian mata saya masih normal, enggak minus.  Sungguh, penulis satu ini sangat eksentrik.  Dalam hati saya bilang: “How wonderful! Gue suka gaya loe, Pak!” wkwk. Karena dengan gaya yang terkesan slengekan itu yang membuat dirinya unik dan berbeda dari yang lain. Hahaha. Maka dari itu, seharian tadi saya takjub, aahhh… pokoknya speechless mau ngomong apa. Gaya nya Tere Liye itu… KECE BANGET!!! :D 

Bytheway saya jadi inget waktu dr. Tonang (dosen FKUNS yang juga salah satu pembicara seminar tersebut) sampai bilang: “Kayaknya saya salah kostum…” sambil tertawa seraya melihat Tere Liye. Tere Liye juga ikutan senyum-senyum hahaha. 

Dan satu lagi yang membuat saya kaget adalah gaya bicaranya. Yah… saya kira beliau akan berbicara dengan bahasa melankolis seperti halnya tulisan-tulisannya yang penuh dengan nuansa melankolis. Hei, tapi ternyata sungguh berkebalikan dengan apa yang saya bayangkan. Gaya bicaranya sangat kece lagi! Sekali lagi, kece banget! Langsung straight to the point, tidak bertele-tele, dan tidak penuh dengan ameliorasi konotatif sebagai bentuk penghalusan. Benar-benar apa adanya. Benar-benar tipikal gaya bicara orang eksak. Ya, karena memang beliau adalah orang eksak, maka tidak heran juga kalau gaya bicaranya seperti itu. Hahaha. Yap, seperti itulah kesan pertama saya terhadap penulis tersebut :D

Yap, anyway, kalau dipikir-pikir, gaya bicara dan style nya Tere Liye itu mirip banget sama Pak Jokowi. Tahu kan Pak Jokowi kalau ngomong kayak gimana? Semacam apa yang ada dalam pikirannya itu dikeluarkan semuanya. Kalau lagi ngomong gitu walaupun nge-jleb dan sarkastisnya bener banget tetapi memang benar adanya. Memang kenyataannya seperti itu. Nge-jleb tetapi lucu. Aaahhh… yaaahh… tipikal seperti itulah saya juga bingung cara pendeskripsiannya seperti apa hehe.

Anyway, bagi yang pernah atau sering datang ke seminar yang Tere Liye jadi pembicaranya, mungkin sudah tidak asing dengan preambule nya Tere Liye yang super duper menyindir banget hahaha.

“Siapa yang datang ke acara seminar ini cuma mau ketemu saya?”
Dalam hati saya jawab: “Saya! Hehehe”
“Siapa yang datang ke acara seminar ini karena mau minta tanda tangan di buku saya?”
Dalam hati saya jawab: “Oke pak saya ngaku, hehe”
“Siapa yang datang ke acara ini karena mau cari ilmu?”
Dalam hati saya jawab: “Yah… cari ilmu sama mau ketemu Tere Liye ehehe”
“Siapa yang datang ke acara seminar ini yang sudah like fanpage saya?”
Saya jawab: “Iye pak saya lagi, hehe” sambil ngacung
“Tapi kenapa kalian masih mau datang ke sini? Sebenarnya apa yang saya sampaikan tidak jauh berbeda dengan apa yang saya tuliskan di facebook”
Saya hanya nyengir “Hehehe” semua peserta seminar tertawa.
Terus beliau tanya lagi: “Siapa yang sebelumnya udah pernah datang ke acara yang saya juga jadi pembicaranya?”
Tiba-tiba ada cowok yang ngacung. Terus beliau tanya: “Emang kamu gak bosen, mas?” semua peserta tertawa. Hahaha.

Nah, mungkin cukup segitu saja cerita tentang Tere Liye nya. Oh iya saya juga mau membagikan sedikit tentang apa yang telah disampaikan oleh Tere Liye beserta pembicara-pembicara yang lainnya saya padatkan jadi satu. Semoga tulisan saya ini dapat menginspirasi para pembaca yang budiman.

Masa muda itu masa keemasan. Kenapa? Karena pada masa ini kita, selaku pemuda, masih memiliki fisik dan mental yang kuat. Pada masa ini, fisik kita telah melalui perkembangan yang pesat. Biasanya para pemuda memiliki badan yang sehat. Selain badan yang sehat mereka juga memiliki mental yang kuat. Dijatuhkan sekali maka mereka akan berusaha untuk bangkit lagi. Lantas, kita yang sekarang berada pada masa keemasan ini apa yang telah kita lakukan? Apa yang telah kita lakukan sesuai dengan keistimewaan yang ada pada kita para pemuda? Sebenarnya untuk menjadi pemuda yang bermanfaat itu tidaklah muluk-muluk. Seperti kata Tere Liye, langkah-langkah menjadi pemuda sejati itu adalah:

1.    Semua dari kita itu spesial
Tentu saja diri kita itu spesial. Seberapa pun anehnya kita, tetap diri kita itu spesial. Tidak usah muluk-muluk menjadi spesial untuk semua orang. Kalau kita tidak menjadi spesial di antara yang spesial, maka sebenarnya kita itu masih spesial di mata keluarga dan orang tua kita. Namun jikalau mungkin kalian merasa kita belum menjadi spesial untuk orang tua dan keluarga kita, maka kita bisa menjadi spesial menurut kita sendiri. Gigit pemahaman ini baik-baik, karena sebenarnya kebahagiaan yang hakiki itu terletak pada hati dan diri kita masing-masing. Bukan terletak seberapa kaya atau kerennya kita.

2.    Taklukkan kemalasan.
Ini memang yang paling berat. Karena kata Tere Liye, musuh terbesar kita adalah kemalasan. Tapi terkadang kemalasan itu bisa menjadi teman baik kita. Mau gak mau sifat malas itu harus ditaklukkan. Jangan mudah terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan yang melenakan. Karena sebenarnya waktu terbaik untuk menyiapkan sesuatu itu jauh-jauh hari dari sebelumnya, minimal 20 tahun sebelumnya.

3.    Kompetitor terbesar kita adalah diri sendiri.

Karena di dalam diri sendiri itu terdapat pikiran-pikiran yang bisa saja menghambat kita untuk maju. Kemalasan pun juga berasal dari diri kita. Maka sebaik mungkin kita dapat menaklukkan diri kita dan melakukan semuanya dengan baik. Pemahaman yang tidak boleh dilupakan adalah, kebahagiaan itu berada dari diri kita sendiri. 

4.    Ketekunan adalah kunci dari segalanya.

Barangsiapa senantiasa tekun dalam melakukan sesuatu maka ia akan mendapatkan buahnya berupa hasil yang diharapkan. Selalu tanamkan pemahaman tentang ‘tekun’ itu baik-baik.

5.    Lakukan yang terbaik, tidak ada resep spesial untuk menjadi spesial!
Kalau yang sering membaca tulisan-tulisan di fanpage Tere Liye maka penjelasan-penjelasan tersebut mungkin sudah tidak asing atau bahkan khatam dan hapal mati haha. Lakukan yang terbaik itu sebenarnya tidak muluk-muluk. Karena orang yang senantiasa melakukan segala pekerjaannya dengan sebaik-baiknya maka ia akan mendapatkan apa yang terbaik. Sebagai pemuda, apapun cita-cita kita itu tetap bagus. Tetap lakukan yang terbaik. Nikmati sebuah proses dengan melakukan yang terbaik. Kita tidak perlu menjadi sesuatu yang lain untuk menjadi hebat. Hidup kita itu dinilai bukan dari seberapa kayanya kita, tetapi sejauh mana kebermanfaatan kita terhadap orang-orang di sekitar kita. 

Well, mungkin cukup sekian postingan saya kali ini, semoga para pembaca setia blog saya yang budiman tidak bosan walaupun tulisan saya kadang-kadang absurd dan gak jelas ataupun out of topic. Semoga tulisan saya kali ini dapat kalian baca dan kalian dapat menggigit pemahaman ini dengan sebaik-baiknya (seperti kata Tere Liye). Walaupun saya tidak pandai berbicara (biasanya saya berbicara terlalu cepat karena otak saya berjalan lebih cepat daripada mulut saya, untuk mengimbanginya maka saya sering ngomong cepat kalau lagi presentasi hehe) maka cara saya menyalurkan ilmu yang telah saya dapatkan adalah dengan menuliskannya dan membagikannya kepada kalian semua. Terima kasih. See ya di post selanjutnya… :)