Jumat, 15 Mei 2015

“Senja yang Mendadak Bisu” dan Kampus Fiksi Emas 2015

15:15 0 Comments
Seharusnya tulisan ini saya buat tiga minggu yang lalu, tapi karena tugas dan ujian yang makin hari makin membadai membuat saya lupa jikalau wajib banget nulis postingan semacam ini. Ya, tiga minggu yang lalu, tepatnya tanggal 26 April 2015, kaki saya kembali menjejak di kota pelajar yang menyimpan beribu kenangan (tsaaaahh). Yup, kali ini saya melancong ke Jogja dalam rangka memenuhi undangan untuk menghadiri acara ulang tahun kedua Kampus Fiksi. Nah, pada acara ulang tahun KampusFiksi juga terdapat acara launching kumpulan cerpen “Senja yang Mendadak Bisu”. Alhamdulillah, cerpen saya menjadi salah satu dari dua puluh cerpen yang mendapatkan kesempatan untuk dibukukan DivaPress. :’)
Jadi ceritanya begini, beberapa bulan lalu Kampus Fiksi mengadakan sebuah event lomba cerpen bertema lokalitas. Jadi, dalam cerpen tersebut harus memuat unsur lokalitas kebudayaan suatu daerah di Indonesia. Selain menitikberatkan pada khasanah budaya Indonesia, cerpen tersebut juga harus detail dalam menggambarkan unsur lokalitas serta memiliki pesan moral yang mendalam. Pada awalnya saya kurang begitu berniat untuk mengikuti lomba ini. Pertama, tema lokalitas adalah hal yang paling sulit, menurut saya. Kedua, kalau mau nulis lokalitas Jawa itu sudah terlalu mainstream dan sebagai anak yang dilahirkan di keluarga Jawa, saya sama sekali tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang keunikan adat Jawa. Ketiga, lokalitas bukan genre saya banget, entahlah saya bisa membuatnya atau tidak. Berbagai pikiran yang sebenarnya kurang rasional tersebut terus menghantui saya. Sampai akhirnya deadline sudah makin dekat, tinggal sebulan lagi, dan saya baru mendapat ide untuk menulis lokalitas budaya Aceh. Yup, keinginan saya yang sebenarnya setengah-setengah itu menjadi semakin menggebu ketika teman-teman KF10 saling menyemangati dengan tagline; “Kalau bisa semua KF10 harus ikutan!”. Karena saya orangnya gampang panas, saya pun jadi semakin semangat. Halah.
Nah, masa-masa pengeksekusian ide mengenai cerpen lokalitas saya tersebut memerlukan waktu yang terbilang lama, bahkan cenderung lambat progress-nya dibandingkan cerpen-cerpen teman saya yang lain. Dimulai dari surfing di internet sampai bertanya dengan teman-keren-sebangku-kelas-sepuluh-ketika-SMA yang keturunan Aceh, Cut Khusnul Khotimah alias Ika. Sungguh, tanpa bantuan Ika rasa-rasanya cerpen saya mustahil selesai. Serius. Mustahil. Bahkan, selama masa-masa pengeksekusian cerpen tersebut saya jadi suka tidur-tiduran, dengan mata menerawang, kemudian duduk di depan laptop seraya memandang nanar lembar kosong Microsoft Word. Benar-benar seperti orang setengah gila. Untung saja pada saat itu masih masa-masa liburan semester, jadi mungkin setengah gila untuk beberapa waktu tidak akan menjadi masalah. Hahaha.
Voila! Setelah melalui fase pengendapan, penggodokan, hingga penyulingan ide yang memakan waktu sekitar dua sampai tiga minggu, akhirnya cerpen saya pun selesai. Waktu pun semakin menghimpit, deadline sudah tinggal beberapa hari. Saya mengirim cerpen saya untuk dikoreksi dan dikritisi ke beberapa teman KF10 dan salah satu teman saya yang nantinya akan menjadi peserta Kampus Fiksi angkatan 22, Arina Sabila Haq. Yup, orang kedua yang memiliki andil besar pada cerpen saya kali ini. Melalui koreksinya, saya menemukan beberapa bagian janggal yang luput dari pengamatan saya. Setelah melalui kritik dan saran kemudian dilanjutkan pada proses revisi plus self-editing, akhirnya saya pun memberanikan diri mengirimkan cerpen saya itu tepat H-2 sebelum deadline. Leganya….
Ah, saya mah pasrah saja ketika melihat seratus lebih cerpen yang masuk di list peserta lomba. Saat itu, saya memang pesimis masuk nominasi, mengingat saingannya bukan penulis sembarangan. Kebanyakan peserta lomba adalah alumni Kampus Fiksi senior di atas saya, yang tentu saja dari kualitas tulisan jauh lebih baik daripada saya. Hiks banget, memang. Sebelum jatuh tercerai berai, saya sudah menyiapkan mental jikalau lagi-lagi tulisan saya nantinya bakal masuk tong sampah. Hehe.
Waktu kian berjalan, saya sudah mulai masuk kuliah, ikut membantu penelitian disertasi dosen, hingga input hasil kuesioner penelitian dosen, sampai akhirnya waktu pengumuman pun tiba. Parahnya, saya lupa kalau hari itu adalah pengumuman nominasi dua puluh besar lomba cerpen lokalitas Kampus Fiksi. Sampai kemudian Mbak Meka, teman saya KF10, mengetag nama saya di Facebook beserta link pengumuman lomba cerpen. Kaget! Berdebar-debar saya membuka link tersebut dan menemukan nama beserta cerpen saya terselip di antara nominee yang lain, membuat saya speechless selama beberapa jeda. Okay, ini memang sedikit alay, tetapi memang begitulah yang saya rasakan. Ah, akhirnya setelah melalui proses selama dua tahun menghidupkan kembali semangat menulis saya yang pernah mati suri, baru kali ini saya berhasil menembus penerbit mayor meskipun hanya masuk kumpulan cerpen. Hehe.
Sebelum-sebelumnya, saya memang sudah banyak ikut event menulis cerpen, dan sering pula dibukukan, tapi kebanyakan masih di penerbit indie, jadi belum terlalu nampak gregetnya. Hehe. Alhamdulillah, setelah melalui proses panjang akhirnya salah satu cerpen saya berhasil masuk antologi cerpen dari penerbit mayor, setelah sebelumnya tanggal 2 Februari 2015, cerpen saya juga berhasil masuk di koran, meskipun hanya koran lokal kota Solo. Hehe.
Anyway, saya lupa ngasih tahu, cerpen saya yang masuk di antologi Senja yang Mendadak Bisu tersebut bercerita tentang sistem pemberian mahar dalam menikahi gadis Aceh. Nah, untuk lebih jelasnya, silahkan beli kumcer “Senja yang Mendadak Bisu” yang sudah tersedia di toko-toko buku seluruh Indonesia. Ada dua puluh cerpen yang menunggu untuk dimaknai dan diresapi kedalaman lokalitas dan pesan moralnya. Atau, jika kalian adalah seorang yang berjiwa kompetitif dan sangat menyukai kompetisi sekaligus ingin buku gratis, silahkan mampir ke event giveaway-nya di sini.
Ulasan garis besar mengenai cerpen-cerpen di buku tersebut bisa kalian lihat juga di goodreads ini.
Okay, sekian cuap-cuap saya di pertengahan Mei yang semakin panas dan jarang hujan ini. Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya… :’)

P.S.: Jangan lupa beli Senja yang Mendadak Bisu, ya! Semoga yang beli cepet didekatkan jodohnya bagi yang masih jomblo, cepet dilamar bagi yang sudah punya pasangan, cepet punya anak bagi yang sudah menikah, dan cepet wisuda bagi yang masih berkutat dengan skripsi.
P.S.S: Anyway, saya juga sedang proses mikirin judul skripsi, nih. S.(kri)Psi. Semoga (kri)-nya segera tercoret dan akhirnya bisa S.Psi. Kalau bisa ya ditambah M.Psi., Psi., Ph.D. Halah. Aamiin. Hehehe. *ini kenapa penulisnya malah ikutan curhat*

Minggu, 03 Mei 2015

Mengenang Aplikasi Curhat Anonim: SECRET

13:50 0 Comments

Adek sedih, Bang. :'(
“Tepat hari Minggu pukul 00.00 waktu GMT atau pukul 07.00 Waktu Indonesia Barat, salah satu aplikasi sosial media curhat anonim Secret sudah ditutup oleh pengelolanya.”
Merasa perlu banget nulis tentang aplikasi gokil satu ini, Secret. Mungkin sudah banyak yang tahu atau mungkin juga masih banyak juga yang belum tahu tentang aplikasi bersimbol rubah ini. Ya, seperti namanya, Secret adalah sebuah aplikasi media sosial yang memungkinkan penggunanya bisa curhat dan ngobrol antar sesamanya tanpa diketahui identitas masing-masing alias anonim. Jadi, ketika setiap penggunanya berkomentar di status Secret seorang anonim hanya dibedakan dengan ikon-ikon berbeda warna dan gambar.
Logo Secret. Source: Google.
Mungkin kalian akan bertanya-tanya, apa alasan dibalik saya menginstall aplikasi Secret? Haha. Ceritanya memang sedikit konyol, sih. Jadi, suatu ketika saya sedang super duper kurang kerjaan. Saya didera kebosanan yang amat sangat. Saya sudah bosan dengan Twitter, kemudian saya pun juga sudah jarang bermain Facebook. Instagram? Punya juga, sih. Tapi, saya bukan semacam gadis narsis yang saban hari posting-posting foto atau cewek yang demen ngabisin duit traveling kemana-mana (bilang aja nggak punya duit, haha). Lagipula instagram hanya aplikasi yang saya gunakan untuk stalking… eng…. seseorang nun jauh di sana. Namun, apa daya, karena Instagram seseorang itu diprotect, alhasil saya sudah nggak bisa stalking lagi. Hehe, Instagram saya juga diprotect, sih. Biar aman. Haha.
Lalu, saya juga sudah jenuh bermain Path, karena menurut saya aplikasi satu itu benar-benar platform media sosial untuk ajang pamer, check in di resto atau café keren biar disangka anak hitz bangetz, atau watching or listening something biar disangka anak gaul bingits.
Ah, adek lelah, Bang.
Jadi, satu-satunya aplikasi yang masih sering saya pakai hanya Line, BBM, dan Whatsapp. Yap, karena lebih privasi mungkin, dan lebih sedikit konten yang bikin iri dengki. Haha. Itulah mengapa akhir-akhir ini saya tidak pernah tampak di Facebook atau Twitter, karena saya telah jenuh.
Lantas, suatu ketika, karena jenuh bermain dengan aplikasi-aplikasi mainstream, saya pun mulai searching di Google Play tentang aplikasi curhat colongan. Pertama kali, saya menginstall Legatalk, karena isinya mesum dan bikin hoek, maka saya pun menghapusnya. Melalui rekomendasi seorang user di Legatalk bahwa ada aplikasi yang lumayan ngehitz di Jakarta dan isinya jauh dari mesum, maka saya pun menginstall Secret.
Yap, jadi di Secret ini ada tab Nearby, karena saya tinggal di Solo, maka Nearby saya di daerah Solo dan sekitarnya. Selain tab Nearby, ada pula tab Jakarta. Semua pengguna Secret seluruh Indonesia dapat membuka forum Jakarta, tapi nggak bisa ngepost atau komen status user Jakarta. Hanya bisa ngelike postingan mereka atau baca-baca postingan mereka saja.
Nah, karena saya lihat postingan user Solo tidak mengandung konten berbahaya, maka saya pun kemudian mempertahankan Secret, saya anggap aplikasi ini aman, bebas konten saru. Hehe.
Pada pertengahan Maret kalau tidak salah, itu adalah awal saya menginstall Secret. Saya menemukan keseruan ketika bermain dengan Secret. Membaca postingan-postingan tentang curhatan para remaja labil ketika gebetannya nggak peka, atau membaca cerita mereka tentang pertemuan dengan pasangannya akibat aplikasi Secret. Berasa baca skrip FTV, beneran deh. Saya juga sering membaca postingan para remaja alay yang sedang marah karena konflik dengan sahabatnya atau teman dekatnya. Haha. Yap, itung-itung siapa tahu saya bisa dapet ide buat bikin cerpen atau novel (yang sampe saat ini masih sebatas rencana) hehe. Yap, user Secret di Nearby Solo kebanyakan masih berusia SMA dan kuliah, jadi masih lah alay-alay gitu. Haha.
Hm, anyway, pasti kalian bertanya-tanya, apa saya juga ikut-ikutan curhat labil anonim seperti itu? Dan jawabannya adalah: YA! Tujuan saya menginstall aplikasi Secret adalah untuk curhat colongan seanonim mungkin, tanpa diketahui orang lain. Tapi, saya memang terhitung jarang sekali posting di Secret karena tentu saja kerjaan saya yang lain masih banyak. Haha. Ketika saya bete atau bosan, biasanya saya curhat di Secret. Ya, mengisi kesuwungan gitu, deh.
Selain posting curhat anonim, saya juga sering chatting dengan para anonim di luar sana. Bertukar cerita, semacam self-disclosing tetapi tanpa mengetahui identitas masing-masing dengan gamblang. Secret jadi semacam self-confessing para orang-orang yang merasa perlu banget buat curhat tetapi malu kalau harus curhat sama orang yang mereka kenal.
Namun, Secret tak selamanya bersih. Ketika saya bermain di tab Jakarta banyak sekali postingan-postingan mesum yang berbahaya. Ada foto juga, tapi untungnya di Secret saya bentuknya kecil banget, sehingga harus diklik dulu supaya bisa kelihatan. Alhamdulillah, fotonya kecil, jadi ngga kelihatan. Hahaha. Bahkan ada juga postingan yang berisi konten porno penjelasan tentang hubungan perzinaan, atau konten berbau homoseksual dan lesbian. Selain itu juga banyak yang sering bertukar link video porno. Ckck. Miris hati adek, Bang.
Padahal banyak juga anak-anak SMP dan SMA yang mengakses Secret. Ckck. Mentang-mentang anonim, mereka bisa posting seenak udel mereka sendiri. Lama-lama kontennya makin nggak bener. Fuuuh….. karena makin lama Secret makin membosankan dan berbahaya saya pun makin lama makin malas bermain Secret.
Lama tak pernah membuka Secret, tiba-tiba saya mendengar kabar dari teman saya bahwa Secret akan segera ditutup. Mungkin memang saatnya Secret ditutup karena jika malam mulai beranjak larut biasanya kebanyakan berisi konten mesum. Namun, saya juga merasa sedih karena entah di mana lagi saya akan membaca cerita-cerita seru, unyu, sedih, atau bikin marah dari para pengguna Secret yang kebanyakan masih berusia pelajar dan mahasiswa itu. Dan yang paling penting, di mana lagi saya akan curcol anonim tanpa diketahui orang lain lagi. Hiks, adek sedih, Bang. Mungkin hal-hal itulah yang nantinya akan dirindukan dari para pengguna Secret di mana pun mereka berada. :’)
Mungkin memang saatnya para pengguna Secret mulai memberdayakan kembali diary usang mereka yang sudah lama berdebu dan bersarang laba-laba. Begitu pula dengan saya. Haha.
Yup, setidaknya meski waktu berkawan kita hanya sekitar dua bulan, tapi Secret memang menggoreskan seberkas cerita lucu dan konyol yang mungkin akan selalu dikenang bagi tiap para penggunanya. Terutama untuk para pengguna yang menemukan belahan jiwanya di Secret. Halah.
Okay, cukup sekian tulisan saya sebagai pembukaan di bulan Mei yang lembab dan berhujan ini. Sudah mulai akhir semester dan akan magang, sebagai mahasiswa semester tua, maka saya mungkin akan jarang bercerita di blog. Hehe. Okay, see you to the next post!
Screenshoot SECRET. Haha.
P.S: Dear David Byttow (Secret’s Founder), we’re gonna miss Secret so much! Sincerely, The Two-Months Secret’s User.

Minggu, 15 Maret 2015

[Movie Review] The Maze Runner (2014)

11:11 0 Comments
www.google.com
Senin malam lalu di tengah kepenatan mengerjakan tugas-tugas sambutan semester enam yang mulai membadai, saya menyempatkan diri–lebih tepatnya maksa menyempatkan diri–menonton The Maze Runner. Bagaikan kebelet pup yang sudah di ujung tanduk, saya sudah tidak bisa menahan diri menunggu weekend untuk menontonnya. Hehehe.
Film yang disutradarai Wes Ball ini diadaptasi dari novel young adult tahun 2009 karya James Dashner. Genre science fiction dystopian action thriller yang diusung film ini membuatnya menduduki puncak box office. Atau mungkin juga karena andil versi novelnya yang best-seller sehingga film ini juga menuai kesuksesannya. Juga, salah satu film, yang katanya, paling baik untuk versi film adaptasi novel young adult. Berhubung saya belum pernah membaca novelnya, maka saya percaya saja, sih. Hehehe.
Awal kisah film ini bermula saat seorang remaja lelaki bernama Thomas (Dylan O’Brien) tiba-tiba terbangun dalam sebuah elevator–semacam kerangkeng besi–dalam keadaan linglung dan tidak mengingat apapun. Elevator itu membawanya sampai ke sebuah tanah lapang luas yang dikelilingi oleh tembok-tembok beton tinggi menjulang. Tanah lapang luas itu memiliki banyak sekali penghuni dan semuanya adalah laki-laki. Tanah lapang luas itu disebut oleh penghuninya sebagai Glade. Sedangkan penghuninya sendiri disebut Gladers.
Tembok beton yang mengelilingi Glade sebenarnya adalah sebuah labirin. Setiap menjelang malam, pintu di setiap sisi tembok itu akan menutup. Gladers percaya bahwa setiap malam Grievers–makhluk penghuni labirin–akan keluar dari sarangnya mencari mangsa. Setiap orang yang masuk ke labirin itu pada malam hari dijamin tidak akan kembali hidup-hidup.
Thomas, yang memiliki keingintahuan besar, selalu merasa penasaran dengan apa yang ada di labirin itu. Sampai suatu sore, Minho (seorang runner) tertatih-tatih menyeret Alby (pemimpin Glader) yang sekarat karena tersengat Grievers. Mereka berusaha keluar dari labirin sebelum matahari terbenam dan pintu yang menjadi jalan keluar satu-satunya tertutup rapat. Di sini kejadian dramatis terjadi. Pintu pun perlahan menutup, sedangkan Minho masih beberapa meter jauhnya. Gladers bersorak berusaha menyemangati Minho. Mereka tidak bisa membantu karena Gladers dilarang memasuki labirin kecuali ia adalah seorang runner. Melihat itu, Thomas, dengan segala keberanian dan kegilaannya, nekat menerobos gerbang labirin yang makin lama makin menciut. Ia pun berhasil masuk, pintu tertutup, terjebak bersama dengan Minho dan Alby yang sekarat melewati malam mencekam. Yup, petualangan seru Thomas dimulai dari sini. Melewati malam mencekam, dikejar-kejar Griever yang kelaparan, dan lain-lain.
Film ini sangat keren, menurut saya. Keren banget! Sejak awal, film ini telah menyuguhkan banyak teka-teki. Salah satunya, tentang tembok beton menjulang yang mengelilingi Glade itu. Pertanyaan berkecamuk di benak saya ketika menonton film ini, berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ada sekelompok manusia, satu persatu, dikumpulkan dalam satu tempat luas, namun dikelilingi oleh tembok dan labirin yang rumit sekali. Seolah mereka di sana sedang dikurung, ditantang untuk mencari jalan keluar dengan melewati lika-liku labirin yang setiap jamnya susunan pintunya berubah.
Labirin, sebagai fokus utama dalam film ini, mengingatkan saya pada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh B.F. Skinner, seorang psikolog Harvard. Percobaan itu menggunakan seekor tikus yang ditantang untuk membuka pintu kandangnya supaya dapat memakan secuil keju yang ada di luar kandang. Setelah berulang kali berloncatan, berjalan mengitari kandang, akhirnya si tikus menemukan tuas yang kemudian dapat membebaskannya dari kandang menuju makanannya.
Sebenarnya, percobaan kandang tikus di atas tidak terlalu berhubungan dengan film ini. Atau, jika nantinya kalian sudah menonton filmnya hingga ending, mungkin saja kalian bisa menemukan sedikit hubungan antara dua hal yang berlainan dan sangat jauh itu. Hahaha.
Okay, cukup sekian movie review saya kali ini. Movie review terpendek dalam sejarah blog ini. Halah. Sampai jumpa di movie review saya selanjutnya… ;)

Sabtu, 28 Februari 2015

Problematika Dunia Pendidikan

09:09 0 Comments

source: www.google.com

Sudah memasuki akhir Februari dan blog ini mulai menampakkan kesunyiannya. Biasalah, mahasiswa semester akhir itu (sok) sibuk. Sibuk galauin judul skripsi, galauin tempat magang, galau KKN, galau IPK (ini sudah pasti), dan galau jodoh–mengingat sedang tren nikah muda. Halah. Apalagi, ditambah galau-galau pribadi, semisal galau resolusi tahun 2015. Yup, mengingat tahun ini saya punya resolusi yang lumayan gede, jadi mungkin harus pandai-pandai buat manajemen waktu.
Di tengah kegalauan yang menyita waktu dan tenaga ini, Alhamdulillah saya mendapatkan kerjaan baru yang lumayan bermanfaat dan menambah wawasan saya yang lumayan sempit ini. Hahaha. Daripada galau nggak ada kerjaan, lebih baik galau sambil melakukan sesuatu, kan?
Jadi ceritanya begini, kebetulan dosen pembimbing akademik atau dosen wali saya sedang dalam proses menyelesaikan disertasinya. Nah, dosen saya ini melakukan penelitian di sekolah-sekolah menengah pertama negeri di lima kecamatan yang tersebar seantero Solo. Yup, pasca konsultasi KRS kemarin, kami–angkatan 2012 anak wali dosen saya itu–pun diajak dan dimintai tolong oleh beliau untuk mengambil data di sekolah-sekolah tersebut.
Nah, hari Sabtu yang lalu adalah hari kedua saya mengambil data, setelah sebelumnya kami mengunjungi SMP Negeri 9 Solo. Pengalaman berkunjung ke SMP Negeri 9 menurut saya terkesan biasa saja, mengingat sekolah tersebut adalah salah satu SMP favorit di kota Solo. Pastilah, sebagian besar anaknya lumayan good boys, dari keluarga terpelajar, dan cerdas. Dinamika lingkungannya pun menurut saya biasa saja, karena hampir sebagian besar anak-anaknya berasal dari keluarga masyarakat sejahtera–dengan kehidupan sosial ekonomi menengah sampai menengah ke atas. Masih normal dan cenderung tidak menuai berbagai masalah.
Sedangkan, pada hari kedua ini, kami berpindah ke sekolah lain yang berlokasi sangat dekat dengan Balaikota Surakarta (Solo), wawasan saya pun kemudian menjadi semakin terbuka. Menurut saya, di SMP tersebut menyajikan fenomena sosial dan pengalaman sangat berbeda bagi kami. Berbeda jauh dengan sekolah yang kami kunjungi sebelumnya. Fenomena yang amat sangat tampak betul adalah dari aspek sosial ekonomi. Entah mengapa, saya tidak begitu paham juga, sekolah-sekolah di Solo itu tampak sekali jurang pemisah amat lebar antara anak dari keluarga menengah ke atas dan menengah ke bawah.
Biasanya, sekolah-sekolah favorit, didominasi oleh anak-anak berkemampuan di atas rata-rata yang kebanyakan pun juga anak orang berpunya. Pulang sekolah dijemput mobil, sampai-sampai jalanan di sekitarnya penuh dengan jajaran mobil-mobil para orang tua murid. Namun, berbeda sekali dengan sekolah negeri yang bernomor belasan hingga puluhan di kota Solo. Biasanya mereka yang bersekolah di sana adalah anak-anak yang gagal masuk sekolah-sekolah favorit–dikarenakan kemampuan akademik yang lebih rendah atau karena sedang tidak beruntung saja ketika beradu NEM dengan anak-anak lain di situs pendaftaran online. Selain memiliki kemampuan lebih rendah, kebanyakan dari mereka juga anak dari keluarga tidak mampu.
Seperti halnya yang dituturkan oleh guru-guru di sekolah tersebut, membuat saya merasa tersayat-sayat ketika mendengarnya. Para guru mengeluhkan tentang kondisi ruang kelas yang kurang memadai, lahan sekolah yang kurang representatif, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi kurang kondusif. Mereka harus bekerja ekstra keras dengan segala tenaga dan peluh yang tersisa guna mentransfer ilmu untuk anak didiknya, mengingat para siswa-siswi di sana memiliki daya serap ilmu yang berbeda dari anak-anak cerdas di sekolah favorit. Selain itu pula, hal yang membuat para guru di sana mengurut dada dan miris adalah adanya ketidakpedulian dari para orang tua siswa terhadap pendidikan anaknya.
“Ya, namanya juga masyarakat ekonomi ke bawah, Mbak,” tutur salah seorang guru.
Kendala ekonomi yang kurang sejahtera menjadikan para orang tua siswa terkesan menyerahkan tanggung jawab pendidikan seluruhnya kepada guru di sekolah. Mereka berpikir, bahwa orang tua hanya bertugas mencari nafkah untuk anak-anaknya, sedangkan urusan pendidikan sepenuhnya tanggung jawab guru.
“Cari duit saja susah, gimana mau ngurusin sekolah anak. Mending cari duit, kan, buat makan dan bayar kontrakan.” Mungkin begitulah isi pikiran para orang tua siswa tersebut. Menyedihkan, memang.
Padahal, campur tangan orang tua dalam proses pendidikan bagi anak-anak mereka itu tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan kemampuan akademik anak. Selain karena kendala ekonomi pula, mungkin saja ketidakpedulian itu terjadi karena adanya ketidaktahuan mereka terhadap seluk beluk pendidikan.
Ada satu cerita yang membuat sedikit miris pula. Guru sekolah tersebut menuturkan bahwa kebanyakan anak-anak yang bersekolah di sekolah tersebut tidak selesai menjalankan masa studinya. Banyak siswa-siswi di sana yang drop out menjelang tahun-tahun terakhir mereka mengenyam bangku sekolah. Bukan, bukan karena kondisi sosial ekonomi saja, karena biasanya anak-anak kurang mampu sudah mendapatkan keringanan biaya dari pemerintah. Hanya saja, mereka memilih drop out karena sudah merasa bosan dan malas untuk bersekolah lagi. Bahkan, guru-guru di sana pun juga berusaha keras untuk membujuk sang anak kembali ke sekolah mengingat sudah hampir mendekati ujian akhir. Paling tidak si anak bisa menyelesaikan studinya sampai lulus dan mendapatkan ijazah SMP.
Orang tua yang kurang aware dengan pendidikan anak ditambah pula si anak yang memiliki minat minim terhadap sekolah, menjadikan sebuah lingkaran setan tersendiri bagi pemerintah terhadap satu masalah pokok umum, kemiskinan. Padahal, pendidikan itu perlu sekali, lho, sebagai bekal mereka nantinya dalam mengembangkan ketrampilan mereka untuk memasuki dunia kerja. Baik itu memilih bekerja menjadi pegawai ataupun wiraswasta.
Saya melihat sebuah ketulusan dan perjuangan berharga yang telah diberikan guru-guru tersebut. Saya sangat salut dan respect terhadap perjuangan para guru di sekolah-sekolah kurang bonafit dalam mengajar dan mentransfer ilmu kepada anak didiknya. Dedikasi mereka itu luar biasa, menurut saya. Mereka rela blusukan ke rumah siswa yang mogok sekolah, membujuk mereka kembali ke sekolah. Selain itu juga, tatkala mengajar mereka berusaha tetap sabar dan tabah meskipun kadang mereka merasa geregetan sendiri ketika banyak anak didiknya yang tidak cepat paham pada materi pelajaran tersebut padahal sang guru sudah menjelaskan sampai berbusa-busa. Namun, terkadang pemerintah pun kurang aware dengan perjuangan guru-guru tersebut dalam membantu negara mewujudkan cita-citanya sesuai dengan pembukaan UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa. Padahal guru-guru yang bertugas di daerah terpencil ataupun di sekolah-sekolah yang memiliki siswa kurang pandai perlu diberikan apresiasi lebih oleh pemerintah.
Masih ada banyak lagi masalah yang menyita perhatian kita. Masalah pendidikan itu tidak melulu berpusar-pusar dalam masalah kurikulum saja, bahkan malah lebih kompleks sebenarnya. Ada banyak masalah-masalah sampingan yang turut berperan menentukan nasib perkembangan dunia pendidikan Indonesia selanjutnya. Biasanya masalah tersebut kurang begitu diperhatikan karena skalanya yang kecil dan terlihat remeh. Padahal masalah-masalah tersebut justru berperan besar dalam menciptakan masalah yang lebih kompleks. Seperti dalam teori Broken Windows–sebagaimana yang pernah saya baca di buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell–bahwa masalah-masalah besar nan kompleks sejatinya adalah berasal dari masalah-masalah kecil yang terakumulasi dan belum terselesaikan. Kebanyakan orang akan melihat masalah besarnya, kemudian berusaha menyelesaikan masalah besar itu. Namun, kebanyakan pula, penyelesaian dari masalah besar itu terlalu rumit dan sulit sekali diselesaikan saking kompleksnya. Jika toh bisa terselesaikan itupun dampaknya tidak begitu signifikan. Jadi, mungkin salah satu solusi lain yang perlu dicoba untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang sangat kompleks tersebut adalah dengan mulai memberi perhatian pada hal-hal kecil kemudian berusaha menyelesaikannya. Mungkin bagian ini nampak terlampau teoritis sekali, namun saya yakin mereka yang lebih paham masalah pendidikan akan mampu menemukan simpulan sederhana di atas.
Sebenarnya, kompleks sekali, ‘kan, permasalahan pendidikan di Indonesia ini. Bukan hanya tentang masalah pergantian kurikulum setiap lima tahun sekali ditambah pula kisruh kurikulum 2013 yang menyita perhatian khalayak publik, tapi ada berbagai masalah sederhana yang tidak kalah pentingnya untuk diberikan perhatian dan dicarikan solusinya.
Saya jadi teringat cerita Bapak saya beberapa hari lalu. Suatu ketika, Bapak saya sedang duduk menunggu bus di pinggir jalan Solo-Tawangmangu bersama sekumpulan anak-anak usia SMP. Mereka tampak masih menggunakan seragam. Bapak saya pun kemudian bertanya:
Le, kok wayah semene lagi mulih?[1]” tanya Bapak saya.
Bar neng alun-alun, Pak,[2]” jawab salah satu dari mereka dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko. Rada kurang sopan, sih. Haha.
Ngopo nyang alun-alun?[3]
Iku lho, Pak, nonton dangdutan OM. Sera[4],” jawab mereka polos.
Saya tertawa mendengar cerita Bapak. Ya, begitulah gambaran pelajar Indonesia masa kini.


[1] Nak (laki-laki), kok jam segini baru pulang?
[2] Habis dari alun-alun, Pak.
[3] Ngapain ke alun-alun?
[4] Itu lho, Pak, nonton dangdut OM. Sera.