Selasa, 08 Desember 2015

TEDx UNS: Symphony of Ideas

15:15 0 Comments

Lama sekali rasanya saya tidak pernah posting tentang event atau seminar yang saya ikuti. Sebenarnya saya ingin cerita tentang bedah buku Lautan Langit-nya Mas Kurniawan Gunadi Oktober lalu. Tapi, akibat terlampau capek setelah seharian bolak-balik kemana-mana, alhasil pun jadi lupa. Hehehe. Yup, lantas akhirnya ada sebuah event yang mau tak mau harus saya tuliskan untuk mengabadikan. Maklum lah, saya memang agak pelupa. Hehehe. Yup, seperti judulnya, event yang saya ikuti ini adalah TEDx. Bagi yang belum tahu, TEDx adalah event TED yang dibikin secara independen. TEDx di sini bukan terinspirasi dari film TED yang dibintangi Mark Wahlberg itu, malah lebih dulu ada sebelum film TED rilis. Atau jangan-jangan, film TED itu terinspirasi dari TED ini. Halah. Saya juga sebenarnya tidak tahu, sih. Hehehe. Nah, mungkin bagi yang ingin tahu lebih jelas dan lengkap bisa kunjungi ini.
Ahad, 6 Desember 2015 lalu acara TEDx diselenggarakan di aula FH UNS. Acara TEDx ini sebenarnya memiliki konten yang hampir serupa dengan seminar pada umumnya. Akan tetapi, kemasan yang ditampilkan memang agak sedikit berbeda. Tidak hanya itu pula, pembicaranya pun tidak dibatasi tema tertentu seperti seminar-seminar pada umumnya. Pun, TEDx ini 100% free, tanpa dipungut biaya asal bisa lolos seleksi call for audience. Hehe. Entahlah, setelah sebelumnya saya iseng mendaftar TEDx, beberapa hari kemudian nama saya pun tiba-tiba ada dalam list audience TEDx. Wah, lumayan. Saya bisa memuaskan rasa penasaran saya yang sebelumnya tidak tahu apapun mengenai TEDx.
Dalam TEDx ini mengusung tema Symphony of Ideas, di mana sejumlah pembicara dihadirkan sebagai penyebar ide-ide pembaharuan. Jadi, pembicara yang dihadirkan bukan orang sembarangan. Mereka adalah para agent of change di bidang dan lingkungannya masing-masing. Ada sekitar delapan pembicara yang mengisi TEDx, masing-masing memiliki waktu cukup singkat saat memperkenalkan gagasan-gagasan mereka. Acara ini dibagi dua sesi. Sesi pertama terasa lebih panjang karena ada lima pembicara, meskipun waktunya singkat sekali. Sesi kedua yang dibuka setelah ishoma, diisi oleh tiga pembicara.
Empat dari delapan pembicara TEDx tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi diri saya pribadi. Kesan yang mereka timbulkan tersebut mungkin lebih dikarenakan konten yang mereka usung lumayan related pada diri saya. Salah satu yang paling nempel adalah gagasan Komunitas Baca Dua Lima yang digagas oleh Mas Syukri. Iya, saya sudah lama tahu beliau dan saya juga sudah tahu Komunitas Baca Dua Lima itu apa. Tentu saja, karena teman-teman saya yang anak Kedokteran, secara bersamaan memasang twibbon di display picture sosial medianya yang berisi opini setelah mengikuti gerakan baca buku dua puluh lima halaman per hari. Sesuai namanya, Komunitas Baca Dua Lima adalah gerakan yang digagas beliau untuk mengajak masyarakat supaya mau meluangkan waktunya dalam sehari untuk membaca buku minimal dua puluh lima halaman. Ini adalah sebuah gerakan yang sangat keren, menurut saya. Gerakan ini berangkat dari suatu fenomena budaya membaca masyarakat Indonesia yang sangat rendah sekali. Nggak usah gede-gede selingkup Indonesia, deh, selingkup Solo saja budaya membacanya masih cetek. Gagasan tersebut merupakan sebuah angin segar tersendiri dalam menghadapi fenomena semacam itu. Sangat berguna menghidupkan kembali budaya membaca buku yang sudah hampir tergerus oleh semakin merajalelanya teknologi dan internet penyedia segala bentuk kemudahan.
Tersihir, saya merasa sangat related dan serta merta menyetujui data dan fakta yang dipaparkan. Saya juga punya impian sama, membudayakan membaca. Sebagai pembaca buku minded, saya memang getol sekali untuk menyerukan wajib baca buku dalam seminggu. Bahkan, semenjak kuliah, saya mulai lebih getol lagi menjejali diri dengan berbagai macam genre buku. Tidak terbatas pada fiksi, namun juga nonfiksi. Lalu akhir-akhir ini pun saya malah sering kecantol dengan buku nonfiksi yang international best-seller. Hehehe.
Yup, pada intinya membaca adalah sebuah kebiasaan (habits). Supaya gemar membaca kian membudaya, maka kebiasaan membaca perlu dimulai dari diri sendiri serta mulai dari sekarang. Bagi para orang tua muda, perlu sekali menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anaknya sejak kecil. Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya adalah Muslim tentu perlu sekali untuk membudayakan membaca sedari belia. Lagipula, wahyu pertama yang diberikan Allah kepada Rasulullah melalui perantara malaikat Jibril adalah Surat Al-‘Alaq, di mana kata pertama pada ayat pertamanya berbunyi Iqra’–Bacalah! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Jadi, membaca itu sudah seperti kewajiban, bukan?
Pembicara kedua yang membuat saya terjerat lagi adalah Pak Eri Koeswoyo. Beliau adalah founder dari Dompet Dhuafa, seorang social entrepreneur yang keren, menurut saya. Pemaparan tentang kondisi Indonesia saat ini beserta quotes keren yang terselip dalam setiap kalimat yang terlontar dari beliau tersebut sukses mencuri sebagian besar fokus saya. Tema yang beliau bicarakan berkisar tentang pendidikan karakter. Masalah terbesar bagi Indonesia adalah kurangnya karakter jujur dan disiplin. Banyak sih, orang jujur di Indonesia, namun orang yang amanah masih sedikit. Pemimpin yang tidak amanah saja masih banyak. Lalu, ada satu quotes agak nge-jleb yang beliau paparkan:
“Sebuah negara yang belum disiplin, jangan bercita-cita menjadi negara maju.”
Ya, sebelum mendisiplinkan orang lain, mulailah budaya disiplin itu dari sendiri. Mulai dari yang terkecil saja, deh, misal berangkat kuliah jangan sampai lebih lambat dari dosen. Perkara si dosen datang terlambat tidak perlu diurusin, malah bagusnya jangan dicontoh. Kita kan mahasiswa, sudah pandai membedakan mana yang baik dan mana yang baruk. Masa hanya datang kuliah saja telat? Juga, jangan lupa, kalau janjian ketemuan dengan teman, entah hanya hangout atau ada agenda rapat, usahakan datang tepat waktu. Sesungguhnya, ketika kalian datang tepat waktu, kalian sudah menghargai diri sendiri. Namun, apabila kalian datang terlambat, tidak disiplin waktu, kalian sedang merugikan orang lain karena telah dengan semena-mena membuang-buang waktu mereka. Padahal, jika tidak menunggu kalian yang hobi terlambat, waktu tersebut bisa mereka manfaatkan untuk melakukan hal yang lebih produktif, bukan?
Pembicara selanjutnya yang menurut saya keren adalah Ibu Endah Laras. Mungkin, kalangan seniman sudah banyak yang mengenal beliau ini, tapi masih banyak orang yang belum mengenal beliau. Ya, Ibu Endah ini adalah seorang seniman yang sangat multitalenta. Pengalaman berkesenian sejak SMP telah membawanya pergi menjelajah negara-negara Eropa dan Asia dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Saya sempat terkesima dengan kepiawaian beliau dalam menyanyikan berbagai genre lagu khas Indonesia. Mulai dari tembang Macapat Jawa, lagu Sunda dengan cengkok khas sinden Sunda, lagu Banyuwangi yang khas dengan falsetto ala lagu Jawa Timur-an, sampai campursari pun bisa dibawakannya dengan apik. Suaranya yang bening serta mampu menjangkau nada-nada tinggi membuat telinga saya serasa dimanjakan. Sampai ketika Ibu Endah selesai bercerita sambil menyanyi semua hadirin bertepuk tangan riuh, seolah menyatakan sangat puas dengan penampilan Ibu Endah yang menghibur sekaligus inspiratif.
Pembicara berikutnya yang membuat saya terbawa juga adalah Bapak Suyudi. Beliau adalah founder Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS). Ya, SABS ini semacam antimainstream di antara pendidikan formal mainstream lainnya. Sebagaimana namanya, sekolah alam ini berfokus dengan metode pembelajaran dan pendidikan back to nature. Tidak melulu hanya berkutat pada teori-teori, namun sekolah ini mengajak siswa untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya sambil belajar. Jadi, sekolah menjadi tidak membosankan, malah terasa lebih menyenangkan. Meskipun sebenarnya mereka sedang belajar, namun mereka melakukannya seperti bermain.
Pada dasarnya, pendidikan itu bukan melulu harus hapalan teori lalu kemudian diujikan di Ujian Tengah Semester atau Ujian Akhir Sekolah saja, lantas ketika ujian usai, ilmu yang susah payah dihafalkan pun hilang terlupakan, tak berbekas. Inilah salah satu problem bagi sebagian besar pelajar di Indonesia. Pendidikan saat ini memang hanya menitikberatkan pada menghafal data dan fakta informasi saja, tanpa dibarengi dengan pendidikan karakter serta pembelajaran yang menuntut analisis dan sintesis. Padahal, pandai itu bukan hanya bisa hafalan saja, pandai itu juga harus bisa menganalisis masalah serta mencari solusi terbaiknya. Kalau kata Bapak Suyudi, sih:
“Manusia diharapkan tumbuh untuk berpikir dan memikirkan sekitarnya.”
Sayangnya, kurikulum Indonesia masih sedikit mewajibkan anak didiknya untuk bisa berpikir analitis. Hasil tes PISA yang memasukkan Indonesia dalam kategori nilai paling rendah membuktikan bahwa kemampuan menganalisis soal siswa Indonesia jauh di bawah rata-rata siswa di negara lainnya. Ya, salah satu indikator dalam tes PISA yaitu kemampuan berpikir analisis memberikan nilai rendah bagi siswa Indonesia. Sedih, kan?
Tentang kemampuan analisis ini, saya pun jadi teringat celoteh dosen saya yang gemar sekali memberi tugas membuat esai dan paper tentang suatu masalah. Beliau mengatakan bahwa, sebagian besar analisis pada tulisan kami tersebut sangat kurang. Ya, saya pun mengakui bahwa kami terlalu terjebak pada sistem pendidikan hafalan sejak SD hingga SMA. Kami sudah terbiasa menghafal serta menjawab pertanyaan berdasarkan memori hafalan
Coba contoh Finlandia, yang mewajibkan siswanya untuk membaca minimal 300 halaman buku per-tahun. Indonesia, masih nol halaman per-tahun. Padahal, membaca buku itu juga salah satu cara untuk bisa mengasah daya berpikir kritis, analitis, dan sintesis. Jadi, sebenarnya banyak sekali, lho, permasalahan yang terjadi serta menuntut untuk segera diperbaiki. Semua faktornya hampir saling berkesinambungan satu sama lain. Mungkin, memang saatnya kita, para pemuda-pemudi Indonesia, menjadi agen perubahan dalam mengurai problema negara yang masih saling sengkarut ini.
Selain menghadirkan berbagai kalanganpembicara, acara ini juga memutar beberapa video TED talks dari negara lain. Salah satu yang paling berkesan adalah video TED talks seorang violinist asal Korea Selatan, Park Ji-hae, yang memainkan biolanya dengan sangat energik dan penuh penghayatan. Permainan biolanya itu menceritakan tentang kehidupan dirinya yang pernah dirundung depresi berat. Sampai saya sempat berkaca-kaca–bahkan, sudah hampir menangis–mendengarkan nada ballad yang berkesan depresif pada setiap notasinya. Saya hanya mampu merasakan saja, karena saya tidak begitu paham musik. Pokoknya, keren sekali!
Acara TEDx tersebut ditutup pada pukul 15.00 WIB. Banyak kesan dan ide-ide yang terejawantah dalam acara ini. Pembicara yang beragam latar belakang pendidikan, beragam keahlian, dan beragam impian, berusaha mentransfer gagasan-gagasan pembaharuannya pada para calon penerus bangsa. Yup, ini merupakan acara pertama TEDx di Solo, semoga di acara selanjutnya semakin lebih keren lagi. Hm, mungkin di acara TEDx tahun depan bisa mengundang dr. Gamal Albinsaid, seorang dokter muda yang berhasil mengatasi permasalahan lingkungan serta menciptakan lapangan pekerjaan akibat sampah.
Okay, sekian postingan saya kali ini. Sampai jumpa di postingan selanjutnya….:)
source: www.ted.com
P.S.: Saya tidak pernah bosan untuk meneror banyak orang dengan quotes andalan saya:
“Ayo membaca! Sudah baca bukukah kalian hari ini?”

Minggu, 06 Desember 2015

Kurang Bahagia? Mungkin, Tiga Hal Ini Jarang Kamu Lakukan

18:18 0 Comments
Pernahkah kalian merasa bahwa hidup kalian terasa flat, terlalu biasa, dan kurang seru? Pasti membosankan, bukan? Rasanya seperti kurang ‘wah’ dan kurang membangkitkan gairah hidup berkali-kali lipat. Selalu merasa terperangkap oleh seabrek rutinitas hidup yang itu-itu saja dan tuntutan hidup yang ini lagi itu lagi. Ya, mungkin saja kalian kurang sering melakukan tiga hal di bawah ini:

1.    Membaca
source: bacakilat.com
Orang yang tidak gemar membaca, menurut saya adalah orang-orang kurang bahagia yang masih bisa hidup di dunia ini. Hahaha. Agak terlalu jleb, sih. Hm, tapi coba deh wahai para manusia kurang gemar membaca, tanyakanlah pada teman-teman kalian yang gemar membaca. Bagaimana tanggapan mereka terhadap hobinya tersebut? Sebagai seorang kutu buku, saya juga ingin angkat bicara, bahwa membaca itu lebih dari sekadar menyenangkan. Menggairahkan, malah. Biasanya, seorang pecinta membaca akan merasa bahwa separuh jiwanya ada di dalam buku-buku itu.
Mengapa membaca buku itu menyenangkan? Tentu saja, karena membaca itu membuat hidup kita menjadi kian berwarna. Membaca membuat isi pikiran kita menjadi semakin kaya karena kita disuguhkan dengan berbagai hal-hal baru yang belum pernah kita ketahui sama sekali. Para pembaca juga akan menjadi seorang yang bijak dalam menyikapi sesuatu. Selain itu, membaca adalah salah satu escape from reality yang paling manjur, terutama membaca novel. Membaca mengasah daya imajinasi, membuat pikiran kita berkelana menjelajah berbagai dimensi. Tentu saja, jika kalian sudah mengenal dan mencintai membaca, pasti kalian akan menemukan bahwa membaca tidak se-membosankan yang dibayangkan. Bahkan, malah membuat diri kalian yang semula suntuk, penat, dan frustrasi dengan tuntutan hidup akan ternetralisir dengan aktivitas ini.
Sejumlah penelitian di dunia kedokteran membuktikan bahwa dengan gemar membaca akan mencegah seseorang menderita demensia dan Alzheimer. Coba lihat Presiden RI ke-3 kita, Pak B.J. Habibie, beliau adalah orang yang gemar membaca. Coba lihatlah sekarang, meskipun usia beliau sudah semakin renta namun daya pikirnya masih tidak kalah hebat dibanding para cendekiawan muda. Terbukti, kan, selain membahagiakan, membaca juga menyehatkan fungsi otak.

2.    Jalan-jalan
source: vemale.com
Jalan-jalan itu mahal? Nggak juga, tuh. Jalan-jalan gratis juga bisa, lho. Jalan-jalan seru nggak melulu harus ke luar negeri yang menjebolkan tabungan. Jalan-jalan juga tidak melulu harus dibarengi dengan membeli barang-barang yang akhirnya hanya berakhir di tumpukan lemari. Jalan-jalan, kan, bisa ke mana saja, bahkan bisa tanpa mengeluarkan terlalu banyak uang. Mungkin kalian bisa jalan-jalan ke pedesaan yang masih terdapat hamparan hijau sawah, menghirup udara yang masih belum tercemar polusi, sambil sejenak melepaskan penat melupakan rutinitas dunia perkotaan. Bisa juga, jalan-jalan ke taman-taman kota yang rindang penuh pepohonan, sambil membaca buku atau sekadar mengamati lalu lalang pengunjung. Siapa tahu selama jalan-jalan tersebut kalian bisa bertemu dan berkenalan dengan orang-orang baru. Siapa tahu, bisa bertemu jodoh juga, kan? Halah.

3.    Sedekah
source: majalahdia.net
Inilah salah satu hal yang kadang-kadang terlupakan oleh kita. Sedekah. Ya, sedekah. Kenapa sedekah bisa membahagiakan? Jelas, karena sedekah adalah memberi. Lebih membahagiakan mana, memberi atau diberi? Banyak terdapat bukti bahwa orang yang lebih bahagia adalah orang yang senang memberi. Agak aneh, ya, tapi itu memang benar-benar terjadi. Seseorang yang gemar memberi akan merasa bahwa dirinya berguna.
Manusia adalah makhluk eksistensial, sehingga manusia membutuhkan pengakuan bahwa dirinya ada. Tapi, tidak hanya dianggap ‘ada’ saja, manusia tentu ingin dianggap lebih dari sekadar ‘ada’, yaitu ‘berarti’. Jadi, salah satu cara untuk bisa menjadi berarti adalah dengan menunjukkan keberartian dirinya kepada orang lain, yaitu dengan cara memberi. Nah, apabila kalian masih merasa kosong dengan kehidupan ini, coba diingat kembali apakah kebutuhan eksistensi tersebut sudah benar-benar terpenuhi?
Nah, pasti ada dari kalian yang bingung, bagaimana caranya memberi padahal diri sendiri saja kekurangan? Bagaimana mau memberi orang lain, padahal untuk makan saja masih ngutang? Tenang saja. Memberi sesuatu kepada orang lain itu tidak melulu harus berupa uang atau emas berlian. Memberi itu banyak macamnya, misalnya, memberikan kebahagiaan, memberikan perhatian, memberikan bantuan tenaga, dan lain-lain. Bahkan menebarkan senyum pun juga termasuk sedekah, bukan?
Apabila merasa belum mampu bersedekah dengan harta, mungkin kita juga bisa bersedekah dengan tenaga atau pikiran. Misalnya, dengan mengikuti kegiatan sosial, menjadi volunteer di komunitas sosial. Intinya, buatlah dirimu merasa menjadi berguna bagi orang lain bagaimanapun caranya. Bantuan yang diberikan juga tidak perlu muluk-muluk. Berikan saja sesuatu yang kalian mampu berikan, misalnya, memberikan semangat, motivasi, bersedia mendengarkan keluh kesah orang lain, atau menyumbang saran bagi mereka yang meminta. Apalagi jika bantuan kita mendapat penghargaan berupa ucapan tulus terima kasih, pasti rasanya lebih membahagiakan dibanding apapun, karena berarti kita sudah menjadi berguna untuk orang lain. Sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat bagi orang lain, bukan?

Yup, sekian postingan dalam rangka mengisi blog yang makin lama makin sepi saja. Semoga tulisan ini bisa menjadi tulisan yang (agak) inspiratif bagi pembaca setia semuanya. Terima kasih sudah bersedia mampir dan menghabiskan waktu untuk membaca tulisan abal-abal ini.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya… :)

Sabtu, 31 Oktober 2015

Quarter Life Crisis?

18:45 0 Comments
Warning: Tulisan ini berkonten serius–bercampur curhat. Penulis sedang dalam fase ingin (sangat) serius. Efek terlalu banyak menelan tulisan berkonten filsafat dan renungan. Halah. Jika kalian tidak kuat, jangan dibaca! Cukup dipelototi saja sembari scrolling up and down.
Betapa hidup kita penuh dengan tuntutan demi tuntutan yang harus dilunasi. Semakin bertambahnya usia, semakin merasa sadar diri bahwa hidup itu perlu diisi dengan sesuatu yang beresensi. Semakin sadar juga, bahwa hidup bukan sekadar main-main. Lantas, sudahkah setiap jengkal hidup kita telah diisi dengan sesuatu yang bermakna? Kadang, hal ini kerap kali memantik kegalauan saya.
Berbicara target–atau tuntutan–hidup terdekat saya dan teman-teman sebaya saya, sebut itu lulus kuliah dan wisuda, sudah sebegitu memantik letupan pertanyaan yang bergema dalam benak. Teringat peristiwa berbulan-bulan lalu, ketika saya dan beberapa teman saya berbondong-bondong ‘menontoni’ sembari mengucapkan selamat kepada kakak-kakak tingkat di atas kami yang baru saja purna studi. Senyum sumringah dan tawa kebahagiaan membumbung di sekitar kami hingga mencipta tularan energi dari satu individu ke individu lain. Kami–para adik tingkat–merasa terpacu untuk lebih giat lagi dalam merampungkan beban SKS yang tinggal beberapa gelintir. Pun, mulai menyiapkan segenap jiwa raga untuk memberikan perhatian penuh kepada SKRIPSI.
Berbagai selentingan dari beberapa teman sempat singgah di telinga saya pada waktu itu. Ingin segera didandani cantik, katanya. Ingin memakai toga sembari membawa berkarung-karung hadiah ‘selamat wisuda’ dan bertangkai-tangkai bunga dari teman dan adik-adik tingkat, katanya. Ingin menyelempangkan samir bertuliskan ‘cumlaude’ juga, katanya. Namun, apakah esensi lulus kuliah hanya sebatas itu? Bagaikan dihantam godam translusens, tiba-tiba saja saya tersentak, teringat akan sesuatu. Wisuda atau lulus kuliah itu bukanlah akhir, justru itulah awal kita memasuki gerbang yang sebenarnya. Gerbang kehidupan yang lebih keras dibandingkan dunia kampus yang tinggal menghitung hari dinikmati. Nyatanya, mensyukuri sebuah momen kelulusan kuliah tidak sebercanda itu. Ada hal yang lebih krusial yang patut diberi perhatian penuh. Hal krusial itulah yang menjadi tuntutan kedua setelah tuntutan pertama tadi. Lantas, saya pun teringat salah satu cerita pendek Mas Kurniawan Gunadi di buku Hujan Matahari, Hikayat Kampus Gajah. Mungkin bagi kalian yang sudah baca, akan paham maksud saya.
Lalu, tuntutan kesekian, yang mungkin menjadi bahan galauan sejuta umat di seluruh penjuru dunia alam semesta adalah MENIKAH.
Tidak bisa dipungkiri, di usia saya yang sudah memasuki seperlima abad ditambah tujuh belas bulan ini memang penuh dengan pergumulan batin yang memaksa saya untuk senantiasa menjadi perenung sejati. Merenungi kehidupan yang rasanya semakin menyeramkan.
Begitu pun dengan persiapan memasuki gerbang pernikahan. Semakin bertambah usia, saya menyadari bahwa menikah itu sedikit menyeramkan. Menikah tidak melulu indah layaknya dongeng princess Disney, asal tahu saja. Menikah tentu saja tidak sebercanda itu. Ditambah lagi dengan selama magang di Komisi Perlindungan Anak Indonesia kerap mendapat kasus perebutan hak asuh anak dari pasangan muda yang bercerai. Semakin paripurnalah ketakutan dan kekhawatiran saya.
Bukan, bukannya saya takut menikah. Saya hanya terlalu khawatir akan kehidupan saya nantinya setelah menikah. Saya bukan tipe penggalau mainstream kebanyakan yang hanya berkutat pada urusan ‘siapa jodohku’ saja. Beberapa hal remeh temeh mengenai pernikahan belakangan menyita perhatian saya. Ditambah pula dengan andil mata kuliah pilihan yang saya ambil di semester ini, Psikologi Seks dan Pernikahan.
Saya menargetkan–dan berharap–untuk bisa menikah di usia 24 tahun. Akan tetapi, saya merasa masih belum memiliki bekal memadai untuk dapat memasuki gerbang pernikahan. Padahal tiga tahun itu cepatnya laksana kilat. Saya masih terlampau egosentris, sedangkan dalam pernikahan menuntut kerja team yang tidak sederhana. Kerja team dalam pernikahan tidak hanya sebulan dua bulan layaknya kerja kelompok, namun seumur hidup. Saya juga masih memendam keinginan-keinginan serta ambisi-ambisi yang belum terlunaskan. Masih memantik penasaran, jika boleh dibilang. Saya takut, ketika saya menikah, ambisi dan keinginan yang belum lunas terjawab itulah pemicu konflik ke depannya. Saya juga masih belum matang–untuk saat ini. Saya masih suka semaunya sendiri. Saya masih ingin minta dimengerti dibandingkan mengerti orang lain–meskipun sudah empat tahun menjadi mahasiswa Psikologi. Saya masih suka drama queen. Saya lebih suka membaca berkarung-karung buku dan menulis berpuluh-puluh lembar dibandingkan memasak. Masakan yang saya bisa hanya masakan remeh temeh yang tidak keren-keren amat. Sama sekali tidak bisa dibanggakan. Saya tidak bisa dandan. Saya kurang sabar mengajari adik saya belajar. Bagaimana nanti kalau saya harus mengajari belajar anak saya? Serta hal-hal mengkhawatirkan lainnya dalam diri saya yang apabila tidak segera dibereskan akan menghambat kehidupan pernikahan saya nantinya.
Lantas, selain khawatir akan diri saya sendiri, saya juga mengkhawatirkan pasangan hidup saya kelak. Bagaimana karakter si pasangan hidup saya nantinya? Apakah kami nanti bisa saling seiya sekata dalam bervisi dan menjalankan misi kehidupan bersama? Apakah nanti pasangan saya bisa menuntun saya ke jalan yang diridhoi oleh Allah? Apakah nanti pasangan saya bisa diajak berdiskusi mulai dari mengurus anak hingga membicarakan topik terhangat negara? Apakah pasangan saya nanti penyabar? Mengingat saya cenderung galak dan gampang meledak-ledak ketika PMS. Apakah pasangan saya punya gangguan kepribadian? Saya takut, kalau tiba-tiba saya mendapati ia sebagai pengidap bipolar atau kepribadian schizoid. Apakah pasangan saya mau menerima saya apa adanya beserta keluarga saya yang jauh dari sempurna? Apakah pasangan saya ikhlas menerima saya yang tidak cantik-cantik amat, tidak pinter-pinter amat, serta banyak kurangnya ini? Apakah kami berdua mampu berkomitmen dalam mempertahankan ikatan hingga kehidupan selanjutnya?
Ribet, bukan? Memang. Kekhawatiran-kekhawatiran itu muncul bukan tanpa alasan. Sejujurnya, saya masih terlalu hijau untuk paham tentang cinta serta pernikahan. Meskipun selama dua tahun belakangan saya melahap beragam buku mengenai relationship pria dan wanita, hanya untuk memahami mekanisme cinta hingga berujung pada jenjang pernikahan.
Kata di buku-buku itu, pernikahan itu dilandasi dengan cinta pada awalnya, lantas seiring berjalannya waktu kita tidak bisa terus-terusan mengandalkan cinta. Rasa cinta itu fluktuatif karena hal tersebut merupakan bagian dari sisi emosionalitas makhluk hidup. Manisnya cinta yang passionate–menggebu-gebu–hanya berjalan sampai lima tahun pernikahan. Bahkan ada yang hanya setahun atau dua tahun saja. Jika tidak kuat, atau salah mendefinisikan apa itu pernikahan, tentu ketika rasa cinta perlahan memudar, masing-masing pihak akan merencanakan sebuah perpisahan. Saya pun akhirnya menyadari bahwa menikah tidak hanya cinta saja, perlu komitmen. Lantas, apa yang menciptakan komitmen? Kembali ke tujuan pernikahan antar masing-masing pasangan. Lihat kembali visi dan misi yang pernah terencana. Itulah, hal yang membuat suatu ikatan pernikahan tetap terjaga.
Akan tetapi, sering saya lihat pula bahwa kebanyakan masyarakat sekarang menjadikan pernikahan sebagai sarana pemenuhan tuntutan hidup semata. Kosong melompong, tanpa tahu esensinya. Padahal kekosongan dan ketidaktahuan itulah salah satu sebab mengapa banyak pasangan masa kini yang memilih bercerai ketika pernikahan baru seperempat jalan. Ada juga yang menjadikan pernikahan sebagai ajang perlombaan atau pamer kekayaan. Mengundang ribuan undangan, meskipun tidak kenal. Heboh ke sana kemari, menghabiskan uang jutaan hingga milyaran. Buat apa, hanya memboroskan uang saja, kan? Malahan, kesakralan dalam pernikahan tersebut menjadi hilang ditelan ingar bingar pesta.
Pernikahan tidak sedangkal itu, padahal.
Seiring bertambahnya usia dan kematangan emosi, masing-masing dari kita pasti akan menggalaukan hal-hal tersebut. Galau tidak akan berkisar pada siapa gerangan sang pendamping hidup kelak. Kalau saya sendiri lebih menggalaukan apakah nantinya saya bisa memahami sang pendamping hidup tersebut? Meskipun saya telah menjejali diri dengan buku Men are From Mars, Women are From Venus-nya John Gray serta Why Men Don’t Listen and Women Can’t Read Maps-nya Allan dan Barbara Pease, tetap saja merasa kurang paham. Meskipun juga sudah dijelaskan panjang lebar tentang sifat dasar kaum adam yang harus dimengerti oleh kaum hawa. Tetap saja, masih banyak pertanyaan yang berkecamuk. Hidup tentu tidak sesederhana teori-teori dalam buku self-help tersebut, bukan? Ada kejutan-kejutan dan riak-riak kecil yang pasti ada sepanjang kehidupan manusia, tentu saja. Tidak mungkin akan datar-datar saja. Sesuatu yang datar tidak akan seru. Harus ada dinamika. Namun, dinamika seperti apa? Itulah yang selalu menjadi pertanyaan saya sendiri. Takut kalau-kalau dinamika tersebut adalah sesuatu yang sukar untuk diurai. Takut kalau-kalau ketika sudah saling mentok, akhirnya malah saling berbalik ke belakang dan melarikan diri.
Melarikan diri. Terdengar menyeramkan.
Well, tidak bisa dipungkiri, sebagai seorang wanita ternyata saya lebih ribet daripada wanita kebanyakan. Hampir semua hal dipikirkan, definisinya hingga esensinya. Sampai akhirnya menyadari bahwa nyatanya saya tidak tahu apa-apa. Bahkan untuk kehidupan dewasa awal yang remeh temeh saja saya tidak paham. Atau saya saja yang bebal, tidak mampu mencerna informasi dan mensintesisnya menjadi sebuah pemahaman yang baik.
Jadi, memang nyatanya saya butuh untuk disempurnakan. Supaya pemahaman saya yang sepatah-patah ini bisa tergenapi. Lantas, siapa? Mungkin, kamu orangnya. Hehehe.
Halah, nulis serius kok ya masih bisa guyon to, Rif.
Tulisan ini makin ke bawah makin pointless saja. Ah, sudahlah, saya hanya ingin menumpahkan segala kegalauan yang belum terjawab. Pikiran saya random akhir-akhir ini. Senantiasa diliputi kecemasan akan tugas-tugas perkembangan menjadi seorang manusia yang memasuki fase perkembangan dewasa awal. Banyak sekali! Hingga untuk dibayangkan saja rasanya tidak mampu.
Bagi yang sudah bersedia membaca tulisan abal-abal ini, saya ucapkan terima kasih. Kalian telah bersedia membuang waktu berharga kalian hanya untuk membaca tulisan yang tidak penting-penting amat. Hahaha.
Semoga, bagi kalian yang suka mampir di blog ini, tidak akan kecewa untuk mampir di lain waktu. Terima kasih, pembaca setia…
Sampai jumpa di postingan selanjutnya :)