Jumat, 15 Agustus 2014

Psikologi Eksperimen featuring Metode Penelitian Kuantitatif

18:18 0 Comments
“Balada Mahasiswa yang mulai membuat Bab I, II, dan III padahal belum ambil Skripsi”
“Mahasiswa itu harus dipaksa menyicil latihan membuat skripsi dari semester awal, supaya nanti dapat gambaran saat skripsi yang sebenarnya…”
Teringat celoteh dosen saya – sepertinya bukan dosen yang mengajar dua mata kuliah ini – tentang masalah skripsi dan tetek bengeknya. Saya juga sebenarnya lupa-lupa ingat, sebenarnya kalimat itu muncul dari pikiran saya sendiri atau benar merupakan milik dosen saya. Ah, sudahlah, lupakan saja. Ya, kalimat itu sungguh benar adanya. Semua hal itu harus dimulai sejak awal supaya akhirnya nanti tidak keteteran.
www.google.com
Begitu pula dengan masalah penulisan laporan penelitian dan karya ilmiah, harus dilatih sejak memasuki awal masa kuliah, bahkan kalau bisa, sih, sudah dilatih sejak masih sekolah menengah. Menulis itu bukan bakat, melainkan hasil dari latihan yang terus menerus. Begitu pula dengan menulis laporan ilmiah, supaya paragraf awal sampai akhir tersusun sistematis, saling berkesinambungan antara das sein dan das sollen-nya, tentu dibutuhkan proses latihan menulis yang tidak singkat. Apalagi untuk orang yang tidak terbiasa menulis atau malas menulis tentu proses latihan itu akan terasa lama nan membosankan. Terlebih lagi jika ingin latihan menulis tapi sebelumnya tidak punya modal awal terlebih dahulu yaitu, banyak membaca buku, tentu akan sulit untuk memulai dan menyusun rangkaian kalimat demi kalimat sampai membentuk paragraf yang padu.
Nah, itulah gunanya mata kuliah Metode Penelitian baik Kuantitatif maupun Kualitatif. Tujuannya, supaya mahasiswa dapat melakukan penelitian dengan sistematis yang nantinya akan digunakan menyelesaikan skripsi. Ya, di sini tidak sepenuhnya belajar tentang menulis laporan ilmiah, namun juga ada teori-teori lain yang berkaitan dengan masalah penelitian. Anyway, seperti yang saya tuliskan di atas, berlatih menulis itu tidak hanya cukup selama satu semester. Semua memiliki proses latihan yang panjang. Jangan dikira sekali menulis tiba-tiba langsung jreng, outstanding. Jadi, kemampuan menulis itu harus terus menerus dikembangkan supaya menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya.
Begitu juga yang dilakukan dosen saya, di mana dosen saya yang mengajar mata kuliah Kuantitatif sama dengan dosen yang mengajar Psikologi Eksperimen. Sebuah keberuntungan? Ya, tentu saja, karena dua mata kuliah ini saling berkaitan satu sama lain. Jadi, daripada dibimbing dosen yang berbeda – bisa saja persepsi dan mengajarnya berbeda sehingga menyebabkan overlapping – lebih baik seperti ini. Namun ternyata akibat dari satu dosen mengajar dua mata kuliah, terkadang beliau mengajar dua mata kuliah secara bersamaan. Bahkan tugasnya pun sama, sama-sama membuat proposal penelitian. Proposal penelitian yang dikerjakan bertahap dari Bab I sampai Bab III sampai penghujung semester. Saat tiba waktu ujian pun, kedua mata kuliah ini diujikan dalam waktu satu hari, dirapel! Bisa kalian bayangkan bagaimana peningnya otak kami saat harus belajar di hadapan buku setebal novel Harry Potter – masih lebih menarik Harry Potter, pastinya – dan belajar SPSS juga (SPSS adalah software yang digunakan untuk mengolah data secara statistik). Setiap tiba ujian Kuantitatif selalu berbarengan dengan ujian Eksperimen, kepala kami terasa cenat-cenut. Keluar dari ruang kuliah pasca ujian, raut muka kami terlihat kusut, kecuali mahasiswa ‘cemerlang’ (bukan saya, sepertinya).  
Nah, kalau Kuantitatif itu semacam teorinya, kalau prakteknya ada di Eksperimen. Itulah mengapa dua mata kuliah ini sangat serasi disandingkan. Halah. Banyak cerita dan momen istimewa yang terekam selama satu semester bersama Psikologi Eksperimen. Cerita berawal dari memasuki awal semester empat yang langsung dibuka dengan pengelompokan kelompok praktikum Eksperimen. Satu kelompok terdiri dari tujuh orang. Saya satu kelompok dengan Hentyn, Rio, Rizky, Siti, Naila, dan Nisa. Yup, kumpulan anak-anak keren dan paling bersemangat yang bekerja bersama saya selama satu semester penuh. Saya sungguh beruntung bisa satu kelompok dengan mereka. Kelompok kami dibimbing oleh Mbak Ariska Rizal. Seorang kakak asisten paling menyenangkan yang pernah saya kenal.
Pada tugas pertama Psikologi Eksperimen, kami melakukan praktikum laboratorium lantas dilanjutkan dengan menulis laporan praktikum. Masuk laboratorium, praktikum selama satu jam dari jam 15.00 – 16.00, dan mengerjakan laporan hingga lepas Maghrib, bahkan lepas Isya’ kami masih di kampus hanya untuk meneruskan laporan yang ditulis tangan. Fiuh, melelahkan tapi kami senang. Selama empat minggu kami berkutat dengan praktikum dan laporannya. Kami masih melakukannya dengan riang gembira, penuh canda, makan bareng, dan lain-lain. Ya, momen keren yang menyenangkan bersama teman-teman satu kelompok.
Empat minggu pun terlewati, kami sudah lepas dari tanggungan praktikum lab. Lega? Ya, tentu saja. Tapi, tunggu dulu, masih ada tantangan lebih keren lagi pasca praktikum lab. Apa itu? Praktikum lapangan! Perut saya pun terasa mulas saat mendengarkan tugas-tugas apa saja yang menghampar selama eksperimen lapangan. Sebelum kami melakukan eksperimen lapangan, kami harus menentukan judul dan tema apa yang nantinya akan kami pakai. Kami pun menuliskan beberapa judul yang kami usulkan pada asisten, kami harus menunggu dulu judul apa yang nantinya akan disetujui oleh dosen.
Tidak terlampau lama kami menunggu, dosen pun menyetujui judul kami tentang ‘Pemilihan Musik pada Remaja’. Ya, berawal dari pertanyaan salah satu teman saya, Nisa, tentang; sebenarnya apa sih yang membuat remaja itu menyukai suatu genre musik tertentu? Apakah karena mereka merasa bahwa salah satu genre musik tertentu dapat menaikkan harga diri mereka? Yup, pada mulanya kami menggunakan tema tentang, harga diri yang berhubungan dengan pemilihan selera musik. Eits, tapi ternyata setelah konsultasi kedua kalinya, kami disuruh mengganti temanya. Menurut dosen kami, lebih cocok kalau kita menggunakan tema konformitas dalam pemilihan selera musik. (Konformitas adalah sebuah kecenderungan di mana seseorang cenderung mengikuti kelompoknya dengan keinginan supaya dapat diterima oleh kelompoknya. Fenomena ini paling sering, kan, kita temui pada remaja. Misalnya, remaja yang satu geng biasanya suka menyamakan diri mereka dengan kelompoknya dalam hal fashion).
Lalu, kami pun mengganti tema kami menjadi konformitas. Padahal kami sudah membuat latar belakang dan landasan teori, semuanya menggunakan teori harga diri. Hiks, harus ganti lagi, mulai searching, browsing, download jurnal, dan ke perpustakaan, lagi. Setelah membuat bab satu sampai tiga bersamaan dengan proses koreksi-revisi, kemudian kami lanjutkan untuk segera melaksanakan eksperimen lapangan untuk melanjutkan laporan, bab empat sampai lampiran.
Konfederasi dan Subyek Penelitian. Eh, di belakang ada mbak Ariska
Nah, karena kami ingin meneliti perilaku pemilihan selera musik pada remaja, maka kami harus mencari anak remaja sebagai subyek penelitian. Hm, sulit dan susah sekali, apalagi yang harus kami cari adalah anak SMP. Kami mengunjungi satu sekolah ke sekolah lain, kampung ke kampung, di tengah panas terik matahari. Capek, tentu saja. Meskipun harus berpeluh, lapar melilit lambung, bete-betean, tapi kami harus terus menerjang aral. Akhirnya, setelah kami mengerahkan segala kemampuan yang ada, kami berhasil mendapatkan dua belas subyek. Sebenarnya masih kurang, tapi, ya sudahlah waktunya juga sudah mepet. Kedua belas subyek tersebut kami ajak ke kampus kami. Kami kasihan dengan mereka yang dengan sukarela dan senang hati mau membantu kami sehingga harus pulang kesorean. Terima kasih adik-adik semua, semoga kalian selalu mendapat keberuntungan dan kesuksesan dunia dan akhirat.
Setelah selesai melakukan eksperimen, kami mengerjakan laporan dengan sistem ngebut maksimal. Rasanya ingin menangis meraung-raung, karena di tengah kesibukan mengerjakan laporan, yang senantiasa melalui proses koreksi-revisi, saya juga disibukkan oleh urusan kegiatan seminar dan konflik di dalamnya. Rasanya nggrantes maksimal! Hah, ya Allah, saya harus mendahulukan yang mana? Mau nggak mau kalau keadaannya seperti itu saya harus ikhlas dengan mengorbankan salah satu. Well, saya bisa kuliah dengan ridho Allah dan orang tua, maka saya lebih mendahulukan kuliah saya. Bukan bermaksud mengesampingkan amanah lain, tapi saya tidak bisa mengkhianati Allah dan orang tua saya.
Setelah tugas itu selesai, rasanya sudah mulai lega. Tapi, masih tetap tugas dari mata kuliah lain menghantam bertubi-tubi. Kepala saya sampai pening saking bingungnya harus mendahulukan tugas yang mana dulu. Deadline hampir bersamaan, rasanya nggrantes maksimal kuadrat! Pikiran saya yang terpecah belah bagaikan kepribadian Billy Milligan itu membuat saya menghadapi konflik, masalah, dan kecaman dari orang-orang sekitar saya. Ketika saya mengerjakan tugas satunya, teman satu tim di tugas lain marah-marah tak rela. Ketika saya mengerjakan tugas lain, teman satu tim di tugas satunya menggeretakkan gigi mereka menahan amarah. Well, saya tetaplah manusia, tentu tidaklah sempurna. Pekerjaan saya juga masih banyak cacatnya meskipun saya sudah terguling dan terkoyak berusaha menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan semaksimal saya.
Namun, eksperimen masih berlanjut. Eksperimen lapangan tentang konformitas yang lalu adalah tugas eksperimen non-intervensi. Masih ada tugas satu lagi sebagai penutup rangkaian eksperimen kali ini yaitu, tugas eksperimen intervensi. Tugas eksperimen intervensi kali ini menggunakan tema yang ditentukan oleh dosen yaitu, pendidikan. Selain itu, pada eksperimen kali ini, kami tidak membuat eksperimen dan memikirkan semuanya sendiri seperti eksperimen non-intevensi kemarin, melainkan melakukan eksperimen replikasi. Kami pun mencari jurnal Psikologi tentang intervensi dalam ranah pendidikan. Jurnal penelitian intervensi tentang pendidikan sangat banyak, tapi kebanyakan penelitiannya dilakukan oleh mahasiswa atau dosen FKIP. Di mana biasanya yang berlatar belakang pendidikan masih kurang menyoroti sisi psikologisnya, jadi masih agak berbeda dengan intervensi pendidikan dengan metode Psikologi. Akhirnya, setelah melalui proses browsing-serching-download yang panjang dan berulang-ulang, usulan jurnal kami pun disetujui.
Untungnya ada ibu guru yang bantuin saya :D

Jurnal yang disetujui untuk direplikasi adalah, Metode Multisensori dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa. Awalnya kami memutuskan untuk menggunakan siswa SD kelas 1 yang menurut kami, mungkin, setidaknya ada beberapa anak yang belum bisa membaca. Namun, pada saat melakukan pretest di sebuah SD, kenyataannya semua anak SD kelas 1 sudah bisa membaca. Akhirnya, kami memutuskan untuk melakukan penelitian dengan subyek anak TK kelas A yang jelas-jelas ada banyak yang belum bisa membaca. Dan memang benar, saat melakukan pretest kami menemukan banyak yang belum bisa membaca. Hahaha, terdengar sedikit lucu, tapi boleh lah dicoba, meskipun anak TK sebenarnya belum boleh diajari membaca. Lagipula, penelitian ini insyaa Allah akan bermanfaat ke depannya buat anak-anak di TK itu.
Bermain sambil menghafal huruf bersama kakak Hentyn :p
Selama lima hari kami melakukan penelitian, dari proses pretest, intervensi, sampai posttest. Selama lima hari, bolak-balik kampus-TK, mengambil alih peran guru untuk mengajar (karena proses intervensinya harus mengajar). Bermain bersama anak-anak TK yang super bandel dan susah diatur, khusunya anak cowok. Haduh, memang capek tapi kami senang. Kami amat sangat merepotkan guru-guru di sana. Terima kasih, ibu guru semuanya.
Bu Guru Siti dan Naila lagi contohin bikin huruf. Perhatikan ya...
Alhamdulillah, dengan sisa semangat dan tenaga yang ngebut maksimal, akhirnya kami dapat menyelesaikan laporan eksperimen intervensi ini. Puji syukur, helaan nafas penuh kelegaan, raut muka sumringah, terpancar dari kami. Hei, tapi masih ada banyak ujian yang menanti di depan mata, selain ujian teori ada pula ujian sidang hasil eksperimen intervensi dan non-intervensi. Cemas? Ya, tentu saja. Bahkan beberapa hari pasca pengumpulan laporan eksperimen intervensi, beredar jarkom tentang jadwal sidang per-kelompok. Kelompok kami, mendapat kesempatan sidang paling pertama kali dari kelompok lainnya, yaitu hari Rabu, 11 Juni 2014, pukul 15.30 – 16.30. Hari Rabu, tanggal 11 Juni, oh-em-ji, hari itu bertepatan dengan umur saya yang mulai meninggalkan usia belasan….
Akhirnya kelar eksperimen intervensi selama lima hari. Terima kasih ibu guru dan adik semua :D

Saturday Night with 3030Show

12:00 0 Comments
Suasana di area cafetaria 3030show
Pernah dengar 3030show? Pernah nonton 3030show? Belum pernah? Yah, sayang banget. Padahal bulan Juni lalu mereka roadshow ke Solo, lho. Memangnya bagus banget, ya? Iyalah, bagus dan keren banget. Kalau kalian penduduk Solo dan sekitarnya, sayang banget kalian telah melewatkan momen langka ini. Halah.
Kok bisa tahu ada pertunjukan 3030show? Yup, berawal dari retweet-an following saya yang me-retweet akun twitter 3030 yaitu, @3030solo, saya pun iseng-iseng kepo timeline-nya. Saya baca bio-nya, scrolling timeline-nya, buka tab favorite, kayaknya menarik. Tapi, saat itu informasi yang mereka tweet-kan masih belum banyak. Masih penasaran, saya pun akhirnya bertanya di grup angkatan Whatsapp. Kemudian, salah satu dari teman saya mengatakan bahwa beberapa bulan sebelumnya mereka juga pernah mengadakan pertunjukan di Semarang. Teman saya pun bilang kalau teman dia sempat mengirim fotonya dan dia nyesel waktu di Semarang nggak nonton. Saya lihat fotonya, wah lumayan keren, nih. Saya pikir, kayaknya tiketnya bakalan mahal kalau pertunjukan sebagus ini. Saya pun mulai kepo-kepo timeline mereka lagi, coba cari tentang kisaran harga tiketnya. Setelah kepo kesana kemari, saya menemukan fakta bahwa ternyata pertunjukan ini gratis, tanpa dipungut biaya! Wah, lumayan, nih, pikir saya saat itu. Beberapa saat kemudian, saya menemukan link registrasi pendaftaran via online. Saya pun mulai berkoar-koar lewat grup angkatan mengajak teman-teman seangkatan untuk jangan pulang kampung dulu sebelum menonton pertunjukan ini. Sebenarnya, minta ditemenin supaya nggak suwung saja, hehehe. Banyak yang tertarik, kemudian beberapa dari mereka pun mendaftar online.
Ramenya Malam Minggu bersama 3030show
Acara 3030show ini sebenarnya merupakan sebuah pertunjukan seni dengan teknologi laser dan 3D. Terdengar keren dan menarik, membuat saya penasaran. Roadshow 3030show di Solo berlangsung antara tanggal 19 – 25 Juni 2014, mengambil tempat di lapangan Keraton Mangkunegaran, Solo.  Setiap harinya ada beberapa kali pertunjukan yang bisa kita pilih jamnya sesuai keinginan. Saya memilih pertunjukan hari Sabtu, 22 Juni 2014, jam 19.00 – selesai. Sekalian malam minggu kan seru. Hehehe. Anyway, acara yang mengusung tagline “Masa Depan Dimulai Saat Ini” merupakan acara yang dibuat oleh sebuah provider telepon seluler dengan produk andalan internet 2GB dan masa aktif 12 bulan, lho. Pasti para mahasiswa yang suka internetan tahu, deh.
Hm, masa iya tempatnya di lapangan, kayak layar tancep, dong? Ini bukanlah semacam layar tancep, Kawan. Justru mereka mendirikan doom (semacam kubah setengah lingkaran) yang besar di tengah lapangan tersebut. Nah, pertunjukan laser dan 3D art-nya ada di dalam doom itu.
Pukul 17.30 saya sudah stand by di sekitar area 3030show. Well, karena saya akan menonton pertunjukan pukul 19.00, setidaknya saya harus stand by di sana maksimal jam 18.00. Ya, karena saya takut telat atau antriannya bakal panjang, saya pun datang lebih awal supaya dapat urutan antrian paling depan. Hehehe. Sebenarnya, saya niat nonton show ini bareng adik dan ibu saya, namun ternyata di sana tertulis ketentuan peserta berusia antara 17 – 35 tahun. Yah, adik dan ibu saya tidak memenuhi kriteria peserta. Jadilah mereka tidak bisa masuk.
Setengah jam lamanya saya duduk di cafetaria seraya menunggu pintu doom dibuka. Saya celingak-celinguk kesana kemari, berharap menemukan teman-teman saya atau minimal orang yang saya kenal, lah, biar bisa ngobrol dan nggak suwung. Penonton kebanyakan bergerombol dengan teman-temannya, berfoto-foto, ngobrol di cafetaria, sedangkan saya sendirian. Hiks. Saya berulang kali melihat ke arah loket pemeriksaan tiket, siapa tahu teman-teman saya yang nonton show jam 19.00 datang. Di tengah lampu warna-warni dan hiruk pikuk yang membuat saya semakin terasing, saya pun melihat teman-teman saya yang lain. Alhamdulillah, sudah berasa nggak krik-krik lagi, hehehe.
Tak berapa lama kemudian, terdengar pengumuman bahwa pintu doom akan dibuka, para penonton dipersilahkan untuk menempatkan diri di lorong masuk. Satu persatu penonton memasuki area doom, terasa hawa sejuk pendingin ruangan menyeruak. Memasuki area doom, hawa sejuk semakin dingin menusuk kulit. Di dalam doom, tempat-tempat strategis seperti tengah dan depan sudah terisi penuh, hanya tinggal bagian belakang dan kanan-kiri. Mau tidak mau, karena kami tidak mau tempat paling belakang, kami pun mengambil tempat di samping dekat sekali dengan pintu keluar. Ya, lumayan lah, daripada di belakang banget.
Panggung 3030show
Panggung dengan background seperti bioskop 3D beserta lighting yang elegan berhasil memukau para penonton yang sebagian besar anak muda itu. Saya pun mulai tercengang saat penampilan laser beserta tarian kontemporer yang mereka bawakan. Meskipun berulang kali mata saya mengerjap karena cahaya laser yang menyolok mata saya. Haha. Sorai antusiasme penonton menambah kesan keren pertunjukan malam itu.
Satria dan Triana
Cerita dimulai dari kondisi Indonesia tahun 3030 yang memiliki peradaban teknologi sangat maju. Seorang kapten dari tahun 3030 menugaskan kepada Satria dan Triana untuk mengunjungi Indonesia tahun 2014 yang masih ‘suram’. Satria dan Triana pun menaiki mesin waktu untuk menuju Indonesia di tahun 2014. Setelah misi Satria dan Triana membuat Indonesia tahun 2014 menjadi ‘berwarna’, akhirnya sang kapten pun memberikan misi baru yaitu mengunjungi Indonesia di jaman kerajaan. Nah, scene Indonesia jaman kerajaan inilah banyak menampilkan komedi lucu yang membuat seisi doom tertawa terpingkal-pingkal. Bercerita tentang kisah Semar dan Dewi Drupadi, yang saya tidak tahu maksud cerita ini apa, kemudian tiba-tiba muncul Gareng, Petruk, dan Bagong. Saat kemunculan Gareng, Petruk, dan Bagong itulah yang membuat saya terpingkal-pingkal. Ya, karena saat mereka disuruh Semar untuk memperkenalkan diri kepada penonton, tiba-tiba backsound musik berubah menjadi lagu I Want It That Way-nya Backstreet Boys.
“You are my fire, the one desire. Believe, when I say, I want it that way."
Penampilan Punakawan
Saya terpingkal-pingkal saat itu karena si Gareng, Petruk, dan Bagong sok bergaya ala boyband. Hahaha. Cerita pun dilanjutkan dengan kekonyolan dan kebodohan Gareng, Petruk, dan Bagong, beserta Semar. Tingkah Semar yang merupakan sentral dari Punakawan itu membuat kami tertawa sampai perut sakit. Hahaha. Setelah itu, muncul tokoh Dewa – saya tidak tahu itu Dewa apaan, sih – berjubah putih panjang, berjenggot, dan berperut gembul. Hahaha. Kemudian, tiba-tiba datang seorang ‘cewek’ seksi dengan pakaian super mini dan ‘hot’ – sampai pengen muntah, hahaha. ‘Cewek hot’ itu mengaku bernama BCL. Begini percakapan mereka;
“Kamu itu sebenarnya siapa?” tanya Punakawan
“Saya ini BCL!” jawab si BCL KW super ini.
“Oh…. Bunga Citra Lestari?!” Punakawan kembali bertanya dengan heran.
“Bukan! BCL itu, Bohay, Cantik, Lanang!”
Buahahahaha. Tawa pun pecah seakan meledakkan doom saat si BCL menekankan kata, Lanang. Anyway, yang belum tahu, Lanang itu bahasa Jawa dari Lelaki. Hahaha. Saya juga ikut tertawa terpingkal-pingkal menonton kekonyolan Semar saat merayu BCL ini. Yup, terang saja kalau anak-anak di bawah 17 tahun dilarang menonton show ini, karena komedi dalam show ini sedikit memuat konten dewasa. Seperti yang terlihat pada dandanan si BCL KW dengan make-up super menor dan baju super seksi – tapi akhirnya nggilani. Hahaha.
Aksi Lucu Semar
Tak terasa satu jam pun berlalu, kami sudah menjajaki penghujung pertunjukan. Satu persatu pemain dalam show tersebut mengucapkan terima kasih dan selamat malam kepada kami. Kami pun dipersilahkan kru untuk keluar dari doom. Di luar doom tampak stand-stand yang menawarkan berbagai macam produk. Di sana juga ada tempat untuk berfoto dan berselfie. Saya, Ajeng, dan Irfa berfoto-foto di depan angka 3030 yang terpasang besar di tengah area. Setelah itu saya pun langsung buru-buru pulang karena sudah ditunggu ibu dan adik saya.
Oh iya, show ini dalam waktu dekat akan mengadakan pertunjukan di Kudus tanggal 19 Agustus, kalau tidak salah. So, buat teman-teman, misalnya anak gaul Kudus dan sekitarnya, jangan sampai melewatkan momen nonton 3030show ini. Sayang banget, lho, kalau dilewatkan begitu saja. Siapa tahu bisa digunakan untuk refreshing dari segala kepenatan dan hiruk pikuk kehidupan nyata. :)
Semar dan Dewi Drupadi

Sidang Eksperimen di Dua Dasawarsa

10:00 0 Comments
“Entah ini suatu kebetulan atau bukan, momen dua dasawarsa  bertepatan dengan sidang Eksperimen adalah sebuah mimpi buruk atau anugerah? Akankah menjelma menjadi kado yang buruk atau indah?”
Rabu, 11 Juni 2014 adalah hari di mana umur saya mulai bertambah satu digit, mengubah  bilangan belasan menjadi puluhan. Yup, berbeda dengan momen pengurangan jatah umur saya seperti tahun-tahun sebelumnya, momen kali ini menyajikan hal istimewa. Ya, terlampau istimewa sehingga malam sebelum hari H perut saya terasa mulas karena cemas, khawatir, dan nervous berat. Tentu saja cemas berat, kelompok Eksperimen saya akan menghadapi sidang untuk mempresentasikan laporan penelitian beserta temuannya. Pada hari sebelumnya kami telah melakukan briefing dan latihan berkali-kali. Sebenarnya, sih, penguji sidang kami bukan dosen, tapi asisten yang merupakan kakak tingkat kami. Terdengar berlebihan memang, tapi kami berusaha menpersiapkannya sebaik mungkin dan memperkirakan beberapa kemungkinan ‘terburuk’ saat sidang berlangsung.
Teramat sulit menjadi kelompok paling pertama yang menghadapi sidang, itu berarti kami tidak bisa kepo-kepo kepada kelompok lain. Ya, meskipun dengan segala keterbatasan yang ada, kami memutar otak untuk mencari informasi seputar sidang kepada kakak tingkat – kecuali asisten. Jawaban mereka tentu saja beragam, sesuai dengan kondisi kelompok mereka. Semua informasi yang kami kumpulkan memang tidak meredakan ketegangan kami, bahkan malah semakin memperparah. Namun, dengan adanya informasi dan clue seputar pertanyaan yang paling sering ditanyakan penguji, kami dapat mengantisipasi sebelum menghadapi medan pertempuran.
Jam demi jam, menit demi menit, dan detik demi detik berlalu. Pasca kuliah, kami mulai menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan proses sidang yaitu, laptop dan laporan. Ritme degup jantung saya kian cepat seiring dengan waktu sidang yang semakin dekat. Saya berulangkali mengigiti bibir saking cemasnya. Menelan ludah, meremas tangan, berulang kali menghela nafas, berusaha menenangkan diri dan mengenyahkan perasaan khawatir.
Waktu kian berlalu, kumandang adzan Ashar pun terdengar. Saya merasa saat itu seperti lemas dan ingin melarikan diri. Semacam mekanisme pertahanan diri antara fight or fear, attack or escape. Tak ada pilihan yang menyenangkan, mau tidak mau saya harus fight and attack. Kami pun bergegas ke mushola untuk menunaikan shalat Ashar terlebih dahulu sebelum bertempur. Rasa cemas mulai perlahan berkurang saat tubuh saya bersimpuh dan menengadahkan tangan kepada Sang Pengatur Segalanya. Berulangkali mengucap doa, memohon supaya lisan saya tidak membuat kesalahan yang dapat menjatuhkan kami.
Setelah shalat Ashar, kami pun berjalan dengan sedikit tergesa ke ruang kuliah yang dipersiapkan untuk sidang. Kami mulai mempersiapkan laptop, LCD, dan power point-nya tentu saja. Tak lama, ketiga asisten penguji pun memasuki ruangan. Jantung saya kembali berdebar kencang. Aduh, rasanya saya ingin mati saja, saat itu. Ketiga asisten penguji tersebut adalah, Mbak Devina, Mbak Hesti, dan Mbak Rafika. Glek! Hiks, kakak-kakak asisten cerdas dan paling kritis yang pernah saya temui di muka bumi. Tangan saya terasa dingin dan sedikit kebas. Aduh, ya Allah, lancarkan segalanya.
Semua asisten mulai siap di tempat duduknya, kami berjajar di depan kelas dalam posisi duduk juga. Dua orang dari kami pun dipilih asisten, Rio dan Rizky, masing-masing melaporkan hasil eksperimen intervensi dan non-intervensi. Masing-masing presentator melaporkan dari mulai judul, tujuan, sedikit landasan teori, teknik sampling, perhitungan statistik, hasil temuan beserta signifikansinya, serta kesimpulan. Presentasi tidak memerlukan waktu terlampau lama, lantas dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Inilah salah satu hal paling mendebarkan. Saya berulangkali meremas tangan saya, terasa basah berkeringat dan dingin seperti es. Jantung saya kembali bertalu-talu dengan hebatnya saat suara asisten memecah kesunyian dengan melontarkan sebuah pertanyaan pamungkas.
Sebagai seorang pencemas akut, saat ingin mengeluarkan sebuah statement perasaan saya selalu dikuasai oleh ketakutan yang luar biasa. It feels like, I can’t handle it anymore. Satu-satunya jalan adalah dengan memaksakan diri. Dengan segala kemampuan yang ada, saya dengan sok percaya diri menjawab setiap pertanyaan asisten, beserta tambahan dari teman-teman saya. Tentu saja diiringi dengan riuh degup jantung yang kian menghebat.
Kami berusaha saling menambahkan jawaban masing-masing anggota untuk memperkuat argumen kami di hadapan asisten. Saya melihat, jawaban dan pendapat dari teman-teman satu kelompok saya memang sangat bagus. Saya beruntung sekali memiliki teman kelompok yang passionate, responsible, pandai, dan menyenangkan seperti mereka. Semua pertanyaan sanggup kami jawab dengan lumayan. Kami berharap segala jawaban yang kami lontarkan dapat diterima secara logika dan tidak terdengar absurd oleh asisten. Haha.
Sesi tanya jawab pun usai, kami dipersilahkan oleh asisten untuk meninggalkan ruang sidang. Kami semua mengucapkan terima kasih dan menyalami kakak asisten satu persatu, kemudian mengemasi barang-barang kami kemudian bergegas keluar dari ruang sidang dengan perasaan lega. Ibarat orang buang air besar, rasanya lega kalau sudah selesai. Hahaha.
Anyway, sedikit cerita mengenai asisten penguji, Mbak Devina dan Mbak Hesti sering bertanya dan cenderung kritis, namun Mbak Rafika lebih sedikit melontarkan pertanyaan. Alhamdulillah, kami bersyukur sekali. Coba kalau ketiga-tiganya kritis dan sahut-menyahut memberondong kami dengan pertanyaan-pertanyaan maut, entah bagaimana nasib kami di ruang sidang tadi. Sudah mati atau masih hidup dengan penuh peluh hingga baju basah. Hahaha.
Yang fotoin siapa sih? Hahaha
Kami keluar ruangan dengan perasaan penuh kegembiraan. Rasanya beban berat yang ada di pundak sudah mulai berkurang satu persatu menyongsong akhir semeseter ini. Kami pun saling berpelukan bersama dengan kelompok kelas A yang juga sudah selesai sidang karena sidangnya bareng tapi beda ruangan. Kyaaaaaaaaa………. Rasanya legaaaaaa…. Saya tertawa-tawa penuh kegembiraan saat itu. Tawa lepas saya yang pertama selama semester empat mungkin. Hahaha.
Hari sudah semakin sore, sebelum kami pulang kami menyempatkan untuk berfoto-foto dan merekam video testimoni pasca sidang eksperimen. Sebenarnya kami berencana untuk makan-makan pasca sidang, tapi akhirnya hanya tiga orang saja yang makan bareng, Hentyn, Rizky, dan saya. Tapi, setelah itu, di lain hari kami janjian untuk menghabiskan sisa uang hasil iuran kami untuk makan-makan di warung Ayam Geprek, belakang kampus. Recommended banget makan di warung ini, terutama bagi para pecinta kuliner pedas, karena di warung ini kalian boleh me-request jumlah cabainya, tapi harga tetap sama. Pas di kantong mahasiswa banget, deh.
Inilah sekelumit cerita pengalaman sidang bertepatan dengan momen pribadi setahun sekali. Haha. Memang terlalu berlebihan deskripsi saya di atas, tapi begitulah adanya. Saya selalu jujur mengungkapkan perasaan saya dalam tulisan. Hehehe.  
Uyeee... akhirnya legaaa...
Teruntuk teman satu kelompok Eksperimen semester empat lalu, terima kasih atas kerjasama dan semangatnya selama ini. Maaf jikalau saya yang sudah kalian amanahi sebagai penanggung jawab kalian justru kurang dapat mengayomi kalian dengan kurang baik. Maafkan segala khilaf yang selama ini saya buat, yang seringkali membuat kalian bete, sebal, dan ingin mencakar-cakar muka saya, mungkin. Hahaha. Terima kasih atas segala kebahagiaan, canda tawa, suka dan duka, serta tanggung jawabnya selama ini. Terima kasih atas segala kritik pedas, ‘tamparan’, dan nasihat yang kalian berikan kepada saya sehingga saya dapat memperbaiki segala kesalahan saya selama membersamai kalian. Terima kasih kalian yang telah memaklumi segala keterbatasan dan kekurangan saya. Maaf jika saya selalu mengecewakan kalian selama bekerja dengan kalian.
Seorang ketua tentu tidak ada apa-apanya tanpa orang-orang hebat di sampingnya. Terima kasih banyaaaaaaaaaakkkkk…. :’)
Calon Psikolog Hebat! Aaamiin...

Kamis, 14 Agustus 2014

Psychovision 2014: How to Handle Daily Stress

20:20 0 Comments

“Saat stress datang akibat mati-matian mempersiapkan acara yang satu ini. Ironis, memang”
Acara paling keren dan sensasional yang pernah saya ikuti. Melibatkan diri dengan segala hiruk pikuk masalah dan konflik yang terjadi baik internal maupun eksternal. Well, masalah itu bukan untuk dihindari, tapi untuk dihadapi dan diselesaikan, dengan gentle. Saat di tengah perjalanan menuju hari H acara tersebut, memang banyak duri dan kerikil tajam yang mengoyak langkah. Rasanya ingin menyerah saat perjalanan sudah dua pertiga terjamah. Tapi, itu sama saja pengecut, bukan?
source: www.google.com
Sesakit apapun, sepedih apapun, tetap harus terus melangkah sampai hari yang ditunggu tiba. Ketika di tengah perjalanan, tugas menghantam bertubi-tubi, konflik merajalela mengiris hati, tatapan mata tajam berkilat penuh sakit hati, kata-kata pedas terasa panas bagai terbakar api. Semua itu memang penuh tragedi. Oke, kalimat saya mungkin terdengar lebay, tapi ini jujur dari dalam hati. Hehehe.
Setelah bergumul dengan masalah yang tiada henti, akhirnya tibalah kami di hari penuh sensasi. Halah. Petualangan dimulai sejak hari Sabtu, 31 Mei 2014. Pada hari itu, kami melaksanakan geladi bersih di venue seminar. Seminar ini berlokasi di Convention Center Hall, Solo Paragon. Kami mulai mengatur kursi sesuai kebutuhan, mengatur panggung, mengangkat sofa dan meja ke atas panggung, menghias mimbar, menata seminar kit, mengangkat meja untuk stand sponsorship, dan lain sebagainya. Pengisi suara pun satu persatu datang dan melakukan geladi bersih. Waktu pun berlalu cepat, setelah kami istirahat sebentar dan melaksanakan sholat Maghrib, kami melanjutkan pekerjaan lain yang masih menunggu.
Jam demi jam demi jam pun berlalu, waktu sudah hampir menunjukkan pukul 20.00. Dari luar venue, ada panitia yang mengabarkan bahwa salah satu pembicara seminar kami akan datang untuk geladi bersih sekaligus check sound. Yup, namun si pembicara itu meminta untuk mensterilkan ruang seminar, artinya panitia tidak boleh masuk, di dalam hanya boleh ada dia bersama krunya. Tampak dari pintu, kami melihat pembicara itu memasuki venue, lantas kami pun disuruh keluar. Setelah beberapa hal dibereskan, satu persatu dari kami pun pulang, kecuali beberapa panitia yang bertugas mengurusi si pembicara itu. Mau tahu siapa dia? Silahkan baca terus sampai selesai. Hehehe.
Saya pun pulang bersama teman-teman saya. Malam itu, saya tidak pulang ke rumah. Saya dan Nisa menginap di kosan Sheilla dan Tera, karena besoknya harus datang jam 06.00 untuk briefing dan persiapan lagi.
Malam itu saya susah tidur, terlalu kepikiran sama acara besok. Perasaan saya juga tidak enak saat itu. Esok paginya, saya terbangun jam 03.30. Padahal malamnya saya tidur hampir larut, sekitar jam 22.45. Entahlah, mungkin saya hanya gelisah karena takut datang terlambat.
Pukul 05.15 kami berangkat, namun sebelumnya kami jemput Rizki dan Mba Evy di kos. Mbak Evy membonceng saya, Nisa membonceng Tera, dan Rizki membonceng Sheilla. Separuh perjalanan terlampaui, tiba-tiba motor saya terasa oleng, saya pun berhenti di pinggir jalan. Jalanan pagi masih lengang. Hanya ada beberapa pedagang pasar yang berlalu lalang. Saya melihat ban motor saya, ternyata bocor. Sayangnya, di sekitar tempat saya berhenti, lapak tambal ban-nya belum buka. Saya dibantu teman saya, mencari-cari lapak tambal ban yang sudah buka di hari Minggu pagi yang amat dini. Teman saya menemukan lapak tambal ban yang sudah buka dan jauhnya sekitar satu kilometer. Ternyata inilah pertanda buruk yang semalam saya gelisahkan. Hiks…
Sekitar jam 07.00 pagi saya baru sampai di Paragon. Terlambat satu jam, dan itu sangat menyebalkan. Saya tidak suka terlambat dan tidak terbiasa terlambat. Sampai di sana, semua panitia sudah berkumpul. Mereka semua mulai bersiap untuk sarapan sebelum memulai pertempuran seharian yang melelahkan.
Penampilan Saman Psikologi Universitas Sebelas Maret
Tepat jam 08.00 pagi, acara pun dimulai. Acara dibuka dengan tari Saman dari grup Saman Psikologi Universitas Sebelas Maret. Tari yang mereka tampilkan sangat keren dan penuh semangat! Riuh tepuk tangan penonton memenuhi ruang seminar. Acara dilanjutkan dengan pembukaan oleh Mbak Marash dan Sheilla sebagai MC, sambutan-sambutan, kemudian langsung ke inti acara.
Ya, seperti yang telah dituliskan dalam pamflet, pada seminar ini kami membahas tentang; bagaimana, sih, cara mengelola stress sehingga bisa berdampak positif. Apalagi di zaman yang serba cepat ini, tuntutan setiap orang semakin besar.
Ibu Tika Bisono, Psi.
Adanya tuntutan yang besar tersebut mungkin tidak dibarengi dengan kondisi mental yang baik, akibatnya banyak orang yang mengalami stress akibat tuntutan yang kurang atau tidak terpenuhi. Sehingga, jika semua hal tersebut terus menerus menumpuk dan terakumulasi, maka lama kelamaan akan menimbulkan depresi. Nah, pada acara ini kami juga menghadirkan pembicara yang super keren, ada Ibu Tika Bisono, seorang Psikolog terkenal. Ada juga Ustadz Burhan Shodiq, ustadznya anak muda yang buku-bukunya banyak bertengger di toko-toko buku seluruh Indonesia. Selain itu ada juga, Marshanda, seorang yang mendaulat dirinya sebagai #1 MotivArtist dan seorang yang saat geladi bersih meminta venue seminar steril. Hehehe. Yup, pembicaranya keren sekali, bukan? *tertawa miris*
Ustadz Burhan Shodiq
Seminar ini terdiri dari dua sesi, sesi pertama pembahasan tentang stress dari sudut pandang Psikologi dan Islam oleh Ibu Tika Bisono featuring Ust. Burhan Shodiq, dengan moderator kakak kami yang paling keren, Mbak Titis Sekti Wijayanti. Sedangkan sesi kedua adalah sesi cerita pengalaman pribadi dan motivasi dari Marshanda.
Well, sebenarnya saya tidak ingin membahas tentang seminarnya, karena seminar selama hampir delapan jam itu terlalu panjang untuk diceritakan. Hehehe. Saya hanya ingin sedikit bercerita tentang salah satu pembicara di seminar tersebut. Yup, siapa lagi kalau bukan sang MotivArtist, Marshanda.
Seperti yang kita tahu lewat infotainment belakangan ini, Marshanda sedang mengalami badai dalam rumah tangganya. Selain badai rumah tangga yang berujung perceraian, muncul pula berita bahwa dirinya juga tengah berkonflik dengan ibu kandungnya. Ya, konflik yang berlanjut saling tuding antara pengacara dan ibu Marshanda, bahkan membawa perkara ini sampai ke meja hijau. Semacam sinetron kehidupan nyata, memang.
Penampilan Marshanda
Anyway, saat di seminar kemarin, saya ingat sekali bahwa Marshanda masih terlihat biasa saja. Ya, meskipun beberapa hari sebelum seminar, santer terdengar berita perihal keretakan rumah tangga Marshanda dan suaminya, Ben. Sebenarnya juga, H-2 minggu kalau tidak salah, panitia yang tergabung dalam sie acara sempat panik karena dari pihak manajemen Marshanda meminta pembatalan kedatangan Marshanda ke acara kami. Namun, akhirnya sie acara berusaha supaya Marshanda tetap bisa datang karena pamflet sudah terlanjur tersebar, sudah banyak peserta yang daftar – terutama dari gabungan komunitas pecinta Marshanda –, hari H semakin dekat, dan juga kami tidak memiliki alternatif pembicara lain. Kami pun baru tahu alasan mengapa tiba-tiba Marshanda ingin membatalkan kedatangannya, ini akibat dampak dari berita perceraiannya yang santer terdengar.
Saat seminar, Marshanda masih bersikap wajar, masih mengenakan jilbab, tidak menunjukkan tingkah laku yang janggal atau sebagainya. Bahkan sempat di akhir sesi, Marshanda memberikan pelukan hangat kepada beberapa peserta seminar yang bersedia menceritakan kesedihan dan masalahnya. Terlihat sangat normal dan masih berusaha menguatkan mereka-mereka di luar sana yang sedang mengalami beragam tekanan. Selain itu, ia juga sempat bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Lepas, tanpa beban, menuai tepuk tangan membahana dan sorai peserta seminar yang terhibur dengan penampilannya. Ya, sejenak kami pun lupa bahwa di luar sana banyak paparazzi yang berusaha mencuatkan konflik rumah tangganya di muka publik.
Oh iya, saya juga ingat bahwa saat seminar Marshanda pernah memberitahukan bahwa, ia akan merilis sebuah video yang berisi puisi karyanya. Puisi yang berisi curahan hatinya yang berjudul Unspoken. Yup, video yang santer disebut-sebut sebagai video pertama yang mengunggah penampilan Marshanda tanpa mengenakan hijab! Miris sekali, sejak saya mendengar Marshanda melepas hijabnya. Saya pikir, berita di twitter yang menyebutkan bahwa Marshanda mengunggah foto tanpa jilbabnya itu hanyalah hoax saja. Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata semua berita itu benar. Rasanya, sedikit kecewa juga, karena kemarin sudah sempat mengundang Marshanda menjadi pembicara, memberikan motivasi malah. Padahal di episode 1 dari serial Unspoken tersebut terlihat bahwa Marshanda masih mengenakan hijabnya. Ah, ya, saya sadar bahwa orang-orang bisa berubah dalam waktu singkat.
Ya, memang pelik permasalahan yang sedang mendera Marshanda saat ini. Berharap semoga semua dapat terselesaikan dengan baik tanpa tambahan konflik. Meskipun sebenarnya saya sangat menyayangkan keputusannya untuk melepaskan hijabnya. Ya, berharap semoga Marshanda dapat segera menyelesaikan kekalutan mental dan segala permasalahan hidupnya. Semoga saja suatu saat ia bisa sadar dan kembali menutup auratnya. Aamiin….

Senin, 21 Juli 2014

Lebih Indah dari Sekadar Rambut

19:29 0 Comments
Rambut indah tergerai, berkilau-kilau tertimpa terik mentari. Seperti itulah gambaran visual dari iklan produk perawatan rambut. Wanita-wanita cantik dengan rambut indah berlalu-lalang di layar kaca memamerkan rambut hitam kelam mereka, menunjukkan bahwa: “Jika kamu memakai produk ini, rambutmu akan indah seperti punyaku.” Ya, iklan-iklan tersebut tentu dengan sangat mudah menarik simpati para wanita yang bermimpi memiliki rambut nyaris sempurna seperti dalam iklan. Lurus, hitam legam, berkilau, dan mudah diatur. Namun, apakah kalian tahu, wahai wanita, apa yang lebih indah dari sekadar rambut?
Wanita punya banyak aset berharga. Namun, aset berharga mereka tidak selamanya awet muda. Kulit yang kencang, tentu lambat laun akan kendor dimakan usia. Wajah yang cerah tanpa noda tentu lambat laun akan kusam jika terus menerus terpapar polusi. Begitu pula rambut yang hitam legam indah berkilau tentu akan tampak kering dan berwarna kemerahan jika terik mentari terus menerus membakarnya, tanpa ada pelindung apapun. Bagaimana cara para wanita menjaga aset berharganya? Mereka melakukan perawatan dengan sebaik-baiknya, supaya aset berharga mereka itu tetap indah meski usia memangsanya, meski polusi mengotorinya, meski terik mentari membakarnya. Perawatan yang mereka lakukan yaitu dengan memberinya berbagai bahan kimia yang berasal dari produk-produk kecantikan. Produk-produk kecantikan dengan sejuta janji, layaknya calon presiden, yang membuat para wanita berharap aset berharganya tak akan pudar dihapus masa.
Wanita, tahukah kamu bahwa ada perawatan lebih dari sekadar perawatan? Alami, tanpa campur tangan bahan kimia produk kecantikan yang bisa saja menuai efek samping. Simple, tidak ribet selayaknya langkah-langkah perawatan di salon kecantikan atau beauty center. Tahukah kamu bahwa ada yang lebih cantik dari sekadar model-model shampoo perawatan rambut?
Kamu. Iya, kamu. Kamu yang dengan ikhlas berupaya menjaga aset berhargamu dengan melindunginya dari tatapan mata para lelaki. Kamu yang dengan sepenuh hati memenuhi perintah Rabb-mu untuk membungkusnya dengan pakaian syar’i. Kamu yang dengan senang hati menghijabi mahkota kepalamu dari polusi dan terik mentari.
Apakah benar itu kamu, wahai wanita? Apakah semua yang aku sebutkan di atas adalah dirimu, wahai wanita? Ah, ataukah mungkin itu belum dirimu? Apakah kamu sedang berproses menjadi Kamu yang cantik itu?
Ya, perawatan alami yang tanpa efek samping itu sudah diperintahkan Allah sedari dulu. Jauh sebelum adanya iklan-iklan komersil produk kecantikan artifisial itu. Alami, bahkan selain menuai manfaat dunia, kamu akan mendapatkan manfaat akhirat. Terjaga dari tatapan mata para lelaki nakal, terhindar dari fitnah dunia, terlindungi dari radikal bebas polusi udara. Itulah manfaat perawatan alami yang dinamakan pakaian syar’i.
Pakaian syar’i lebih dari sekadar pakaian. Pakaian yang sesuai dengan syari’at agama. Pakaian yang didesain sedemikian rupa sesuai yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Hadits. Pakaian yang menutup seluruh aurat wanita kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian yang dilengkapi dengan jilbab untuk melindungi rambut indahmu. Hanya selembar kain tebal namun memiliki manfaat amat besar. Menjaga kehormatanmu serta merawat aset berhargamu.
Ya, pakaian syar’i lebih indah dari sekadar pakaian biasa, jilbab lebih indah dari sekadar rambut, dan kamu akan lebih cantik dari sekadar model catwalk ataupun model iklan shampoo. Jilbab membuatmu tampak anggun, tampak terhormat, dan dapat mencegahmu berbuat kemungkaran. Jilbab adalah bentengmu dalam menghadapi kehidupan yang serba membahayakan. Jilbab adalah mahkotamu yang menuntunmu menuju surga-Nya kelak. Jilbab merawat rambutmu tanpa membubuhi bahan kimia.
Jadi, tunggu apalagi? Rambutmu, adalah asetmu yang paling indah. Jangan biarkan polusi udara dan panas matahari menjarah kilau alaminya. Jangan biarkan tatapan bukan mahrammu menjadikannya sebagai angan-angan penuh dosa. Rambutmu dan semua aset berhargamu hanya boleh diperlihatkan pada mahrammu dan suamimu kelak. Rambutmu itu terlalu indah jika harus dipertontonkan untuk khalayak. Biarpun mereka suka, tapi Allah tidak suka.
Sudah yakinkah kamu akan manfaat jilbab? Sudah mantapkah kamu untuk mengenakan pakaian syar’i serta menutup rambutmu? Sudah siapkah kamu menjadi cantik dengan cara-cara alami dan simple?
Mulai dari sekarang. Mantapkan hati, luruskan niat, mohon pertolongan kepada Allah supaya dimudahkan. Tunggu apa lagi? Jangan banyak alasan dengan berkata; “Yang penting hijabi hati dulu, baru hijabi fisik.” Sesungguhnya, hai wanita, jika kamu mulai menghijabi fisikmu maka hijab itu pun lambat laun membantumu menghijabi hatimu. Mereka bekerja seirama, bersama-sama.
Lalu, bagaimana dengan kamu yang dulunya pernah berjilbab namun kemudian melepasnya karena merasa kurang bebas, merasa kurang bisa untuk mengekspresikan diri dan berprestasi? Ingatlah wahai saudariku, coba pikirkan kembali, coba renungkan kembali. Adakah jilbab itu menghalangi para wanita di luar sana untuk mengekspresikan diri dan berprestasi? Banyak wanita berjilbab di luar sana yang sudah membuktikannya. Semua keraguan dan perasaanmu itu hanya kamu yang membuatnya sendiri. Jilbab itu tidak mengekangmu, namun menjaga kehormatanmu.
Lalu, bagaimana dengan kamu yang meskipun sudah berjilbab di dunia nyata namun masih sering mengumbar rambut indahmu di dunia maya? Ingatlah wahai saudariku, semua yang kamu lakukan akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Rabb-mu kelak. Berhati-hatilah dalam meng-upload foto-foto cantikmu di dunia maya. Pikirkanlah dulu sebelum menekan tombol share pada jejaring sosialmu. Apakah fotoku ini nantinya akan mengundang fitnah bagi kaum lelaki? Apakah fotoku ini akan membawa madharat bagi banyak orang?
Jadi, tunggu apalagi? Hapus semua foto-fotomu yang masih mengumbar aurat di dunia maya. Mulailah lembaran baru, mumpung masih dalam suasana Ramadhan.
Sesungguhnya ukhti, jilbabmu adalah simbol kehormatan dan keanggunanmu.