Minggu, 15 Maret 2015

[Movie Review] The Maze Runner (2014)

11:11 0 Comments
www.google.com
Senin malam lalu di tengah kepenatan mengerjakan tugas-tugas sambutan semester enam yang mulai membadai, saya menyempatkan diri–lebih tepatnya maksa menyempatkan diri–menonton The Maze Runner. Bagaikan kebelet pup yang sudah di ujung tanduk, saya sudah tidak bisa menahan diri menunggu weekend untuk menontonnya. Hehehe.
Film yang disutradarai Wes Ball ini diadaptasi dari novel young adult tahun 2009 karya James Dashner. Genre science fiction dystopian action thriller yang diusung film ini membuatnya menduduki puncak box office. Atau mungkin juga karena andil versi novelnya yang best-seller sehingga film ini juga menuai kesuksesannya. Juga, salah satu film, yang katanya, paling baik untuk versi film adaptasi novel young adult. Berhubung saya belum pernah membaca novelnya, maka saya percaya saja, sih. Hehehe.
Awal kisah film ini bermula saat seorang remaja lelaki bernama Thomas (Dylan O’Brien) tiba-tiba terbangun dalam sebuah elevator–semacam kerangkeng besi–dalam keadaan linglung dan tidak mengingat apapun. Elevator itu membawanya sampai ke sebuah tanah lapang luas yang dikelilingi oleh tembok-tembok beton tinggi menjulang. Tanah lapang luas itu memiliki banyak sekali penghuni dan semuanya adalah laki-laki. Tanah lapang luas itu disebut oleh penghuninya sebagai Glade. Sedangkan penghuninya sendiri disebut Gladers.
Tembok beton yang mengelilingi Glade sebenarnya adalah sebuah labirin. Setiap menjelang malam, pintu di setiap sisi tembok itu akan menutup. Gladers percaya bahwa setiap malam Grievers–makhluk penghuni labirin–akan keluar dari sarangnya mencari mangsa. Setiap orang yang masuk ke labirin itu pada malam hari dijamin tidak akan kembali hidup-hidup.
Thomas, yang memiliki keingintahuan besar, selalu merasa penasaran dengan apa yang ada di labirin itu. Sampai suatu sore, Minho (seorang runner) tertatih-tatih menyeret Alby (pemimpin Glader) yang sekarat karena tersengat Grievers. Mereka berusaha keluar dari labirin sebelum matahari terbenam dan pintu yang menjadi jalan keluar satu-satunya tertutup rapat. Di sini kejadian dramatis terjadi. Pintu pun perlahan menutup, sedangkan Minho masih beberapa meter jauhnya. Gladers bersorak berusaha menyemangati Minho. Mereka tidak bisa membantu karena Gladers dilarang memasuki labirin kecuali ia adalah seorang runner. Melihat itu, Thomas, dengan segala keberanian dan kegilaannya, nekat menerobos gerbang labirin yang makin lama makin menciut. Ia pun berhasil masuk, pintu tertutup, terjebak bersama dengan Minho dan Alby yang sekarat melewati malam mencekam. Yup, petualangan seru Thomas dimulai dari sini. Melewati malam mencekam, dikejar-kejar Griever yang kelaparan, dan lain-lain.
Film ini sangat keren, menurut saya. Keren banget! Sejak awal, film ini telah menyuguhkan banyak teka-teki. Salah satunya, tentang tembok beton menjulang yang mengelilingi Glade itu. Pertanyaan berkecamuk di benak saya ketika menonton film ini, berusaha menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa ada sekelompok manusia, satu persatu, dikumpulkan dalam satu tempat luas, namun dikelilingi oleh tembok dan labirin yang rumit sekali. Seolah mereka di sana sedang dikurung, ditantang untuk mencari jalan keluar dengan melewati lika-liku labirin yang setiap jamnya susunan pintunya berubah.
Labirin, sebagai fokus utama dalam film ini, mengingatkan saya pada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh B.F. Skinner, seorang psikolog Harvard. Percobaan itu menggunakan seekor tikus yang ditantang untuk membuka pintu kandangnya supaya dapat memakan secuil keju yang ada di luar kandang. Setelah berulang kali berloncatan, berjalan mengitari kandang, akhirnya si tikus menemukan tuas yang kemudian dapat membebaskannya dari kandang menuju makanannya.
Sebenarnya, percobaan kandang tikus di atas tidak terlalu berhubungan dengan film ini. Atau, jika nantinya kalian sudah menonton filmnya hingga ending, mungkin saja kalian bisa menemukan sedikit hubungan antara dua hal yang berlainan dan sangat jauh itu. Hahaha.
Okay, cukup sekian movie review saya kali ini. Movie review terpendek dalam sejarah blog ini. Halah. Sampai jumpa di movie review saya selanjutnya… ;)

Sabtu, 28 Februari 2015

Problematika Dunia Pendidikan

09:09 0 Comments

source: www.google.com

Sudah memasuki akhir Februari dan blog ini mulai menampakkan kesunyiannya. Biasalah, mahasiswa semester akhir itu (sok) sibuk. Sibuk galauin judul skripsi, galauin tempat magang, galau KKN, galau IPK (ini sudah pasti), dan galau jodoh–mengingat sedang tren nikah muda. Halah. Apalagi, ditambah galau-galau pribadi, semisal galau resolusi tahun 2015. Yup, mengingat tahun ini saya punya resolusi yang lumayan gede, jadi mungkin harus pandai-pandai buat manajemen waktu.
Di tengah kegalauan yang menyita waktu dan tenaga ini, Alhamdulillah saya mendapatkan kerjaan baru yang lumayan bermanfaat dan menambah wawasan saya yang lumayan sempit ini. Hahaha. Daripada galau nggak ada kerjaan, lebih baik galau sambil melakukan sesuatu, kan?
Jadi ceritanya begini, kebetulan dosen pembimbing akademik atau dosen wali saya sedang dalam proses menyelesaikan disertasinya. Nah, dosen saya ini melakukan penelitian di sekolah-sekolah menengah pertama negeri di lima kecamatan yang tersebar seantero Solo. Yup, pasca konsultasi KRS kemarin, kami–angkatan 2012 anak wali dosen saya itu–pun diajak dan dimintai tolong oleh beliau untuk mengambil data di sekolah-sekolah tersebut.
Nah, hari Sabtu yang lalu adalah hari kedua saya mengambil data, setelah sebelumnya kami mengunjungi SMP Negeri 9 Solo. Pengalaman berkunjung ke SMP Negeri 9 menurut saya terkesan biasa saja, mengingat sekolah tersebut adalah salah satu SMP favorit di kota Solo. Pastilah, sebagian besar anaknya lumayan good boys, dari keluarga terpelajar, dan cerdas. Dinamika lingkungannya pun menurut saya biasa saja, karena hampir sebagian besar anak-anaknya berasal dari keluarga masyarakat sejahtera–dengan kehidupan sosial ekonomi menengah sampai menengah ke atas. Masih normal dan cenderung tidak menuai berbagai masalah.
Sedangkan, pada hari kedua ini, kami berpindah ke sekolah lain yang berlokasi sangat dekat dengan Balaikota Surakarta (Solo), wawasan saya pun kemudian menjadi semakin terbuka. Menurut saya, di SMP tersebut menyajikan fenomena sosial dan pengalaman sangat berbeda bagi kami. Berbeda jauh dengan sekolah yang kami kunjungi sebelumnya. Fenomena yang amat sangat tampak betul adalah dari aspek sosial ekonomi. Entah mengapa, saya tidak begitu paham juga, sekolah-sekolah di Solo itu tampak sekali jurang pemisah amat lebar antara anak dari keluarga menengah ke atas dan menengah ke bawah.
Biasanya, sekolah-sekolah favorit, didominasi oleh anak-anak berkemampuan di atas rata-rata yang kebanyakan pun juga anak orang berpunya. Pulang sekolah dijemput mobil, sampai-sampai jalanan di sekitarnya penuh dengan jajaran mobil-mobil para orang tua murid. Namun, berbeda sekali dengan sekolah negeri yang bernomor belasan hingga puluhan di kota Solo. Biasanya mereka yang bersekolah di sana adalah anak-anak yang gagal masuk sekolah-sekolah favorit–dikarenakan kemampuan akademik yang lebih rendah atau karena sedang tidak beruntung saja ketika beradu NEM dengan anak-anak lain di situs pendaftaran online. Selain memiliki kemampuan lebih rendah, kebanyakan dari mereka juga anak dari keluarga tidak mampu.
Seperti halnya yang dituturkan oleh guru-guru di sekolah tersebut, membuat saya merasa tersayat-sayat ketika mendengarnya. Para guru mengeluhkan tentang kondisi ruang kelas yang kurang memadai, lahan sekolah yang kurang representatif, sehingga kegiatan belajar mengajar menjadi kurang kondusif. Mereka harus bekerja ekstra keras dengan segala tenaga dan peluh yang tersisa guna mentransfer ilmu untuk anak didiknya, mengingat para siswa-siswi di sana memiliki daya serap ilmu yang berbeda dari anak-anak cerdas di sekolah favorit. Selain itu pula, hal yang membuat para guru di sana mengurut dada dan miris adalah adanya ketidakpedulian dari para orang tua siswa terhadap pendidikan anaknya.
“Ya, namanya juga masyarakat ekonomi ke bawah, Mbak,” tutur salah seorang guru.
Kendala ekonomi yang kurang sejahtera menjadikan para orang tua siswa terkesan menyerahkan tanggung jawab pendidikan seluruhnya kepada guru di sekolah. Mereka berpikir, bahwa orang tua hanya bertugas mencari nafkah untuk anak-anaknya, sedangkan urusan pendidikan sepenuhnya tanggung jawab guru.
“Cari duit saja susah, gimana mau ngurusin sekolah anak. Mending cari duit, kan, buat makan dan bayar kontrakan.” Mungkin begitulah isi pikiran para orang tua siswa tersebut. Menyedihkan, memang.
Padahal, campur tangan orang tua dalam proses pendidikan bagi anak-anak mereka itu tidak kalah pentingnya dalam meningkatkan kemampuan akademik anak. Selain karena kendala ekonomi pula, mungkin saja ketidakpedulian itu terjadi karena adanya ketidaktahuan mereka terhadap seluk beluk pendidikan.
Ada satu cerita yang membuat sedikit miris pula. Guru sekolah tersebut menuturkan bahwa kebanyakan anak-anak yang bersekolah di sekolah tersebut tidak selesai menjalankan masa studinya. Banyak siswa-siswi di sana yang drop out menjelang tahun-tahun terakhir mereka mengenyam bangku sekolah. Bukan, bukan karena kondisi sosial ekonomi saja, karena biasanya anak-anak kurang mampu sudah mendapatkan keringanan biaya dari pemerintah. Hanya saja, mereka memilih drop out karena sudah merasa bosan dan malas untuk bersekolah lagi. Bahkan, guru-guru di sana pun juga berusaha keras untuk membujuk sang anak kembali ke sekolah mengingat sudah hampir mendekati ujian akhir. Paling tidak si anak bisa menyelesaikan studinya sampai lulus dan mendapatkan ijazah SMP.
Orang tua yang kurang aware dengan pendidikan anak ditambah pula si anak yang memiliki minat minim terhadap sekolah, menjadikan sebuah lingkaran setan tersendiri bagi pemerintah terhadap satu masalah pokok umum, kemiskinan. Padahal, pendidikan itu perlu sekali, lho, sebagai bekal mereka nantinya dalam mengembangkan ketrampilan mereka untuk memasuki dunia kerja. Baik itu memilih bekerja menjadi pegawai ataupun wiraswasta.
Saya melihat sebuah ketulusan dan perjuangan berharga yang telah diberikan guru-guru tersebut. Saya sangat salut dan respect terhadap perjuangan para guru di sekolah-sekolah kurang bonafit dalam mengajar dan mentransfer ilmu kepada anak didiknya. Dedikasi mereka itu luar biasa, menurut saya. Mereka rela blusukan ke rumah siswa yang mogok sekolah, membujuk mereka kembali ke sekolah. Selain itu juga, tatkala mengajar mereka berusaha tetap sabar dan tabah meskipun kadang mereka merasa geregetan sendiri ketika banyak anak didiknya yang tidak cepat paham pada materi pelajaran tersebut padahal sang guru sudah menjelaskan sampai berbusa-busa. Namun, terkadang pemerintah pun kurang aware dengan perjuangan guru-guru tersebut dalam membantu negara mewujudkan cita-citanya sesuai dengan pembukaan UUD 1945, mencerdaskan kehidupan bangsa. Padahal guru-guru yang bertugas di daerah terpencil ataupun di sekolah-sekolah yang memiliki siswa kurang pandai perlu diberikan apresiasi lebih oleh pemerintah.
Masih ada banyak lagi masalah yang menyita perhatian kita. Masalah pendidikan itu tidak melulu berpusar-pusar dalam masalah kurikulum saja, bahkan malah lebih kompleks sebenarnya. Ada banyak masalah-masalah sampingan yang turut berperan menentukan nasib perkembangan dunia pendidikan Indonesia selanjutnya. Biasanya masalah tersebut kurang begitu diperhatikan karena skalanya yang kecil dan terlihat remeh. Padahal masalah-masalah tersebut justru berperan besar dalam menciptakan masalah yang lebih kompleks. Seperti dalam teori Broken Windows–sebagaimana yang pernah saya baca di buku Tipping Point karya Malcolm Gladwell–bahwa masalah-masalah besar nan kompleks sejatinya adalah berasal dari masalah-masalah kecil yang terakumulasi dan belum terselesaikan. Kebanyakan orang akan melihat masalah besarnya, kemudian berusaha menyelesaikan masalah besar itu. Namun, kebanyakan pula, penyelesaian dari masalah besar itu terlalu rumit dan sulit sekali diselesaikan saking kompleksnya. Jika toh bisa terselesaikan itupun dampaknya tidak begitu signifikan. Jadi, mungkin salah satu solusi lain yang perlu dicoba untuk menyelesaikan sebuah permasalahan yang sangat kompleks tersebut adalah dengan mulai memberi perhatian pada hal-hal kecil kemudian berusaha menyelesaikannya. Mungkin bagian ini nampak terlampau teoritis sekali, namun saya yakin mereka yang lebih paham masalah pendidikan akan mampu menemukan simpulan sederhana di atas.
Sebenarnya, kompleks sekali, ‘kan, permasalahan pendidikan di Indonesia ini. Bukan hanya tentang masalah pergantian kurikulum setiap lima tahun sekali ditambah pula kisruh kurikulum 2013 yang menyita perhatian khalayak publik, tapi ada berbagai masalah sederhana yang tidak kalah pentingnya untuk diberikan perhatian dan dicarikan solusinya.
Saya jadi teringat cerita Bapak saya beberapa hari lalu. Suatu ketika, Bapak saya sedang duduk menunggu bus di pinggir jalan Solo-Tawangmangu bersama sekumpulan anak-anak usia SMP. Mereka tampak masih menggunakan seragam. Bapak saya pun kemudian bertanya:
Le, kok wayah semene lagi mulih?[1]” tanya Bapak saya.
Bar neng alun-alun, Pak,[2]” jawab salah satu dari mereka dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko. Rada kurang sopan, sih. Haha.
Ngopo nyang alun-alun?[3]
Iku lho, Pak, nonton dangdutan OM. Sera[4],” jawab mereka polos.
Saya tertawa mendengar cerita Bapak. Ya, begitulah gambaran pelajar Indonesia masa kini.


[1] Nak (laki-laki), kok jam segini baru pulang?
[2] Habis dari alun-alun, Pak.
[3] Ngapain ke alun-alun?
[4] Itu lho, Pak, nonton dangdut OM. Sera.

Selasa, 20 Januari 2015

[Movie Review] Java Heat (2013)

10:10 0 Comments

source: www.google.com
Halo semua! Jumpa lagi di movie review kedua di tahun 2015 ini. Hehehe. Setelah sebelumnya didahului oleh review film The Sixth Sense, postingan saya kemarin. Ya, di review film kali ini, saya tertarik untuk mereview sebuah film kerjasama antara sineas negeri Paman Sam dengan sineas Indonesia. Yup, seperti judul yang telah saya tuliskan, film tersebut berjudul Java Heat.
Film yang sebagian besar diarahkan oleh sineas Hollywood ini memang memiliki alur yang menarik. Tema yang diangkat cukup menyentil, tentang konspirasi terorisme. Penggunaan efek sinematografi yang berciri khas Hollywood juga turut ditampakkan. Mobil meledak, terjungkir balik, ledakan dengan api kemerahan menjilat-jilat beserta asap hitam jelaga yang membumbung tinggi. Ya, saya seperti sedang menonton adegan film Rambo di mana Sylvester Stallone berjibaku dengan serangkaian efek dramatis tersebut. Halah.
Anyway, saya tidak akan mengomentari efek-efek canggih tersebut. Tentu saja, karena saya sepenuhnya percaya bahwa Hollywood, dengan teknologi perfilman yang sedemikian lebih maju dibanding Indonesia, mampu menghadirkan efek dramatis tanpa takut ditertawakan penonton. Yeah, they've got an A plus! But, saya amat menyayangkan beberapa hal dalam film ini. Sangat. Kenapa? Karena saya menemukan banyak sekali ketidakcocokan logika film ini dengan kenyataan.
Ya, sebelum menceritakan kecacatan logika film, saya ingin sedikit bercerita perihal film ini terlebih dahulu. Java Heat, film yang disutradarai oleh Connor Allyn ini bercerita tentang kasus terorisme. Adegan bermula ketika Letnan Hashim (Ario Bayu) menginterogasi seorang lelaki bule (Kellan Lutz) yang menjadi saksi kejadian pemboman di pesta yang diadakan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada peristiwa itu, putri mahkota Kesultanan Jogja, bernama Sultana (Atiqah Hasiholan), diduga ikut terbunuh. Diduga pelaku pemboman itu dilakukan oleh seorang teroris jihadis yang datang ke pesta dengan menyamar menggunakan pakaian adat Jawa. Teroris dalam film ini digambarkan dengan menggunakan atribut-atribut Muslim seperti, kopiah, baju koko, dan jenggot panjang.
Anyway, saya tidak suka dengan pendiskreditan sineas Hollywood terhadap citra orang berkopiah dan berbaju koko dengan sebutan teroris. Sejak di awal film sebenarnya film ini terlihat sedikit menyebalkan karena selalu menggambarkan citra Muslim dengan buruk. Sebenarnya, saya mencoba sedikit berpositif thinking, namun semakin mengikuti alur cerita malah semakin terasa menyebalkan. Ini adalah kesalahan pertama dan sangat fatal bagi Connor Allyn dalam membuat filmnya. You've done bad, Mr. Allyn! :)
Selanjutnya, kesalahan kedua adalah dalam menggambarkan perilaku seorang wanita Jawa apalagi yang berhijab, saya sepenuhnya tidak setuju. Ada sebuah adegan ketika istri Letnan Hashim menjenguk suaminya yang harus berada di rumah sakit karena kecelakaan saat mengantar si bule–yang selanjutnya dipanggil Jake. Istri Letnan Hashim ini adalah seorang wanita Jawa yang juga mengenakan hijab. Sang istri mengucapkan terima kasih kepada Jake dengan menjabat tangan kemudian cipika-cipiki. Ketika melihat adegan ini, rasanya saya ingin berseru di depan si Allyn:
"Hellow, are you out of your mind, dude Allyn?!"
Menurut saya adegan itu agak sedikit konyol nan absurd. Bagaimana tidak, seorang wanita berhijab dan diceritakan dari suku Jawa itu berani-beraninya bercipika-cipiki dengan bule yang tentu saja saudara bukan, suami bukan. Kalau orang Jawa bilang, tindakan seperti itu 'ora elok', ora apik. Nggak bagus. Tidak sesuai norma budaya dan agama. Ini adalah kecacatan logika yang sempat membuat alis saya naik sebelah dan mulut saya tersenyum sinis. Pffft…
Selanjutnya, masih ada kecacatan logika lainnya. Saya merasa aneh dengan penggambaran perilaku orang-orang Keraton Jogja. Saya tidak paham anehnya di mana, namun rasa-rasanya sangat ganjil. Ada sesuatu yang salah dan cenderung dipaksakan. Saya merasa bahwa unsur Keraton yang pada dasarnya kental akan nuansa Jawa itu hilang, entah tersembunyi di mana.
Selain itu, ada kesalahan logika yang lain, ketika Jake mendatangi tempat prostitusi untuk mencari wanita bertato macan. Jake menuju ke sana dengan menaiki bajaj, Man! Hahaha. Di Jogja ada bajaj? Adanya becak, keleeuus. Ini lebih membuat ngakak, karena bajaj hanya ada di Jakarta, sedangkan di Jogja hanya ada becak. Hahaha. Lantas, satu lagi yang membuat saya merasa aneh. Setting diskotik tempat prostitusi itu cenderung bernuanasa diskotik ala Chinatown US. Saya tidak begitu tahu, sih, di Chinatown US sana ada diskotik atau tidak. Terlalu modern diskotiknya. Padahal, tahu sendiri, jika kalian suka nonton film-film Indonesia yang ambil setting diskotik, pasti nuansa diskotiknya masih ada ndeso-ndeso-nya. Kecuali di Bali, kayaknya. Hehehe. Untuk urusan diskotik, saya sebenarnya tidak terlalu paham karena belum pernah dan tidak mau masuk ke diskotik yang beneran. Halah.
Kemudian, untuk keanehan yang kesekian–entah keberapa, saya sudah malas menghitung–ketika si Jake dibawa pulang oleh orang-orang Amerika yang katanya anggota Angkatan Laut US. Ketika mereka menaiki mobil hendak menuju airport, mereka melewati persawahan–yang tampak seperti di tengah desa pedalaman–sepanjang perjalanan. Namun, tiba-tiba muncul sebuah plang absurd bertuliskan 'Airport' beserta arah panahnya. Hahaha. Itu bule mau dibawa ke airport mana coba? Perasaan kalau mau ke Adisucipto dari Jogja lewatnya jalan raya yang lumayan rame plus deretan rumah dan pertokoan. Ini salah satu hal yang juga bikin saya mengangkat sebelah alis, mengerutkan dahi, kemudian terkekeh-kekeh.
Oiya, ada satu hal lagi yang menjengkelkan dan terasa mendidihkan darah, ketika seruan 'Allahu Akbar' diteriakkan lantang oleh seorang Muslim ketika ia berusaha menekan pemicu bom untuk meledakkan dirinya. Hal tersebut menurut saya adalah semacam penghinaan untuk Muslim dan citra Islam sendiri. Seolah-olah tindakan bom bunuh diri dengan menyebut nama Allah itu adalah ajaran Islam. Padahal Islam melarang bunuh diri. Saya tidak mengerti mengapa si Connor Allyn ini rasa-rasanya teramat semena-mena dengan memasukkan hal-hal yang lumayan SARA. Film ini terlampau menyuguhkan konten sensitif penuh SARA dan agak kurang ajar menurut saya.
Bukan karena saya seorang Jawa dan Muslim kemudian saya jadi sebal dengan ulah Hollywood mendiskreditkan atribut yang melekat pada saya tersebut. Saya sebal karena mereka sudah semena-mena dalam menyuguhkan konten film. Kurang riset! Sudah pasti! Padahal, untuk film sekelas Hollywood, sineas film biasanya akan melakukan riset mendalam sebelum merepresentasikannya dalam gambar visual. Saya berani bertaruh, film ini hanya masuk di kategori B beserta jajaran film horor US yang gagal masuk box office. Bahkan dalam Rotten Tomatoes pun tidak menuai apresiasi positif. Hanya memperoleh rating 5% saja, kalau tidak salah. Saya betul-betul sangat menyayangkan aktris dan aktor sekelas Ario Bayu, Atiqah Hasiholan, dan Rio Dewanto harus bermain dalam film seperti ini. Mengingat mereka adalah para aktor dan aktris yang bagus. Hiks.
Overall, film ini sangat gagal menurut saya. Baru kali ini saya mereview film dengan menampilkan banyak keburukan dan kesalahan logika. Biasanya, saya suka mereview film-film yang bagus dan pantas untuk diapresiasi. Mungkin film ini saking penuh cacat logikanya sampai tangan saya gatal-gatal ingin segera mengetik reviewnya. Hehehe.
Oh iya, ada satu lagi yang terlewat, ketika bagian ending film itu Jake menyalami Sultana seraya berkata:
"Katanya, mencium bibir di muka umum itu tidak sopan kalau di negaramu."
Lalu Sultana pun menimpali, "tidak juga,” seraya tersenyum manis.
Salah satu #KrikMoment yang membuat lidah saya sedikit kelu. So sorry, buat Atiqah Hasiholan, karakter Sultana yang Anda perankan kurang priyayi. Kurang dapat mencerminkan seorang putri keraton Jawa yang njawani dan terkesan kalem. Ini mungkin karena skrip naskah yang dibuat orang Hollywood itu kurang pas, sehingga Atiqah hanya manut sama naskah. Hehehe.
Okay, sekian movie review saya kali ini. See ya to the next movie review! :D

Senin, 19 Januari 2015

[Movie Review] The Sixth Sense (1999)

20:20 0 Comments
source: www.google.com
Akhirnya, setelah sekian lama mengisi konten blog dengan catatan perjalanan yang menurut kalian nggak penting, tapi menurut saya penting, saya pun kembali mengupdate konten blog saya dengan movie review. Tempo hari, saya baru membangkitkan minat nonton film saya setelah beberapa lama lebih suka baca novel. Ya, film pertama yang saya pilih, sebagai appetizer untuk membangkitkan gairah nonton film saya, adalah The Sixth Sense. Sebenarnya, sudah lama sekali saya ingin menonton film ini. Tapi, entah kenapa, akhir-akhir ini saya takut nonton film yang berbau horor sendirian, di depan laptop, dan saat malam hari. Padahal, kemarin-kemarin biasa-biasa saja nonton film horor, sendirian, di laptop, malam hari pula. Maka, saya memutuskan untuk menonton film ini saat siang bolong. Hehehe. Anyway, daripada terus berpanjang lebar, inilah review film saya yang pertama di tahun 2015!
The Sixth Sense adalah sebuah film thriller supranatural arahan sutradara M. Night Shyamalan yang berkisah tentang seorang anak-agak-bermasalah berusia 10 tahun. Ya, ibunya merasa bahwa anaknya memang memiliki perilaku menyimpang dan sangat berbeda dibandingkan anak normal lainnya. Ibunya merasa bahwa anaknya kurang mampu bersosialisasi, dijauhi teman-temannya, karena mereka menganggap bahwa anak itu aneh. Sedikit gila, lebih tepatnya.
Cole Sear, anak berusia 10 tahun itu, kemudian didatangi oleh seorang psikiater, bernama dr. Malcolm Crowe, yang berniat membantu mencari solusi dari permasalahannya. Berulang kali sang psikiater mencoba membangun rapport yang baik untuk mendapatkan perhatian dan kepercayaan dari Cole. Akhirnya, Cole pun mau memberitahu hal-hal yang mengganggu hidupnya selama ini. Seringkali Cole merasa gelisah setiap malam, bahkan sepanjang hari, karena arwah-arwah penasaran selalu mengusik kehidupannya. Berbagai fenomena supranatural sering dialami Cole, mulai dari penampakan roh yang mencoba berkomunikasi dengannya sampai munculnya luka lebam dan memar pada tubuhnya akibat dari perlakuan roh jahat yang mencoba menyakitinya. Hal itulah yang seringkali membuat Cole bersikap aneh dan sering dianggap gila oleh teman-temannya.
Film yang dibintangi Bruce Willis–sebagai dr. Malcolm Crowe–ini menyajikan ending yang suspense. Mengejutkan. Bahkan di luar praduga saya. Maka, sungguh tidak mengherankan apabila film ini menuai rating 8.2/10 di situs IMDb dan 85% di Rotten Tomatoes.
Sebenarnya film ini menyajikan alur yang lumayan datar-datar saja di sepanjang ceritanya. Kecuali di bagian penampakan hantu, sih. Hehehe. Bahkan saya sempat bosan ketika film sudah 60 menit berjalan. Padahal film ini berdurasi sekitar 107 menit. Saya terlalu berekspektasi akan dimanjakan oleh adegan klimaks heroik, mengagetkan, atau memacu adrenalin ketika cerita akan mencapai ending. Justru, di situlah keunikan film ini. Ketika kita terlalu berekspektasi terhadap plot cerita, lantas alur film tersebut menyajikan sesuatu di luar dugaan, berarti film itu telah berhasil membelokkan perspektif penonton.
Ya, saya adalah salah satu penonton yang berhasil dibelokkan perspektifnya. Padahal di menit-menit awal, film ini sudah menampilkan petunjuk tentang ending apa yang bakal mereka sajikan. Namun, saya terlampau terkecoh dengan alur yang dibangun sangat apik oleh Pakde Shyamalan ini. I think, it was such a great movie!
Sebuah film dengan ide sederhana–seperti halnya film-film horror Hollywood kebanyakan, yang mengangkat tema 'kemampuan melihat hantu' beserta segala penampakkannya–mampu menyajikan alur yang berhasil membawa penonton terhanyut mengikuti jalan cerita. Sebuah poin plus yang patut diapresiasi. Saya sempat mengira bahwa ending film ini akan datar saja, namun ternyata tebakan saya sepenuhnya salah.
Yup, saya tidak mau berpanjang lebar tentang film ini dengan memberikan beberapa spoiler cerita. Saya akan membiarkan kalian, para movie buff, menonton film ini sendiri dan bermain tebak-tebakkan ending dengan daya imajinasi kalian. Halah.
Film yang mendapatkan enam nominasi dalam ajang Academy Award ini memang sangat recommended ditonton. Tidak terlalu mengagetkan dengan penampilan hantu-hantu berwajah hancur seperti Insidious, namun twistnya mampu mengedikkan bulu roma kalian.
Sekian movie review saya kali ini. Di postingan selanjutnya saya akan mengulas sebuah film yang dimainkan oleh aktor dan aktris Indonesia dan Hollywood. Penasaran? Ikuti tulisan movie review saya selanjutnya. Hehehe.