Jumat, 23 November 2018

[Movietalk] Suzzanna: Bernapas dalam Kubur

19:19 0 Comments
[source: hot.detik.com]

Disclaimer: This post may contain spoilers. Read it carefully. Ehehehe.
Akhirnya nulis juga.
Selain sudah lama saya ngga posting di sini, sudah lama juga saya ngga nonton film di bioskop. Kalau diingat-ingat, film terakhir yang saya tonton di bioskop sebelumnya Warkop DKI Reborn Part 1. Lama banget, kan?
Sebab merasa ngga punya list film-yang-pengen-banget-ditonton-di-bioskop serta sering terhasut oleh review terlalu-jujur-nya tirto.id, membuat saya mikir berkali-kali untuk nonton film di bioskop. Sampai akhirnya trailer film ini berhasil bikin saya penasaran berat pengen nonton. Asli.
Seperti yang sudah viral sebelumnya, betapa miripnya Luna Maya didandani sebagai Suzzanna, si Ratu Horor Legendaris. Itu salah satu hal yang bikin saya heran sekaligus penasaran. Lainnya, setting film ini. Entah kenapa saya selalu penasaran apabila sebuah film digarap dengan menggunakan latar waktu tertentu di masa lampau. Semacam ingin tahu saja, seberapa teliti dan detailnya sineas negeri kita membangun atmosfir tertentu sesuai dengan latar waktunya.
Alur dalam film ini klasik, sebagaimana film horor jadul Suzzanna era 80-an. Memang sudah terlihat jelas juga di trailernya; dia dibunuh, lalu arwahnya gentayangan jadi hantu untuk balas dendam. Alur semacam inilah yang bikin saya kangen nonton film horor jadulnya Suzzanna yang atmosfir creepy-nya bikin terbayang-bayang.
Film ini dibuka dengan adegan Satria (Herjunot Ali) yang tergesa-gesa pulang ke rumah, sebab istrinya, Suzzanna (Luna Maya) tidak enak badan. Setelah bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Indonesia baku yang agak bikin saya geli-lucu itu, diketahuilah bahwa Suzzanna ternyata sedang hamil. Ngomong-ngomong tentang gaya bahasa, entah mengapa saya agak merasa lucu. Saya merasa di awal film gaya bicara Luna Maya masih kaku dan kelihatan dibuat-buat demi mirip dengan mendiang Suzzanna. Bikin saya terkekeh-kekeh sendiri. Ngga cuma Luna Maya saja, Junot pun juga. Tapi, usaha mereka untuk menyatu dengan karakter yang dibawakan–beserta gaya bahasa 80-an–patut diapresiasi. Setelah film berjalan agak lama, mereka sudah terbiasa, sehingga gaya bicaranya pun lumayan natural. Selain gaya bahasa ala kelas menengah atas 80-an, saya sebenarnya agak merasa aneh juga dengan keromantisan suami istri antara Suzzanna dan Satria. Agak mirip sinetron, sih. Saya jadi merasa geli sendiri. Semacam kayak ada yang ditahan-tahan. Entah karena memang gaya romantis 80-an itu memang cenderung kesinetron-sinetronan atau mungkin Mas Junot ngerasa serem sendiri lihat Luna Maya jadi mirip banget sama Suzzanna. Wkwk.
Anyway, sesungguhnya film ini tidak as creepy as film Suzzanna 80-an. Atmosfir film Suzzanna jadul memang tiada tandingannya. Apalagi perpaduan lighting di sekitar wajah, make up smokey eyes sundel bolong ala Suzzanna asli, dan messy curly hair ala bintang rock 70-an yang senantiasa melekat dalam benak-benak penontonnya. Film Suzzanna jadul memang berhasil menghadirkan mimpi terburuk yang paling buruk. Serem banget, asli. Oh iya, sama ketawanya yang ikonik itu, tentu saja. Sedangkan film Suzzanna abad 21 ini tidak menjadikan keseraman Suzzanna saja sebagai sumber ketakutan massal penontonnya. Ada yang lebih ngeri. Pernah nonton Final Destination atau Saw? Nah, ngerinya mirip seperti itu dengan level sedang.
Saya menilai film ini tidak bikin kalian mimpi buruk seperti film Suzzanna abad 20. Bagi yang penasaran nonton horor tapi lumayan penakut, nonton film ini ngga ada salahnya. Sebab, film ini diracik dengan rapi dalam memadukan komedi dan horor. Setengah film ini bikin seantero bioskop dan saya tertawa terpingkal-pingkal dengan komedinya. Setiap disuguhi horor, kami langsung disodori kekonyolan yang bikin susah mingkem. Apalagi dialog konyol antara tiga pembantu Suzzanna; Mia (Asri Welas), Tohir (Ence Bagus), dan Rojali (Opie Kumis). Komedi mereka bikin kami memandang hantu adalah kekonyolan yang patut ditertawakan. Adegan lucu ketiganya yang bikin seluruh penonton tertawa tanpa putus adalah waktu mereka berusaha membuktikan apakah benar majikan mereka sudah menjadi hantu sundel bolong seperti gosip yang santer beredar. Rojali mengajak Mia dan Tohir untuk membuktikannya dengan menggunakan media kain kafan. Rojali percaya kalau kain kafan dari mayat yang baru dikubur itu jika dipakai di kepala akan membuat pemakainya bisa membedakan manusia dengan hantu.
Rojali      : “Tapi, yang pakai ini harus yang paling muda.”
Mia         : “Ealah, tapi aku nggak mau. Kainnya kotor, nanti aku gatel-gatel.”
Tohir       : “Lah, kan, biasanya kain kafan cocoknya dipakai sama yang paling tua.”
Semua penonton ngakak berjamaah. Entah mengapa si Tohir ini suka ngasih punchline yang bikin ngakak kami makin paripurna. Hahaha.
Rojali pun menyerah dan bilang; "Ya udeh, kita ngga jadi pakai ini."
Adegan selanjutnya bikin ngakak juga. Rojali menyuruh Mia menghadapkan cermin ke wajah Suzzanna yang sedang tertidur untuk membuktikan apakah wajahnya memantul di cermin atau tidak. Mia berulangkali gagal hingga cerminnya terjatuh di kolong tempat tidur. Saat Mia berusaha menggapai cerminnya, lonceng jam besar di ruang tengah berdentang mengagetkan ketiganya. Mereka bertiga grasa-grusu sebab takut Suzzanna bakal terbangun. Rojali yang kaget, berusaha menyembunyikan wajahnya dengan menggunakan kain kafan tadi. Tak terduga, Rojali benar-benar bisa melihat Suzzanna dalam wujud sundel bolong. Rojali yang masih terkaget-kaget dengan apa yang dilihatnya melemparkan kain kafan hingga terpasang di kepala Tohir. Seperti Rojali, hal yang sama terjadi pada Tohir, mampu melihat Suzzanna dalam wujud aslinya. Kalau lewat tulisan seperti ini mungkin ngga terlalu lucu. Kalian perlu banget nonton sendiri tingkah polah ketiganya.
Setelah mereka tahu kalau majikannya sudah bukan manusia, keesokan harinya mereka beramai-ramai pamit meninggalkan rumah itu. Betapa absurd, mereka masih sempat-sempatnya izin pada Suzzanna. Adegan ini juga bikin ngakak, karena selain ngga masuk akal gara-gara masih sempat pamitan sama hantu juga karena punchline komedinya.
Rojali                  : “Bu Suzzanna, saya pamit pulang. Istri saya sakit.”
Suzzanna            : “Lho, bukannya istrimu sudah meninggal?”
Rojali                  : “Aa...anu... maksudnya, mau ziarah ke makam istri saya.”
Mia                     : “Saya juga, Bu Suzzanna. Saya mau ziarah ke ibu saya.”
Suzzanna            : “Lho, bukannya ibumu masih hidup?”
Mia                     : “Mm...maksudnya, jenguk ibu saya di rumah.”
Tohir                   : “Kalau saya mau jenguk orang yang lagi ziarah.”
Ah, pokoknya bagian Tohir ini punchline banget dan bikin saya ngakak sampe perut sakit. Wkwkwk.
Secara keseluruhan saya suka banget sama film ini. Horornya dapet, komedinya juga dapet. Horornya sih memang lebih gore. Meskipun ngga ada adegan Suzzanna makan sate, tapi komedi Rojali, Mia, dan Tohir sudah cukup menggantikan komedi-horor ikonik makan sate 200 tusuk di warung. Menurut saya, Luna Maya juga berhasil menghadirkan sosok Suzzanna di film ini. Kadang-kadang saya merasa kalau yang main film bukan Luna Maya, tapi Suzzanna yang asli. Mungkin akibat perannya ini, Luna Maya bakal masuk nominasi best actress di Festival Film Indonesia.
Ah iya, anyway, saya ingin sedikit berkomentar mengenai setting waktu yang dipakai film ini. Latar film ini adalah bulan Mei 1989, di sebuah pedesaan di kaki gunung yang asri. Atmosfir film ini memang kerasa 80-an menjelang 90-an banget. Mulai dari desain interior rumah, gaya berpakaian, dan kendaraannya. Tapi, entah mengapa saya merasa lucu dengan mobil Satria. Kalau dipikir-pikir, mobilnya terlalu antik untuk mobil di tahun 80-an akhir. Desain mobilnya malah lebih mirip mobil tahun 70-an.
Last but not least, ending dari film ini menurut saya happy ending. Kalau pengen tahu, nontonlah dan rasakan sensasinya.
Sekian ceracau panjang pertama saya di tahun ini. Sebenarnya sih kurang panjang. Tapi lumayan lah buat permulaan (meskipun sudah menjelang akhir tahun). Hehehe.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya~

Minggu, 14 Oktober 2018

Writer's Block 101

19:19 2 Comments

Sedih. Begitulah kiranya perasaan saya saat ini. Kenapa? Sebab 2018 sebentar lagi habis, tapi postingan blog di tahun ini sama sekali nihil. Baiklah, ini memang merupakan postingan pertama saya menjelang detik-detik penghabisan tahun 2018.
Kenapa tulisan ini berjudul Writer’s Block? Sebab memang itulah yang saya alami saat ini. Akibat dari alokasi waktu yang saya sediakan untuk membaca buku semakin berkurang, semakin sulitlah saya menuliskan ide-ide yang terus membuncah di kepala saya. Ya, frekuensi membaca bisa berbanding lurus dengan frekuensi menulis.
Selain itu, saya juga sering terdistrak dengan menonoton drama korea. Waktu senggang saya yang harusnya digunakan untuk membaca hal yang bermanfaat, malah saya buang sia-sia dengan terlalu banyak menonton drama korea. Baiklah, saya mengaku, godaan drama korea memang terlalu berat untuk ditangkal.
Tapi, saya juga ingin melakukan pembelaan diri. Saya memang butuh hiburan–tentu saja dengan menonton drama korea–sebagai sarana menuntaskan penat selepas kerja. Sayangnya, saya terlalu tenggelam mengasihani diri, sehingga akhirnya terlena untuk menjadi sangat tidak produktif.
Baru kali ini saya ingin mengutuki waktu yang melesat secepat kilat.
Seharusnya, ada banyak hal yang bisa saya ceritakan sepanjang tahun 2018 ini. Mungkin saja karena saking banyaknya yang ingin saya ceritakan, rasanya seperti kebingungan untuk harus memulai dari mana. Bisa jadi karena saya terlalu perfeksionis mengenai konten tulisan yang harus saya posting, sehingga keinginan menulis hanya berhenti sebagai niat, nihil aksi.
Betapa menjadi pekerja ibukota telah membuat saya kesulitan membagi waktu untuk sekadar menulis satu paragraf saja. Sungguh menyedihkan.
Mungkin memang tahun 2018 ini adalah tahun tersuram saya dalam hal produktivitas menulis. Namun, saya masih tetap berjanji pada diri sendiri untuk membabat habis kemalasan saya, lalu memaksa diri untuk mengembalikan masa-masa ketika produktivitas saya masih lancar membuncah.
Demi menyelamatkan blog ini dari predikat nihil postingan di tahun ini, saya berusaha keras untuk menulis tulisan nirfaedah-yang-lebih-banyak-curhat-dan-pembelaan-diri ini.
Saya akhiri tulisan ini seraya berharap minggu-minggu menjelang pergantian tahun saya masih sanggup memeras otak dan memaksa jari-jari saya untuk lebih produktif lagi.
Sampai jumpa di postingan selanjutnya (yang semoga lebih berfaedah)~~

Sabtu, 30 Desember 2017

[Kaleidoskop 2017] Drama Korea Paling Berkesan Sepanjang 2017

14:14 2 Comments
Teringat postingan saya di penghujung 2016 lalu mengenai daftar buku-buku yang berhasil saya selesaikan tahun itu. Sebenarnya, di penghujung tahun ini pun saya ingin menulis topik yang sama. Sayangnya, tahun ini buku yang saya baca sungguh amatlah sedikit. Jauh dari target yang saya buat. Hiks….
Kemalasan saya membaca–ditambah stok bacaan yang kian menipis–berbanding lurus dengan kemalasan saya meng-update postingan blog ini. Sebenarnya, sih, ingin curhat lebih panjang. Tapi saya tahu diri, mengingat postingan ini saya dedikasikan untuk menutup penghujung tahun 2017 yang tinggal menghitung hari lagi.
Well, selama mengisi waktu luang menyapu penat selepas kerja, sebagai pengganti dari membaca buku, saya menonton lumayan banyak drama korea. Genre drama korea tahun 2017 sungguh terlalu menggoda untuk dilewatkan begitu saja. Genre hukum, kriminal, dan thriller banyak bertebaran di tahun ini, membuat saya semakin bersemangat. Hingga setiap saya berniat membuat ulasan drama berkesan pasca menamatkannya, hanya berakhir menjadi sebuah rencana belaka. Hiks….
Anyway, sebenarnya postingan ini terpikir setelah beberapa teman berulangkali meminta rekomendasi drama korea pada saya. Pikir-pikir daripada besok atau lusa saya capek ngomong saat ada teman yang meminta rekomendasi drama korea, lebih baik saya suruh baca ini saja. Di situ kadang saya merasa menjadi pakar dalam dunia per-dramakorea-an. Huehehe.
Baiklah, berikut drama-drama berkesan dan sayang untuk dilewatkan di sepanjang tahun 2017, versi saya. Check them out!
Defendant (피고인)
[source]
Sejak menonton Kill Me Heal Me, saya terpikat dengan akting Ji Sung ahjeossi (yang sudah beristri). Namun, sebenarnya bukan semata aktornya saja. Saya tertarik karena drama ini bercerita tentang seorang jaksa, Park Jeong-woo (Ji Sung), yang difitnah membunuh anak dan istrinya sehingga harus menjadi pesakitan selama berbulan-bulan dalam penjara. Bahkan dalam keadaan stress pascatrauma (PTSD), tinggal menunggu waktu saja untuk divonis hukuman mati.
Drama ini menurut saya keren. Bikin saya geregetan maksimal, terutama dengan antagonisnya yang level psikopatnya tingkat dewa. Selain itu, dia juga punya kedudukan tinggi yang bisa melakukan apapun bahkan menghalalkan segala cara untuk membuat dirinya lolos dan menghancurkan kehidupan Park Jeong-woo.
Selama menonton ini, seperti biasa, saya susah berhenti. Tipikal drama korea, selalu bikin penasaran untuk lanjut ke episode selanjutnya di setiap ending-nya. Drama ini cenderung serius, karena setiap episode selalu penuh dengan konflik, bahkan ada bumbu-bumbu drama keluarga yang membuat saya berkaca-kaca. Bagi kalian yang penyuka tema sejenis dan belum sempat menontonnya, drama ini sungguh sangat direkomendasikan!

Tunnel (터널)
[source]
Barangsiapa sudah pernah menonton Signal (2016), pasti bakal penasaran dengan drama satu ini. Sama-sama bergenre kriminal-fantasi, kasus yang jadi titik tolak permasalahannya pun hampir sama. Lagi-lagi, mengenai kasus pembunuh berantai yang meresahkan di tahun 1980-an.
Bercerita tentang Park Kwang-ho (Choi Jin-hyuk) seorang detektif yang menangani kasus pembunuhan berantai sejumlah wanita di tahun 1986. Suatu malam, ketika Park Kwang-ho sedang mencoba menelusuri jalan-jalan sekitar tempat kejadian perkara, matanya menangkap sosok lelaki berusia 20-an, tinggi sedang, dan berpakaian hitam bertudung sedang merokok di dalam terowongan. Park Kwang-ho terkesiap, teringat bahwa profil pembunuh berantai yang belakangan didiskusikan bersama timnya sesuai dengan lelaki mencurigakan tersebut.
Tanpa pikir panjang, Park Kwang-ho berteriak dan mengejar lelaki misterius itu. Park Kwang-ho berhasil menarik jaket lelaki itu, hingga mereka berdua terjungkal, dan saling bergulat satu sama lain. Park Kwang-ho limbung kehilangan kendali, si lelaki misterius berhasil menguasai pertarungan, hingga akhirnya Park Kwang-ho pun jatuh tersungkur akibat pukulan batu si lelaki misterius itu.
Park Kwang-ho tidak mati, hanya pingsan. Sayangnya, ketika kesadarannya pulih dan berusaha keluar dari terowongan untuk mencari si lelaki misterius tadi, Park Kwang-ho telah berada di dunia yang sama sekali berbeda. Ia masih tetap di kota dan negara yang sama, namun angka tahun pada kalender melompat 30 tahun lebih cepat. Ia terjebak di tahun 2017.
Drama ini keren juga, karena nggak terduga banget! Saya kadang-kadang jadi kesel sendiri karena selalu salah menduga pembunuhnya. Selain amat sangat mendebarkan, konflik keluarga di drama ini juga dapet banget. Bahkan saya merasa empati dengan istrinya Park Kwang-ho. Gila aja, manten anyar baru beberapa minggu, sudah ditinggal suami tugas. Eh, lha kok suaminya tiba-tiba hilang tak diketahui rimbanya. Bahkan kondisi si istri sedang hamil anak pertama mereka. Istrinya ikhlas banget pula. Jadi nggrantes. Hiks.
Ending drama ini membuat saya terharu. Banget! Bikin bahagia setelah berepisode-episode selalu deg-degan dan geregetan. Bagi yang belum nonton, saya merekomendasikan drama ini sama seperti Defendant, really absolutely officially recommended-to-watch!

Voice (보이스)
[source]
Berhubung tahun 2017 adalah tahun hype-nya genre kriminal-thriller di drama korea, lagi-lagi saya merekomendasikan drama dengan genre serupa. Voice bercerita tentang Mo Jin-hyuk (Jang Hyuk) yang istrinya dibunuh oleh seorang pembunuh berantai psikopat. Cara membunuhnya lumayan sadis dan tidak pantas ditonton oleh penderita penyakit kardiovaskuler (dan wanita hamil).
Dendam kesumat Mo Jin-hyuk dengan psikopat misterius itu terus dipeliharanya hingga ia bertemu dengan Kang Kwon-joo (Lee Ha-na) yang bekerja di divisi call center kepolisian. Kang Kwon-joo ini punya kemampuan unik yaitu dapat mengenali dan membuat profil suara, mulai dari benda hingga manusia. Bahkan lewat suara pun, Kang Kwon-joo bisa memperkirakan ukuran benda, bentuk benda, jarak, dan, kalau itu manusia, usianya. Mo Jin-hyuk dan Kang Kwon-joo pun bekerja sama mengungkap semua kasus kejahatan dan menangkap psikopat pembunuh yang telah merenggut nyawa istri Mo Jin-hyuk dan ayah Kang Kwon-joo.
Drama ini keren banget juga! Kalau nggak keren, tentu nggak akan saya tulis di sini. Sama-sama bikin mendebarkan dan pemecahan kasusnya selalu membuat penasaran. Episode yang paling berkesan adalah episode tentang seorang anak yang dikejar-kejar ibu angkatnya yang depresi. Kalau nggak salah episode 2. Episode ini sungguh bikin saya merinding dan tercekam ketakutan maksimal! Saya sungguh mengapresiasi akting si anak kecil teraniaya tersebut. Saya bahkan bisa ikut merasakan kengerian ketika anak tersebut bersembunyi di dalam mesin cuci sambil menekan luka tusukan pisau ibu angkatnya, supaya darahnya tidak mengucur deras. Ia bersembunyi setelah dikejar-kejar oleh ibu angkatnya yang berteriak kesana-kemari sembari mengacung-acungkan pisau dapur.
Saya memprediksi bahwa anak ini akan menjadi aktor berbakat kelak di masa depannya. Hebat! Keren! Bahkan akting kesakitan dan ketakutannya itu natural banget! Sampai saya seperti terbawa dalam situasi tersebut dan merasakan hal yang sama.
Pokoknya, tanpa berpanjang-lebar lagi, Voice juga pantas masuk dalam list tontonan drama korea kalian! Serius!

Chief Kim ( 과장)
[source]
Setelah berdebar-debar ria dengan ketiga drama kriminal-thriller di atas, maka pantas rasanya untuk sedikit rileks melemaskan otot jantung. Tenang, drama kali ini bukan genre kriminal yang membuat ngeri dan mencekam. Justru drama ini adalah kebalikannya. Kalian akan ngakak sampai terjengkang jika menonton drama ini. Ya benar, genre drama ini komedi. Seratus persen komedi, tanpa romance, namun lucunya tetap maksimal!
Chief Kim bercerita tentang kebusukan dunia korporasi Korea, namun dikemas dengan konflik-konflik konyol mengocok perut. Adalah Kim Seong-ryeong (Nam Goong-min), seorang akuntan ahli penggelap pajak yang setiap setahun sekali selalu diperiksa Kepolisian Gunsan terkait dugaan penggelapan pajak. Namun gilanya, Seong-ryeong selalu dibebaskan karena polisi selalu kekurangan bukti.
Sedangkan di Seoul, sebuah grup korporasi termashyur, TQ Grup, sedang mencari seorang kepala divisi operasional bisnis yang baru setelah kepala yang lama terbaring koma di rumah sakit. Kepala lama tersebut adalah saksi kunci dari segala kebobrokan kondisi keuangan seluruh anak perusahaan TQ Grup. Bisa disimpulkan, ada konspirasi terselubung dari para eksekutif TQ Grup supaya bau busuk mereka tidak terendus kejaksaan, kepolisian, dan media di luar.
Mendengar informasi lowongan kerja tersebut, tentu Kim Seong-ryeong tertarik. Niat awal Seong-ryeong menjadi pegawai di TQ Grup adalah bisa nilep duit dan segera kabur ke negara impiannya, Denmark. Namun, ekspektasi tidak seindah realita. Banyak kejadian-kejadian konyol sekaligus bikin geregetan mengubah haluannya yang semula niat nilep duit berganti menjadi Pak Berbudi Baik Hati. Semua konflik-konflik di drama ini diceritakan dengan sudut pandang komedi. Jadi yang awalnya geregetan campur kesel, berubah jadi ngakak sampai salto akibat kekonyolan rivalitas antara Kepala Kim Seong-ryeong vs Direktur Seo Yul (Lee Jun-ho ‘2PM’).
Saya suka banget drama ini. Ketengilan Kim Seong-ryeong memang sungguh paripurna tiada tandingannya! Bahkan rasanya pengen nampol kalau kadar ketengilannya di atas ambang maksimal. Kalau Kim Seong-ryeong itu tengil-tengil lucu, berbeda dengan Seo Yul yang lebih tengil-tengil licik plus ngeselin. Tengil ketemu tengil, hancurlah dunia persilatan. Huahaha.
Chemistry antar pemain juga dapet banget. Saya suka chemistry antara Kim Seong-ryeong dan Seo Yul; Kim Seong-ryeong dan asisten manajer, Yoon Ha-gyeong; Kim Seong-ryeong dan pegawai magang, Hong Ga-eun; plus Kim Seong-ryeong dan anak dirut TQ Grup, Park Myung-seok. Tapi, paling suka tetap chemistry Kim Seong-ryeong dan Seo Yul. Mereka adalah enemy tapi saling menyayangi. Part terngakak adalah saat Kim Seong-ryeong mencium pipi Seo Yul, sampai Seo Yul belingsatan teriak-teriak kesal. Pokoknya kalau dua orang itu dalam satu scene, nggak bisa nahan ngakak.
Pokoknya sekali lagi, bagi yang suka drama komedi tapi yang romannya ngga terlalu banyak, saya merekomendasikan banget-banget-banget drama ini! Selamat ngakak sampai njengkang, njungkel, nggeblak, dan salto! Wkwkwkwk.

Missing Nine (미씽 나인)
[source]
Apakah membaca judulnya sudah tergambar bagaimana dramanya? Bukan, drama ini bukan bercerita tentang kerinduan. Drama ini bercerita tentang kehilangan. Namun bukan kehilangan pacar akibat ditikung sahabat. Genre drama ini bukan romance, namun thriller.
Sebentar, bukan detektif-kriminal lagi, kok. Sebab, tokoh di drama ini tidak ada yang berperan sebagai detektif pengungkap kejahatan. Drama ini bercerita tentang sembilan penyintas kecelakaan pesawat pribadi yang terdampar di sebuah pulau terpencil tak berpenghuni. Kesembilan penyintas ini adalah rombongan selebritis yang akan bertandang ke Tiongkok. Mereka harus berjuang bertahan hidup selama berbulan-bulan dengan persediaan makanan yang terbatas seraya berharap kapal nelayan lokal menemukan keberadaan mereka. Namun, masalah mereka tidak hanya itu saja. Perlahan-lahan segala rahasia yang saling mereka pendam rapat-rapat terkuak. Mereka harus berjuang untuk bisa lolos dari cengkeraman serigala berbulu domba, seorang psikopat berdarah dingin.
Drama ini sungguh mendebarkan juga. Apalagi saat adegan pesawat jatuh. Meskipun aktor-aktrisnya cakep-cakep semua, mereka didandani super kucel dengan pakaian compang-camping. Sayangnya, drama ini ratingnya nggak terlalu bagus di Korea Selatan sana. Padahal, menurut saya, drama ini dibuat dengan totalitas tanpa batas. Adegan pesawat jatuh masuk ke air saja dibuat tampak sangat nyata. Aktor-aktrisnya juga maksimal banget aktingnya. Harusnya, drama ini sukses karena ada salah satu personil EXO, Chanyeol, nyelip di sini.
Saya memang orang yang mengabaikan rating. Saya selalu nggak percaya sebelum saya lihat sendiri, baik film atau buku. Saya percaya bahwa drama ini underrated. Coba kalau drama ini ditayangin di channel TV kabel, semacam OCN atau tvN, mungkin ratingnya bakal tinggi, deh.
Drama ini keren! Banget! Terlepas dari ratingnya. Saya menyarankan kepada kalian semua untuk mengabaikan rating. Ingat, selera personal belum tentu sama dengan selera mayoritas. Drama ini sangat direkomendasikan bagi yang suka konflik-konflik mencekam dan mendebarkan!

Chicago Typewriter (시카고 타자기)
[source]
Last but not least, kali ini saya tidak merekomendasikan drama genre thriller lagi, kok. Sungguh. Yup, genre drama ini menurut saya lebih ke roman-fantasi. Bahkan ada bumbu sejarahnya. Setting di drama ini berpindah-pindah antara era Joseon 1930-an (Korea Selatan zaman perang) dan era ‘zaman jigeum’ 2017.
Han Se-ju (Yoo Ah-in) adalah seorang penulis novel thriller populer di Korea Selatan dan internasional. Suatu hari ketika ia mengadakan meet and greet dan fansign di Amerika Serikat, Han Se-ju terpikat pada sebuah mesin ketik berhuruf Hangeul yang dipajang di café tempat fansign-nya diadakan. Se-ju menanyakan apakah mesin ketiknya dijual, sayangnya pemiliknya tidak berniat menjualnya.
Lantas, akibat suatu hal aneh, pemiliknya mengirimkan mesin ketik tersebut ke alamat Han Se-ju. Sesampai di Korea, mesin ketik itu diantarkan oleh seorang kurir perempuan, Jeon Seol (Im Soo-jung), yang ternyata adalah penggemar berat Han Se-ju.
Nah, banyak hal-hal seru yang terjadi kemudian, hingga Han Se-ju dipertemukan dengan seorang ghost-writer, Yoo Jin-oh (Go Kyung-po). Han Se-ju sempat marah dengan kedatangan Yoo Jin-oh. Dikiranya, ghost-writer itu dikirim oleh editornya supaya Han Se-ju lebih produktif lagi menulis. Namun, ternyata ghost-writer itu datang sendiri dengan misi yang ada hubungannya dengan ketiga orang tersebut pada era Joseon.
Jadi, siapa sebenarnya Yoo Jin-oh? Apa hubungan mereka bertiga dengan zaman perjuangan di era Joseon? Semua teka-teki tersebut akan terkuak satu demi satu pada setiap episode dalam drama ini. Bagi yang suka genre bukan-roman-biasa, cocok banget untuk nonton drama ini. Ada adegan manis, mendebarkan, penuh teka-teki, dan mencekam.
Lagi-lagi, biasanya kalau nonton drama saya suka chemistry antar aktornya. Saya kadang ngakak kalau Yoo Jin-oh mulai ‘dianiaya’ oleh Han Se-ju. Lucu-lucu konyol gitu. Ada sedihnya juga, ketika realita di antara mereka bertiga ternyata tidak seindah kelihatannya. Ah, daripada saya spoiler bagi yang belum nonton, lebih baik kalian nonton sendiri saja. Recommended to watch juga! Satu lagi, original soundtrack-nya juga bagus-bagus, lho. Salah satunya, yang paling saya suka, dari Saltnpaper ini.

Fiuuuh… akhirnya kelar juga bikin postingan yang panjangnya sudah kayak struk belajaan emak-emak pemburu diskon akhir tahun. Sebenarnya, drama yang saya tulis di atas masih belum seberapa. Belum semua, lebih tepatnya. Banyak drama korea yang teramat bagus di tahun 2017 ini. Sebut saja Criminal Mind (그리미널 마인드), adaptasi dari serial US berjudul sama, yang dibintangi Lee Jun-ki. Ada juga While You Were Sleeping (당신이 잠든 사이에) yang dibintangi oleh Kangmas Lee Jong-suk, Mbak Bae Suzy Susanti, dan the rising star Jung Hae-in. Ada juga Prison Playbook (슬기로운 감빵셍활) yang salah satu aktornya juga Mas Jung Hae-in.
Sayangnya, karena saya belum selesai nonton dan ada yang masih on-going, maka dipending dulu review-nya, ya. Semoga tahun depan saya tidak malas lagi bikin postingan di sini. Hehehe.
Baiklah, cukup sekian ulasan drama-drama korea berkesan dan terbaik tahun 2017. Sampai jumpa di postingan saya selanjutnya (yang semoga makin banyak).

감사합니다 :)

P.S.: Bagi yang mikir apakah huruf Hangeul di postingan ini hasil nulis sendiri atau copy-paste. Jawabannya adalah: “Nulis sendiri, dooooong! Keyboard saya bisa Hangeul, dooooong. Huehehehehe.” *dengan nada nyolot* *ditendang masyarakat* Wkwkwk.


P.S.S.: 감사합니다, 우리 선생님 yang telah mengajari saya menulis Hangeul :)

Rabu, 30 Agustus 2017

[Booktalk] Supernova #6: Inteligensi Embun Pagi

19:19 0 Comments
Warning: This post may contain some spoilers. Beware of your choice. Once you read it, there’s no way back! Hahaha

[source]
Sengaja nggak kasih judul book/novel review, karena postingan ini sebagian besar akan berisi komentar, keresahan, dan unek-unek saya mengenai seri pamungkas Supernova ini. Sengaja pula saya bikin postingan tersendiri khusus untuk buku ini–padahal biasanya saya hanya puas nge-review buku sebatas di akun Goodreads saja–karena buku ini hampir lumayan menyedot sebagian besar perhatian saya.
Baiklah, mungkin lagi-lagi saya terhitung sangat terlambat baca Inteligensi Embun Pagi yang hype-nya sudah lewat setahun lalu. Saya pun sebenarnya juga sudah beli bukunya setahun yang lalu. But whatever, yang penting saya sudah kelar baca bukunya. Hehehe.
Usai membaca seri terakhir ini, membuat pikiran saya berkelana ke masa-masa ketika saya tertarik melahap lima seri Supernova sebelumnya. Apalagi ketika saya membaca review dan rate para Goodreaders yang tergabung dalam Barisan Pembaca Sakit Hati. Sebagian saya memang setuju, tapi sebagian lain tidak. Anyway, saya nggak sakit hati atau kecewa dengan IEP. Sungguh. Secara umum, saya puas. Sayangnya, masih banyak gelembung tanya yang belum tuntas dipecahkan dalam IEP.
Teringat masa-masa berkenalan dengan serial Supernova saat kuliah dulu. Saat itu, saya langsung baca seri kelima, Gelombang, gara-gara tertarik ikut sebuah event menulis review. Saya pun langsung suka dengan gaya tulisan Mbak Dee Lestari. Hingga akhirnya saya buru-buru pinjam seri paling pertama Supernova; Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Well, KPBJ pun sukses membuat saya terpicu membaca ketiga seri lainnya; #2 Akar, #3 Petir, dan #4 Partikel.
Antusiasme saya makin memuncak manakala Inteligensi Embun Pagi rilis. Dari awal, saya memang tidak pernah meletakkan ekspektasi apa-apa atas seri terakhir ini. Sederhana saja, saya hanya ingin membayar rasa penasaran dengan menyelesaikan seri terakhir ini. Bahkan, saat saya membaca IEP pun saya meniatkan membaca-untuk-hiburan, bukan untuk menilai. Namun, secara tidak sadar, tentu saja kegiatan membaca-tanpa-menilai kedengaran mustahil bagi saya. Semakin diabaikan, malah semakin kentara rasa yang mengganjal.
Seperti yang sudah saya tulis di atas, secara umum saya puas dengan IEP. Sebagian besar rasa penasaran saya atas kelima buku sebelumnya sudah berhasil terjawab di sini. Apalagi di bab-bab terakhir, seperti menonton film aksi dengan visualisasi yang jernih dan nyata. Saya bahkan bisa mengimajinasikan adegan-adegannya dengan sangat jelas. Sejelas menonton film sungguhan.
Jika kalian juga membaca Supernova dari buku pertama, mungkin akan terlihat sangat signifikan perbedaannya. Apa yang dibahas di KPBJ memang jauh sekali dengan apa yang dibahas di IEP. KPBJ lebih kompleks, rumit, dan cenderung filosofis. Pun, dibumbui dengan teori fisika njelimet. Bagi yang nggak kuat, mungkin akan menyerah ketika membaca seri ini. Sedangkan IEP, lebih cenderung teknis dan kelihatan berusaha keras membuat persinggungan kehidupan antartokoh di buku-buku setelah KPBJ.
Sejak saya bersinggungan dengan KPBJ, saya tahu bahwa Supernova bukan sekadar novel fantasi biasa. Itulah mengapa saya antusias membaca keseluruhan serinya hingga IEP. Meski migrain dengan istilah-istilah yang membuat saya dalam mode roaming, namun makna tersirat yang tersaji dalam novel tersebut sukses menarik saya menyelam semakin dalam. Benar-benar salah satu jenis novel yang bikin saya berkontemplasi lumayan lama pasca membacanya.
Saya menyadari, sebagaimana review dari Barisan Pembaca Sakit Hati, bahwa gaya bahasa di KPBJ dengan seri-seri setelahnya sangat berbeda. Jika menurut pembaca mainstream, gaya bahasa di KPBJ sungguh tidak ‘manusiawi’. Lebih mirip makalah hasil penelitian disertasi dibanding novel fantasi. Sedangkan para pengagum KPBJ berpikir sebaliknya. Supernova tidak seharusnya ‘menurunkan’ diri dengan berusaha ‘nge-pop’ di seri-seri setelah KPBJ.
Well, saya sih tidak ambil pusing perihal gaya bahasa yang mirip makalah disertasi atau gaya bahasa nge-pop. Selama kualitas cerita masih tetap terjaga, style apapun yang dipakai bukan masalah besar. Namun, sebagaimana komentar Barisan Pembaca Sakit Hati yang dengan kecewa saya setujui, seiring dengan pertambahan seri, nyawa yang berhasil penulis tiupkan dalam KPBJ perlahan terkikis. Kulminasinya ada di IEP.
Dengan berat hati saya merasa makna filosofis yang sudah terbangun sedemikian rupa, runtuh satu persatu. Saya pun merasa kehilangan muatan filosofisnya ketika menyentuh IEP. Supernova pun berubah menjadi novel fantasi biasa ketika dipungkasi IEP.
Jauh dalam lubuk hati, saya tidak bisa menyangkal selama membaca IEP saya berusaha mencerna dan mencari-cari. Sayangnya, saya tak kunjung menemukan. Entah memang hanya diselipkan sedikit hingga saya kurang menyadarinya atau memang benar-benar secara nggak sengaja telah dilenyapkan. Jujur saja, saya menunggu-nunggu pemahaman kontemplatif saya disempurnakan di IEP. Saya juga menunggu-nunggu aroma filsafat ekstensial kembali menyeruak sebagai resolusi di novel penutupnya.
Saya pikir, mungkin saja perubahan-perubahan tersebut terjadi karena banyak alasan dan faktor. Salah satunya adalah mengenai ‘rumah’ yang dinaungi oleh serial Supernova kini. Jika kalian pembaca Supernova garis keras, mungkin sudah tahu bahwa cetakan pertama KPBJ bernaung di bawah penerbit independen. Hingga kemudian ketika Supernova makin tenar, rumah mereka pun berpindah pada penerbit mayor. Penerbit mayor means menyesuaikan selera pasar.
Ah, mungkin saja saya memang agak sok tahu. Namun, jika dikait-kaitkan bisa jadi ada hubungannya juga. Saya mengira perubahan gaya tersebut dilakukan supaya serial Supernova bisa menyasar segmen pembaca yang lebih luas. Jika sasaran pembaca semakin luas, tentu kepopuleran Supernova semakin meroket sehingga mendulang keuntungan berlimpah bagi ‘rumah’ keduanya.
Saya tegaskan sekali lagi, perubahan gaya bahasa bukan hal yang buruk-buruk amat. Sejujurnya, saya pribadi sungguh bersyukur karena dengan bahasa yang lebih ‘merakyat’ membuat otak saya yang cetek ini bisa lebih mudah mencerna dan saya jadi nggak perlu susah-susah buka KBBI atau googling istilah-istilah rumit. Hehehe.
Selain itu, ada hal lain lagi yang agak mengganjal bagi saya mengenai penokohan di IEP. Lagi-lagi, dengan berat hati, saya juga menyetujui pendapat Barisan Pembaca Sakit Hati. Saya setuju kalau karakter Reuben, Dimas, dan Ferre yang di awal ‘kelihatan’ tampak vital peranannya, berubah menjadi hanya tokoh figuran pelengkap di IEP. Apalagi si Bintang Jatuh. Padahal saya menunggu-nunggu kemunculan gamblang tokoh Bintang Jatuh ini. Sayangnya, tokoh ini di IEP hanya digambarkan sebagai sebuah entitas yang samar, hampir serupa mimpi penuh khayalan. Saya sedih :(
Saya juga merasa kalau karakter yang awalnya kelihatan nggak terlalu penting–sebut saja Gio–peranannya jadi sangat penting banget di IEP ini. Bahkan malah dijadikan Sang Juru Selamat. Selain itu lagi, karena saya #TimElektra, saya jadi sedih kenapa karakter Etra di IEP jadi semacam tukang bawa sial. Hiks~
Ah, meskipun agak sedih, mungkin saja hal tersebut memang sengaja dilakukan oleh Mbak Dee Lestari supaya IEP punya ending yang nggak ketebak. Mungkin saja, kan? Urusan tokoh mau diapain, sebagai pembaca saya sih manut saja sama penulisnya~
Anyway, tidak semua komentar Barisan Pembaca Sakit Hati saya setujui seratus persen. Bahkan, ada review salah satu pembaca yang bikin saya agak kesel. Entah mungkin ingin pamer bacaan atau bagaimana, si pembaca ini dengan absurd-nya menggunakan karya Leo Tolstoy, War and Peace, sebagai pembanding IEP. Well, di situ saya merasa ingin bilang; “Yha, elu ngebandinginnya jomplang! Itu kayak lu ngebandingin Dear Nathan sama Anna Karenina. Ya, Lord!”
Baiklah, memang saya tidak (atau belum) pernah membaca karya Leo Tolstoy satu pun, apalagi War and Peace. Otak saya memang nggak kuat baca sastra klasik yang berat-berat. Apalagi masih dalam terjemahan Inggris, belum ada versi Indonesianya. Lha wong baca A Brief History of Time-nya Stephen Hawking yang versi Inggris aja saya megap-megap. Bisa muntah darah kalau saya baca sastra klasik versi bahasa Inggris. (Oke, ini memang rada lebay)
Hmm, jujur saya lumayan nggak habis pikir dengan tukang pembuat-perbandingan-nggak-masuk-akal seperti si pembaca itu. Kurang bijaksana saja, menurut saya. Banyak elemen-elemen yang sudah jauh berbeda dari karya di atas. Selain soal kedalaman makna dalam kedua karya tersebut, latar belakang pemikiran penulis dan rentang masa ketika kedua karya tersebut dibuat memengaruhi aspek psikologis dalam suatu karya.
Gampangnya begini, menurut sepemahaman saya yang dangkal ini, kurang bijaksana apabila membandingkan novel klasik dengan novel masa kini. Kenapa? Karena masing-masing mereka dibuat pada latar masa yang berbeda. Masing-masing dari mereka dibuat oleh penulis yang hidup di masa yang berbeda dan tentu saja memengaruhi perbedaan perasaan dan pemikiran ketika suatu karya tersebut dibuat. Mengutip tulisan seorang pecinta buku yang pernah saya baca di Line; “Toh, suatu hari nanti, karya masa kini akan menjadi karya klasik pada waktunya”. Tentu saja, hanya beberapa karya masa kini berkualitas yang akan menjadi karya klasik di masa depan. Ini pendapat saya, mungkin saja kalian berbeda.
Entah mengapa, postingan ini makin lama jadi mbleber ke mana-mana~
Well, seperti yang sudah saya tulis paling awal, postingan ini hanya berisi keresahan dan unek-unek saya seputar serial Supernova. Terlepas dari kekurangan dan protes kanan-kiri dari Barisan Pembaca Sakit Hati, saya tetap merekomendasikan kalian untuk membaca Supernova dari KPBJ hingga IEP. Terutama bagi pembaca genre fantasi yang tidak ambil pusing dengan segala tetek bengek unsur intrinsik di atas dan menggunakan kegiatan membaca sebagai hiburan semata.
Cukup sekian postingan dari saya. Apabila tulisan ini kurang berfaedah, ambil yang faedahnya saja (?)
Terima kasih~
Sampai jumpa di postingan selanjutnya~