Tampilkan postingan dengan label Library. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Library. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Agustus 2017

[Booktalk] Supernova #6: Inteligensi Embun Pagi

19:19 0 Comments
Warning: This post may contain some spoilers. Beware of your choice. Once you read it, there’s no way back! Hahaha

[source]
Sengaja nggak kasih judul book/novel review, karena postingan ini sebagian besar akan berisi komentar, keresahan, dan unek-unek saya mengenai seri pamungkas Supernova ini. Sengaja pula saya bikin postingan tersendiri khusus untuk buku ini–padahal biasanya saya hanya puas nge-review buku sebatas di akun Goodreads saja–karena buku ini hampir lumayan menyedot sebagian besar perhatian saya.
Baiklah, mungkin lagi-lagi saya terhitung sangat terlambat baca Inteligensi Embun Pagi yang hype-nya sudah lewat setahun lalu. Saya pun sebenarnya juga sudah beli bukunya setahun yang lalu. But whatever, yang penting saya sudah kelar baca bukunya. Hehehe.
Usai membaca seri terakhir ini, membuat pikiran saya berkelana ke masa-masa ketika saya tertarik melahap lima seri Supernova sebelumnya. Apalagi ketika saya membaca review dan rate para Goodreaders yang tergabung dalam Barisan Pembaca Sakit Hati. Sebagian saya memang setuju, tapi sebagian lain tidak. Anyway, saya nggak sakit hati atau kecewa dengan IEP. Sungguh. Secara umum, saya puas. Sayangnya, masih banyak gelembung tanya yang belum tuntas dipecahkan dalam IEP.
Teringat masa-masa berkenalan dengan serial Supernova saat kuliah dulu. Saat itu, saya langsung baca seri kelima, Gelombang, gara-gara tertarik ikut sebuah event menulis review. Saya pun langsung suka dengan gaya tulisan Mbak Dee Lestari. Hingga akhirnya saya buru-buru pinjam seri paling pertama Supernova; Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh. Well, KPBJ pun sukses membuat saya terpicu membaca ketiga seri lainnya; #2 Akar, #3 Petir, dan #4 Partikel.
Antusiasme saya makin memuncak manakala Inteligensi Embun Pagi rilis. Dari awal, saya memang tidak pernah meletakkan ekspektasi apa-apa atas seri terakhir ini. Sederhana saja, saya hanya ingin membayar rasa penasaran dengan menyelesaikan seri terakhir ini. Bahkan, saat saya membaca IEP pun saya meniatkan membaca-untuk-hiburan, bukan untuk menilai. Namun, secara tidak sadar, tentu saja kegiatan membaca-tanpa-menilai kedengaran mustahil bagi saya. Semakin diabaikan, malah semakin kentara rasa yang mengganjal.
Seperti yang sudah saya tulis di atas, secara umum saya puas dengan IEP. Sebagian besar rasa penasaran saya atas kelima buku sebelumnya sudah berhasil terjawab di sini. Apalagi di bab-bab terakhir, seperti menonton film aksi dengan visualisasi yang jernih dan nyata. Saya bahkan bisa mengimajinasikan adegan-adegannya dengan sangat jelas. Sejelas menonton film sungguhan.
Jika kalian juga membaca Supernova dari buku pertama, mungkin akan terlihat sangat signifikan perbedaannya. Apa yang dibahas di KPBJ memang jauh sekali dengan apa yang dibahas di IEP. KPBJ lebih kompleks, rumit, dan cenderung filosofis. Pun, dibumbui dengan teori fisika njelimet. Bagi yang nggak kuat, mungkin akan menyerah ketika membaca seri ini. Sedangkan IEP, lebih cenderung teknis dan kelihatan berusaha keras membuat persinggungan kehidupan antartokoh di buku-buku setelah KPBJ.
Sejak saya bersinggungan dengan KPBJ, saya tahu bahwa Supernova bukan sekadar novel fantasi biasa. Itulah mengapa saya antusias membaca keseluruhan serinya hingga IEP. Meski migrain dengan istilah-istilah yang membuat saya dalam mode roaming, namun makna tersirat yang tersaji dalam novel tersebut sukses menarik saya menyelam semakin dalam. Benar-benar salah satu jenis novel yang bikin saya berkontemplasi lumayan lama pasca membacanya.
Saya menyadari, sebagaimana review dari Barisan Pembaca Sakit Hati, bahwa gaya bahasa di KPBJ dengan seri-seri setelahnya sangat berbeda. Jika menurut pembaca mainstream, gaya bahasa di KPBJ sungguh tidak ‘manusiawi’. Lebih mirip makalah hasil penelitian disertasi dibanding novel fantasi. Sedangkan para pengagum KPBJ berpikir sebaliknya. Supernova tidak seharusnya ‘menurunkan’ diri dengan berusaha ‘nge-pop’ di seri-seri setelah KPBJ.
Well, saya sih tidak ambil pusing perihal gaya bahasa yang mirip makalah disertasi atau gaya bahasa nge-pop. Selama kualitas cerita masih tetap terjaga, style apapun yang dipakai bukan masalah besar. Namun, sebagaimana komentar Barisan Pembaca Sakit Hati yang dengan kecewa saya setujui, seiring dengan pertambahan seri, nyawa yang berhasil penulis tiupkan dalam KPBJ perlahan terkikis. Kulminasinya ada di IEP.
Dengan berat hati saya merasa makna filosofis yang sudah terbangun sedemikian rupa, runtuh satu persatu. Saya pun merasa kehilangan muatan filosofisnya ketika menyentuh IEP. Supernova pun berubah menjadi novel fantasi biasa ketika dipungkasi IEP.
Jauh dalam lubuk hati, saya tidak bisa menyangkal selama membaca IEP saya berusaha mencerna dan mencari-cari. Sayangnya, saya tak kunjung menemukan. Entah memang hanya diselipkan sedikit hingga saya kurang menyadarinya atau memang benar-benar secara nggak sengaja telah dilenyapkan. Jujur saja, saya menunggu-nunggu pemahaman kontemplatif saya disempurnakan di IEP. Saya juga menunggu-nunggu aroma filsafat ekstensial kembali menyeruak sebagai resolusi di novel penutupnya.
Saya pikir, mungkin saja perubahan-perubahan tersebut terjadi karena banyak alasan dan faktor. Salah satunya adalah mengenai ‘rumah’ yang dinaungi oleh serial Supernova kini. Jika kalian pembaca Supernova garis keras, mungkin sudah tahu bahwa cetakan pertama KPBJ bernaung di bawah penerbit independen. Hingga kemudian ketika Supernova makin tenar, rumah mereka pun berpindah pada penerbit mayor. Penerbit mayor means menyesuaikan selera pasar.
Ah, mungkin saja saya memang agak sok tahu. Namun, jika dikait-kaitkan bisa jadi ada hubungannya juga. Saya mengira perubahan gaya tersebut dilakukan supaya serial Supernova bisa menyasar segmen pembaca yang lebih luas. Jika sasaran pembaca semakin luas, tentu kepopuleran Supernova semakin meroket sehingga mendulang keuntungan berlimpah bagi ‘rumah’ keduanya.
Saya tegaskan sekali lagi, perubahan gaya bahasa bukan hal yang buruk-buruk amat. Sejujurnya, saya pribadi sungguh bersyukur karena dengan bahasa yang lebih ‘merakyat’ membuat otak saya yang cetek ini bisa lebih mudah mencerna dan saya jadi nggak perlu susah-susah buka KBBI atau googling istilah-istilah rumit. Hehehe.
Selain itu, ada hal lain lagi yang agak mengganjal bagi saya mengenai penokohan di IEP. Lagi-lagi, dengan berat hati, saya juga menyetujui pendapat Barisan Pembaca Sakit Hati. Saya setuju kalau karakter Reuben, Dimas, dan Ferre yang di awal ‘kelihatan’ tampak vital peranannya, berubah menjadi hanya tokoh figuran pelengkap di IEP. Apalagi si Bintang Jatuh. Padahal saya menunggu-nunggu kemunculan gamblang tokoh Bintang Jatuh ini. Sayangnya, tokoh ini di IEP hanya digambarkan sebagai sebuah entitas yang samar, hampir serupa mimpi penuh khayalan. Saya sedih :(
Saya juga merasa kalau karakter yang awalnya kelihatan nggak terlalu penting–sebut saja Gio–peranannya jadi sangat penting banget di IEP ini. Bahkan malah dijadikan Sang Juru Selamat. Selain itu lagi, karena saya #TimElektra, saya jadi sedih kenapa karakter Etra di IEP jadi semacam tukang bawa sial. Hiks~
Ah, meskipun agak sedih, mungkin saja hal tersebut memang sengaja dilakukan oleh Mbak Dee Lestari supaya IEP punya ending yang nggak ketebak. Mungkin saja, kan? Urusan tokoh mau diapain, sebagai pembaca saya sih manut saja sama penulisnya~
Anyway, tidak semua komentar Barisan Pembaca Sakit Hati saya setujui seratus persen. Bahkan, ada review salah satu pembaca yang bikin saya agak kesel. Entah mungkin ingin pamer bacaan atau bagaimana, si pembaca ini dengan absurd-nya menggunakan karya Leo Tolstoy, War and Peace, sebagai pembanding IEP. Well, di situ saya merasa ingin bilang; “Yha, elu ngebandinginnya jomplang! Itu kayak lu ngebandingin Dear Nathan sama Anna Karenina. Ya, Lord!”
Baiklah, memang saya tidak (atau belum) pernah membaca karya Leo Tolstoy satu pun, apalagi War and Peace. Otak saya memang nggak kuat baca sastra klasik yang berat-berat. Apalagi masih dalam terjemahan Inggris, belum ada versi Indonesianya. Lha wong baca A Brief History of Time-nya Stephen Hawking yang versi Inggris aja saya megap-megap. Bisa muntah darah kalau saya baca sastra klasik versi bahasa Inggris. (Oke, ini memang rada lebay)
Hmm, jujur saya lumayan nggak habis pikir dengan tukang pembuat-perbandingan-nggak-masuk-akal seperti si pembaca itu. Kurang bijaksana saja, menurut saya. Banyak elemen-elemen yang sudah jauh berbeda dari karya di atas. Selain soal kedalaman makna dalam kedua karya tersebut, latar belakang pemikiran penulis dan rentang masa ketika kedua karya tersebut dibuat memengaruhi aspek psikologis dalam suatu karya.
Gampangnya begini, menurut sepemahaman saya yang dangkal ini, kurang bijaksana apabila membandingkan novel klasik dengan novel masa kini. Kenapa? Karena masing-masing mereka dibuat pada latar masa yang berbeda. Masing-masing dari mereka dibuat oleh penulis yang hidup di masa yang berbeda dan tentu saja memengaruhi perbedaan perasaan dan pemikiran ketika suatu karya tersebut dibuat. Mengutip tulisan seorang pecinta buku yang pernah saya baca di Line; “Toh, suatu hari nanti, karya masa kini akan menjadi karya klasik pada waktunya”. Tentu saja, hanya beberapa karya masa kini berkualitas yang akan menjadi karya klasik di masa depan. Ini pendapat saya, mungkin saja kalian berbeda.
Entah mengapa, postingan ini makin lama jadi mbleber ke mana-mana~
Well, seperti yang sudah saya tulis paling awal, postingan ini hanya berisi keresahan dan unek-unek saya seputar serial Supernova. Terlepas dari kekurangan dan protes kanan-kiri dari Barisan Pembaca Sakit Hati, saya tetap merekomendasikan kalian untuk membaca Supernova dari KPBJ hingga IEP. Terutama bagi pembaca genre fantasi yang tidak ambil pusing dengan segala tetek bengek unsur intrinsik di atas dan menggunakan kegiatan membaca sebagai hiburan semata.
Cukup sekian postingan dari saya. Apabila tulisan ini kurang berfaedah, ambil yang faedahnya saja (?)
Terima kasih~
Sampai jumpa di postingan selanjutnya~

Sabtu, 17 Desember 2016

Kaleidoskop Buku 2016

10:10 0 Comments
Setelah lima bulan berlalu, sejak Juli, akhirnya saya bisa memaksa menyempatkan diri nulis untuk mengisi blog yang makin hari makin sedikit saja postingannya. Entah mengapa, semakin bertambah usia, rasanya saya jadi makin malas untuk pencitraan, showing off, dan narsis di segala macam jejaring sosial yang saya punya. Apalagi sekarang zamannya Instagram! Lagipula, saya juga tidak terlalu suka foto-foto, baik foto diri sendiri ataupun fotoin hal lain. Hahaha. Kalau misal punya foto, lebih suka jadi koleksi pribadi. Yaaa… karena saya tidak fotogenik, tidak punya baju bagus buat foto #ootd, dan tidak sering jalan-jalan ke café instagram-able dan traveling ke tempat hits.

Lalu, selama lima bulan tanpa postingan tersebut, saya lebih sering meramaikan akun Goodreads saya. Selama tahun 2016 ini saya menantang diri saya dengan Goodreads Reading Challenge. Setelah gagal dengan Reading Challenge tahun 2015, akhirnya saya pun menarget membaca buku sebanyak 60 judul di tahun 2016. Mungkin bagi masyarakat umum, 60 judul buku setahun itu too much! Tapi, Goodreaders lain lebih ngeri lagi dari saya. Ada yang berani setel target baca hingga 100 judul. Okay, saya mah apa atuh…

Kegiatan baca buku tersebut memang merupakan hiburan tersendiri untuk melepas penat mengerjakan skripsi. Setelah ambil data untuk penelitian, selama bulan Juli-Agustus saya mengerjakan pembahasan dan kesimpulan dengan diselingi baca buku hampir 20-25 judul. Tentu saja 20-25 judul itu tidak termasuk buku dan jurnal yang saya masukkan di daftar pustaka skripsi. Hahaha. Lalu, bulan September saya sidang skripsi, bulan Oktober revisi sambil nangis nungging-nungging karena tak kunjung ditandatangani Bapak-Dosen-Penguji-II-yang-Budiman, hingga akhirnya sibuk pemberkasan untuk daftar wisuda bulan Desember. Nah, akhirnya terjawab sudah mengapa selama hampir lima bulan saya tidak pernah sempat nulis postingan di blog.

Baiklah, tulisan di atas sebenarnya tidak penting-penting amat, namun saya hanya ingin sedikit berbagi tentang buku-buku apa saja yang berhasil saya baca di tahun 2016. Namun, saya hanya mengulas beberapa buku yang berkesan bagi saya. Hehehe. Let’s check these out:

The Little Prince – Le Petit Prince (Antoine de Saint-Exupéry)

[source]
Buku yang konon merupakan salah satu masterpiece Antoine de Saint-Exupery, penulis berkebangsaan Prancis, dibuat melalui sebuah perenungan tentang makna hidup. Salah satu buku sastra klasik yang worth to read banget. Terbit pada tahun 1943 serta jadi salah satu buku terbaik pada abad ke-20 di Prancis, hingga telah diterjemahkan ke lebih dari 250 bahasa. Bukunya tidak terlalu tebal, tidak sampai 100 halaman, namun memuat pesan yang mendalam. Salah satu buku yang pantas kalian masukkan dalam daftar buku-wajib-baca-sebelum-mati. Beberapa quotes yang memorable bagi saya, antara lain:

“And now, here is my secret, a very simple secret: It is only with the heart that one can see rightly; what is essential is invisible to the eye,” said the fox. (hal. 48)

“Men have forgotten this truth,” said the fox. “But you must not forget it. You become responsible for what you have tamed. You are responsible for your rose….” (hal. 48)

Ya, tokoh the fox di sini memang sangat bijak sekali. Saya sukaaaa sekali :)

The Great Gatsby (F. Scott Fitzgerald)

[source]
Pasti lebih banyak yang familiar dengan versi filmnya yang dibintangi Tobey Maguire dan Leonardo DiCaprio. Film tersebut memang diadaptasi dari novel yang berjudul sama karangan F. Scott Fitzgerald, terbit pada tahun 1925. Awal publikasi novel ini hingga Fitzgerald wafat, tidak pernah sekalipun terjual lebih dari 25.000 kopi. Novel ini pun terlupakan selama masa depresi hingga Perang Dunia II. Namun, ketika tahun 1945 mulai dipublikasi ulang, novel ini menjadi sangat laris dan menjadi yang tersukses di Amerika.

Berlatar pada tahun 1920-an, di mana masyarakat Amerika sedang dibuai dalam kondisi tingkat perekonomian yang berkembang pesat, hidup seorang miliuner muda misterius bernama Jay Gatsby. Suatu ketika, Nick Carraway, tokoh yang menjadi pencerita di novel ini, menjadi tetangga di samping rumah Gatsby. Melalui sudut pandang Carraway, Gatsby diceritakan memiliki popularitas karena kekayaannya dan kegemarannya mengadakan pesta-pesta untuk kalangan sosialita. Suatu ketika, Carraway diundang Gatsby dalam salah satu pestanya, kemudian menjadi akrab satu sama lain. Meskipun akrab, tetap saja Nick merasa bahwa Jay masih misterius, dan ada sesuatu yang tersembunyi dalam kehidupannya. Hingga akhirnya, terungkaplah bahwa ternyata Jay Gatsby memendam obsesi cinta pada seorang gadis kaya bernama Daisy Buchanan.

Selanjutnya, silakan baca sendiri. Yang jelas, setelah saya baca hingga halaman terakhir, saya jadi sebel banget sama tokoh Daisy Buchanan. Hehehe.

To Kill A Mockingbird & Go Set A Watchman (Harper Lee)

[source]
To Kill A Mockingbird, adalah novel pemenang Pulitzer Prize yang terbit tahun 1960, mengangkat tentang isu rasisme di Amerika pada tahun 1930-an. Latar cerita di novel ini memang didasarkan pada pengalaman penulis, Harper Lee, tentang kehidupan masyarakat ketika dia masih berusia 10 tahun. Novel ini memang sungguh fenomenal, hingga dinobatkan menjadi buku “that every adult should read before they die”. Lalu, pada tahun 2015 terbit lanjutan dari novel pertamanya, Go Set A Watchman.

Konon, Go Set A Watchman merupakan draft pertama dari To Kill A Mockingbird. Namun, setelah melalui proses edit dan revisi, Harper Lee mengganti judulnya menjadi To Kill A Mockingbird. Jika To Kill A Mockingbird bercerita melalui sudut pandang Jean Louise ‘Scout’ Finch cilik terhadap ayahnya, Atticus Finch, seorang pengacara kulit putih yang pro pada kulit hitam, maka Go Set A Watchman adalah realita yang dipandang Jean Louise Finch dewasa pada ayahnya. Bisa dibilang, To Kill A Mockingbird adalah harapan, sedangkan Go Set A Watchman adalah kenyataan yang sesungguhnya. Intinya, kalau yang saya tangkap dari dua novel ini, suatu hal itu tidak mutlak tetap berada di posisi yang sama, suatu saat akan berubah sesuai dengan situasi dan keadaan di sekitarnya. Ya, begitulah… novel ini memang dalam sekali maknanya. Halah… :D

The Phantom of the Opera (Gaston Leroux)


[source]
Novel ini juga punya versi filmnya yang rilis tahun 2004, dibintangi Gerard Butler, Emmy Rossum, dan Patrick Wilson. Kisah black romance yang ditulis Gaston Leroux ini terbit pada tahun 1909 serta terinspirasi dari kisah horor yang pernah terjadi di Opera Paris pada abad 19.

Bercerita tentang seorang penyanyi opera, Christine Daaé, yang memiliki suara emas dan agak sedikit pemimpi. Namun, keluguannya dan mimpinya bertemu malaikat musik dimanfaatkan oleh seorang ‘hantu’ atau The Phantom yang memiliki nama asli Erik. Erik sangat mencintai Christine karena kecantikan dan keindahan suaranya, hingga kemudian Erik berpura-pura menjadi malaikat musik yang akan mewujudkan impian Christine, dengan syarat Christine dilarang mencintai orang lain. Obsesi Erik yang berlebihan membuat Christine tersiksa, padahal sebenarnya Christine lebih mencintai Raoul, dibandingkan Erik.

Selanjutnya, silakan baca sendiri. Jelasnya, kisah black romance ini sangat menengangkan dan agak bikin deg-degan. Apalagi ketika Raoul dan si Orang Persia memasuki labirin misterius menuju sarang Erik ‘The Phantomuntuk menemukan Christine yang menghilang berhari-hari.

Little Women (Louisa May Alcott)

[source]
Salah satu novel klasik yang, menurut saya, patut menjadi novel-wajib-baca-selama-hidup. Novel ini pertama kali terbit pada tahun 1868. Sedangkan pada tahun 1869, terbit novel lanjutannya, Good Wives. Sayang sekali, saya baru baca novel yang pertama. Padahal, kayaknya lebih afdhol kalau baca langsung lanjut dua-duanya. Hiks.

Novel ini bercerita tentang sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ibu, seorang asisten rumah tangga, dan empat anak perempuan; Meg, Jo, Beth, dan Amy March. Latar cerita ini adalah saat perang sipil di Amerika, di mana sang ayah, Mr. March, harus pergi meninggalkan keluarganya untuk menjadi tentara relawan selama beberapa bulan.

Cerita yang diangkat memang sederhana, tentang kegiatan sehari-hari keluarga March selama ditinggal ayahnya bertugas. Namun, sebenarnya tidak sesederhana tampaknya. Justru cerita keseharian mereka banyak terselip petuah bijak Mrs. March kepada keempat putrinya. Ada makna kesederhanaan hidup, bekerja keras, cinta sejati, dan memegang teguh aturan Tuhan. Ketika membaca novel ini, sempat terpikir betapa masyarakat Amerika zaman dulu lebih religius dibandingkan yang sekarang. Selain itu, novel ini juga mengajarkan tentang parenting, bagaimana cara menghadapi anak perempuan yang beranjak remaja dengan karakter berbeda-beda, hingga petuah Mrs. March yang tidak menggurui namun sampai ke hati. Yup, saya sungguh merekomendasikan novel ini untuk dibaca oleh calon-calon ibu di manapun berada.

Sabtu Bersama Bapak (Adhitya Mulya)

Awal buku ini booming saya belum begitu tertarik untuk baca. Namun, setelah beberapa kali cetak ulang serta beberapa orang ‘terpercaya’ menjamin buku ini bagus banget dan bikin baper, saya pun baru tertarik baca. Mungkin, banyak yang sudah tahu ceritanya, karena sempat difilmkan juga. Jadi, saya tidak perlu capek-capek nulis ulasannya. Hehehe.

Pastinya, buku ini berhasil membuat saya berganti-ganti antara mingsek-mingsek dan ngakak-ngakak. Hahaha. Seperti salah satu percakapan Saka dan Ayu yang memorable ini;

“Mas nanya dong,” Ayu memecah keheningan.
“Apa tuh?”
“Mas pernah bilang, bagi Mas, saya itu perhiasan dunia akhirat.”
“Iya,”
“Kenapa bisa bilang begitu?”
“Kamu pintar. That goes without question. Kamu cantik. Itu jelas.”
“Itu semua dunia,” potong Ayu.
“Dan karena pada waktunya, saya selalu lihat sepatu kamu di musala perempuan.” (hal. 229)

Kemudian saya mewek sambil ketawa nggak jelas. Aaaaaaa…. Saka romantezz :3

Barangsiapa yang belum baca buku ini, rugi banget! Meskipun sudah nonton versi filmnya, tetap saja kalian perlu banget baca buku ini. Salah satu pesan pokok yang perlu digarisbawahi dalam buku ini adalah, peran ayah dalam pengasuhan anak. Menurut saya, buku ini wajib banget dibaca para calon suami dan ayah di manapun berada, karena sebagian besar pesan-pesan tokoh Bapak di novel ini for daddy and husband banget!

Outliers (Malcolm Gladwell)

[source]
Singkatnya, buku ini menjelaskan fakta ilmiah tentang kesuksesan. Sudah pernah saya ulas panjang lebar di sini. Silakan dibaca, kalau mau baca. Saya capek nulisnya lagi, hehehe.

Quiet: The Power of Introverts in a World That Can’t Stop Talking (Susan Cain)

[source]
Sebenarnya, saya pernah ingin menulis sebuah post khusus untuk buku ini. Sayang sekali, karena tersibukkan oleh skripsi, akhirnya saya lupa. Yap, menurut saya, buku ini sangat bagus dibaca oleh para introvert, seperti saya ini. Buku ini bukan buku self-help seperti halnya buku-buku psikologi populer mainstream. Konten dalam buku ini mirip seperti buku-buku Malcolm Gladwell, ada penjelasan ilmiah berdasarkan tinjauan penelitian. Buku ini mengulas panjang lebar mengenai siapa sebenarnya introvert, bagaimana kedalaman psikologisnya, bagaimana mekanisme biologisnya, perbedaannya dengan para ekstrovert, dan bagaimana memanfaatkan potensi positif kepribadian introvert.

Setelah membaca buku ini, saya jadi semakin bangga menjadi seorang introvert yang sering dianggap sebelah mata. Ya, saya memang orang yang menghindari kepopuleran, lebih suka bekerja di belakang sorotan, menyukai kesendirian terutama ketika membaca dan menulis, cenderung pemikir filosofis, lebih abstrak, agak misterius karena tertutup (bener nggak sih?), suka mendengarkan Coldplay dan lagu melankolis (apa ini?), lebih menyukai mendengar daripada berbicara, always listening always understanding (dipikir iklan asuransi?), tidak terlalu cerewet (lalu Bapak saya bilang: “masa?”). Hahaha. Sebenarnya, cerewet saya bersifat situasional, tergantung kebutuhan.

Yap, buku ini cocok sekali dibaca para introvert, namun tidak menutup kemungkinan pula dibaca oleh ekstrovert, supaya makin memahami dunia para introvert.
Ngg… anyway, sebenarnya saya INFJ, salah satu tipe introvert yang agak ekstrovert dan populasinya hanya 1-2% di dunia. Limited edition, kaaan? *abaikan ini, sebenarnya nggak penting juga, sih*
Orang-orang Proyek (Ahmad Tohari)

[source]
Salah satu novel Ahmad Tohari yang membekas sekali di ingatan saya. Sebenarnya, selama rentang Juli-Agustus ada beberapa tulisan Ahmad Tohari yang saya baca, namun yang menurut saya paling menyentil, tetap novel ini. Realita yang diusung dalam novel ini prakteknya masih marak terjadi dan sudah menjadi rahasia umum. Sudah menjadi hal yang dianggap ‘wajar’ bagi orang-orang yang berkecimpung di dunia seperti itu. Bahkan, kadang-kadang saya jadi kebawa su’udzon, curiga jika proyek flyover dekat rumah saya itu juga tidak jauh dari praktek-praktek semacam ini.


Di Tanah Lada (Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie)

[source]
Abaikan nama penulisnya yang panjangnya kayak kereta Shinkansen. Hahaha. Terlepas dari nama unik dan aneh penulisnya, novel ini merupakan salah satu pemenang sayembara Dewan Kesenian Jakarta 2014. Saya suka sekali dengan sudut pandang yang digunakan di novel ini, tuturan dan perasaan seorang anak kecil korban kekerasan. Menyayat sekali, terutama ketika si anak terpaksa harus pergi ke sana kemari menghindari kejaran ayah kandungnya yang kejam dan hobi mabuk. Lewat novel ini, saya jadi bisa belajar bikin novel yang sederhana namun punya pesan mendalam bagi pembacanya.



Negeri Para Bedebah & Negeri di Ujung Tanduk (Tere Liye)

[source]
Baru sempat baca novel ini di tahun 2016. Meskipun saya selalu tampak update novel-novel terbaru, namun saya selalu paling terrtinggal membacanya. Biasa, ditimbun dulu di lemari atau wish-list sampai berfermentasi. Hahaha.

Dua novel ini saya pinjam di rentalan dan aplikasi iJakarta. Lumayan ngos-ngosan baca novel via smartphone dengan ketebalan hampir 500 halaman. Meskipun mata berasa siwer dan berair, tetap nekat hajar! Bagaimana tidak, dua novel ini membuat saya enggan berhenti di tengah-tengah. Selalu berhasil bikin saya penasaran di setiap pergantian babnya! Saya mah apa atuh, gampang lemah dengan novel berbau-bau aksi dan lumayan thrilling ini. Baru bisa tidur nyenyak kalau sudah tamat satu buku. Hahaha.

Dua novel ini resmi saya nobatkan sebagai novel aksi Indonesia paling worth to read dengan adegan aksi yang tingkat menegangkannya nggak artifisial. Halah. Pokoknya kewreeenn! Dua novel ini menjadi novel Tere Liye kesekian yang jadi favorit saya. Uwuwuwu :3 *mendadak alay*

The Geography of Love (Peter Theisen)

[source]
Salah satu buku nonfiksi yang rada mirip sama seri best-seller The Geography-nya Eric Weiner. Saya pinjam buku ini di aplikasi perpustakaan digital iJakarta. Buku ini mengulas tentang hal-hal yang berkaitan dengan cinta dan pernikahan. Ada berbagai negara yang diulas, salah satunya sistem pernikahan dan keluarga di masyarakat Minang yang menganut matrilineal. Seluruh ulasannya diceritakan layaknya kisah perjalanan. Lalu, setelah usai membaca buku ini, baru tahu kalau ada penulis lain (Eric Weiner) yang menggunakan tema sejenis dengan banyak seri. Duh, jadi ngiler pengen beli!

*Kemudian ingat buku populer lain–Lifestyle Ecstasy, The Art of Loving, What the Dog Saw, David and Goliath–yang masih bungkusan sejak berbulan-bulan lalu. Hiks!*

Four Season: Winter in Tokyo, Summer in Seoul, Spring in London, Autumn in Paris (Ilana Tan)

[source]
Sejujurnya, memang saya telat banget baca tetralogi empat musimnya Ilana Tan ini. Novel ini memang booming banget ketika saya SMA, dan banyak gadis-gadis labil seusia saya saat itu yang sudah khatam baca keempat-empatnya. Sedangkan saya, lebih tertarik menekuri Hercule Poirot dan Sherlock Holmes. Huehehe.

Namun, semua berubah ketika negara api menyerang muncul aplikasi iJakarta. Berkat aplikasi iJakarta, saya bisa baca keempat novel ini tanpa perlu mengeluarkan duit rental. Saya sesungguhnya penasaran, kenapa novel ini bisa best-seller? Awalnya, tentu saja ekspektasi saya melambung. Namun, ketika saya baca bukunya, ekspektasi saya langsung jatuh terjerembab. Saya kira, kisah romantisnya nggak terlalu cheesy. Eh, ternyata, sama saja seperti novel-novel roman pendahulunya. Hanya saja, kelebihan novel ini adalah gaya bahasanya yang rapi dan tidak terlalu banyak dialog. Setidaknya, saya tidak menemukan sapaan “gue-elu gue-elu” di novel ini serta banyak terselip istilah bahasa Korea, Inggris, Prancis, dan Jepang sesuai latar tempatnya. Lumayan lah, sekalian belajar bahasa asing sedikit-sedikit. Hehehe.

Katarsis (Anastasia Aemilia)

[source]
Novel ini bergenre psychological thriller. Sudah saya ulas panjang kali lebar di Goodreads. Intinya, saya nggak terlalu suka sama buku ini. Salah satunya, saya sangat menyayangkan tidak ada alasan mengapa si tokoh utama memiliki gangguan psikopatologi. Banyak kesalahan logika serta penggambaran tokohnya kurang kuat membuat novel ini punya nilai jeblok di mata saya. Terlalu banyak darah, namun saya tidak merasa terguncang secara psikologis. Eksekusi ceritanya masih kurang banget!






Alhamdulillah, akhirnya selesai juga menulis dengan sistem borongan kayak proyek pembangunan flyover. Tapi, tentu saja nulisnya tidak memakan waktu hampir seusia masa kuliah saya, layaknya pembangunan flyover dekat rumah yang berulangkali ganti developer itu. Halah.

Baiklah, saya ucapkan terima kasih bagi yang dengan suwungnya dan kurang kerjaannya menyempatkan diri membaca kata demi kata tanpa asal scrolling, bagi yang baca karena ingin dapat informasi bukan hanya lihat gambarnya, dan bagi yang asal scrolling dan lihat gambar saja tanpa baca tulisannya. Hidup kalian luwaar biyasaaahh…

Mohon maaf, euforia berlebihan sehingga penutupnya jadi alay.

Okay, kalau begitu, sampai jumpa di postingan selanjutnya… :)

P.S.: Silakan kunjungi akun Goodreads saya (klik di sini), kalau sempat dan mau. Atau, boleh juga lho di-add. Siapa tahu kita sehati dalam me-rating dan me-review buku. #eaaa :p