Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Januari 2017

[#KampusFiksi 10 Days Writing Challenge] Day #7 – It’s Just a Matter of Time

08:29 0 Comments
Sekarang, saya ingin agak serius menulis challenge hari ketujuh. Kebetulan beberapa hari belakangan ini saya sedang berada dalam titik terendah. Banyak kejadian tidak menyenangkan yang saya alami, meskipun tidak terlalu buruk, namun membuat saya merasa agak lelah. Segala pencapaian-pencapaian orang-orang di luar sana membuat saya minder. Saya jadi sering membanding-bandingkan hidup dan diri saya yang nggak seberapa ini dengan mereka. Saya jadi sering mengasihani diri sendiri. Saya jadi hampir ingin menyalahkan keadaan dan segala ketidakberuntungan yang menghadang saya. Lantas, saya lupa bahwa hidup saya masih lebih beruntung daripada orang-orang di luar sana. Mungkin memang, saya terlalu sibuk menatap ke atas, hingga tak sadar bahwa di bawah sana masih banyak yang butuh uluran tangan.
Seringkali saya mencoba mengambil selipan hikmah di setiap kejadian yang saya alami. Namun, seringkali pula saya gagal memaknai, akibat pemahaman saya yang dangkal. Seringkali saya mengkritisi diri sendiri, apa yang kurang dan salah, hingga saya pun mati-matian berusaha menambal kecacatan yang senantiasa menghantui saya. Sembari mengais-kais serpihan semangat yang kadung pupus, saya berusaha memaknai hakikat ‘waktu’.
Sebagaimana quotes yang pernah saya baca di suatu grup bahwa, setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Misalnya, ada yang setelah menikah langsung dikaruniai anak, tapi ada juga pasangan yang harus menunggu sampai lima hingga sepuluh tahun sembari jungkir-balik usaha mati-matian baru berhasil memiliki anak. Ada yang baru membuka usaha langsung menuai keuntungan besar, namun ada juga yang harus jatuh-bangun hingga bertahun-tahun lamanya baru berhasil. Ada yang mengerjakan skripsi lancar dan lulus tepat waktu, ada juga yang skripsinya nggak kelar-kelar hampir jadi mahasiswa abadi.
Dalam buku What The Dog Saw Malcolm Gladwell, hal tersebut terjadi karena ada dua tipe orang di dunia ini; orang yang cepat panas dan orang yang lambat panas. Orang yang cepat panas akan cepat menunjukkan ledakan potensinya. Sedangkan orang yang lambat panas, mereka lebih cenderung lambat dalam menunjukkan potensi besar mereka yang sesungguhnya. Namun, jika saya boleh berpendapat, perkara cepat panas itu masih sebatas urusan personal. Sedangkan, manusia tidak hidup dalam dunia personalnya masing-masing. Setiap kejadian yang dialami oleh seseorang tidak hanya bergantung pada faktor personal saja, seperti perkara cepat atau lambat panas. Ada faktor lain yang turut campur dalam kejadian yang menentukan hidup seseorang yaitu; waktu.
Waktu yang dimiliki setiap manusia tertulis dalam takdir. Ada yang memiliki waktu yang cepat, ada yang lambat. Waktu yang dimiliki setiap manusia sudah tertulis, tidak bisa dipercepat atau diperlambat. Tapi manusia bisa mengubah takdir–untuk takdir tertentu yang bisa berubah–dengan melakukan usaha. Namun, banyak yang masih bertanya-tanya, mengapa sudah berusaha jungkir balik berdarah-darah, tapi hasil yang diharapkan tak kunjung tampak? Satu yang masih kurang dalam pemahaman itu adalah memaknai sabar. Sabar dalam menunggu waktu tersebut tiba. Sabar menunggu usaha yang kita upayakan benar-benar tampak hasilnya. Sebab kita tidak tahu, sudah sedekat apa usaha yang kita perjuangkan dengan waktu yang digariskan.
Sayangnya, memaknai sabar itu tidak semudah aplikasinya. Apalagi jika melihat kesuksesan orang lain yang menyilaukan mata. Lagi-lagi kita seperti ingin merutuki nasib yang tak kunjung berubah. Hanya sanggup memandang nanar rumput tetangga selalu tampak lebih hijau dan indah. Padahal, kita tidak tahu saja, sekeras apa perjuangan mereka, seberapa lama mereka menunggu, sesakit apa mereka jatuh-bangun berulang kali. Dan, kita juga tidak tahu, apakah yang sudah terambil dari mereka adalah untuk menebus keberuntungan itu. Apakah keberuntungan yang mereka dapatkan saat ini merupakan ganti dari sesuatu yang telah direnggut dari mereka.
Saya pernah iri dengan salah satu teman saya. Melalui pandangan saya, dia sungguh beruntung karena mendapatkan keberuntungan tanpa perlu menunggu terlalu lama. Sedangkan saya harus berlari ke sana kemari, jatuh bangun, berpeluh menangis, dan berdarah-darah. Awalnya saya mengasihani diri, mengapa seperti dunia ini sungguh tidak adil bagi saya. Namun, ketika saya berusaha menyelami pemaknaan dalam kejadian itu, saya menemukan sebuah pemahaman. Saya teringat kehidupan masa lalu teman saya itu yang tidak seberuntung saya. Kedua orang tuanya meninggal dalam waktu yang berdekatan, seolah ujian selalu mampir menyambanginya. Ia pun menjadi yatim piatu, padahal masa itu adalah masa ia membutuhkan dukungan keluarga. Otomatis sejak saat itu dia harus hidup mandiri bersama kakak-kakaknya.
Di titik itu pun saya sadar kalau teman saya itu pantas mendapatkan keberuntungannya saat ini dibandingkan saya. Waktu ini adalah saatnya mendapatkan tebusan atas apa yang pernah terenggut darinya. Waktu ini adalah saatnya ia merasakan kebahagiaan atas kesabarannya dalam menunggu hasil yang digariskan padanya tiba.
Semua hal yang terjadi pada kita hanya perkara menunggu waktu. Apakah ini sudah saatnya atau belum. Mungkin saja saat ini teman-teman kalian banyak yang sudah menikah, tapi kalian masih sibuk dengan kejombloan tiada ujung. Atau mungkin, skripsi kalian tak kunjung di-acc dosen pembimbing, padahal teman-teman kalian sudah banyak yang bekerja bahkan S2. Atau teman kalian sudah punya anak dua, tiga hingga empat, sedangkan kalian sudah menikah lebih lama tapi satu saja belum punya. Lagi-lagi, semua hanya perkara waktu. Ada hikmah di balik semua kejadian, tinggal kita mau memaknainya atau tidak.
Saya sungguh yakin, jika kita mau memaknai hakikat waktu dan kesabaran, maka ketika waktu yang sebenarnya tiba akan terasa lebih manis dan indah. Sebab kita tidak akan bisa merasakan indahnya pertemuan, sebelum merasakan perihnya penantian. Sebab semua akan mendapatkan bagiannya pada waktunya. Semua akan indah pada waktunya. Tuhan bersama saya, kamu, dan kita semua yang sabar menunggu takdir waktu yang telah digariskan tiba. Aamiin….
 
[source]
When you try your best but you don’t succeed
When you get what you want, but not what you need
When you feel so tired, but you can’t sleep
Stuck in reverse….
And the tears come streaming down your face
When you lose something you can’t replace
When you love someone but it goes to waste
Could it be worse?
Lights will guide you home
And ignite your bones
And I will try to fix you
Fix You (Coldplay)

Solo, 24 Januari 2017

Kamis, 10 Maret 2016

Sukses = 10.000 Jam Terbang + Semesta Mendukung

16:00 0 Comments

[source]
Beberapa hari lalu, saya baru saja menyelesaikan salah satu buku Malcolm Gladwell yang tidak kalah keren dari Tipping Point dan Blink. Yup, Outliers. Mungkin sudah banyak yang tahu dengan buku ini, karena sudah beredar di Indonesia sejak tahun 2009. Berbeda dengan Tipping Point yang mengulas tentang fenomena getok tular atau Blink yang membahas tentang intuisi dan rapid conclusion, Outliers mengulas tentang fenomena kesuksesan sejumlah orang terkenal.
Seperti kebanyakan buku-buku Malcolm Gladwell lainnya, Outliers mampu menjabarkan fakta tentang kesuksesan yang sangat insightful bagi pembacanya. Saya sampai tercengang-cengang dengan kelihaian penulis dalam memaparkan analisisnya berdasarkan sejumlah data dan fakta penelitian. Semua peristiwa yang dipaparkan saling berkesinambungan satu sama lain sehingga mencipta sebuah hubungan sebab akibat yang runtut.
Dalam statistik, mungkin sudah banyak yang familiar dengan istilah outlier. Ya, outlier dalam statistik berarti sebuah nilai yang berbeda dibanding dengan contoh lainnya. Bisa diartikan bahwa outliers adalah sekelompok entitas yang unik dan berbeda.
Kisah dalam Outliers ini dibuka dengan kisah aneh di sebuah tempat bernama Roseto. Awalnya, Roseto adalah nama sebuah desa di Italia, namun pada abad ke-19, penduduk Roseto mulai melakukan migrasi ke Amerika Serikat. Mereka menempati Pennsylvania dan mendirikan sebuah kota bernama Roseto pula. Nah, pada tahun 1950-an, seorang dokter bernama Stewart Wolf lah yang pertama kali menemukan keunikan pada penduduk Roseto. Pasalnya, ketika dokter Wolf mengisi sebuah seminar di Roseto, seorang dokter di sana bercerita bahwa selama tujuh belas tahun lamanya, dia tidak pernah menangani pasien jantung di Roseto. Padahal pada tahun 1950-an, penyakit jantung merupakan penyakit yang sulit dicegah dan disembuhkan karena obat penurun kolesterol dan semacamnya tersebut belum ditemukan. Menurut dokter Wolf, pada zaman itu sungguh aneh apabila tidak ada dokter yang belum pernah menangani pasien jantung. Jadi, angka kematian di Roseto bukan disebabkan oleh penyakit jantung, penyalahgunaan alkohol, penyakit lambung, kemiskinan, atau penyakit kronis lainnya, akan tetapi hanya perkara mereka sudah uzur saja, memang sudah waktunya.
Nah, akibat dari fenomena tersebut, dokter Wolf pun tertarik untuk melakukan penelitian pada penduduk Roseto. Pertanyaan yang terus bergaung dalam benak dokter Wolf adalah apa yang menyebabkan penduduk Roseto sedemikian sehatnya di tengah semakin banyak bermunculan penyakit-penyakit baru. Akhirnya, terjawab sudah segala tanya dan keanehan yang membuat penasaran itu. Rahasia sehat dari penduduk Roseto adalah bukan karena pola makan penduduk Roseto yang justru lebih banyak mengandung kalori ataupun perilaku olahraga mereka. Jawaban mencengangkan itu ternyata bukanlah hal yang bersifat fisik. Rahasia di balik Roseto terkuak ketika dokter Wolf dan partnernya, Bruhn, berjalan-jalan di Roseto dan menemukan perilaku penduduk Roseto yang saling berkunjung satu sama lain, berhenti untuk saling menyapa dan mengobrol dalam bahasa Italia, atau memasak makanan untuk tetangganya di halaman belakang.
Well, that’s a kind of silaturahim, right?
Sampai di sini saya pun tercengang-cengang dengan fakta penelitian tersebut. Pikiran saya pun berkelana mengingat salah satu materi kuliah Psikologi Sosial yang pernah disampaikan oleh dosen saya semester lampau. Yup, tentang perilaku silaturahim dan hubungannya dengan kesehatan fisik. Bedanya, kisah yang diceritakan dosen saya terjadi di sebuah desa di Jepang, di mana penduduknya juga memiliki usia harapan hidup yang lebih tinggi akibat dari budaya srawung dengan tetangga sangat terjaga. 
[source]
That’s why, Rasulullah pun pernah bersabda bahwa barangsiapa yang menjaga silaturahim maka akan dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rezekinya. See? Ternyata kalimat dipanjangkan umur itu memang benar-benar bermakna ‘panjang umur’ secara harfiah. Begitu pula dengan dilapangkan rezekinya, tentu sudah banyak yang familiar dengan istilah ‘memperluas jejaring pertemanan’, bukan? Nah, menyambung silaturahim merupakan salah satu sarana memperluas jejaring pertemanan. Lantas, efeknya adalah pintu-pintu rezeki juga akan terbuka lebar. Rezeki tidak melulu masalah pekerjaan, mendapat jodoh juga termasuk mendapat rezeki, kan? Halah…
Sudahlah, lebih baik skip ke bahasan selanjutnya saja, deh. Hehehe.
Nah, sebenarnya bahasan utama Outliers bukan masalah Roseto dan silaturahimnya saja. Seperti yang sudah dijelaskan di atas, bahwa Outliers berbicara tentang kesuksesan yang hanya didapatkan oleh beberapa gelintir berbanding jutaan orang di Amerika Serikat. Salah satu yang mengherankan adalah teori yang diejawantahkan Malcolm Gladwell dalam memandang sebuah kesuksesan itu sendiri. Gladwell memandang bahwa kesuksesan sejatinya bukan hanya semata-mata karena kerja keras seseorang itu saja, seperti yang sering digaungkan dalam buku-buku motivasi atau autobiografi orang-orang sukses. Faktor ‘semesta mendukung’ juga memiliki andil yang besar dalam membentuk sebuah kesuksesan pada sejumlah orang tersebut. 
Salah satu yang mencengangkan adalah teorinya tentang kesuksesan dipengaruhi oleh bulan dan tahun kelahiran. Ini bukanlah perkara hitung-hitungan semacam primbon, numerologi, atau hal metafisik lainnya. Akan tetapi, teorinya tersebut dikaitkan dengan kondisi historis dan peristiwa besar apa saja yang terjadi ketika orang tersebut dilahirkan hingga akhirnya mereka menginjak usia 20 tahunan.
Seperti dalam teori fase perkembangan manusia, usia 20-an merupakan masa dewasa awal. Seseorang yang berada di masa dewasa awal biasanya sedang gencar-gencarnya mengeksplorasi minat dan lingkungan sekitarnya. Masa pencarian karier dan keinginan untuk berkembang pesat terjadi pula pada masa ini. Nah, menurut Gladwell, jika ketika seseorang menginjak usia 20 tahun, lalu pada saat itu ia sedang memiliki minat mendalam terhadap sesuatu yang berprospek tinggi, kemudian ia semakin memperdalam minat tersebut, maka kesuksesan pun perlahan menuju genggamannya.
Oke, mungkin tampak terlalu rumit sekali jika dijelaskan tanpa menggunakan contoh. Jujur saja, saya membaca penjelasan di atas juga pusing sendiri. Hahaha.
Contohnya, seperti yang dijabarkan Malcolm Gladwell pada kisah kesuksesan Bill Gates, sang bos Microsoft; Paul Allen, co-founder Microsoft; Bill Joy, dewa perangkat lunak; dan juga Steve Jobs, bos Apple Inc. Jika ditelisik secara mendalam, para pembesar dunia software tersebut dilahirkan pada rentang tahun 1953 hingga 1956.
Lantas, ada apa dengan tahun tersebut?
Dalam sejarah perkomputeran dunia, tahun 1975 adalah tahun kebangkitan awal dunia komputer pribadi. Dulunya, komputer masih terlampau besar, mulai tahun 1975 komputer sudah mulai sedikit diperkecil ukurannya. Nah, jika para pembesar dunia software tersebut dilahirkan pada rentang tahun 1953-1956, tentu ketika tahun 1975 mereka sudah menginjak awal 20-an, bukan?
Nah, seperti yang sudah dituliskan di atas, bahwa usia 20-an merupakan masa emas seseorang dalam mencari bekal pengetahuan sebanyak-banyaknya untuk mengembangkan minat dan keahliannya. Sangat tepat sekali momennya bagi mereka, apalagi minat mendalam mereka terhadap teknologi perangkat lunak. Tahun tersebut mereka manfaatkan dengan sebaik-baiknya dengan semakin memperdalam minatnya dalam dunia komputer. Hingga tahun-tahun mendatang, akhirnya mereka sudah mencapai target minimum untuk menjadi seorang ahli. Ya, 10.000 jam latihan!
Maka, rumus sukses tidak hanya karena dipengaruhi oleh faktor ‘semesta mendukung’ saja, namun juga perlu ditambah dengan faktor ‘10.000 jam latihan’.
Anyway, kisah 10.000 jam latihan menuju kesuksesan ini bukanlah sebuah mitos belaka. Nyatanya, semua ahli di dunia dari berbagai latar belakang, mulai dari musisi, aktor, penulis, ahli software, ahli matematika, atlit bulutangkis, pemain catur, penjahat kelas kakap, dan ahli-ahli lainnya, tentu telah mengarungi apa yang dinamakan ’sepuluh ribu jam terbang’.
Ada kisah dalam buku tersebut yang berkaitan dengan fenomena sepuluh ribu jam terbang, yaitu kisah perjalanan karir salah satu band paling legendaris di dunia, The Beatles. Seperti yang kita tahu, The Beatles adalah grup band yang sohor di zaman ketika belum ditemukannya Youtube, Twitter, ataupun Instagram. Untuk mendulang kesuksesan sebagai musisi pada masa itu, tentu tidak seinstan masa sekarang. The Beatles tentu tidak meng-upload video performa mereka di Youtube, ataupun merekam suara mereka di Soundcloud, lantas menunggu viewers, likes, dan subscribers mereka merangkak naik hingga menjadikan mereka tenar. Tidak. Justru, perjuangan The Beatles bermula dari satu klub ke klub lain, hingga akhirnya mereka terdampar di sebuah klub di Hamburg, Jerman. Sejak saat itu, mereka bekerja selama delapan jam setiap hari. Kerja dan latihan delapan jam sehari selama tujuh hari dalam seminggu dari tahun 1960 hingga 1962.
Lantas, lihatlah The Beatles sekarang. Siapa yang tidak kenal mereka, karyanya, dan prestasi mereka? Itulah salah satu efek dari 10.000 jam latihan, menjadikan mereka tidak semata musisi musiman Youtube atau Instagram. Karya mereka senantiasa bergema meskipun keberadaan mereka sudah berkalang tanah.
Nah, sesuai dengan kaidah 10.000 jam terbang, untuk menjadi sukses memang perlu usaha yang lebih keras, lebih banyak, dan lebih mendalam dibandingkan dengan kebanyakan orang lainnya. Untuk yang bagian ini, seperti yang sering digaungkan dalam buku-buku motivasi kesuksesan, sangat berbanding lurus.
Ya, sebenarnya banyak sekali printilan-printilan fakta mencengangkan mengenai kesuksesan yang dijabarkan Malcolm Gladwell dalam Outliers ini. Selain faktor ‘semesta mendukung’ dan ’10.000 jam terbang’, ternyata ada faktor lain yang turut menentukan kesuksesan seseorang, terutama dalam hal keuletan dan ketangguhannya. Apa itu? Faktor tersebut adalah faktor latar belakang budaya dan latar belakang historis keluarga. Jika saya jabarkan satu-satu dengan panjang lebar, tentu akan semakin membosankan jadinya postingan ini.
Maka, bagi yang penasaran, lebih baik baca Outliers dari awal sampai akhir. Saya berani bertaruh, kalian akan jatuh cinta berat dengan buku ini karena penyajiannya yang sangat membuka wawasan dan tidak membosankan. Ya, tentu saja tidak seperti buku diktat kuliah yang banyak bertebaran kutipan menjengkelkan seperti ini;
Menurut Spears (2009) bahwa blahblahblah dalam blahblahblah merupakan blahblahblah (dalam William, 2012).
Kemudian ingat skripsi. Ah, sudahlah...
Tentu saja, dibanding membaca buku diktat kuliah, apalagi jurnal ilmiah bahan skripsi, lebih betah membaca seribu lembar buku nonfiksi semacam Outliers ini, kan?
Halah, tenane, Rif? :p
Yup, buku ini sangat inspiratif sekali. Terutama di bab ‘Kaidah 10.000 Jam’ itu, sungguh menampar saya sekeras-kerasnya.
Saya tertampar, Mas! Saya tertampar! *mulai drama, lalu gaje*
Ternyata, memang saya perlu usaha lebih keras, lebih giat, lebih ulet, dan lebih pantang menyerah lagi untuk menggapai apa yang saya inginkan di masa depan kelak. Mumpung masih 21 tahun juga, pikiran masih cemerlang, mana jomblo pula, kapan lagi mengeksplorasi diri sebesar-besarnya hingga akhirnya menemukan kebermaknaan hidup dalam sebuah kepuasan menjadi ‘berarti’ sebagai makhluk eksistensial hablablablah…. *lalu otak mulai korslet*
Hmm… daripada postingan ini semakin nggak jelas juntrungannya, lebih baik saya akhiri saja. Sampai jumpa di postingan selanjutnya… :)
[source]

Rabu, 09 Desember 2015

Budaya Main Serobot

17:17 2 Comments

Sebagai orang yang lahir dan besar di negeri gemah ripah loh jinawi ini, pasti kita sudah sangat akrab dengan perilaku sebagian besar masyarakat Indonesia satu ini, budaya main serobot. Sering sekali kita mendapati antrian yang tidak tertib, entah itu tidak berjajar rapi atau ada yang dengan muka badaknya memotong antrian orang. Saya pernah beberapa kali menjadi korban serobot antrian, ketika mengantri di kasir swalayan dan ketika mengantri membeli bensin. Kesal, tentu saja. Sayangnya, saya adalah tipe orang yang terlalu nerimo dan tidak suka bikin ribut, jadilah saya diam saja. Rasanya ingin marah sambil menyumpah-serapahi juga, tapi saya masih terlalu waras untuk meledak-ledak impulsif di ruang publik.
source: www.summareconserpong.com
Kejadian-kejadian tersebut memang sering kita temui di mana pun selama kita masih tinggal di Indonesia. Tidak hanya serobot dalam hal mengantri, serobot dalam hal berkendara di jalan raya pun bukan hal aneh di negeri kita tercinta ini. Keselamatan diri sendiri dan orang lain seolah menjadi barang murahan, sehingga bisa seenak jidat digadaikan demi mengejar hal-hal kurang esensial lainnya. Seperti peristiwa kecelakaan yang sedang viral akhir-akhir ini. Mulai dari kecelakaan mobil sport Lamborghini yang menelan dua korban jiwa di Surabaya sampai kecelakaan antara metromini dengan kereta Commuter Line di Jakarta Barat. Dua hal tersebut menjadi contoh bahwa sudah mendarah dagingnya budaya main serobot sana serobot sini hingga mengakibatkan kerugian besar bagi orang lain.
Lantas, saya pun jadi teringat dengan perkataan salah seorang teman saya, sebut saja Nisa (memang nama asli, hehehe). Ketika itu, kami sedang terlibat percakapan tentang budaya naik kendaraan antara orang Solo dan Jakarta. Tibalah pada sebuah celetukan Nisa yang nempel di kepala saya dan selalu terngiang ketika saya mengendarai motor:
“Sempet heran juga, sih, kenapa masih banyak orang Indonesia yang masih bisa hidup dengan kondisi jalan raya kayak gini.”
Benar juga, pengendara kendaraan pribadi maupun kendaraan umum di Indonesia sangat sangat sangaaaaattt tidak bersahabat dengan sesama pengguna jalan lainnya. Boro-boro bersahabat dengan sesama pengguna alat transportasi lain, pejalan kaki dan pengguna sepeda saja sering didiskrimanasi. Saya pun ingat momen ketika mengendarai sepeda di jalan raya, meskipun sudah di paling pinggir dan hampir nyemplung comberan, tetap saja pengendara mobil dan motor iseng mempermainkan klaksonnya. Huft, masya Allah!
Ya, saya juga mengakui bahwa saya juga pernah mendiskriminasi pejalan kaki dan pengguna sepeda. Namun, ketika saya sudah mencoba berada di posisi pejalan kaki dan pengguna sepeda itu, saya pun mulai menurunkan egoisme saya, mencoba memaklumi dan memberi kesempatan sesama pengguna jalan umum lainnya. Lagipula, jalanan umum ‘kan milik negara, bukan milik sendiri yang lain sewa.
Ada juga cerita yang pernah saya baca di sebuah buku catatan perjalanan. Suatu ketika si penulis pernah berkendara bersama dengan bos besarnya yang orang Belanda. Ketika di Indonesia, bos Belanda itu tidak berani mengendarai mobil sendiri, selalu ditemani oleh supir. Tentu saja, mengendarai kendaraan di Indonesia harus punya stok sembilan nyawa. Memang, masyarakat Indonesia adalah masyarakat tertangguh abad ini, yang masih bisa hidup di tengah kondisi carut marut transportasi seperti ini.
source: www.radarcirebon.com
Lalu, sebenarnya apa sih yang menyebabkan budaya main serobot sana serobot sini yang sangat menjengkelkan ini? Kalau boleh akal pikiran saya yang sempit ini menganalisa, mungkin ini akibat dari banyaknya peristiwa-peristiwa besar yang sering terjadi di Indonesia. Mulai dari merasakan betapa keras dan pahitnya hidup ratusan tahun menjadi rakyat jajahan hingga krisis moneter tujuh belas tahun silam. Begitu besarnya jumlah populasi masyarakat Indonesia kerap kali berbanding terbalik dengan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan. Ibaratnya, permintaan lebih besar dari penawaran, kebutuhan lebih besar dari ketersediaan. Sehingga, terkadang satu sama lain perlu berlomba-lomba untuk bisa survive supaya perut sendiri bisa terisi. Jatah yang limited edition tersebut memang terkadang membentuk karakter kita menjadi agak terlalu kompetitif. Bagaimana tidak, kalau kita hanya menunggu saja pasti akan kehabisan jatah, tidak kebagian. Padahal, sebenarnya butuh. Jadi serba salah, bukan? Berbeda dengan negara lain yang angka pertumbuhan penduduknya nyaris 0%, tentu saja jumlah penduduknya juga tidak sebesar Indonesia. Biasanya pun mereka juga berlimpah sumber daya sehingga selalu cukup tersedia stoknya. Bisa dipastikan bahwa jatah untuk masing-masing individu akan bisa terpenuhi, bukan?
Hm, sebenaranya ini hanya analisis saya yang cetek dan kurang banyak data pembanding juga, sih. Boleh dibantah, boleh dikritik juga. Hehehe. Lagipula, saya memandang ini dari kerangka berpikir saya yang lebih sering mengaitkan suatu persoalan dari kejadian masa lalu (kemudian berasa ngubek-ngubek Psikoanalisis).
Jika dihubungkan dengan ketidakpastian atau uncertainty, dunia ini memang penuh peristiwa yang tidak pasti, uncertainty events. Mungkin, kebiasaan orang Indonesia untuk main serobot itu adalah salah satu cara dalam mengatasi ketidakpastian. Sebagai orang Indonesia, kita sangat terlatih untuk menjadi orang yang hidup mentah dalam ketidakpastian. Kalau ada yang sering membuka situs www.geert-hofstede.com pasti sudah pernah mencoba membandingkan budaya antara satu negara dengan negara lain. Salah satu indikator dalam perbandingan tersebut adalah uncertainty avoidance. Jika dibandingkan dengan Jepang, jelas bahwa Indonesia memiliki kemampuan menghindar dalam ketidakpastian yang kalah jauh. Ya, sebagai orang Indonesia yang sejak lahir hingga dewasa tinggal di Indonesia, tentu akan akrab dengan ketidakpastian-yang-tidak-dicoba-untuk-dihindari tersebut. Mulai dari jam datang-berangkat kereta api, bus, atau pesawat yang lebih sering tidak pastinya karena lebih sering delay, sampai menghindari ketidakpastian semacam bencana alam. Jelas beda lah jika dibandingkan dengan negara dunia pertama. (Oke, pembandingnya memang terlalu njomplang, sih. Hehehe).
Hei, namun dengan seringnya kita hidup dalam ketidakpastian tersebut, selain memiliki dampak negatif suka main serobot, ada pula dampak positifnya. Kita menjadi tidak tergantung dengan keadaan serba enak, kita akan mencoba untuk mencari celah, semakin lama akan semakin mengasah daya kreativitas kita. Tentu saja, karena kita sudah terlatih hidup dalam keadaan serba susah, kita menjadi bisa memutar otak untuk mencari cara bagaimana keluar dari keadaan tersebut. Jadi, hidup dalam negara berbudaya kurang antisipatif dalam mengatasi peristiwa yang penuh ketidakpastian itu tidak selamanya buruk, kok. Hahaha. (Sekali lagi, ini berdasarkan analisis abal-abal saya yang cetek parah).
Apapun keadaannya, saya tetap cinta Indonesia. Meskipun rupiah melemah, harga bensin merangkak naik, hingga tarif dasar listrik mulai ikut menanjak, saya tetap cinta Indonesia. Ya, walaupun kemarin sempat marah-marah juga dengan keadaan itu. Hehehe.
 Ya, daripada capek-capek mengkritik, menghujat, dan menyumpah-serapahi keadaan negeri yang permasalahannya saling sengkarut ini, lebih baik mulai bergerak menjadi agen-agen pembaharuan ke arah yang lebih baik. Masih ada harapan, tentu saja. :)

Selasa, 08 Desember 2015

TEDx UNS: Symphony of Ideas

15:15 0 Comments

Lama sekali rasanya saya tidak pernah posting tentang event atau seminar yang saya ikuti. Sebenarnya saya ingin cerita tentang bedah buku Lautan Langit-nya Mas Kurniawan Gunadi Oktober lalu. Tapi, akibat terlampau capek setelah seharian bolak-balik kemana-mana, alhasil pun jadi lupa. Hehehe. Yup, lantas akhirnya ada sebuah event yang mau tak mau harus saya tuliskan untuk mengabadikan. Maklum lah, saya memang agak pelupa. Hehehe. Yup, seperti judulnya, event yang saya ikuti ini adalah TEDx. Bagi yang belum tahu, TEDx adalah event TED yang dibikin secara independen. TEDx di sini bukan terinspirasi dari film TED yang dibintangi Mark Wahlberg itu, malah lebih dulu ada sebelum film TED rilis. Atau jangan-jangan, film TED itu terinspirasi dari TED ini. Halah. Saya juga sebenarnya tidak tahu, sih. Hehehe. Nah, mungkin bagi yang ingin tahu lebih jelas dan lengkap bisa kunjungi ini.
Ahad, 6 Desember 2015 lalu acara TEDx diselenggarakan di aula FH UNS. Acara TEDx ini sebenarnya memiliki konten yang hampir serupa dengan seminar pada umumnya. Akan tetapi, kemasan yang ditampilkan memang agak sedikit berbeda. Tidak hanya itu pula, pembicaranya pun tidak dibatasi tema tertentu seperti seminar-seminar pada umumnya. Pun, TEDx ini 100% free, tanpa dipungut biaya asal bisa lolos seleksi call for audience. Hehe. Entahlah, setelah sebelumnya saya iseng mendaftar TEDx, beberapa hari kemudian nama saya pun tiba-tiba ada dalam list audience TEDx. Wah, lumayan. Saya bisa memuaskan rasa penasaran saya yang sebelumnya tidak tahu apapun mengenai TEDx.
Dalam TEDx ini mengusung tema Symphony of Ideas, di mana sejumlah pembicara dihadirkan sebagai penyebar ide-ide pembaharuan. Jadi, pembicara yang dihadirkan bukan orang sembarangan. Mereka adalah para agent of change di bidang dan lingkungannya masing-masing. Ada sekitar delapan pembicara yang mengisi TEDx, masing-masing memiliki waktu cukup singkat saat memperkenalkan gagasan-gagasan mereka. Acara ini dibagi dua sesi. Sesi pertama terasa lebih panjang karena ada lima pembicara, meskipun waktunya singkat sekali. Sesi kedua yang dibuka setelah ishoma, diisi oleh tiga pembicara.
Empat dari delapan pembicara TEDx tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi diri saya pribadi. Kesan yang mereka timbulkan tersebut mungkin lebih dikarenakan konten yang mereka usung lumayan related pada diri saya. Salah satu yang paling nempel adalah gagasan Komunitas Baca Dua Lima yang digagas oleh Mas Syukri. Iya, saya sudah lama tahu beliau dan saya juga sudah tahu Komunitas Baca Dua Lima itu apa. Tentu saja, karena teman-teman saya yang anak Kedokteran, secara bersamaan memasang twibbon di display picture sosial medianya yang berisi opini setelah mengikuti gerakan baca buku dua puluh lima halaman per hari. Sesuai namanya, Komunitas Baca Dua Lima adalah gerakan yang digagas beliau untuk mengajak masyarakat supaya mau meluangkan waktunya dalam sehari untuk membaca buku minimal dua puluh lima halaman. Ini adalah sebuah gerakan yang sangat keren, menurut saya. Gerakan ini berangkat dari suatu fenomena budaya membaca masyarakat Indonesia yang sangat rendah sekali. Nggak usah gede-gede selingkup Indonesia, deh, selingkup Solo saja budaya membacanya masih cetek. Gagasan tersebut merupakan sebuah angin segar tersendiri dalam menghadapi fenomena semacam itu. Sangat berguna menghidupkan kembali budaya membaca buku yang sudah hampir tergerus oleh semakin merajalelanya teknologi dan internet penyedia segala bentuk kemudahan.
Tersihir, saya merasa sangat related dan serta merta menyetujui data dan fakta yang dipaparkan. Saya juga punya impian sama, membudayakan membaca. Sebagai pembaca buku minded, saya memang getol sekali untuk menyerukan wajib baca buku dalam seminggu. Bahkan, semenjak kuliah, saya mulai lebih getol lagi menjejali diri dengan berbagai macam genre buku. Tidak terbatas pada fiksi, namun juga nonfiksi. Lalu akhir-akhir ini pun saya malah sering kecantol dengan buku nonfiksi yang international best-seller. Hehehe.
Yup, pada intinya membaca adalah sebuah kebiasaan (habits). Supaya gemar membaca kian membudaya, maka kebiasaan membaca perlu dimulai dari diri sendiri serta mulai dari sekarang. Bagi para orang tua muda, perlu sekali menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anaknya sejak kecil. Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya adalah Muslim tentu perlu sekali untuk membudayakan membaca sedari belia. Lagipula, wahyu pertama yang diberikan Allah kepada Rasulullah melalui perantara malaikat Jibril adalah Surat Al-‘Alaq, di mana kata pertama pada ayat pertamanya berbunyi Iqra’–Bacalah! Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Jadi, membaca itu sudah seperti kewajiban, bukan?
Pembicara kedua yang membuat saya terjerat lagi adalah Pak Eri Koeswoyo. Beliau adalah founder dari Dompet Dhuafa, seorang social entrepreneur yang keren, menurut saya. Pemaparan tentang kondisi Indonesia saat ini beserta quotes keren yang terselip dalam setiap kalimat yang terlontar dari beliau tersebut sukses mencuri sebagian besar fokus saya. Tema yang beliau bicarakan berkisar tentang pendidikan karakter. Masalah terbesar bagi Indonesia adalah kurangnya karakter jujur dan disiplin. Banyak sih, orang jujur di Indonesia, namun orang yang amanah masih sedikit. Pemimpin yang tidak amanah saja masih banyak. Lalu, ada satu quotes agak nge-jleb yang beliau paparkan:
“Sebuah negara yang belum disiplin, jangan bercita-cita menjadi negara maju.”
Ya, sebelum mendisiplinkan orang lain, mulailah budaya disiplin itu dari sendiri. Mulai dari yang terkecil saja, deh, misal berangkat kuliah jangan sampai lebih lambat dari dosen. Perkara si dosen datang terlambat tidak perlu diurusin, malah bagusnya jangan dicontoh. Kita kan mahasiswa, sudah pandai membedakan mana yang baik dan mana yang baruk. Masa hanya datang kuliah saja telat? Juga, jangan lupa, kalau janjian ketemuan dengan teman, entah hanya hangout atau ada agenda rapat, usahakan datang tepat waktu. Sesungguhnya, ketika kalian datang tepat waktu, kalian sudah menghargai diri sendiri. Namun, apabila kalian datang terlambat, tidak disiplin waktu, kalian sedang merugikan orang lain karena telah dengan semena-mena membuang-buang waktu mereka. Padahal, jika tidak menunggu kalian yang hobi terlambat, waktu tersebut bisa mereka manfaatkan untuk melakukan hal yang lebih produktif, bukan?
Pembicara selanjutnya yang menurut saya keren adalah Ibu Endah Laras. Mungkin, kalangan seniman sudah banyak yang mengenal beliau ini, tapi masih banyak orang yang belum mengenal beliau. Ya, Ibu Endah ini adalah seorang seniman yang sangat multitalenta. Pengalaman berkesenian sejak SMP telah membawanya pergi menjelajah negara-negara Eropa dan Asia dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Indonesia. Saya sempat terkesima dengan kepiawaian beliau dalam menyanyikan berbagai genre lagu khas Indonesia. Mulai dari tembang Macapat Jawa, lagu Sunda dengan cengkok khas sinden Sunda, lagu Banyuwangi yang khas dengan falsetto ala lagu Jawa Timur-an, sampai campursari pun bisa dibawakannya dengan apik. Suaranya yang bening serta mampu menjangkau nada-nada tinggi membuat telinga saya serasa dimanjakan. Sampai ketika Ibu Endah selesai bercerita sambil menyanyi semua hadirin bertepuk tangan riuh, seolah menyatakan sangat puas dengan penampilan Ibu Endah yang menghibur sekaligus inspiratif.
Pembicara berikutnya yang membuat saya terbawa juga adalah Bapak Suyudi. Beliau adalah founder Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS). Ya, SABS ini semacam antimainstream di antara pendidikan formal mainstream lainnya. Sebagaimana namanya, sekolah alam ini berfokus dengan metode pembelajaran dan pendidikan back to nature. Tidak melulu hanya berkutat pada teori-teori, namun sekolah ini mengajak siswa untuk mengeksplorasi dunia sekitarnya sambil belajar. Jadi, sekolah menjadi tidak membosankan, malah terasa lebih menyenangkan. Meskipun sebenarnya mereka sedang belajar, namun mereka melakukannya seperti bermain.
Pada dasarnya, pendidikan itu bukan melulu harus hapalan teori lalu kemudian diujikan di Ujian Tengah Semester atau Ujian Akhir Sekolah saja, lantas ketika ujian usai, ilmu yang susah payah dihafalkan pun hilang terlupakan, tak berbekas. Inilah salah satu problem bagi sebagian besar pelajar di Indonesia. Pendidikan saat ini memang hanya menitikberatkan pada menghafal data dan fakta informasi saja, tanpa dibarengi dengan pendidikan karakter serta pembelajaran yang menuntut analisis dan sintesis. Padahal, pandai itu bukan hanya bisa hafalan saja, pandai itu juga harus bisa menganalisis masalah serta mencari solusi terbaiknya. Kalau kata Bapak Suyudi, sih:
“Manusia diharapkan tumbuh untuk berpikir dan memikirkan sekitarnya.”
Sayangnya, kurikulum Indonesia masih sedikit mewajibkan anak didiknya untuk bisa berpikir analitis. Hasil tes PISA yang memasukkan Indonesia dalam kategori nilai paling rendah membuktikan bahwa kemampuan menganalisis soal siswa Indonesia jauh di bawah rata-rata siswa di negara lainnya. Ya, salah satu indikator dalam tes PISA yaitu kemampuan berpikir analisis memberikan nilai rendah bagi siswa Indonesia. Sedih, kan?
Tentang kemampuan analisis ini, saya pun jadi teringat celoteh dosen saya yang gemar sekali memberi tugas membuat esai dan paper tentang suatu masalah. Beliau mengatakan bahwa, sebagian besar analisis pada tulisan kami tersebut sangat kurang. Ya, saya pun mengakui bahwa kami terlalu terjebak pada sistem pendidikan hafalan sejak SD hingga SMA. Kami sudah terbiasa menghafal serta menjawab pertanyaan berdasarkan memori hafalan
Coba contoh Finlandia, yang mewajibkan siswanya untuk membaca minimal 300 halaman buku per-tahun. Indonesia, masih nol halaman per-tahun. Padahal, membaca buku itu juga salah satu cara untuk bisa mengasah daya berpikir kritis, analitis, dan sintesis. Jadi, sebenarnya banyak sekali, lho, permasalahan yang terjadi serta menuntut untuk segera diperbaiki. Semua faktornya hampir saling berkesinambungan satu sama lain. Mungkin, memang saatnya kita, para pemuda-pemudi Indonesia, menjadi agen perubahan dalam mengurai problema negara yang masih saling sengkarut ini.
Selain menghadirkan berbagai kalanganpembicara, acara ini juga memutar beberapa video TED talks dari negara lain. Salah satu yang paling berkesan adalah video TED talks seorang violinist asal Korea Selatan, Park Ji-hae, yang memainkan biolanya dengan sangat energik dan penuh penghayatan. Permainan biolanya itu menceritakan tentang kehidupan dirinya yang pernah dirundung depresi berat. Sampai saya sempat berkaca-kaca–bahkan, sudah hampir menangis–mendengarkan nada ballad yang berkesan depresif pada setiap notasinya. Saya hanya mampu merasakan saja, karena saya tidak begitu paham musik. Pokoknya, keren sekali!
Acara TEDx tersebut ditutup pada pukul 15.00 WIB. Banyak kesan dan ide-ide yang terejawantah dalam acara ini. Pembicara yang beragam latar belakang pendidikan, beragam keahlian, dan beragam impian, berusaha mentransfer gagasan-gagasan pembaharuannya pada para calon penerus bangsa. Yup, ini merupakan acara pertama TEDx di Solo, semoga di acara selanjutnya semakin lebih keren lagi. Hm, mungkin di acara TEDx tahun depan bisa mengundang dr. Gamal Albinsaid, seorang dokter muda yang berhasil mengatasi permasalahan lingkungan serta menciptakan lapangan pekerjaan akibat sampah.
Okay, sekian postingan saya kali ini. Sampai jumpa di postingan selanjutnya….:)
source: www.ted.com
P.S.: Saya tidak pernah bosan untuk meneror banyak orang dengan quotes andalan saya:
“Ayo membaca! Sudah baca bukukah kalian hari ini?”