Tampilkan postingan dengan label Metro TV on Campus 2013. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Metro TV on Campus 2013. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2013

METRO TV ON CAMPUS #3: MATA NAJWA ON STAGE!

18:00 0 Comments


Gemeletuk bulir hujan pertengahan Desember berirama menghantam atap rumah. Tetes demi tetesnya beradu saing dengan suara katak yang bernyanyi riuh menghiasi malam bergerimis yang lengang…
EH!! SKIP!
Ini kok berasa kayak mau bikin cerpen? Oke, maaf, pembukaannya konyol badai hehehe.
Aduh, memang karena ini minggu-minggu ujian akhir semester jadi saya mau nulis sesuatu tentang event ini selalu saja ter-pending. Semoga saja tulisan saya tidak terlalu basi untuk dibaca, hehe. Jadi, di postingan saya kali ini adalah lanjutan dari Metro TV on Campus #2, postingan sebelumnya. Nah, kali ini saya ingin bercerita pengalaman suka duka saya pada hari ketiga (hari terakhir) dari rangkaian acara roadshow Metro TV on Campus ini.
Sabtu, 14 Desember 2013 kemarin, adalah hari terakhir sekaligus puncak dari rangkaian acara Metro TV on Campus UNS 2013. Acara terakhir yang ditunggu-tunggu oleh saya dan jajaran civitas akademika UNS (lebay!) ini merupakan acara Mata Najwa on Stage yang menghadirkan narasumber-narasumber yang spektakuler. Selain itu, Metro TV juga mengundang salah satu grup musik duo suami istri yang terkenal banget. Penasaran kan? Baca postingan saya ini sampe selesai dan rasakan sensasinya (semoga nggak pingsan atau muntah, ya, pas baca tulisan saya, hehe).
Hari hectic 14 Desember itu dimulai pada pukul 09.00. Pukul 09.00 saya sudah mulai bersiap-siap untuk berangkat ke Auditorium UNS. Saya sudah bersiap-siap nyetrika baju, matching-matching-in baju (kalau temen sekampus saya pasti tahu deh seorang Musrifah kalau ke kampus jaraaaaaannggg banget bahkan hampir tidak pernah pakai baju yang matching. Selalu tabrak warna kayak jemuran berjalan *who cares? Golongan darah O sih hahaha), milih baju warna ungu-pink cetar membahana yang seakan memberikan kesan cewek girly (Euuuwwwhh… biasanya saya itu agak maskulin, tapi entah kenapa bisa feminim juga -_-), tak lupa setrikanya pakai Kispray, kerudung ungu, baju hitam (biar nggak ungu-pinkers berjalan jadi harus ada salah satu yang gelap, hehe), kaos kaki belang biru-putih-abu-abu kayak permen Blaster). Tak lupa nyiapin tas hijau imut kecil yang isinya alat tulis, tiket Metro TV on Campus, dompet, charger, sama hape. Setelah mandi, baju yang habis disetrika langsung dipakai. Langsung deh, cuss ke Auditorium.
Sampai di kampus, saya hampir bingung nyari tempat parkir yang dipakai buat peserta Mata Najwa on Stage, soalnya di parkiran lembah Teknik dipakai sama acara lain. Oh, ternyata parkirnya pindah ke parkiran Fakultas Teknik. Waduh, mana jauh lagi kalau jalan kaki ke Auditorium. Ya sudahlah.
Duh, naik motor sama turun motornya susah soalnya roknya gitu… Mana ngejreng warnanya, ribet pula kalau dibuat naik motor. Jadi menyesal pakai rok itu. Mana peserta yang lainnya warna bajunya nggak ada yang lebih ngejreng dari saya lagi. Duh, pengen copot rok jadinya (Eh, jangan! Aurat!)
Setelah memarkir motor saya, akhirnya saya nungguin temen saya dulu di depan parkiran. Tak lama berselang, tampak motor teman saya memasuki area parkiran. Tada! Dua teman saya yang saling berboncengan itu pun warna bajunya juga tidak ngejreng. Saya semakin absurd saat itu…
Kami pun kemudian berjalan bersama-sama menuju auditorium, saat sampai di turunan yang menuju auditorium beberapa satpam mencegat dan berkata kepada kami:
“Mbak, masuknya lewat sana…” seraya menunjuk ke arah di mana Bank BTN kampus terletak. Ternyata oh ternyata, antrian panjang sudah mengular seperti antri nonton konser One Direction (lebay! Lebih banyak antrian penonton One Direction kaleee…). Sampe saya terbuset-buset terbengong-bengong melihat antrian dan kerumunan manusia seperti cendol memadati area antara gedung Perpustakaan sampai Auditorium. Ternyata antriannya sampai di depan Bank BTN yang terletak bermeter-meter di belakang Perpustakaan. Saya dan dua teman saya – Nisa dan Meinar (lagi) – sampai pusing menonton antrian yang panjangnya, masya Allah, kayak antrian minyak tanah langka. Tetapi akhirnya Nisa dan Meinar menyerah dan mereka memutuskan untuk makan dulu.
“Duh… kalau gini caranya nggak bisa dapet tempat di depan!” batin saya berkecamuk. Saya sudah agak putus asa lihat antrian seperti itu. Tapi demi nonton Mata Najwa saya rela, deh desak-desakan! Saya tidak akan menyeraaaahhh!!! Hwaiting! *pasang ikat kepala*
Kemudian saya pun ikut mengantri bersama dengan teman saya yang lain – Aurel, Fika, dan temannya Aurel – kami berempat mengantri dengan sabar dan saya yang cerewet ini sepanjang antrian selalu berkicau seperti burung beo yang kebanyakan makan pisang sama pepaya (?). Selama mengantri, banyak orang-orang yang menyerah dan akhirnya keluar dari antrian memilih untuk pulang. Katanya sih gara-gara panas dan capek. Banyak orang-orang yang terkena seleksi alam tersebut dan akhirnya tumbang satu persatu. Melihat orang-orang yang memilih pulang itu pendirian saya tetap tidak goyah.
“Ah, cuma panas doang, kan? Keciiiilll…” saya berusaha menyemangati diri.
Selain itu ada juga orang yang pingsan karena mengantri. Duh, duh, tahu kalo fisiknya nggak kuat masih maksain juga, itu nggak baik. Saya kan tadi pagi udah makan jadi nggak apa-apa ngantri. Pokok’e SEMANGAT! *plak!
Selama hampir setengah jam lebih, akhirnya kami sampai di depan perpustakaan di mana tempat itu adalah tempat pengecekan tiket dan registrasi. Alhamdulillah ya, sudah sampai depan perpustakaan. Kemudian kami pun menunjukkan tiket untuk pemberian snack dan kaos Mata Najwa. Anyway, yang dapat kaos hanya pendaftar yang mendapat nomor urut pendaftar dari 1 – 1500, karena saya urutan 1323 jadi masih dapat kaos! Uyeee!
Kemudian saya dan teman-teman saya tadi pun memasuki auditorium. Masya Allah! Auditorium bagian bawah PENUH-nya Subhanallah! Panitia yang berjaga di pintu menyuruh kami naik ke tribun atas, tapi di tribun atas juga PENUH! Aaaaaa! Sebenarnya masih ada tempat di luar dan sudah disediakan penutup juga, tapi SAYA NGGAK MAU DI LUAR! Karena tekad saya yang sudah membara itu akhirnya saya turun ke bawah, mencari-cari keberuntungan siapa tahu masih ada kursi kosong. Setelah melihat seantero auditorium sambil berharap menemukan beberapa kursi kosong, dan GOTCHA! Ada empat kursi kosong di belakang sendiri pojok kiri hampir nempel tembok! ALHAMDULILLAH! Sesuai dengan jumlah kami yang berempat! :)
Saya sangat mengagumi desain panggung yang dibuat mirip sekali seperti set Mata Najwa seperti biasanya. Panggung yang didominasi warna biru dengan backdrop betuliskan ‘Mata Najwa on Stage’ serta lampu panggung yang dipasang di beberapa tempat. Kemudian kursi-kursi berwarna putih untuk para narasumber dan satu kursi khusus buat Najwa Shihab serta tak lupa di tengah jajaran kursi terletak meja pendek dengan hiasan vas bunga di atasnya. Oh iya, satu lagi, lantai panggung juga mirip seperti set lantai panggung khas Mata Najwa.
Setelah itu, saya keluar sebentar dari auditorium untuk sholat Dhuhur. Usai Sholat Dhuhur kami kembali lagi ke auditorium. Sampai di sana, sang MC sudah memasuki panggung dan membuka acara kemudian acara pun dibuka dengan penampilan dari Voca Erudita lagi. Kali ini mereka menyanyikan Gundul-Gundul Pacul. Usai penampilan Voca Erudita, MC mencoba mengulur waktu juga menggunakan ice breaking yang sama seperti hari kedua (kayak gak ada ice breaking lain -_-). Alhasil, saya jadi males ngikutin gerakan MC itu.
Setelah itu ada penampilan dari Endah n Rhesa! Duo penyanyi yang merupakan pasangan suami istri yang chemistry-nya dapet banget mendapat sambutan meriah nan antusias dari seluruh penonton yang berjumlah hampir 10.000 orang itu. Endah yang merupakan penyanyi sekaligus gitaris menyanyikan lagu dengan improvisasi yang memukau serta permainan gitarnya yang tak biasa. Saya sangat terpana melihat penampilannya itu, caranya berpindah chord gitar dan menarikan jemari lentiknya dalam dawai-dawainya terlihat lihai nan cekatan. Menurut saya, cara dia memainkan gitar sangat memukau untuk ukuran seorang gitaris wanita, hehe. Sedangkan Rhesa, sangat mengimbangi permainan istrinya. Ia mampu mengiringi musik dan improvisasi lagu yang dibawakan Endah. Kalau ada dari kalian yang sudah pernah menonton konser Endah n Rhesa, pasti tahu cara Endah menyanyikan lagu seperti apa. Endah selalu memunculkan kejutan-kejutan improvisasi dalam setiap lirik dan nada yang seakan seperti dibuat dadakan. Aduh, gimana ya? Masalahnya saya bukan seorang komentator musik handal, jadi apabila dalam deskripsi saya terkesan sok tahu dan rada ngaco mohon dimaafkan. Oke lanjuuuttt…
Tak lama, beberapa menit kemudian, penampilan Endah n Rhesa usai. Mereka menutup penampilan mereka dengan mengatakan bahwa mbak Najwa Shihab sudah datang! Semua penonton langsung riuh, nggak di dalam, nggak di luar semua berdiri karena penasaran banget sama mbak Najwa itu. Terlihat dari layar besar di sebelah kanan dan kiri panggung, mbak Najwa dengan digiring beberapa satpam dan bodyguard sedang berjalan menuju auditorium dari pintu depan rektorat. Di sekelilingnya banyak orang-orang yang ingin menyaksikan mbak Najwa dari dekat.  Setelah keluar dari belakang pintu rektorat, penonton yang ada di luar auditorium sudah riuh berebutan ingin berjabat tangan dengan mbak Najwa. Terlihat juga para satpam bersusah payah mengontrol kerumunan supaya para penonton yang ingin berjabat tangan tidak memenuhi jalan yang akan dilalui mbak Najwa. Selangkah demi selangkah, sosok mbak Najwa menyembul dari pintu depan Auditorium. Tepuk tangan semakin riuh membahana di setiap sudut auditorium, tribun atas dan bawah bergetar dengan sorai para penonton. Wajahnya yang putih nan ayu khas keturunan Arab dengan rambut pendek seleher yang sudah ditata dengan apik terlebih dahulu, terlihat sumringah menyambut uluran tangan penonton di dalam Auditorium yang ingin berjabat tangan. Penonton semua berdiri karena bagian depan sudah berdiri semua, mereka tidak mau kehilangan momen itu, mereka mengacungkan tablet, handphone, kamera SLR, dan alat perekam lainnya untuk memotret atau merekam momen itu. Sampai kemudian, langkah kaki mbak Najwa sudah sampai di bagian bawah panggung, satu persatu kaki-kaki jenjangnya menaiki anak tangga ke atas panggung. Sekarang sudah tampak terlihat jelas, ia memakai setelan dengan blazer berwarna merah menyala dan baju dalam berwarna hitam, sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih sehingga memberikan kesan segar. Cameraman menyorot wajah mbak Najwa sehingga satu layar penuh berisi sosok mbak Najwa. Bagian belakang dapat melihat dengan sangat jelas.
Oiya, sebenarnya setelah sambutan dari mbak Najwa ada penampilan stand up comedy sebentar sama sambutan dari Pak Rektor. Daripada bertele-tele, mending itu nggak usah diceritain aja, ya. Kemudian acara pun di lanjutkan dengan acara inti dari Mata Najwa on Stage yaitu Talkshow dengan menghadirkan LIMA narasumber. Sebelum, para narasumber memasuki Auditorium, karena acara Mata Najwa on Stage nantinya akan ditayangkan di televisi, maka ada step-step acara sesuai dengan skenario Mata Najwa seperti biasanya. Ternyata, ada empat mahasiswa yang menjadi co-host yang membacakan kalimat sambung-menyambung. Ya, pokoknya itulah, susah mau jelasin hehe. Kalimat bersambung tersebut sampai melakukan take tiga kali karena ada salah satu co-host yang sering salah dalam menyampaikan kalimat (mungkin grogi, haha) dan juga karena microphone yang kurang terdengar jelas. Kemudian, seluruh penonton disuruh berseru “Penebar Inspirasi”. Oh iya, satu lagi, tata sound systemnya sangat keren, tata suaranya benar-benar berasa ada di studio TV. Kayaknya memang didesain sama Metro TV juga deh, hehe.
Setelah proses pembacaan kalimat sambung menyambung yang melelahkan dan sangat mengulur waktu karena diulang sampai tiga kali, akhirnya crew Metro TV mengatakan kepada mbak Najwa bahwa kelima narasumber sudah datang. Akhirnya, kelima narasumber tersebut dipanggil, dan kemudian melalui layar besar kami bisa melihat pergerakan narasumber yang berjalan dari pintu depan rektorat lagi-lagi didampingi dengan satpam dan bodyguard. Tampak wajah-wajah yang tak asing bagi kita semua, karena mereka adalah para tokoh-tokoh inspiratif yang wajahnya sering berlalu-lalang di layar kaca dan sering disorot oleh media. Wajah-wajah yang tak asing itu antara lain, Bapak Jusuf Kalla (JK) yang merupakan mantan Wakil Presiden kita, kemudian ada Pak Jokowi, Gubernur DKI Jakarta dan juga former Walikota Solo, Pak Anies Baswedan seorang pengajar dan Rektor dari Universitas Paramadina dan seorang pencetus gerakan Indonesia Mengajar, Pak Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah dan kemudian disusul Pak Abraham Samad, Ketua KPK. Huwooooo, keren-keren semua narasumbernya! Saya sangat excited sekali (maklum, wong ndeso, hehe). Antusiasme saya sedang berada di puncak, dan saya berulang kali menepukkan kedua tangan saya keras-keras menyatu dengan tepukan riuh penonton yang lain. Tema Mata Najwa on Stage kali ini adalah Para Penebar Inspirasi, maka tokoh-tokoh yang dihadirkan adalah para tokoh inspiratif yang saat ini tengah menjadi sorotan media dan masyarakat luas (selain karena dikabarkan juga akan dicalonkan menjadi Presiden pada Pemilu 2014, kecuali Pak Abraham Samad)
Setelah semua narasumber duduk, kemudian dilanjutkan dengan sapaan pembukaan dari mbak Najwa. Setelah itu, sesi tanya-jawab antara mbak Najwa dan kelima narasumber. Sedangkan sesi terakhir adalah sesi tanya-jawab penonton dengan para narasumber. Huaaaaa pengen tanya tapi apa mau dikata, saya sudah pesimis dulu dengan posisi duduk saya yang sangat tidak strategis. Dari sekian banyak penonton yang mengangkat tangan berebutan ingin bertanya, hanya dipilih beberapa saja, yang tentu saja tempatnya lebih strategis dan lebih terlihat, hiks *sedih~*
Anyway, sebelum acara talkhsow dimulai, tim Mata Najwa sebelumnya sudah menemukan fakta-fakta unik dari masing-masing narasumber yang belum terungkap ke publik. Fakta yang paling saya ingat adalah, fakta bahwa Pak Abraham Samad sebelum menikahi istrinya ia tidak melalui proses pacaran tetapi ta’aruf terus nikah! Huaaaaa kereeeennn! *oke, maaf lebay-nya kumat lagi. Selain itu, pak Abraham Samad juga pernah dimarahi ibunya karena mengambil empat kapur tulis gurunya. Saat diklarifikasi kepada Pak Abraham Samad, dulu sewaktu masih SD, banyak teman-temannya yang suka mengambil kapur tulis, padahal gurunya waktu itu juga ada dan melihat sendiri kelakuan murid-muridnya dan dibiarkan. Karena menganggap mengambil kapur tulis itu bukan tindakan tercela, akhirnya ia juga ikut-ikutan mengambil kapur tulis, tidak hanya satu melainkan empat, dan gurunya juga tidak menegurnya. Setelah itu, ia pulang ke rumah. Sesampai di rumah, ia ditegur ibunya dan dinasehati bahwa mengambil barang yang bukan miliknya itu tidak boleh, karena perbuatan itu sama saja mencuri. Ibunya pun menyuruhnya, keesokan harinya, untuk mengembalikan kapur tulis itu dalam keadaan masih utuh. Waaaa… keren sekali, pantas saja sekarang jadi ketua KPK, kan ya, hehehe.
Acara Mata Najwa sangat seru sekali. Selama acara talkshow ada selipan video lucu dari para narasumber yang dibuat oleh para kru Metro TV. Semua penonton tertawa terbahak-bahak dan para narasumber yang menjadi tokoh di video tersebut juga ikut tertawa geli. Hahaha. Kami semua tertawa terpingkal-pingkal, karena antusiasme kami melihat video tersebut, akhirnya video pun diputar dua kali, hahaha. Serius, lucu banget! Kalau mau lihat videonya, lihat aja di akun twitternya Mata Najwa, ada linknya.
Oiya, satu lagi, pada saat itu ada juga pemberian sepatu merk JK Collection dari Cibaduyut oleh tim Mata Najwa. Sepatu-sepatu bapak-bapak-kantoran-nan-mengkilap itu diberikan kepada masing-masing satu pasang kepada Pak JK, Pak Jokowi, Pak Anies, dan Pak Ganjar. Terus, pak Abraham Samad? Ternyata, oh ternyata, karena program Mata Najwa takut disangka memberikan gratifikasi – mbak Najwa bilang itu sambil agak bercanda gitu, hahaha – kepada pak Abraham Samad akhirnya beliau pun hanya diberi poster sepatunya! Semua penonton tertawa terpingkal-pingkal, hahaha.
Dari semua tokoh itu, saya sangat suka dengan cara mereka menjawab pertanyaan dan menyusun kalimat. Saya suka gaya khas pak Jokowi kalau lagi menjawab pertanyaan, ya seperti itu lah, pasti sudah pada tahu semua kan, haha. Lucu, aneh, dan unik, kalau kata salah satu narasumber, saya lupa siapa. Dan juga, saya suka gaya berbicara Pak Anies Baswedan! (Serius, saya ngefans banget sama bapak ini, huaaaaaa). Saya suka gaya bicaranya yang runtut dan jelas (tentu saja karena beliau seorang pengajar), saya suka beliau dalam menyampaikan kalimat-kalimatnya, beda deh sama narasumber yang lain. Kalau menurut saya, Pak Anies itu seperti punya magnet tersendiri, ia punya kemampuan untuk menarik audience mendengar dan memperhatikan ucapannya. Persuasif dan penuh makna, berbobot dan cerdas. Saya tidak heran juga, karena mengingat beliau adalah seorang rektor dan pengajar yang prestasinya amat gilang gemilang dan menjadi sorotan publik. Oiya, ada salah satu quote Pak Anies yang nempel di otak saya. Jadi, sewaktu itu pak Anies mengomentari gaya kepemimpinan pak Jokowi, beliau berkata:
“Saya melihat, Pak Jokowi ini adalah seorang pemimpin yang tulus. Tulus adalah jika dipuji tak mudah terbang, jika dicaci tak mudah tumbang….”
Kalimat itu seperti mak jleb dan pas banget! Kemudian saya jadi introspeksi diri saya sendiri. Sudahkah, saya melakukan segala sesuatu dengan tulus? Saya jadi berpikir, apakah kalau saya melakukan sesuatu jika mendapat pujian langsung lupa daratan tapi ketika dicaci langsung serasa jatuh tak punya harga diri? Benar, langsung nancep di hati kata-kata pak Anies. As I said before, so persuasive :)
Setelah acara talkshow usai, masing-masing narasumber mendapatkan hadiah lukisan wajah masing-masing dari mereka dalam kanvas besar. Jadi, satu narasumber mendapat satu buah lukisan wajah dirinya saja.
Akhirnya, talkshow pun berakhir. Banyak beberapa penonton yang naik ke atas panggung berebutan berfoto dengan para narasumber, tapi waktu mereka terbatas, sehingga mereka cepat-cepat meninggalkan panggung. Kemudian setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembagian doorprize oleh MC featuring mbak Najwa Shihab. Setelah pembagian doorprize dilanjutkan penampilan Endah n Rhesa sebagai penutup. Setelah Endah n Rhesa selesai menampilkan performanya, para penonton pun satu persatu meninggalkan ruangan. Di luar hujan gerimis, mendung tebal, dan becek. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.45 sudah menjelang Maghrib. Akhirnya, saya pun pulang dan menunaikan sholat Maghrib di rumah.
Sungguh hari itu benar-benar hectic sekali. Tetapi, pengalaman ngantri nonton Talkshow yang ngantrinya mirip ngantri nonton One Direction (memang nonton One Direction kan, tapi One Direction Penebar Inspirasi *halah, garing, Mus!*) itu benar-benar merupakan pengalaman yang tak akan saya lupakan seumur hidup saya. Hehehe.
Oke, inilah cuap-cuap panjang nan lebar membosankan dan menjengkelkan, tulisan agak absurd ala Musrifah semoga saja tidak membuat kalian mabok laut, darat, dan udara *halah~*. Cukup sekian postingan dari saya, ini sudah cukup banyak dan sangat nggilani kalau diteruskan lagi hahaha.
Sampai jumpa di post selanjutnya… :)

Minggu, 22 Desember 2013

METRO TV ON CAMPUS UNS #2: PELATIHAN JURNALISTIK

18:45 0 Comments


Halo semuanyaa…. Sudah terlampau lama sekali terhitung hampir satu bulan lebih saya tidak meng-update content blog saya sama sekali. Ya, ini akibat dari kesibukan saya – lebih tepatnya sok sibuk – dengan segala aktivitas kampus di penghujung semester tiga sekaligus tahun 2013 ini. Selain itu, akhir-akhir ini saya sedang tidak mood untuk menulis, kecuali menulis makalah *plak. Padahal di penghujung tahun 2013 banyak sekali event-event yang sayang jika segera terlupakan.
Akibat blog saya sudah banyak sarang laba-laba dan debu sudah setinggi mata kaki (ini debu apa banjir?), maka saya memutuskan ini adalah waktu yang tepat untuk berposting ria kembali, mumpung baru saja menghadiri sebuah event yang tak kalah keren. Yup, sudah ketahuan banget dari judulnya, daripada bertele-tele, lebih baik kita langsung saja. Hehehe.
Kemarin Jumat, 13 Desember 2013 adalah hari yang spektakuler untuk saya. Tentu saja, karena hari itu adalah hari kedua dari rangkaian acara Metro TV on Campus UNS 2013. Jadi, Metro TV mengadakan roadshow di kampus-kampus seluruh Indonesia, salah satunya di UNS. Roadshow Metro TV di kampus UNS tersebut berlangsung selama 3 hari, mulai Kamis 12 Desember lalu sampai Sabtu 14 Desember.
Duh, serius ini saya nulisnya kok berasa kaku banget, ya. Seperti bukan tulisan saya banget. Oke, selanjutnya saya akan menulis dengan menggunakan bahasa campuran antara formal dan non-formal huehehe.
Nah, apa aja sih rangkaian acara roadshow itu? Kamis lalu, merupakan acara pembukaan yang dibuka dengan penampilan peserta stand up comedy. Sayang sekali, karena pada saat itu saya sedang ada kuliah dan sedang ujian maka saya gak bisa ikut sebagai penggembira. Kemudian, kemarin Jumat adalah hari kedua, acaranya adalah Pelatihan Jurnalistik bersama para news anchor Metro TV yang cantik dan ganteng (hehehe *nyerot ingus*). Selanjutnya, tanggal 14 Desember, hari Sabtu, merupakan acara puncak karena ada Mata Najwa on Stage!
Jadi gini ceritanya…
Pukul 11.30, saya dan teman-teman berbondong-bondong menuju auditorium untuk mengikuti acara Metro TV on Campus. Ya, kebanyakan temen-temen yang ikut pelatihan jurnalistik itu karena pengen ketemu sama news anchornya Metro TV. Oh iya, jadi yang jadi pembicara pelatihan jurnalistik itu para news anchor Metro TV, antara lain: Zelda Savitri, Rory Asyari, Sumi Yang, dan Prabu Revolusi. Kebayang, kan wajah mereka yang selalu menghiasi dunia berita Metro TV. Pasti kalian sudah gak asing lagi sama Sumi Yang yang jadi icon utama dari Metro Xin Wen (berita di Metro TV khusus berbahasa Mandarin) dan Rory Asyari yang selalu ada di program Wide Shot. Nah, setelah sampai di auditorium, kami masih menunggu hampir 45 menit lebih. Menunggu sang pangeran berkuda putih membawa sebuket bunga dan cincin pintu auditorium dibuka (sebenernya udah dibuka, tapi panitianya galak, kita gak boleh masuk. Lagi check sound mungkin). Lalu, kami sholat Dhuhur di mushola rektorat seraya menunggu pintu auditorium dibuka. Selesai sholat, kami bergegas stand by di pintu utama auditorium. Di sana sudah penuh dengan peserta yang memadati teras auditorium, mereka bernasib sama seperti kami, di-PHP-in panitia. Akhirnya, beberapa menit kemudian, terdengar kasak-kusuk pintu akan dibuka. Kami mulai berjubel memadati dua pintu masuk utama auditorium dan pada saat itu mengingatkan saya pada premiere Harry Potter Deathly Hallow part 1 di Grand 21 beberapa tahun lalu, hehe.
Kami sudah berbaris (agak) rapi di depan pintu masuk, tetapi kemudian ada panitia yang berseru:
“Open gate, antri di tempat registrasi!” Duh, mana tempat registrasinya di belakang, panas pula. Kami yang sudah terlanjur di depan, berlari-lari kecil supaya gak dapet antrian paling belakang (sekaligus biar masuknya duluan dan bisa duduk paling depan). Setelah berpanas-panas selama tidak lebih dari lima menit, kami pun memasuki auditorium, namun sayang sekali baris paling depan sudah penuh! Ah, tak apa, untung saja kami mendapat tempat masih di deretan depan tapi bukan baris pertama hehehe.
Acara dibuka pada pukul 14.30 kira-kira dibuka dengan penampilan Voca Erudita (paduan suaranya UNS). Penampilan Voca Erudita sukses membuat ratusan pasang mata terpana. Mereka menampilkan lagu Roman Picisan dan Kopi Dangdut dengan menawan nyaris tanpa cela dengan style paduan suara. Setelah itu, karena pembicara belum hadir, MC pun berusaha mengulur waktu dengan sebuah game.
Beberapa menit kemudian, terdengar kasak-kusuk dan jeritan tertahan dari para wanita di barisan belakang. Meinar – teman saya yang duduk di samping saya – menyenggol lengan saya sambil berkata:
“Lihat sebelah sana tuh” seraya mengarahkan kepalanya.
Huwooooo…. rupanya para news anchor yang ganteng dan cantik nya cetar membahana sudah datang! Para gadis jejeritan saat melihat mas Rory berjalan menuju ke barisan depan auditorium (saya juga ikut jerit, dikit. Hehehe. Maaf, akibat pengaruh lingkungan, hehe). Absolutely, ternyata mas Rory itu ganteng banget! Padahal kalo saya nonton Wide Shot ngeliat dia biasa aja. Hahaha. Jadi inget Bapak saya pernah bilang kalo mas Rory itu mirip mas Rifqi (kakak sepupu saya) hehe. Tapi saya bilang:
“Ah, enggak! Kayaknya masih ganteng mas Rifqi, deh” (semoga kakak sepupu gak baca ini, saya malu hehehe *plak).
Tetapi kemudian, setelah saya ngeliat mas Rory secara live tanpa perantara layar kaca, kemudian opini saya menjadi:
“Hmm… piye ya? Aaakkk aku mimisan, Bapak! Tolong!” (Duh, alay kumat, maaf lagi deh hehehe).
Setelah para news anchor duduk di barisan paling depan, MC pun mempersilahkan Pak Ravik memberikan sambutan. Saat sambutan, Pak Ravik menyampaikan bahwa mas Rory adalah salah satu alumni Komunikasi UNS. Sontak auditorium pun bergetar dengan sorai dan tepuk tangan membahan para peserta yang didominasi oleh mahasiswa UNS – terutama anak Komunikasi. Ternyata anak UNS yang kerja di Metro TV selain mas Rory ada lagi, namanya mbak siapa gitu, lupa. 
Setelah sambutan dari Pak Ravik, mbak Zelda dipersilahkan MC untuk naik ke atas panggung. Mbak Zelda, sebagai pembicara pertama pelatihan jurnalistik, menyampaikan beberapa hal-hal umum dalam dunia berita dan jurnalistik, seperti proses produksi berita, proses on-air berita di stasiun televisi itu bagaimana, proses melaporkan berita secara live, dan lain-lain. Ceritanya, kita masih pengenalan dan pemanasan sebelum masuk ke inti utama. Mbak Zelda menyampaikan materi dengan gaya berbicara taktis dan tangkas. Ia memiliki gaya bicara yang cepat dan jelas. Menurutnya, menjadi jurnalis itu dilatih untuk berbicara sambil berpikir. Biasanya, apabila seseorang hendak berbicara, ia berpikir lama dahulu baru kemudian berbicara. Namun berbeda dengan mbak Zelda, proses kognisi pengolahan bahasa di otak berlangsung bersamaan dengan penyampaian komunikasi verbal. Selama sesi mbak Zelda, waktu yang digunakan banyak disediakan untuk sesi tanya-jawab.
Setelah mbak Zelda, dilanjutkan dengan pembicara kedua yaitu…. *jeng-jeng-jeng* mbak Sumi Yang! Aduh, kalo manggil mbak kok berasa aneh, ya. Oke, diganti, kak Sumi Yang! Kak Sumi Yang ini wajahnya khas oriental banget! Seriously cantik banget kayak boneka Jepang! Nah, di sesi kak Sumi ini dibahas tentang jenis-jenis berita dan juga menjelaskan beberapa program di Metro TV. Gaya bicara kak Sumi itu santai, pelan, berintonasi jelas, mirip seperti pembawa acara formal. Ya, mirip seperti pembawa acara di acara Festival Film Indonesia, Panasonic Gobel Awards, dan acara-acara sejenisnya, hehehe.
Kemudian, pembicara ketiga adalah pembicara yang ditunggu-tunggu oleh para gadis di seantero auditorium. Pembicara ketiga adalaaaahhh… mas Rory Asyari! Aaaaaaaaaaaaa! Auditorium bergetar. Peserta spontan bersorak riuh tatkala mas Rory melangkahkan kaki-kaki kokohnya menuju ke atas panggung.  
Tiba-tiba berasa kayak ada lagu Pretty Boy nya M2M (aduh, saya jadul banget yak…) mengalun merdu: “Oh my pretty pretty boy I love you like I never ever loved no one before you~”
“Aduh, meleleeehhh…” sahut teman saya yang duduk di sebelah kanan saya.
“Aduuuhhh… huwaaaaa…” saya ikutan lebay.
“Aaaaaaaaa… kak Rory!” seru cewek-cewek di barisan belakang, depan, kanan dan kiri saya.
Nah, kalian tahu posisi saya bagaimana saat itu? Tentu saja, saya menjadi terpengaruh oleh lingkungan (baca: konformis). Saya jadi ikutan heboh!
Pada sesi mas Rory ini, ia menjelaskan tentang seluk beluk kegiatan jurnalis. Kami disuguhkan sebuah video tentang betapa beresikonya menjadi seorang jurnalis, terlebih jika sang jurnalis ditugaskan untuk meliput di daerah berbahaya seperti area perang, tempat bencana yang beresiko terjadi bencana susulan, area demonstrasi dan kerusuhan, dan lain-lain. Selain itu, kami juga mendapatkan ilmu tentang apakah suatu berita itu bisa dijadikan live report (langsung dilaporkan saat itu juga) atau tidak. Selain itu, kami juga diperlihatkan liputan mas Rory saat meliput tragedi pesawat Sukhoi dan bencana badai Haiyan di Filipina.
Kemudian, sesi terakhir adalah sesi kak Prabu Revolusi. Di sesi ini karena sudah sangat sore menjelang Maghrib, beberapa kursi auditorium sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Hmm… daritadi para cewek memang mengincar mas Rory, setelah mas Rory selesai mereka satu persatu meninggalkan auditorium. Auditorium masih terisi banyak peserta, karena kak Prabu kan juga ganteng! (hehehe, *plak!). Pada sesi ini, kak Prabu menjelaskan tentang seni menulis berita. Kami juga diajari cara menulis kerangka berita yang biasanya digunakan oleh reporter di lapangan. Nah, biasanya para reporter di lapangan itu kalau melaporkan berita mereka memiliki script berisi point-point penting berita yang akan disampaikan. Hal itu dilakukan supaya reporter tidak tiba-tiba berbicara out of topic atau kelupaan menyampaikan salah satu point penting. Gaya bicara kak Prabu ini menarik. Melalui cara bicaranya, ia mampu menarik atensi pendengar. Intonasi jelas dan berirama, semacam trainer-trainer di seminar motivasi (bukan seminar MLM lho, beda). Pada akhir sesi, ia mengatakan bahwa beberapa hari lagi ia akan mengisi seminar public speaking yang diadakan oleh Akademi Berbagi di Solo juga. Wah, pantas saja gaya bicaranya seperti itu, ternyata jago public speaking, hehehe.
Setelah sesi kak Prabu selesai, saya dan teman-teman saya langsung keluar dari auditorium untuk melaksanakan sholat Maghrib. Pasca sholat Maghrib kita kembali ke auditorium ternyata acara sudah ditutup oleh MC. Kami melihat di depan pintu auditorium, nampak sebuah kerumunan kecil yang riuh. Perlahan saya mendekati kerumunan kecil itu, ternyata sejumlah mahasiswi berebut tanda tangan dan berfoto dengan kak Prabu. Kami sebenarnya juga pengen foto bareng, tapi sayang, belum rejeki, ia sudah buru-buru disuruh pulang oleh tim Metro TV *nangis ngesot* (lebay!)
Tetapi kami tak patah semangat. Kami kembali memasuki auditorium yang sudah mulai lengang dan hanya tersisa panitia dan petugas kebersihan. Niatnya sih, mau foto-foto di depan backdrop, tetapi kami pun menemukan kerumunan kecil yang lain. Wah, siapa itu yang dikerubutin cewek-cewek? Ternyata, kak Sumi Yang! Saya dan teman saya pun berebutan berfoto bersama kak Sumi Yang. Tapi, lagi-lagi belum rejeki, kak Sumi Yang keburu disuruh pulang juga. (Ini kayak Metro TV nya sensi ama saya, masa saya dateng terus mereka disuruh pulang -_- hiks *meringis pedih*). Ya, mungkin belum rejeki (lagi).
Anyway, niat foto-foto sama mereka itu supaya ketularan pinter. Kalau foto-foto sama artis itu udah terlalu mainstream, jadi kita foto-foto sama news anchor aja yang juga gak kalah ganteng atau cantik sama artis ibukota. Bedanya, kalau news anchor itu artis dunia intelektual, hehehe (bahasanya lebay banget, yak :p)
Okay, ini endingnya emang nggantung banget. Soalnya saya udah capek ngetik nih. Hmm… baiklah para pembaca setia blog saya, demikian cuap-cuap pertama saya di bulan Desember pasca vakum beberapa minggu akibat dari padatnya rangkaian studi (lah!). Semoga kalian tidak tambah enek dengan tulisan saya yang entah kenapa makin hari makin amburadul saja, hiks (T.T).
Sampai jumpa di postingan selanjutnya! :)