Minggu, 22 Desember 2013

METRO TV ON CAMPUS UNS #2: PELATIHAN JURNALISTIK

18:45 0 Comments


Halo semuanyaa…. Sudah terlampau lama sekali terhitung hampir satu bulan lebih saya tidak meng-update content blog saya sama sekali. Ya, ini akibat dari kesibukan saya – lebih tepatnya sok sibuk – dengan segala aktivitas kampus di penghujung semester tiga sekaligus tahun 2013 ini. Selain itu, akhir-akhir ini saya sedang tidak mood untuk menulis, kecuali menulis makalah *plak. Padahal di penghujung tahun 2013 banyak sekali event-event yang sayang jika segera terlupakan.
Akibat blog saya sudah banyak sarang laba-laba dan debu sudah setinggi mata kaki (ini debu apa banjir?), maka saya memutuskan ini adalah waktu yang tepat untuk berposting ria kembali, mumpung baru saja menghadiri sebuah event yang tak kalah keren. Yup, sudah ketahuan banget dari judulnya, daripada bertele-tele, lebih baik kita langsung saja. Hehehe.
Kemarin Jumat, 13 Desember 2013 adalah hari yang spektakuler untuk saya. Tentu saja, karena hari itu adalah hari kedua dari rangkaian acara Metro TV on Campus UNS 2013. Jadi, Metro TV mengadakan roadshow di kampus-kampus seluruh Indonesia, salah satunya di UNS. Roadshow Metro TV di kampus UNS tersebut berlangsung selama 3 hari, mulai Kamis 12 Desember lalu sampai Sabtu 14 Desember.
Duh, serius ini saya nulisnya kok berasa kaku banget, ya. Seperti bukan tulisan saya banget. Oke, selanjutnya saya akan menulis dengan menggunakan bahasa campuran antara formal dan non-formal huehehe.
Nah, apa aja sih rangkaian acara roadshow itu? Kamis lalu, merupakan acara pembukaan yang dibuka dengan penampilan peserta stand up comedy. Sayang sekali, karena pada saat itu saya sedang ada kuliah dan sedang ujian maka saya gak bisa ikut sebagai penggembira. Kemudian, kemarin Jumat adalah hari kedua, acaranya adalah Pelatihan Jurnalistik bersama para news anchor Metro TV yang cantik dan ganteng (hehehe *nyerot ingus*). Selanjutnya, tanggal 14 Desember, hari Sabtu, merupakan acara puncak karena ada Mata Najwa on Stage!
Jadi gini ceritanya…
Pukul 11.30, saya dan teman-teman berbondong-bondong menuju auditorium untuk mengikuti acara Metro TV on Campus. Ya, kebanyakan temen-temen yang ikut pelatihan jurnalistik itu karena pengen ketemu sama news anchornya Metro TV. Oh iya, jadi yang jadi pembicara pelatihan jurnalistik itu para news anchor Metro TV, antara lain: Zelda Savitri, Rory Asyari, Sumi Yang, dan Prabu Revolusi. Kebayang, kan wajah mereka yang selalu menghiasi dunia berita Metro TV. Pasti kalian sudah gak asing lagi sama Sumi Yang yang jadi icon utama dari Metro Xin Wen (berita di Metro TV khusus berbahasa Mandarin) dan Rory Asyari yang selalu ada di program Wide Shot. Nah, setelah sampai di auditorium, kami masih menunggu hampir 45 menit lebih. Menunggu sang pangeran berkuda putih membawa sebuket bunga dan cincin pintu auditorium dibuka (sebenernya udah dibuka, tapi panitianya galak, kita gak boleh masuk. Lagi check sound mungkin). Lalu, kami sholat Dhuhur di mushola rektorat seraya menunggu pintu auditorium dibuka. Selesai sholat, kami bergegas stand by di pintu utama auditorium. Di sana sudah penuh dengan peserta yang memadati teras auditorium, mereka bernasib sama seperti kami, di-PHP-in panitia. Akhirnya, beberapa menit kemudian, terdengar kasak-kusuk pintu akan dibuka. Kami mulai berjubel memadati dua pintu masuk utama auditorium dan pada saat itu mengingatkan saya pada premiere Harry Potter Deathly Hallow part 1 di Grand 21 beberapa tahun lalu, hehe.
Kami sudah berbaris (agak) rapi di depan pintu masuk, tetapi kemudian ada panitia yang berseru:
“Open gate, antri di tempat registrasi!” Duh, mana tempat registrasinya di belakang, panas pula. Kami yang sudah terlanjur di depan, berlari-lari kecil supaya gak dapet antrian paling belakang (sekaligus biar masuknya duluan dan bisa duduk paling depan). Setelah berpanas-panas selama tidak lebih dari lima menit, kami pun memasuki auditorium, namun sayang sekali baris paling depan sudah penuh! Ah, tak apa, untung saja kami mendapat tempat masih di deretan depan tapi bukan baris pertama hehehe.
Acara dibuka pada pukul 14.30 kira-kira dibuka dengan penampilan Voca Erudita (paduan suaranya UNS). Penampilan Voca Erudita sukses membuat ratusan pasang mata terpana. Mereka menampilkan lagu Roman Picisan dan Kopi Dangdut dengan menawan nyaris tanpa cela dengan style paduan suara. Setelah itu, karena pembicara belum hadir, MC pun berusaha mengulur waktu dengan sebuah game.
Beberapa menit kemudian, terdengar kasak-kusuk dan jeritan tertahan dari para wanita di barisan belakang. Meinar – teman saya yang duduk di samping saya – menyenggol lengan saya sambil berkata:
“Lihat sebelah sana tuh” seraya mengarahkan kepalanya.
Huwooooo…. rupanya para news anchor yang ganteng dan cantik nya cetar membahana sudah datang! Para gadis jejeritan saat melihat mas Rory berjalan menuju ke barisan depan auditorium (saya juga ikut jerit, dikit. Hehehe. Maaf, akibat pengaruh lingkungan, hehe). Absolutely, ternyata mas Rory itu ganteng banget! Padahal kalo saya nonton Wide Shot ngeliat dia biasa aja. Hahaha. Jadi inget Bapak saya pernah bilang kalo mas Rory itu mirip mas Rifqi (kakak sepupu saya) hehe. Tapi saya bilang:
“Ah, enggak! Kayaknya masih ganteng mas Rifqi, deh” (semoga kakak sepupu gak baca ini, saya malu hehehe *plak).
Tetapi kemudian, setelah saya ngeliat mas Rory secara live tanpa perantara layar kaca, kemudian opini saya menjadi:
“Hmm… piye ya? Aaakkk aku mimisan, Bapak! Tolong!” (Duh, alay kumat, maaf lagi deh hehehe).
Setelah para news anchor duduk di barisan paling depan, MC pun mempersilahkan Pak Ravik memberikan sambutan. Saat sambutan, Pak Ravik menyampaikan bahwa mas Rory adalah salah satu alumni Komunikasi UNS. Sontak auditorium pun bergetar dengan sorai dan tepuk tangan membahan para peserta yang didominasi oleh mahasiswa UNS – terutama anak Komunikasi. Ternyata anak UNS yang kerja di Metro TV selain mas Rory ada lagi, namanya mbak siapa gitu, lupa. 
Setelah sambutan dari Pak Ravik, mbak Zelda dipersilahkan MC untuk naik ke atas panggung. Mbak Zelda, sebagai pembicara pertama pelatihan jurnalistik, menyampaikan beberapa hal-hal umum dalam dunia berita dan jurnalistik, seperti proses produksi berita, proses on-air berita di stasiun televisi itu bagaimana, proses melaporkan berita secara live, dan lain-lain. Ceritanya, kita masih pengenalan dan pemanasan sebelum masuk ke inti utama. Mbak Zelda menyampaikan materi dengan gaya berbicara taktis dan tangkas. Ia memiliki gaya bicara yang cepat dan jelas. Menurutnya, menjadi jurnalis itu dilatih untuk berbicara sambil berpikir. Biasanya, apabila seseorang hendak berbicara, ia berpikir lama dahulu baru kemudian berbicara. Namun berbeda dengan mbak Zelda, proses kognisi pengolahan bahasa di otak berlangsung bersamaan dengan penyampaian komunikasi verbal. Selama sesi mbak Zelda, waktu yang digunakan banyak disediakan untuk sesi tanya-jawab.
Setelah mbak Zelda, dilanjutkan dengan pembicara kedua yaitu…. *jeng-jeng-jeng* mbak Sumi Yang! Aduh, kalo manggil mbak kok berasa aneh, ya. Oke, diganti, kak Sumi Yang! Kak Sumi Yang ini wajahnya khas oriental banget! Seriously cantik banget kayak boneka Jepang! Nah, di sesi kak Sumi ini dibahas tentang jenis-jenis berita dan juga menjelaskan beberapa program di Metro TV. Gaya bicara kak Sumi itu santai, pelan, berintonasi jelas, mirip seperti pembawa acara formal. Ya, mirip seperti pembawa acara di acara Festival Film Indonesia, Panasonic Gobel Awards, dan acara-acara sejenisnya, hehehe.
Kemudian, pembicara ketiga adalah pembicara yang ditunggu-tunggu oleh para gadis di seantero auditorium. Pembicara ketiga adalaaaahhh… mas Rory Asyari! Aaaaaaaaaaaaa! Auditorium bergetar. Peserta spontan bersorak riuh tatkala mas Rory melangkahkan kaki-kaki kokohnya menuju ke atas panggung.  
Tiba-tiba berasa kayak ada lagu Pretty Boy nya M2M (aduh, saya jadul banget yak…) mengalun merdu: “Oh my pretty pretty boy I love you like I never ever loved no one before you~”
“Aduh, meleleeehhh…” sahut teman saya yang duduk di sebelah kanan saya.
“Aduuuhhh… huwaaaaa…” saya ikutan lebay.
“Aaaaaaaaa… kak Rory!” seru cewek-cewek di barisan belakang, depan, kanan dan kiri saya.
Nah, kalian tahu posisi saya bagaimana saat itu? Tentu saja, saya menjadi terpengaruh oleh lingkungan (baca: konformis). Saya jadi ikutan heboh!
Pada sesi mas Rory ini, ia menjelaskan tentang seluk beluk kegiatan jurnalis. Kami disuguhkan sebuah video tentang betapa beresikonya menjadi seorang jurnalis, terlebih jika sang jurnalis ditugaskan untuk meliput di daerah berbahaya seperti area perang, tempat bencana yang beresiko terjadi bencana susulan, area demonstrasi dan kerusuhan, dan lain-lain. Selain itu, kami juga mendapatkan ilmu tentang apakah suatu berita itu bisa dijadikan live report (langsung dilaporkan saat itu juga) atau tidak. Selain itu, kami juga diperlihatkan liputan mas Rory saat meliput tragedi pesawat Sukhoi dan bencana badai Haiyan di Filipina.
Kemudian, sesi terakhir adalah sesi kak Prabu Revolusi. Di sesi ini karena sudah sangat sore menjelang Maghrib, beberapa kursi auditorium sudah ditinggalkan oleh penghuninya. Hmm… daritadi para cewek memang mengincar mas Rory, setelah mas Rory selesai mereka satu persatu meninggalkan auditorium. Auditorium masih terisi banyak peserta, karena kak Prabu kan juga ganteng! (hehehe, *plak!). Pada sesi ini, kak Prabu menjelaskan tentang seni menulis berita. Kami juga diajari cara menulis kerangka berita yang biasanya digunakan oleh reporter di lapangan. Nah, biasanya para reporter di lapangan itu kalau melaporkan berita mereka memiliki script berisi point-point penting berita yang akan disampaikan. Hal itu dilakukan supaya reporter tidak tiba-tiba berbicara out of topic atau kelupaan menyampaikan salah satu point penting. Gaya bicara kak Prabu ini menarik. Melalui cara bicaranya, ia mampu menarik atensi pendengar. Intonasi jelas dan berirama, semacam trainer-trainer di seminar motivasi (bukan seminar MLM lho, beda). Pada akhir sesi, ia mengatakan bahwa beberapa hari lagi ia akan mengisi seminar public speaking yang diadakan oleh Akademi Berbagi di Solo juga. Wah, pantas saja gaya bicaranya seperti itu, ternyata jago public speaking, hehehe.
Setelah sesi kak Prabu selesai, saya dan teman-teman saya langsung keluar dari auditorium untuk melaksanakan sholat Maghrib. Pasca sholat Maghrib kita kembali ke auditorium ternyata acara sudah ditutup oleh MC. Kami melihat di depan pintu auditorium, nampak sebuah kerumunan kecil yang riuh. Perlahan saya mendekati kerumunan kecil itu, ternyata sejumlah mahasiswi berebut tanda tangan dan berfoto dengan kak Prabu. Kami sebenarnya juga pengen foto bareng, tapi sayang, belum rejeki, ia sudah buru-buru disuruh pulang oleh tim Metro TV *nangis ngesot* (lebay!)
Tetapi kami tak patah semangat. Kami kembali memasuki auditorium yang sudah mulai lengang dan hanya tersisa panitia dan petugas kebersihan. Niatnya sih, mau foto-foto di depan backdrop, tetapi kami pun menemukan kerumunan kecil yang lain. Wah, siapa itu yang dikerubutin cewek-cewek? Ternyata, kak Sumi Yang! Saya dan teman saya pun berebutan berfoto bersama kak Sumi Yang. Tapi, lagi-lagi belum rejeki, kak Sumi Yang keburu disuruh pulang juga. (Ini kayak Metro TV nya sensi ama saya, masa saya dateng terus mereka disuruh pulang -_- hiks *meringis pedih*). Ya, mungkin belum rejeki (lagi).
Anyway, niat foto-foto sama mereka itu supaya ketularan pinter. Kalau foto-foto sama artis itu udah terlalu mainstream, jadi kita foto-foto sama news anchor aja yang juga gak kalah ganteng atau cantik sama artis ibukota. Bedanya, kalau news anchor itu artis dunia intelektual, hehehe (bahasanya lebay banget, yak :p)
Okay, ini endingnya emang nggantung banget. Soalnya saya udah capek ngetik nih. Hmm… baiklah para pembaca setia blog saya, demikian cuap-cuap pertama saya di bulan Desember pasca vakum beberapa minggu akibat dari padatnya rangkaian studi (lah!). Semoga kalian tidak tambah enek dengan tulisan saya yang entah kenapa makin hari makin amburadul saja, hiks (T.T).
Sampai jumpa di postingan selanjutnya! :)

Minggu, 20 Oktober 2013

Ibu, Tiang Peradaban Dunia

18:53 0 Comments



Menjadi ibu dalam sebuah rumah tangga adalah sebuah profesi yang tidak bisa dianggap remeh. Ibu adalah sebagai “tiang rumah tangga” amatlah penting bagi terselenggaranya rumah tangga yang sakinah. Apa itu rumah tangga yang sakinah? Yaitu keluarga yang sehat dan bahagia, karena peran ibu yang mengatur, membuat rumah tangga menjadi surga bagi setiap anggota keluarga. Untuk mencapai ketenteraman dan kebahagiaan dalam keluarga dibutuhkan ibu yang mengerti dan memahami  suami serta mendidik dan mengasuh anak dengan baik.

Ibu merupakan sekolah-sekolah paling utama dalam pembentukan kepribadian anak, serta sarana untuk memenuhi mereka dengan berbagai sifat mulia. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: “Surga di bawah telapak kaki ibu”. Hal tersebut jelas menunjukkan bahwa tanggung jawab ibu sungguh besar terhadap masa depan anaknya, sehingga ibu memiliki kemuliaan tersebut. Dari segi psikologis dan pendidikan, sabda Rasulullah tersebut ditujukan kepada ibu bahwa ibu harus bekerja keras dalam mendidik anak dan mengawasi tingkah laku mereka dengan menanamkan berbagai perilaku terpuji serta tujuan-tujuan mulia.

Para ibu memiliki tanggung jawab besar dalam menyusun wilayah-wilayah mental serta sosial dalam pencapaian kesempurnaan serta pertumbuhan anak. Jadi, ibu tidak hanya bertugas melahirkan anak saja tetapi juga memiliki andil besar dalam proses tumbuh kembang baik secara fisik maupun psikis sang anak. Berhasil atau tidaknya anak-anak tersebut di masa depan, dilihat juga dari kiprah ibu dalam mendidik dan membimbing anaknya.

Dalam usia-usia perkembangan awal masa anak-anak, ibu memiliki peran besar dalam memenuhi kebutuhan akan fisik dan psikis anak. Jika ibu hanya memberikan kebutuhan fisik anak saja, tetapi mengabaikan kebutuhan psikis sang anak, maka perkembangan anak akan mengalami kekurangan. Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kurang kasih sayang dan cenderung semaunya sendiri. Hal itu terjadi karena ibu kurang memberikan kasih sayang dan kurang membangun kedekatan emosional dengan sang anak.

Kita tentu ingat pepatah, Behind every successful man, there’s a great woman. Kalimat itu cocok juga dalam menggambarkan peran ibu dalam keluarga. Di belakang pria yang sukses selalu ada wanita yang hebat. Istri yang hebat memiliki andil besar dalam memotivasi suaminya untuk menjadi pribadi yang hebat, ibu yang hebat tentu akan menghasilkan anak-anak yang hebat pula. Anak yang hebat, tak terkecuali itu perempuan atau laki-laki, jika ia memiliki ibu yang bertanggung jawab dalam setiap proses tumbuh kembang anak, maka akan menghasilkan anak yang cerdas dan matang secara kepribadian serta emosional.

Wanita adalah komponen utama dalam peradaban suatu bangsa dan negara. Jika seorang wanita bisa mendidik anak dengan baik maka ia sudah memberikan kontribusi untuk memajukan peradaban bangsa. Maka dari itu, persiapan sejak dini itu sangat perlu. Ibu juga perlu pendidikan dan intelektualitas yang baik, karena kelak ibu yang akan mendidik anaknya sesuai dengan pendidikan yang pernah ia dapatkan. 

Setiap wanita, baik yang sudah menikah ataupun yang masih lajang, hendaknya sudah sejak awal mempersiapkan rencana-rencana untuk menghasilkan generasi cemerlang, menghasilkan anak-anak yang hebat. Anak yang hebat merupakan cikal bakal pemimpin generasi masa depan yang tantangannya lebih kompleks. Kita tahu bahwa, semakin bertambahnya zaman, tantangan global pun kian mendominasi setiap aspek kehidupan. Maka, pandai-pandailah kita sebagai para wanita untuk berusaha mempersiapkan menjadi yang terbaik saat ini, kelak semuanya akan berguna untuk masa depan anak-anak kita.   

Rencana-rencana yang bisa kita lakukan untuk menyongsong hadirnya anak-anak generasi penerus bangsa adalah:

1.      Mempersiapkan kesehatan fisik kita dengan banyak berolahraga
Sebagai calon ibu, penting sekali untuk senantiasa menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Salah satunya dengan cara berolahraga. Biasakan sejak muda untuk berolahraga, karena olahraga membuat tubuh kita bugar dan melenturkan otot-otot supaya tidak mudah kaku. Lakukan olahraga yang ringan-ringan saja, asal rutin, dua sampai tiga kali dalam seminggu. Mengapa olahraga penting? Karena ibu yang kondisi fisiknya selalu bugar, tidak akan mudah terserang penyakit. Generasi yang sehat dihasilkan oleh ibu yang sehat pula.

2.      Jaga asupan pola makan, makan teratur setiap hari
Jangan tergoda oleh diet yang berlebihan. Tubuh perlu asupan nutrisi yang cukup dan seimbang setiap harinya. Hal itu didukung dengan pola makan yang teratur. Makan teratur menyediakan tubuh asupan nutrisi yang cukup sehingga tubuh tidak mudah lelah atau lemas.

3.      Makan-makanan yang bergizi. Makan banyak sayur dan buah yang mengandung vitamin
Sayuran dan buah merupakan komponen penting dalam memenuhi kebutuhan vitamin tubuh kita. Dalam sayur dan buah terdapat serat yang sangat berguna untuk kesehatan pencernaan kita. Selain bervitamin tinggi, sayur dan buah juga mengandung banyak air yang bisa mencukupi konsumsi kebutuhan air pada tubuh kita. Calon ibu yang sudah sejak dini membiasakan memakan buah-buahan dan sayuran, kelak akan menghasilkan anak yang sehat. Selama anak masih di dalam kandungan, jika ibu teratur mengonsumsi buah-buahan dan sayuran maka bayi akan memiliki fisik yang sehat saat lahir.

4.      Jaga kesehatan dengan membuat tubuh tidak terlalu letih
Jangan memforsir tenaga terlalu berat. Tubuh juga perlu istirahat. Jika banyak pekerjaan, tetapi tubuh sudah terasa lelah, biarkan tubuh istirahat walaupun hanya beberapa jam.  Hal ini sangat penting untuk kesehatan tubuh kita. Apalagi untuk ibu-ibu hamil maka harus memiliki pola tidur yang cukup dan teratur supaya tidak terlalu capek yang bisa mengganggu kesehatan ibu dan bayi.

5.      Menambah asupan pengetahuan dengan rajin membaca buku
Membaca buku sangat penting untuk nutrisi otak. Otak yang sering dibiasakan untuk membaca akan tidak mudah lupa. Apalagi untuk calon ibu, sering-sering membaca seputar mengasuh dan mendidik anak supaya nantinya ibu dapat mendidik dan mengasuh anak dengan benar. Ibu yang memiliki pengetahuan luas, juga memberikan dampak langsung yang besar kepada anaknya. Ibu yang berpengetahuan memadai maka akan dapat mendidik anak dengan benar dan bisa menghasilkan anak yang berkualitas dalam segi fisik dan mental.

6.      Mendidik anak tanpa kekerasan
Anak bukanlah sebuah boneka, yang bisa dilempar-lempar atau dibentak-bentak saat kita sedang kesal dengan kelakuan mereka. Mereka sejatinya masih belum paham, maka tugas orang tualah yang memberikan teladan dan menasihati dengan baik. Anak jangan diberi tekanan psikologis yang dapat menimbulkan luka jiwanya. Biarkan anak menyalurkan segala tingkah kreativitasnya, jangan serta merta dilarang. Nasihati dengan baik jika mereka melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang berbahaya. Jika anak nakal, maka hendaknya jangan dibentak atau dimaki-maki dengan kata-kata kasar apalagi dipukul, karena hal tersebut dapat menimbulkan luka psikologis yang susah disembuhkan sampai ia dewasa nanti. Berikan hukuman yang sewajarnya jika anak melakukan kesalahan yang tidak bisa ditoleransi. Hukuman untuk anak yang tepat adalah dengan mengurangi kesenangannya. Jika anak sedari kecil sudah sering dibentak atau dipukul, ia akan tumbuh menjadi anak pembangkang dan tidak taat aturan. 

7.      Memberikan nutrisi yang cukup untuk anak-anak
Sejak dini, anak harus diberi ASI yang cukup dan nutrisi makanan yang sehat dan bergizi. Jika anak susah makan, maka berikan motivasi supaya anak mau makan, terutama makan sayur dan buah. Biasanya anak memang susah diberi makan sayur dan buah. Maka tugas ibu, mensiasati supaya anak suka memakan sayur dan buah. Bisa dengan dibiasakan sedikit-sedikit memakan sayuran dan buah-buahan, maka lama-kelamaan lidahnya akan terbiasa akan rasa sayur dan buah.
Anak yang sejak dini sudah dibiasakan makan bergizi, maka ia pada tahun-tahun awal pertumbuhannya memiliki fisik yang kuat serta tidak mudah terserang penyakit. Memberikan fondasi fisik awal untuk anak pada saat tahun-tahun pertumbuhan awal mereka akan memberikan dampak besar pada pertumbuhan fisik pada tahun-tahun berikutnya. Jika anak sedari kecil jarang sakit atau tidak pernah sakit parah, maka pada usia remaja atau dewasanya tubuhnya akan berkembang sempurna, sehat dan bugar, serta jarang terserang penyakit berbahaya. 

8.      Biasakan anak melakukan hal-hal yang positif
Biasakan anak melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan kreativitas dan kinerja otaknya. Bisa dengan, sejak dini anak sudah dibiasakan membaca buku, maka ia lama-kelamaan semakin gemar membaca buku. Selain itu, biasakan anak melakukan kebutuhan sehari-harinya sendiri, hal itu dapat melatih kemandirian anak pada pertumbuhannya di masa yang akan datang. Anak yang mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain akan menjadi pribadi yang tangguh. Ia tidak mudah mengeluh dalam menghadapi masalahnya, ia terus berusaha untuk menyelesaikan masalahnya dengan baik. Hal itu merupakan sebuah sarana menumbuhkan jiwa kepemimpinan kepada anak sejak dini. 

9.    Paling penting, memberikan fondasi budi pekerti serta keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
Anak yang sejak dini sudah ditanamkan nilai-nilai budi pekerti dan norma-norma agama, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memiliki keparipurnaan kepribadian. Ia akan tumbuh menjadi anak yang memiliki kecerdasan emosional dan spiritual yang mumpuni, menjadi sebuah bibit pemimpin peradaban dunia yang sangat unggul. Anak yang memiliki rasa keimanan dan ketakwaan akan Tuhannya, ia akan senantiasa mendasarkan setiap perbuatannya dengan niat ikhlas karena Tuhannya. Ia akan berbuat dengan sesuai norma agama, tidak akan menyimpang dari norma dan nilai agama yang dianut karena norma dan nilai tersebut telah ditanamkan sejak kecil sehingga otomatis merasuk dan terinternalisasikan dalam jiwanya. 

Perencanaan yang matang tidak akan menghasilkan apapun jika tidak disertai niat dan kemauan untuk merealisasikan rencana tersebut. Ibu adalah tiang peradaban, dari ibulah dihasilkan calon-calon pemegang peradaban dunia. Ibu yang sehat dan memiliki intelektual tinggi, akan menghasilkan generasi-generasi yang sehat dan berintelektual tinggi pula. Ibu yang memiliki jiwa dan fisik tangguh akan menghasilkan generasi calon penerus bangsa yang memiliki fisik dan jiwa yang tangguh. Jadi, biasakan mendidik anak dengan aturan yang benar, sehingga dapat menghasilkan bibit-bibit unggul yang dapat diandalkan di masa yang akan datang.