Senin, 10 Maret 2014

Lebih Puas Mana, Pacaran atau Tidak Pacaran Sebelum Menikah?

08:37 4 Comments


Hello, folks! Sudah lama saya tidak mengupdate konten blogspot saya karena sedang terobsesi dengan tumblr. Hehehe. Ya, sebenarnya saya sudah terlebih dahulu membuat akun tumblr daripada blog ini. Hanya saja, akun tumblr saya dulunya berisi tulisan copy-paste dan tidak berbobot seperti sekarang (Ceilah…). Baru beberapa bulan terakhir saya suka memposting tulisan di tumblr selain karena tumblr saya sudah lama berdebu dan berkarat, juga karena posting di tumblr bisa dilakukan melalui smartphone. Hm, anyway, kalau readers tercintah-ku kangen dengan tulisan saya saat saya sedang malas mengupdate blogspot, silahkan berkunjung ke tumblr saya http://westlifelovers.tumblr.com/ , di-follow juga boleh lho. (Sekalian promosi huehehe)
Okay, anyway, di postingan kali ini saya akan menulis sedikit ilmiah (gaya banget yak…). Ya, maklum lah, sebagai seorang mahasiswi yang berkutat dengan buku diktat segede gaban dan jurnal-jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional, membuat saya lambat laun sedikit agak ilmiah (bukan nggaya, lho. Baru sedikit, kok… hehehe). Yup, saya terinspirasi membuat tulisan ini pasca membaca sebuah Jurnal Psikologi tentang Kepuasan Pernikahan Ditinjau dari Berpacaran dan Tidak Berpacaran. Sebuah jurnal hasil penelitian yang ditulis oleh mahasiswa (kalau nggak salah, sih) Fakultas Psikologi, UGM.
Yup, terlihat dari judulnya, sangat terpampang nyata bahwa sang peneliti ini akan membandingkan antara kepuasan pernikahan dari pasangan yang mendahuluinya dengan berpacaran dan pasangan yang tanpa pacaran. Hipotesis yang mereka pakai adalah, terdapat perbedaan signifikan kepuasan antara pasangan berpacaran dan tidak berpacaran.
Nah, sebenarnya saya ingin menjelaskan metode penelitiannya, jumlah sampel, dan tetek-bengek penelitiannya, namun daripada nanti banyak yang pusing sampe muntaber, lebih baik langsung saya jelaskan kesimpulan hasil penelitiannya saja. Tapi, kalau pengen tahu tentang hal tersebut silahkan cari sendiri jurnalnya. Hehehe.
Jadi, hasil penelitiannya menunjukkan perbedaan signifikan antara pasangan berpacaran dan tanpa pacaran sebelum menikah alias hipotesis diterima. Pasangan yang tanpa berpacaran memiliki tingkat kepuasan yang lebih tinggi dalam pernikahannya dibandingkan pasangan yang berpacaran sebelum menikah. Nah, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Kalau menurut hasil penelitian tersebut, tingkat kepuasan seseorang selama pernikahannya itu berkorelasi positif dengan tingkat religiusitas individu. Kita juga tahu bahwa orang yang memilih tidak pacaran itu biasanya memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Semakin tinggi tingkat religiusitasnya maka semakin tinggi pula kepuasan dalam pernikahannya. Hal itu disebabkan karena orang yang memiliki tingkat religiusitas tinggi juga memiliki tingkat penerimaan yang tinggi dan ikhlas, mereka menganggap bahwa pasangan yang sekarang telah mereka nikahi merupakan jodoh mereka dan yang terbaik menurut pilihan-Nya. Sesuai juga dengan pendapat Elizabeth B. Hurlock (1953) bahwa religiusitas membuat pernikahan lebih memuaskan.
Yup, memang dalam penelitian ini (kalau berdasarkan penilaian penulisnya sendiri) saat dilakukan pengambilan sample memang terdapat hal-hal yang agak menimbulkan bias. Kata penulisnya sendiri, hal tersebut masih membingungkan apakah kepuasan pernikahan itu disebabkan oleh mereka tidak melakukan pacaran sebelumnya atau karena tingkat religiusitas mereka yang tinggi. Selain itu, dalam mengambil responden pasangan yang tidak berpacaran sebelum menikah, mereka mengambil para aktivis dakwah yang notabene ilmu agamanya tidak diragukan lagi. Namun, untuk pasangan yang berpacaran sebelum menikah diambil dari sampel yang orang muslim tetapi ilmu agamanya masih awam. Jadi, menurut penulisnya, penelitian ini masih belum sempurna.
Nah, bukan berarti karena adanya hal bias tersebut kita menjadi menyalahkan penelitian tersebut. Saya pribadi, sangat percaya dengan hasil penelitian tersebut. Menurut sebuah penelitian oleh seorang peneliti Barat, lamanya pacaran itu tidak tergantung dengan seberapa langgengnya pernikahan nantinya. Mau kalian pacaran sampai sepuluh tahun juga, belum tentu pernikahan kalian bakal langgeng seumur hidup. Contohnya udah banyak, lho. Banyak tuh artis Hollywood yang pacaran (atau kumpul kebo mungkin) selama lebih dari lima tahun, tapi setelah akhirnya mereka memantapkan diri untuk menikah (melegalkan hubungan mereka) justru pernikahan mereka malah kandas dengan usia masih sangat muda (hanya berusia 1 – 3 tahun saja). Kalau saya tidak salah ingat, saya juga pernah menemukan pernyataan tersebut di buku Psikologi Sosial karangan David G. Myers.
Bagaimana? Masih defense atau sudah percaya nih buat para aktivis pacaran? Ini berdasarkan hasil penelitian Psikologi, lho. Biasanya, ada yang bilang bahwa pacaran sebagai aktivitas penjajakan pranikah untuk mengenal pribadi pasangan masing-masing. Penjajakan sih penjajakan, tapi kalau pacarannya sampai lebih dari lima tahun, apakah menjamin bahwa kalian sudah benar-benar mengenal pribadi pasangan dan akan meningkatkan kepuasan pernikahan kalian nantinya. Asal tahu aja sih, pacaran itu kan belum tentu setiap hari ketemu, jadi mungkin ada hal-hal yang ditutupi oleh pasangan kalian ketika tidak bersama kalian. Sedangkan menikah, mau nggak mau kalian tinggal berdua, setiap hari ketemu dan nantinya akan terungkap hal-hal yang belum terungkap ketika masa pacaran. Wuahahaha. Waspadalah, waspadalah!
Dan, saya juga mau mengungkapkan sebuah fakta psikologis, nih. Biasanya cinta yang sebenarnya itu hanya bertahan sampai empat tahun, hal itu karena dorongan hormon gelora cinta ini akan habis saat hubungan sudah berlangsung antara 2 – 3 tahun. Lalu, kalau pacarannya sampai lebih dari 4 tahun, artinya apa dong? Menurut penelitian yang dilakukan peneliti dari Researchers at National Autonomous University of Mexico, sisanya adalah dorongan seksual! (Jengjengjengjeng! Kemudian mata melotot, kamera zoom 400 kali). Hal tersebut juga diamini oleh seorang Psikolog dari Beijing, Diana Lie, dan juga Anthony Fischer, penulis buku Anatomy of Love.
Nah, daripada urusannya makin berabe, buat yang pacaran cepet-cepet nikah aja, deh. Jangan kelamaan pacaran sampai bertahun-tahun. Lagian pacaran lama-lama juga bukannya nambahin pahala tapi malah banyakin dosa. Kalau menurut Islam, pacaran itu sangat tidak dianjurkan. Dalil tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu, then sekarang, hasil penelitian oleh para pakar psikologi dan neuropsikologi sudah membuktikannya. Mau percaya atau tidak, itu urusan kalian, deh. Resiko ditanggung sendiri, ya. Saya sudah mengingatkan dengan sejumlah dalil logika dan ilmiah nih. Huehehehe. (Habis, dikasih dalil agama nggak mempan, masuk telinga kiri keluar telinga kanan, mentang-mentang buktinya masih abstrak. Tapi, kalau dikasih dalil logika nan ilmiah yang jelas-jelas terpampang nyata belum mempan juga, lebih baik banyak-banyak istighfar aja, deh. Wkwkwk :D)
Terus, kalau yang masih pacaran tapi belum mampu secara finansial, batin, dan fisik untuk menikah, lebih baik bubaran saja. Lebih baik sekolah yang tinggi dulu, nyenengin orang tua dulu, cari duit yang halal dulu, deh. Kalau jodoh, nggak akan kemana kok, pasti akan bertemu suatu saat nanti (Ceilah… kayak lagunya Afgan – Jodoh Pasti Bertemu). Ya, kalau saya berjodoh sama Afgan, pasti bakalan bertemu, kok. Hehehe (Mus, fokus, Mus!).
Okay, back to the topic! Terus, kalau nggak pacaran, gimana dong cara penjajakannya? Buat yang Muslim pasti udah ngerti, deh, apa itu ta’aruf. Ta’aruf itu beda ama pacaran. Untuk penjelasan lebih lanjut, silahkan tanya ke ustadz atau ustadzah kalian saja. Soalnya saya belum pernah diajakin ta’aruf-an, nih. Yuk, siapa yang mau ta’aruf-an sama saya? Huehehe (lagi ngode, nih. Jangan dihujat! *kemudian ditimpukin laptop)
Okay, sekian tulisan sok tahu versi ilmiah ini. Semoga kebenaran dalam tulisan ini bisa dijadikan bahan pelajaran dan bisa direnungkan. Untuk pertanyaan lebih lanjut silahkan hubungi saya. Huehehehe :)
Sampai jumpa di postingan selanjutnya, folks! :) 

Minggu, 05 Januari 2014

[Movie Review] Memento (2000)

09:30 0 Comments


Rating IMDb: 8.6/10
Setelah selama beberapa hari terakhir berfokus pada tulisan konyol, aneh, dan tidak jelas, maka saya pun kembali menulis sesuatu yang lebih jelas dari sebelumnya. Halah -_-. Daripada berlama-lama, langsung saja, deh…
Beberapa hari yang lalu, saya menonton film yang, ya… bisa dibilang keren banget! Ini ikhlas kok nulis ‘keren banget’-nya hehehe. Oke, saya mencoba tidak terlalu alay seperti tulisan-tulisan Movie Review saya sebelumnya. Hehehe.
Yup, film yang saya tonton beberapa hari lalu adalah Memento. Film arahan sutradara kondang, Christopher Nolan ini memang berciri khas film Pakde Nolan banget. Tentu kita tidak lupa dengan filmnya yang menuai banyak pujian, Inception, yang menuai rating 86% pada Rotten Tomatoes dan rating 8.8/10 pada situs IMDb.com. Kita tentu ingat bagaimana Pakde Nolan membangun alur pada Inception, meng-create motion picture, dan membuat penonton berdecak kagum atas kebrilianan idenya. Oke, ini lebay, tetapi untuk kategori film fiksi sains yang banyak menyita pikiran saat menontonnya – mau nonton film aja pake mikir, gimana kagak pening, tuh? – memang saya rasa sangat brilian. Ide cerita Inception tentang lucid dream ini memang sangat aneh, but ternyata menurut para ahli hal itu merupakan keniscayaan jika dalam alam mimpi kita bisa saja melakukan lucid dream.
Menurut hemat saya, kebrilianan ide seorang film-maker dalam membuat film adalah saat film yang dibuatnya membuat penonton berpikir keras dan tak sanggup melewatkan satu detik scene pun saat menontonnya. Ya, karena film itu tentu saja menyita banyak energi pada cerebrum kita, memaksa sel-sel kelabu untuk menyalurkan neurotransmitter dengan cepat. Membuat kita selalu berseru “Ini maksudnya gimana, ya?”, “Oh, jadi yang tadi itu ini, toh?”, “Blimey! Ternyata twistnya begini!” serta sejumlah hal-hal menakjubkan dan unpredictable lainnya. Oke, maaf, bahasanya aneh lagi. Hehehe.
Nah, begitu pula dengan Memento. Film yang dirilis tahun 2000 itu pun juga mengangkat sebuah ide yang sama yaitu tentang pikiran. Masih ada sedikit sangkut pautnya dengan pikiran manusia. Maka tak heran jika film ini bergenre psychological thriller. Oh iya, satu lagi, sebenarnya film ini memiliki multi-genre, yaitu neo-noir psychological thriller. Wow, mencengangkan, saudara-saudara! Hehehe.
Jadi, film ini berkisah tentang seorang suami yang berusaha mencari pembunuh dan pemerkosa istrinya. Namun sayangnya, sang suami memiliki sebuah keterbatasan. Ia memiliki short-term memory yang buruk. Ia dengan mudah melupakan kejadian yang baru beberapa menit lalu baru saja dilakukannya dan juga beberapa hari kemarin. Bayangkan, betapa tersiksanya dia (Halah, saya lebay lagi…). Ya, tentu saja, coba kalau kalian berada di situasi itu, pasti berasa kayak orang bego hidup di dunia. Memori yang berhasil dia ingat adalah saat kematian istrinya yang dibunuh oleh pembunuh-bertopeng.
Film yang dibintangi Guy Pearce ini memang full of thrill. Tapi tidak sethriller Final Destination atau Saw -_- (Yaiyalah, namanya juga psychological thriller, bukan sadistic thriller or horror thriller). Yang menakjubkan dari film ini adalah alur yang tidak biasa, lagi-lagi. Seperti ciri khas film Pakde Nolan kebanyakan yang selalu mengajak penonton berpikir serta menyerahkan kesimpulan akhir film kepada penontonnya, film ini juga membuat penonton harus mengerut-ngerutkan jidat dan menggosok-gosokkan dagu sebagai bahasa nonverbal dari “mikir keras”. Pada film ini, pakde Nolan memberikan alur maju-mundur campur aduk tetapi terstruktur. Jadi, enggak asal dicampur-campur kayak es campur rujak es krim, ada rumusnya, saudara-saudara! Saya tahu, karena saya baru saja searching di Mbah Google, hehehe.
Alur yang disajikan pada film itu adalah, ending cerita terletak di awal film sedangkan akhir film merupakan pertengahan dari film tersebut. Anda pusing? Sama, saya juga. Daripada saya jelaskan di sini dan nantinya entah bisa mudeng atau tambah membingungkan lebih baik saya sarankan nonton sendiri saja. Recommended to watch banget!
Oh iya, apakah kalian masih penasaran dengan apa itu genre film neo-noir? Karena dari tadi saya belum menyinggung itu dalam menceritakan filmnya, hehe. Jadi, ada sebuah genre film yaitu film noir. Film noir itu, menurut Paman Wikipedia, adalah sebuah istilah sistematik yang digunakan untuk menggambarkan gaya film Hollywood yang menampilkan drama-drama kriminal yang menekankan keambiguan moral dan motivasi seksual. Periode film noir klasik Hollywood itu terjadi pada awal 1940-an sampai 1950-an. Film noir, pada masa kini sering dihubungkan dengan gaya visual hitam-putih dan dalam pencahayaan yang rendah berakar dari sinematografi Jerman, sementara banyak dari cerita-cerita prototipenya dan sikap noir yang klasik berasal dari aliran fiksi detektif yang muncul di AS pada masa depresi. Istilah film noir ini berasal dari bahasa Perancis yang artinya ‘kelam’.
Nah, di film Memento ini, terdapat dua alur yang saling beriringan. Ada alur maju dan mundur secara bergantian. Alur mundurnya disajikan dengan film yang berwarna sedangkan alur majunya menggunakan warna black-white. Nah, inilah sebabnya Memento dimasukkan ke dalam neo-noir karena film ini memiliki pencahayaan yang kelam pada bagian black-white-nya (noir) tetapi juga ada unsur berwarna juga (neo).
Pada awalnya, saya menonton film ini juga agak sedikit bingung (seperti saat saya pertama kali nonton Inception, dan akhirnya nontonnya diulangi sampe 2 kali, karena yang pertama pake subtitle English masih nggak paham hehehe). Tentu saja, karena setiap perpindahan alur setting waktunya terasa samar. Bener-bener disuruh mikir, seperti menyusun sebuah puzzle dalam film. Tapi tenang saja, seiring berjalannya film, kalian akan mengerti sendiri. Justru film seperti ini yang membuat kita berseru, “Blimey! Oh, jadi gini toh maksudnya…” hehehe.
For your information nih, Indonesia juga punya lho film noir. Pernah nonton film Kala? Film yang dibintangi Fachri Albar, Ario Bayu, dan Shanty merupakan film arahan dari Joko Anwar. Kala sendiri merupakan film noir Indonesia yang disebut-sebut kritikus sebagai sebuah lompatan tinggi dalam sejarah perfilman Indonesia. Film tersebut juga memenangkan kategori Tata Sinematografi Terbaik dan Tata Artistik Terbaik pada ajang Festival Film Indonesia 2007. Kece banget, dah! Yang bikin bangga juga nih ya, film ini juga dapat penghargaan Best Film pada ajang Berlin Asia Hot Shots Film Festival dan juga dapat Best Visual Achievement di ajang New York Asian Film Festival. Soalnya, film Kala ini juga multigenre yaitu, noir, horror dan thriller. Wah, keren banget! Saya pernah nonton film Kala ini di TV, dan memang pencahayaannya kelam, noir banget. Warnanya cenderung ke sephia tapi agak dark dan settingnya jaman dulu.
Aduh, jadi out of topic, nih, kebiasaan -_-. Pokoknya nih, movie freakers harus banget nonton Memento dan Kala ini. Recommended! Sama-sama dapet banyak penghargaan. Kalau Memento pernah masuk nominasi di Academy Awards, tapi belum menang. Kalau penghargaan yang lainnya, banyak banget men…  (Iyalah, secara ratingnya 8.6 di IMDb.com)
Nah, itulah sekilas tentang Memento (2000) dan kemudian nyerempet ke film Kala (2007) karena kebablasana ngejelasin tentang film noir. Halah. Oke, cukup sampai di sini saja postingan-agak-bener-tapi-ujung-ujungnya-juga-nggak-jelas ini. Terima kasih karena telah bersedia meluangkan waktu untuk membaca dengan penuh kesabaran dan ketabahan :)
Sampai jumpa di Movie Review selanjutnya, folks! :)

Sabtu, 04 Januari 2014

Buka-bukaan

20:00 0 Comments


Warning: Jangan dibaca jika iman Anda lemah dan kesabaran Anda sedang berada di titik terendah. Postingan ini berisi keanehan dan tidak jelas. Disarankan bagi pengidap jantung koroner dan darah tinggi tidak membaca tulisan ini. Ini warning-nya SERIUS!
Siapa yang pengen tahu tentang saya? Oh, nggak ada, ya. Hehehe. Anyway, mungkin kalau yang belum begitu kenal saya, banyak yang salah terka tentang saya. Maka, postingan ini berisi klarifikasi saya tentang diri saya. Sejauh yang saya tahu juga, serta sejauh teman-teman dekat saya mendeskripsikan saya.
Jadi begini…
Nama saya, Musrifah Nur Arfiati. Anak sulung dari dua bersaudara. Saya punya adik cowok namanya Azzam Abdillah Faqih. Bergolongan darah O, campuran melankolis-sanguinis. Saya menyukai detail, teliti, cenderung perfeksionis, suka kejujuran, agak idealis tapi kadang-kadang nggak realistis, 51 % introvert, planner handal tapi kadang-kadang meleset hahaha, visioner, punya rasa ingin tahu tinggi (baca: kepo nggak ketulungan – curious as hell), peka dan gampang GR (tipikal cewek melankolis), sedikit pemalu tapi banyak malu-maluin, ramah tapi terkadang jutek, galak, gampang bete kalau lagi banyak masalah dan pas PMS, kadang-kadang menyebalkan (atau mungkin sering kali, ya), suka ngobrol, suka bercanda tapi gaya bercandanya sarkastis dan keras (sudah ada korban yang komplain), straight to the point tapi biasanya sebelum ngomong mikir dulu, cerewet, bisa jadi pendiem banget kalau berada di situasi awkward, suka nyindir orang kalau udah kesel sama orang yang susah dibilangin, kalau lagi presentasi ngomongnya kadang-kadang kecepetan, paling males kalau dipuji tapi kalau dipuji suka salting. Suka jalan-jalan tapi kalau lagi males lebih suka tidur-tiduran di rumah. Belum pernah pacaran sama sekali dan tidak mau ngerasain pacaran (Aaamiin!).
Oh iya, saya juga penyuka sastra dan seni (tapi bukan seni rupa), dan itu semua sangat bertolak belakang dari latar belakang saya yang dulunya IPA dan pernah ikut lomba Fisika. Kalau kata Bapak sih, saya anak IPA yang IPS *hahaha plak. Bapak saya kadang-kadang heran, anak eksak kok suka sastra. Anak eksak kok suka nulis pakai bahasa sastra yang banyak bertele-tele itu. Bapak saya juga pernah komentar kalau tulisan saya itu tidak mencerminkan kalau saya dulunya anak IPA *ngakak. Biasanya nih ya, anak IPA kalau nulis itu runtut, chronologically. Lha kalau saya cenderung melompat-lompat dan random, bener-bener jauh dari kesan anak IPA. Maka dari itu, saya paling males kalau disuruh nulis laporan, proposal, LPJ, karya ilmiah. Saya lebih suka nulis cerita pendek, apalagi yang alurnya kayak film Memento atau Inception *plak. Sekarang kuliah di jurusan yang banyak pakai ilmu sosial tapi masuknya ke rumpun IPA (kalau di kampus saya sih gitu). Sebenarnya saya suka mata kuliah Statistik (karena pada dasarnya saya suka hitung-hitungan), tapi selalu ngantuk kalau pas dosennya nerangin -_-.
Suka banget sama tokoh fiksi Sherlock Holmes dan Shinichi Kudo karena suka akan petualangan mereka saat memecahkan suatu case. Suka banget baca novel kriminal, fiksi detektif, konspirasi politik, pokoknya yang bau-bau kriminal. Agak males baca cerita romance yang banyak menye-menyenya. Penyuka box office atau bisa disebut Movie Buzz. Penyuka film fantasi, petualangan, kriminal, detektif, konspirasi politik, psychological thriller, dan horror psikologis. Pernah pengen jadi agen rahasia, tapi apa daya tangan tak sampai (ini salah satu impian tidak realistis saya karena kebanyakan nonton film action hahaha). Pengen kayak Dr. Cal Lightman di serial Lie to Me. Suka Psikologi Forensik. Penyuka grup vokal asal Irlandia yang sekarang sudah bubar, Westlife, sejak SD kelas 1 (tahun 2001).
Saya juga book addict banget, dan tidak bisa (susah) menahan keinginan untuk beli buku. Tidak nggagas fashion, bukan seorang fashionista. Tidak suka pakai bedak. Punya kosmetik cuma facial foam sama cream pagi dan itupun pakainya nggak teratur. Kalau pakai baju sering tabrak warna dan kadang-kadang nggak matching sama sekali (pas kuliah dan di rumah aja, tapi kalau pergi bajunya matching namun alay total -_-). Tinggi 1.71 meter berat badan 58 kg, berjilbab syar’i, kulit kuning langsat dan terlihat semakin pucat karena sering pakai baju tertutup. Ukuran sepatu 40-41, hal ini yang menyebabkan saya susah beli sepatu di Indonesia *hahaha sombong banget, padahal juga nggak mampu beli sepatu luar negeri. Sekalinya dapet sepatu, heels, or whatsoever itu pasti mahal makanya lebih milih muter-muter toko yang jual sepatu murah sampai kaki gempor daripada beli sepatu mahal. Kalau beli rok susah karena kurang panjang roknya -_-. Maka dari itu, sering beli kain sendiri terus dibawa ke penjahit.
Karena badan saya yang tinggi, temen-temen sering bilang:
“Mus, kamu cocok jadi model…” saya hanya tertawa mendengar komentar teman saya itu. Kemudian saya menjawab:
“Jadi model apa? Model madul? Kalau aku jadi model, aku nggak dianggep anak sama Bapakku” hahaha. Iya, ini serius.
Karena badan saya yang tinggi ini, saya gampang dihafal orang. Sampe bapak penjaga sekolah SMP saya masih inget sama saya hehehe *plak.
Bisa masak air sama nasi tapi kalau masak nasi pake mejikjer nggak bisa. Bisa sedikit-sedikit masak nasi goreng, pudding, kue tertentu, sayur bayam, sayur sop, agar-agar, goreng-goreng apa saja, dan orak-arik. Suka eksperimen sama masakan tapi…. (silahkan isi sendiri) *ya ampun, skill memasakku buruk -_-.  
Kriteria suami yang diinginkan 3 T = Tampan, Takwa, Tajir *plak! Hehehe enggak kok bercanda :p. Kriteria suami: Saya manut sama yang ngasih :) insya Allah kehendak-Nya selalu baik hehe :D
Foto? Saya tidak mau posting foto nanti banyak yang ngefans *yek nggilani, Mus -_-.
Sekian postingan buka-bukaan dan agak nggak jelas versi saya. See ya di post selanjutnya :)

Rabu, 01 Januari 2014

20:20

20:20 0 Comments
Lagi-lagi, jam digital di ponselku menunjukkan angka kembar. Aku tersenyum simpul. Selintas memori berkelebat dalam ingatanku. Tentang mitos. Ya, mitos melihat jam kembar.
Sudah beberapa bulan belakangan mataku selalu memergoki jam digital ponselku menunjukkan angka kembar. Selalu saja saat malam menjelang. Ya, memang sedikit banyak aku tersugesti akan mitos itu. Sekelebat wajah selalu menghiasi pikiranku tatkala mataku tak sengaja bertumbuk pada dua angka kembar itu.
Hmm, mungkin ada dari kalian yang belum mengetahui tentang mitos jam kembar? Jadi, mitos jam kembar itu – entah siapa yang memulai mitos mulut ke mulut ini – berbunyi
“Jika kamu melihat jam menunjukkan angka yang sama dengan menitnya, maka di luar sana pasti ada yang sedang merindukanmu”
Hahaha… terdengar konyol memang. Apa hubungannya jam berangka kembar dengan ada seseorang di luar sana sedang merindukan kehadiranku? Kalian pasti akan menganggapku bodoh jika aku mengaku bahwa aku benar-benar mempercayainya. Ya, sejujurnya, aku (sedikit) mempercayainya.
Hei, tapi tentu saja terasa aneh jika aku terlalu mempercayainya. Coba pikir, siapa pula orang yang merindukanku, hah? Orang-orang terdekatku saja berada di sekitarku. Ayah, ibu, adik, dan sanak-familiku tidak tinggal terlalu jauh dari tempatku tinggal. Aku tidak memiliki teman sangat ‘spesial’ yang tinggal terlalu jauh dari tempatku berpijak. Sangat ‘spesial’ di sini maksudnya sahabat atau teman cewek yang selalu dekat denganku. Tolong jangan berpikiran macam-macam…
Lantas, siapa?
Maka dari itu, sungguh konyol jika aku terus bertahan untuk mempercayai mitos aneh itu.
Eh, tetapi….
Ada satu wajah yang sekejap melintas di benakku.
Dia.
Nafasku tercekat seketika saat mengingat wajahnya. Duh, bukan ini yang sedang kuinginkan terjadi.
Aku tak berharap dia merindukanku. Merasa sangat konyol saja jika terus mengira bahwa dirinya yang merindukanku saat tiba-tiba aku melihat jam kembar. Pikiran itu pun sengaja aku tepis jauh-jauh, aku usir cepat-cepat. Jangan sampai usahaku beberapa bulan belakangan ini luruh hanya karena terpengaruh oleh mitos yang tidak jelas asal mulanya itu.
Dan satu yang perlu aku tekankan: “Aku bukan seorang yang erotomania”

Menemukanmu...

15:00 0 Comments
Menemukanmu sekali lagi…
Dalam sisa serpihan rindu berkarat yang tak pernah tersentuh.
Menemukanmu sekali lagi…
Di tengah senyap gulita, dalam keheningan diri, memutar barisan memori untuk mengingatmu.
Ya, aku masih mengingatmu sebagai bagian dari kenangan lamaku yang berdebu.
Lama aku melupakanmu, menghilangkan sosokmu dalam kanal-kanal ingatanku.
Membanjiri diriku dengan tumpukan kesibukan sebagai pelarian, pelampiasan rindu yang tak pernah sampai.
Memunculkan sosok lain, melesakkannya dalam tumpukan rindu yang berkarat, menjadikannya sebagai pendar kehidupan, secercah harapan.
Mengharapkan dirinya dapat benar-benar menggantikan siluetmu di antara tumpukan rindu yang berkarat ini.
Tapi aku bisa apa?
Lambat laun sosoknya pun menjadi berdebu ditelan kehampaan jiwa.
Lama aku melupakanmu, tapi ternyata dirimu tak pernah benar-benar menghilang.
Kau masih tertumpuk dalam lemari memori, di antara tumpukan kenangan terbuang.
Dan malam itu, aku menemukanmu…
Kenanganku yang telah lama terbalut debu…